
Di tempat dan suasana yang berbeda namun di saat yang hampir bersamaan. Hari Senin ini sangat membosankan. Gerutu Bella dalam hati. Dia memulai hari ini dengan telpon dari Leo, kekasih barunya yang sudah hampir lima bulan ini selalu menemaninya dan memberi perhatian kepadanya.
Pagi telpon nanya sudah bangun apa belum? Siang telpon nanya sudah makan apa belum? Sore telpon nanya mau dinner apa enggak? Malem telpon nanya sudah tidur apa belum? Begitu terus sampai rambut Doraemon jadi gondrong.
Ditambah lagi dia sama dengan pacar-pacar yang sebelumnya, gelagat serius mereka tidak ada. Mereka cuma ingin main-main dengan Bella. Hanya menyukai tampilan fisik dan kekayaan orangtuanya.
Awalnya semua itu tidak menjadi masalah baginya, namun setelah meliat kedua anak kecil di persimpangan jalan yang kesulitan mendapatkan air untuk ikut menyalatkan jenazah ayahnya. Hati kecil Bella seolah-olah tersentuh, dia sadar betapa beruntungnya hidupnya selama ini.
Sentuhan-sentuhan lembut nafas Tuhan mulai menyentuh dan menyirami hatinya yang gersang. Dia sendiri kurang tau, entah sejak kapan dia mulai rutin memperhatikan teman-teman satu kantornya saat shalat dan membaca Al-Qur’an.
Begitu mendengar lantunan ayat-ayat itu, hati dan jiwa Bella yang selalu bergemuruh terasa tenang. Maklum, walaupun dilahirkan dari keluarga muslim. Tapi keluarganya tidak begitu memperhatikan kebutuhan agamanya, hingga dia menjadi wanita yang hanya mencintai dunia.
Bella bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, sebagai staff legal. Gaji besar yang dia dapat selalu habis untuk foya-foya dan memenuhi tuntutan kehidupan dunia. Tanpa tersadar, betapa buruknya dunia sebagai teman.
Dia ciptakan kenikmatan, hingga manusia melakukan kemaksiatan yang rapih dan tertutupi. Dia dirikan panggung-panggung hiburan dan hingar bingar musik, agar tidak bisa mendengar jerit tangis para saudara sesama muslim yang kesulitan.
Dia ciptakan cerita dongeng dan khayalan. Hingga kita lupa pada kisah perjuangan para Nabi dan Rasul, keluarga beserta para sahabatnya. Tapi seiring berjalannya waktu, Allah memberi hidayah pada hamba-Nya yang cantik dan indah ini.
Hatinya mulai merasa hampa dan selalu merasa ada yang mengganjal jika dia tidak shalat dan melakukan apa yang Allah perintahkan. Lalu, yang dia butuhkan saat ini adalah bukan seorang pria kaya, tampan dan terkenal, yang berjalan sombong di atas bumi Allah yang sudah tua ini.
Karena yang dia butuhkan saat ini adalah seorang pria yang bisa menuntun dan mengajarinya ke jalan kebaikan. Seorang pria yang mencintainya hanya karena Allah. Bella sangat menantikan pria seperti itu.
Hingga dalam waktu singkat, dia berani memutuskan pacarnya yang bernama Bayu tersebut. Perubahan tingkah laku Bella sangat terliat jelas di mata teman-teman kantornya. Dia mulai shalat tepat pada waktunya.
__ADS_1
Mulai rajin Shalat Dhuha juga dan tidak bermewah-mewahan ketika baru turun gajian. Dia terliat lebih tenang dan sederhana sekarang, padahal sebelumnya sangat pecicilan, ceria, humoris, glamor dan terkadang angkuh.
Beberapa temannya mengira jika Bella kerasukan jin Islam atau ketempelan kakeknya yang kyai. Hingga beberapa temannya, mau mengajaknya untuk di ruqyah di daerah Pasar Minggu. Namun begitu tahu rencana teman temannya yang konyol tersebut dengan tertawa lebar Bella bilang.
“Gillaa lu pada, gue gak kenapa-kenapa! Hahaha. Gue cuma mau memperbaiki diri aja.” Ucap Bella.
Teman-temannya hanya bisa diam dan mengangguk terhadap apa yang Bella ucapkan. Selepas itu biasanya Bella selalu bercerita apapun tentang dirinya kepada hampir semua teman yang dekat dengannya.
Tapi untuk kali ini Bella merahasiakannya dengan sangat rapat. Dia hanya mau berbagi di sepertiga malam terakhir dengan Tuhannya. Jika di usia yang sudah semakin matang ini, dia mulai serius menata diri serta sangat membutuhkan imam yang bisa membimbingnya.
Tingkat keimanan Bella sudah jelas masih naik turun, dan dia melakukan ibadah terkadang hanya ikut-ikutan orang. Tidak tahu ilmu serta manfaatnya. Terkadang pula jika sedang suntuk sama kerjaan dan suasana keluarganya yang selalu sepi.
Bella masih suka bersama teman-temannya yang lain ke diskotik dan meminum minuman keras serta merokok. Dia benar-benar seperti berada di persimpangan jalan. Apakah mengikuti kehidupan dunia yang sangat mudah dia dapatkan.
Pada saat pertama kali bertemu, Bella meliat pria ini seperti orang keturunan Arab-Mongol. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan tidak juga pendek, berisi dan tegap, kulitnya putih.
Matanya tajam dengan alis yang hitam tebal, disertai kumis dan jangggut tipis. Rambutnya hitam lurus serta hidung yang kecil.
Baru dua minggu bergabung, pria yang biasa dipanggil Adam ini sudah memikat banyak wanita dikantor. Terutama di bagian HRD dan payroll. Kabar angin yang terdengar, pria ini rada pemalu dan lembut, rajin ibadah seperti puasa Senin dan Kamis.
Sebelum bekerja selalu Shalat Dhuha terlebih dahulu, sopan dan bertutur kata lemah lembut namun lantang saat menjadi imam shalat. Bacaan surat-suratnya panjang dan merdu serta pekerja keras.
Bella yang mendengar kabar desas desusitu jadi ikut penasaran. Apa iyya di zaman sekarang masih ada pria seperti itu? Dengan rasa penasaran. Bella ingin sekali membuktikannya sendiri. Diam-diam jika Adam sedang ke ruangannya.
__ADS_1
Bella suka curi-curi pandang hingga terbesit dalam hatinya untuk berucap kata, tampan. Belum pernah dalam hidupnya Bella menyebut kata tampan untuk seorang pria kecuali pada ayahnya sendiri.
Jika dibandingkan dengan Leonardo Di Caprio atau David Beckham, bagi Bella. Adam lebih mirip dengan Shahrukh Khan versi hidung pesek. Tapi tetap saja bagi Bella itu tidak mengurangi ketampanan Adam di matanya.
Bella suka cari-cari kesempatan agar bisa shalat bareng dengan Adam. Dia ingin di imami oleh cowok terpopuler dikantornya saat ini. Tapi sudah lebih dari sebulan rencana itu belum kesampean juga.
Adam selalu shalat tepat waktu, sedangkan Bella selalu terbentur kerjaan yang banyak. Sekalinya dia beranikan diri untuk mementingkan shalat tepat waktu ketimbang urusan dunia itu. Namun bertepatan dengan enggak masuknya Adam. Nasiib.. nasiib.
Pagi hari itu diguyur hujan rintik-rintik, sesampainya di daerah parkiran kantor. Dari dalam mobilnya. Bella meliat Adam yang baru saja datang dengan mengenakan sandal dan celana yang digulung ke atas.
Mungkin agar tidak terkena cipratan air hujan. Tidak memakai payung dan mengenakan sweater biru yang warnanya sudah usang. Bella buru-buru keluar dari mobilnya, agar bisa jalan bareng sama dia ke atas.
Bella pikir Adam akan menaiki lift tapi nyatanya dia naik tangga. Dia mengikuti Adam dari belakang dan perlahan mensejajarkan posisinya. Adam yang menyadari kehadirannya menoleh ke arahnya dan berucap.
“Assalammu’alaikum.”
Bella yang mendengar itu lantas tersenyum dan menjawab, “Waalaikum salam.”
Lalu Bella menunggu kata-kata lain yang akan diucapkan oleh Adam. Dia menunggu dengan sabar, sambil sesekali melirik ke arah Adam. Tapi kata-kata berikutnya tak kunjung muncul hingga dia masuk ruangan.
Kata yang berikutnya tak kunjung muncul juga. Ketika mau duduk, dia tersadar, ternyata dia masuk ruangan yang salah karena mengikuti langkah kaki Adam. Seisi ruangan itu sampai ramai menertawakan Bella.
Hanya kata assalamualaikum itu sajalah yang terucap dari bibir Adam yang tipis. Berbalut kumis dan janggut yang tipis pula. Kata pertama yang dia dengar dari Adam adalah, assalammu’alaikum.
__ADS_1
Dari situ saja Bella sudah menyerah, karena mana mungkin dirinya yang amburadul ini. Bisa dapatkan pria baik seperti Adam. Cowok yang brengsek aja, pasti bakalan bawa cewek yang baik untuk dikenalin ke orangtuanya. Apalagi Adam. Haafhhh, sudahlah. Bella lelah.