
Pagi itu, Ridwan pemuda sehat dan normal berusia dua puluh satu tahun mengeluh kepada ibunya, jika dia kangen dengan ayahnya. Ibunya hanya bisa membalas jika ayahnya juga pasti kangen dengan dia.
Walau saat pergi. Ayahnya tidak mengucap sepatah kata pun untuk istri dan anaknya. Hingga membuat tanda tanya besar di hati dan pikiran mereka berdua. Setelah sarapan dan minum obat yang dia dapat dari klinik kemarin.
Lalu si ibu, kembali tidur di sofa panjang berwarna krem yang ada di dekat dengan ruang tamu. Sudah hampir satu minggu ini dia terbaring lemah, lesu dan tak berdaya karena sakit. Diagnosa dari dokter yang memeriksanya adalah gejala typuss. Karena terlalu capek bekerja.
Pekerjaan si ibu adalah sebagai seorang kuli cuci dan nyetrika baju di dua rumah tetangganya, dan pekerjaan di rumahnya sendiri terbengkalai ketika dia sakit. Dia berusaha menyicil mengerjakannya. Karena takut lebih menumpuk.
Rumah mungil dengan lantai dua di ujung gang sempit tersebut. Mulai kotor dan ngebul, lantainya mulai ngeres oleh debu-debu dan butiran-butiran pasir yang masuk ke dalam rumah.
Cucian kotor numpuk di kamar mandi. Kolam juga sudah kotor dan mulai banyak jentik-jentik nyamuk. Piring dan gelas kotor menumpuk di tempat cucian piring. Tempat sampah penuh, hingga di kerumuni lalat dan serangga lainnya.
Sementara Ridwan. Si pemuda gagah itu hanya bisa makan, tidur, nonton dan nongkrong dengan teman-temannya. Dia keenakan nganggur setelah lulus SMA, hingga malas untuk cari uang dan membantu ibunya. Semua pekerjaan, dari mencari uang sampai pekerjaan rumah. Ibunya semua yang melakukannya. Dia hanya uncang-uncang kaki dan santai.
Tapi sampai saat ini kondisi ibunya sedang sakit. Dia belum mampu melakukan hal yang berat-berat. Kadang dia hanya bisa terbaring tiduran saja. Kadang di kamarnya, kadang juga di sofa dekat ruang tamu.
Ridwan, si anak tunggal itu sedari kemarin hanya menonton saja. Tidak melakukan apa-apa yang produktif untuk mencari uang dan membantu ibunya. Dia hanya bisa tiduran sambil menonton tv. Apalagi di pagi-pagi begini suka ada film-film ftv kesukaannya.
Di tengah asik menonton tv dan artis pujaannya. Ibunya meminta tolong untuk diambilkan segelas air minum. Ibunya haus, tenggorokannya kering. Tapi Ridwan menolak. Alasannya karena sedang seru-serunya nonton. Ibunya yang sudah kehausan sekali lagi memintanya untuk mengambilkannya minum.
“Wan, bentaran. Tolong ambilin ibu minum. Itu pake air anget yang ada di termos, gelasnya juga pake gelas ibu yang tadi. Ada di meja makan, Wan,” ucap ibunya dengan lemah.
“Ahh… rese banget sii, Buu. Ambil sendiri kan bisa. Lagi seru ini, kalo Ridwan kelewat nontonnya gimana!?” balas Ridwan dengan nada kasar.
__ADS_1
“Badan Ibu lemes banget, Wan. Tolong bantu Ibu. Bentaran aja,” ucap ibunya lagi, dengan nada memohon.
Bukannya merasa iba dan kasihan melihat ibunya yang sedang dalam kondisi sakit dan lemah. Ridwan malah kalap, dia kesetanan. Dengan kesal dia bangkit dari duduknya, menendang-nendang dengan keras kaki ibunya, hingga ibunya meronta kesakitan.
Duaghh, duuaghh, duaaghh.
“Aduuh, Wan. Sakit kaki Ibu, Wan,” ucap ibunya, merintih.
Tapi Ridwan tidak menanggapi rintihan sakit ibunya itu. Dia masih terus-terusan menendangi ibunya. Iblis seolah telah merasukinya. Ridwan merasa kesal dan marah karena kesenangannya diganggu oleh ibunya.
Matanya memerah, nafasnya terengah-engah. Dengan tanpa pikir panjang. Dia mengambil sebilah pisau yang ada di atas meja makan, dan menikamkannya ke dada dan perut ibu kandungnya yang sedang sakit itu berkali-kali.
Jleebb. Jleebb. Jleebb.
Darah segar juga mengalir deras dari luka bekas tusukan. Mendengar ucapan takbir itu, seolah-olah Ridwan sadar akan apa yang telah dia lakukan. Kemudian, dia menyesal dan menangis bersimpuh di samping ibunya.
“Ibuu… hiks, maafin Ridwan, Buu. Ridwan khilaf, Buu. Hikkss,” ucap Ridwan.
Ibunya menatap anak semata wayangnya itu masih dengan penuh kasih sayang layaknya kasih seorang ibu. Memikirkan bagaimana nasib anaknya ini selepas kepergiannya nanti. Anak ini terlalu dimanja oleh ayahnya sedari kecil. Hingga semuanya terlalu mengandalkan orang tua. Padahal kedua orang tuanya bukan lah orang kaya.
Dalam keadaan sekaratnya, si ibu berpesan kepada Ridwan. “Wan, sebelum orang-orang pada datang melihat kondisi ibu. Nanti Ridwan keluar dan teriak minta tolong. Bilang kalau ibu ditusuk sama orang gila yang masuk ke dalam rumah kita.”
Ridwan menangis mendengar ucapan ibunya itu. Tangisnya semakin pecah, dan ibunya tidak sanggup juga mendegar tangisan anak kesayangannya itu. Dia lebih sanggup mendengar tawa dan omelan dari anaknya itu.
__ADS_1
“Tapi nanti kalau Ridwan juga ketemu ayah. Ibu titip salam ke ayah. Minta ayah buat jaga Ridwan.” ucap ibunya dengan hembusan nafas terakhir.
Melihat ibunya sudah tak bernyawa lagi. Ridwan buru-buru melakukan apa yang di perintahkan oleh ibunya. Dia teriak minta tolong hingga orang-orang sekitar berduyun-duyun menghampirinya.
Dia menceritakan jika ibunya dibunuh oleh orang gila yang masuk ke dalam rumahnya. Para tetangga dan orang sekitarnya pun membantunya untuk mengurus jenazah ibunya. Melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian.
Namun, beberapa orang tetangganya ada yang melihat banyak hal ganjil di rumah dan di jenazah ibunya itu. Pertama, di daerah sini. Di RT bahkan di RW sekitar sini seingat warga tidak ada orang gila.
Kedua, dia bilang ada orang gila yang masuk ke dalam rumah, dan membunuh ibunya. Tapi, keadaan rumah bisa dibilang masih dalam keadaan rapih, di tempat di ketemukannya jenazah. Tidak ada bekas-bekas perlawanan atau pengusiran jika ada orang gila yang masuk.
Lalu, dimana Ridwan pada saat ada orang gila yang masuk ke dalam rumahnya. Sementara, para tetangga juga tahu. Jika Ridwan itu pengangguran dan selalu ada di rumah di tiap harinya. Jika keluar rumah juga paling masih sekitar RT dan RW sini.
Ketiga, posisi ibunya terbunuh itu. Lebih seperi posisi orang yang sedang tertidur lalu ditusuk oleh pisau. Dari ketiga hal ganjil itu. Para tetangga meminta pihak kepolisian untuk mengadakan pemeriksaan lebih lanjut kepada Ridwan. Apalagi Ridwan itu adalah keturunan dari seorang residivis.
Ternyata benar. Ridwan mengakui perbuatannya, jika dia lah yang membunuh ibunya, hanya karena tidak mau mengambilkan air minum kepada ibunya yang sedang sakit. Ridwan mengaku dan menyesali perbuatannya.
Dia pun ditahan, dengan pasal pembunuhhan. Pasal 338 KUHP dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Ridwan menerima hukuman itu dengan lapang dada, dia ingin bertaubat dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Di dalam penjara, ternyata dia di lapas yang sama dengan ayahnya, dan di sel yang tidak jauh dengan sel tempat ayahnya ditahan. Ketika bertemu dengan ayahnya, dia menangis mengakui dan menyesali perbuatannya terhadap ibunya.
Dia menyampaikan pesan ibunya kepada ayahnya. “Ibu minta ayah buat jaga Ridwan,” ucapnya di depan ayahnya.
Sungguh, kasih ibu sepanjang masa.
__ADS_1