
Kisah pun berlanjut. Masih di malam yang sama. Acara yang sama dan tempat yang sama. Seorang pelayan pria, berseragam rapih dengan setelan jas hitam dan berdasi kupu-kupu. Membungkuk menawarkan segelas minum pada Safa. Ia tersenyum mengulurkan tangan menerimanya dengan sopan dan ramah.
Aroma minuman ini sungguh sangat menggugah selera. Namun sayang sekali, belum sampai bibirnya menyentuh gelas. Seorang pemuda tambun yang sedang terburu-buru lewat melintas di depannya. Pinggul lebarnya, tanpa sengaja menyenggol tangan halus dan mungil Safa.
Safa berseru kaget. Sontak gelas yang di genggam oleh tangannya terlepas, dan jatuh ke lantai. Pecah berantakan membasahi lantai yang terbuat dari marmer. Juga mengenai gaun putih indahnya.
Pemuda tambun yang terburu-buru itu, jangankan minta maaf. Malah tambah buru-buru pergi menghindar dari tatapan ingin tahu orang yang ada di sekitar situ. Nampaknya ia sedang terburu-buru untuk mengeluarkan sesuatu, entah itu air kecil atau air besar.
Tinggalah Safa tertegun dan terpaku. Memerah wajahnya tak tahu harus berbuat apa. Tangan halus dan mungilnya menjulur ke bawah, hendak meraba, untuk memungut pecahan-pecahan gelas tadi.
Tiba-tiba ada tangan seorang pemuda lain yang lebih dulu menyentuh ujung-ujung jarinya dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Dia berucap, “Sini aku bantu. Hanya sekeping gelas, tak perlu terlalu dirisaukan.”
Suara amat sangat tegas namun penuh dengan kelembutan dan kesopanan. Suara itu datang bagai tiupan angin surga. Membuyarkan rasa malu dan cemas Safa, akan kejadian gelas pecah tadi. Lalu membuat ia teringat kembali ke masa-masa kecil dulu. Safa mencari tahu asal muasal suara itu.
“Kamu tahu gak, apa yang bisa membuat Nabi Muhammad S.A.W kuat menjalani cobaan dan hinaan dari kaumnya?” tanya si pemuda.
Safa di tengah keterpanaannya mengangguk pelan. Dia heran, kata-kata ini pernah terucap dulu ketika ia sedang bersama Marwa dan kakeknya. Mengapa pemuda ini bisa tahu? Ia bisa merasakan hembusan napas si pemuda itu yang jatuh ke tangannya. Membuat tangannya terasa hangat, dan otomatis membuat wajah Safa bersemu merah.
“Kamu tahu apa itu?” tanyanya lagi.
Safa tidak tahu harus berbuat apa, apakah ia mengangguk atau tidak, yang ia tahu pasti adalah. Tiba-tiba jantungnya seperti terseret ke dalam pusaran arus perasaan yang sungguh ia tidak mengerti dan baru pertama kali ia alami.
__ADS_1
Ketika pemuda itu dengan lembut dan perhatian membersihkan ujung-ujung jari Safa dengan sapu tangan. Ia merasa seluruh alam semesta beserta isinya, memberi salam dan tersenyum kepadanya.
Waktu seolah berhenti. Lalau seberkas cahaya terang yang sinarnya lembut menenangkan muncul menggetarkan hati dan perasaannya. Ia merasakan dirinya tiba-tiba merasa amat sangat nyaman.
Ia seperti pindah ke sebuah tempat nyaman yang selama ini ada dalam impiannya. Ia merasa berada di sebuah padang rumput hijau dan penuh bunga. Semua orang yang tadi ada di sekitarnya mendadak seperti menghilang.
Semua benda-benda serta perabotan tersingkir menjauh. Ada beberapa bukit indah dan rumah-rumah pohon yang mendadak muncul merekah. Diiringi oleh kicau-kicau burung dan suara air sungai yang menenangkan. Ia melihat dirinya dan seorang pemuda saling bertatap dan berpegangan tangan.
Safa selalu meyakini kata-kata indah kakeknya tentang cinta. Dulu sewaktu kecil, setiap pagi dan sore hari. Ketika ia menyiram tanaman yang ada di bawah jendela kamarnya. Safa selalu mendongak ke langit. Menatap awan biru sambil berbisik pelan pada sang angin.
Jika ia rindu akan berjumpa dengan cinta sejatinya, dan tidak akan pernah berputus asa untuk menantinya. Lalu hari ini, setelah sekian lama. Penantiannya itu akhirnya membuahkan hasil. Ia datang begitu saja tanpa pernah ia menduga sebelumnya.
Pemuda itu membantu Safa duduk kembali ke tempatnya. Melambaikan tangan memanggil pelayan untuk membantu membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai. Sapu tangan putih miliknya, ia gunakan lagi untuk membersihkan gaun putih Safa.
“Ahh, biarkan saja. Tak perlu repot-repot. Aku bisa membersihkannya sendiri,” ucap Safa.
“Sudah gak apa-apa. Aku senang membantu gadis cantik sepertimu,” balas si pemuda itu.
Safa terkesima dan terpesona lagi dengan kelembutan dan perhatian, serta tutur kata dari si pemuda. Jantungnya berdetak tak menentu, merasakan tangan hangat si pemuda menyentuh gaun putihnya. Tubuhnya gemetar dan bergumam dalam hati, “Kakek aku menemukan cintaku.”
Dia telah menyerahkan hatinya kepadanya. Dia jatuh cinta kepadanya. Pada pandangan pertama, lewat kelembutan dan perhatiaannya. Seorang pemuda yang telah mencuri hatinya. Karena dia sendiri yang membiarkan hatinya dicuri olehnya.
__ADS_1
Safa lah yang berkata ‘iya’. Dia yang telah mempersilahkan bayangan si pemuda masuk begitu saja ke dalam hati dan pikirannya. Dia telah mengikuti lagu dan tarian yang ditujukan si pemuda kepadanya. Tanpa sedikitpun si pemuda merampas dengan paksa keinginannya.
Si pemuda tidak pernah memaksanya. Dia dibiarkan memilih sesuai hati dan pikiran jernihnya. Karena dalam cinta tidak ada paksaan, yang ada hanya ikatan suci. In Sya Allah dalam pernikahan. Sekarang dia telah menemukannya setelah sekian lama menantinya. Aku serahkan hatiku untukmu dan aku jatuh cinta kepadamu.
Setelah keributan kecil itu terselesaikan dengan baik. Pemuda itu mengajak Safa menari bersama untuk dua atau tiga putaran gerakan singkat. Andaikan bisa ia lukiskan perasaannya saat itu. Dunia seolah-olah milik mereka berdua.
Ketika hendak kembali duduk, Safa tersipu malu karena kembali dituntun si pemuda. Lalu dia dikejutkan oleh suara panggilan dari adiknya, Marwa. “Ammar, Ammar. Kau kah itu?”
Marwa datang dengan mengenakan kursi roda. Dibantu oleh salah satu pembantu kakeknya yang masih setia. Suara Marwa, adiknya yang dulu sangat ia sayangi. Kini seakan-akan berubah menjadi sembilu yang mengiris-iris perasaannya.
“Ohh, kalian sudah saling ketemu dan kenal?” tanyanya lagi.
“Belum sayang. Lebih tepatnya, hanya kebetulan saja bertemu,” ucap si pemuda itu.
“Ohh kalau begitu, baiklah. Kak Safa, perkenalkan. Ini Ammar, kekasihku yang dulu secara singkat aku ceritakan ke kakak. In Sya Allah di minggu depan aku akan bertunangan dengannya,” ucap Marwa.
Dalam sekejap Safa merasa amat sangat merana. Safa menangis dalam diam. Dia seperti ditinggal sendiri dalam ruang kosong yang hitam gelap gulita. Ia merasa kehadirannya di ruangan ini, bahkan di dunia ini hanyalah sia-sia belaka, tak berarti.
Safa merintih di tengah keramaian ini. Merasa semua kisah cinta yang dia dengar dari kakeknya salah semua. Hanya satu hal yang benar. Yaitu jika cinta tidak memerlukan mata untuk memandang.
Safa duduk terpaku dan terdiam di tempatnya. Ditinggal pergi oleh si pemuda dan Marwa yang sepertinya jalan bersama. Dalam sedih dan diam, perlahan air mata mengalir. Ia menyeka kedua matanya. Mata yang sama sekali tidak terdapat kornea atau bintik hitam di kedua bola matanya. Safa adalah seorang yang buta.
__ADS_1