Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Kisah Horor Tengah Malam (Part 1)


__ADS_3

Kisah ini terjadi di awal tahun 70-an. Di sebuah desa, yang ada di pinggiran kota besar Jakarta. Kisah berawal dari percintaan sepasang muda mudi yang menjalin kasih. Si pria bernama Jali, anak semata wayang tuan tanah yang kaya raya. Si wanita bernama Romlah, anak pembantu dirumah orangtua Jali.


Siapa sangka, keduanya menjalin hubungan asmara semenjak SMA. Namun, sudah bisa ditebak. Kedua orangtua Jali tidak menyetujuinya. Mereka berdua tidak lantas menyerah. Berbagai cara mereka lakukan. Agar keluarga Jali, mau merestui hubungan mereka.


Bahkan Jali dan Romlah sudah bersumpah sehidup semati. Jali bersumpah tidak akan menikahi cinta lain, jika itu bukan dengan Romlah. Begitu pun sebaliknya dengan Romlah. Mereka akan terus berupaya untuk meyankinkan jika cinta mereka serius dan sejati.


Jali dan orangtuanya sempat tinggal beberapa tahun di Belanda. Karena ayahnya ada urusan pekerjaan yang menjadikan mereka harus menetap disana. Selama masa lima tahun itu. hubungan komunikasi Jali dan Romlah terputus.


Betapa rindu dengan kejam mencekik kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu. Betapa curiga, yang awalnya hanya menyapa. Namun, lama kelamaan menjadi teman salah satu diantara mereka.


Yaa, kisah cinta ini cukup sedih. Setelah kurang lebih lima tahun tinggal di Belanda. Keluarga Jali akhirnya kembali ke Indonesia. Hal yang mengejutkan bagi Jali menghampirinya. Selama tinggal di Belanda.


Ternyata Romlah menaruh curiga kepada Jali. Jika Jali dinikahkan oleh noni Belanda teman ayahnya. Ditambah lagi dipanas-panasi oleh teman-temannya, jika pria mana sii yang bisa menolak kemolekan tubuh dan kecantikan wanita Belanda.


Tiga tahun Jali tanpa kabar. Lalu, ditahun ke empat. Datang lamaran dari teman ayahnya. Pikir Romlah, daripada menunggu hal yang tak pasti. Lebih baik, dia menerima apa yang ada di depan mata. Jadilah pesta pernikahan yang sederhana antara Romlah dengan anak teman ayahnya.


Di tahun kelima. Romlah terkejut mendapati Jali masih memegang teguh janji mereka selama dia berada di Belanda. Dia memohon maaf sewaktu sebelum pergi tidak mengabarkannya, tapi itu lantas tidak membuat dia lepas dari janjinya. Dia tetap setia pada Romlah.


Sementara Romlah, saat Jali berkunjung ke rumahnya. Dia sedang santai dirumah, memegang kipas dan merawat kandungannya yang baru berusia empat bulan. Dia mengelus-elus perutnya, yang di dalamnya ada calon anak dari suaminya. Sedihkah Jali? marahkah Jali?


Sungguh bukan main sedihnya. Airmata tak ada henti-hentinya mengalir sepanjang harinya. Sebab kalau lelaki sampai menangis, airmatanya lebih jujur dari perempuan. Bila ditanya marah juga, bukan marah lagi.


Dia membanting semua perabot yang ada dikamarnya, dan mengancam akan membunuh orang yang mengganggunya. Ayah dan ibunya bingung, apa yang harus mereka lakukan. Anaknya jadi lebih suka mengurung diri dikamar. Makan tak mau, apapun tak mau.

__ADS_1


Hingga suatu malam, Jali ditemukan tewas gantung diri dikamarnya. Ibunya yang menemukannya sudah tak bernyawa. Tergantung di langit kamar. Badannya membiru, lidahnya menjulur keluar dan matanya melotot seperti marah.


Jali pun dimakamkan. Kepergiannya meninggalkan luka yang mendalam bagi kedua orangtuanya. Ayahnya menjadi gila dan ibunya menjadi sering sakit-sakitan. Dari sinilah kisah tengah malam desa itu dimulai.


Berawal dari Shobri, petugas pegawai kelurahan yang saat itu pulang hingga larut malam. Karena lembur mengerjakan tugas atasannya, yang sedang keluar kota. Dia tidak mengetahui jika Jali sudah meninggal bunuh diri, maka pada saat pulang dia berjalan santai aja dengan menaiki sepeda ontel miliknya.


Rumah Shobri lumayan jauh dari kantor kelurahan tempat dia bekerja, dan melewati rumahnya si Jali. Malam itu, langit benderang. Shobri gak tahu jam berapa ini, dia lupa pakai jam tangan, yang dia tahu pastinya ini sudah sangat larut malam. Karena sudah tidak ada aktivitas manusia normal lagi.


Dia pulang menaiki sepedanya. Di tengah jalan, dia bertemu dengan sosok pria yang dia kenal. Itu Jali, dia menghampiri dan menegurnya. Shobri melihat ada yang aneh pada diri Jali. Wajahnya pucat banget, dan matanya melotot.


Shobri gak ambil pusing itu. Karena pikirnya Jali sedang sakit, apalagi ketika dia minta diantarkan pulang ke rumahnya. Buru-buru si Shobri mengiyakan, karena berpikir si Jali memang lagi sakit dan mau cepat sampai rumah. Si Jali diam aja pada saat Shobri ajak ngobrol di atas sepeda. Dia cuma minta diantarin cepet sampai rumah, dan sekali lagi. Shobri tidak mengambil pusing.


Shobri pun mengantarnya sampai rumahnya. Setelah itu, dia lanjut menuju rumahnya. Sesampainya dirumah. Dia disambut oleh ibu dan istrinya yang saat itu sudah tertidur. Istrinya bangun sedangkan ibunya, lanjut tertidur. Dia disediakan banyak makanan oleh istrinya.


“Iyaa Bang, kebetulan tadi dapat makanan dari keluarga Haji Dulloh,” jawab istrinya.


“Dari Haji Dulloh. Emang ada acara apaan sampai bagi-bagi makanan!?” ujar Shobri penasaran.


“Tahlilan satu hari Bang Jali. Siang tadi dia dikubur,” ucap istrinya, sambil mengambilkan sendok dan menyediakan minum.


“Si Jali kenapa!?” teriak Shobri mulai panik.


“Mati, Bang. Kemarin dia ditemuin gantung diri dikamarnya,” jawab istrinya.

__ADS_1


Selera makan Shobri menghilang. Lalu di depan rumahnya seperti ada yang mengetuk pintu. Shobri menghampirinya. Sebelum membuka pintu, dia mengintip dulu dari jendela. Ternyata di depan pintu.


Ada Jali dengan wujud pocong. Kain kafannya penuh tanah merah. Wajahnya pucat, matanya seperti mau copot keluar, lidahnya menjulur panjang dan hidungnya mengeluarkan darah yang tidak berhenti mengalir. Dia membenturkan kepalanya ke pintu rumah Shobri.


Shobri lalu meminta istrinya masuk ke kamar dan jangan membukakan pintu. Istrinya yang melihat tingkah laku aneh suaminya jadi bertanya-tanya. Tingkah Shobri seperti orang yang ketakutan. Saat ditanya oleh istrinya, Shobri dengan gemetar hanya menjawab, “Di di depan pintu. Ada pocong Jali.”


Setelah kejadian itu, Shobri tidak masuk kerja selama satu minggu. Orang-orang yang mendengar cerita itu, ada yang lantas percaya. Ada juga yang tidak, mereka yang tidak percaya. Berpikiran jika Shobri hanya kelelahan, karena hampir tiap hari pulang kerja tengah malam.


Tiga hari setelah kejadian Shobri. Ada kejadian aneh lagi. Di malam hari, tepatnya tengah malam yang tenang. Tiba-tiba dari rumah keluarga Haji Dulloh, ada orang yang berteriak-teriak. Teriakannya sangat kencang sampai mengggnggu para warga yang sedang terlelap tidur.


Para warga yang merasa terganggu dan penasaran pada berdatangan ke rumahnya. Sesampai dirumah Haji Dulloh. Mereka menyaksikan, jika yang teriak-teriak itu adalah Haji Dulloh. Dia berteriak-teriak, “Anak gue udah pulang. Anak gue udah pulang!” Sambil berlari-lari kecil mengelilingi rumahnya.


Padahal seluruh penduduk desa tersebut sudah tahu. Jika anak dia, si Jali. Sudah meninggal gantung diri. Lalu, siapa yang dia lihat dirumahnya itu. Hal itu tidak berlangsung sekali, namun berkali-kali dalam frekuensi yang tidak menentu. Hingga orang-orang desa menganggap Haji Dulloh sudah gila.


Tidak lama berselang dari kejadian Haji Dulloh. Kejadian aneh yang nyaris mengerikan dialami oleh warga desa yang lain. Kali ini baru sehabis maghrib. Belum terlalu larut malam. Namanya Syuaeb, dia petani di desa ini. Sudah cukup lama menikah, istrinya sedang hamil enam bulan. Dia juga teman main Jali sewaktu kecil.


Ketika adzan maghrib selesai berkumandang. Syuaeb pulang dari kebunnya yang luas, disana dia menanam singkong, jagung, talas dan ubi jalar. Pokoknya dari hasil berkebun saja Syuaeb sudah mampu menghidupi istri dan anaknya nanti.


Hari itu Syuaeb pulang cukup terlambat. Biasanya sore hari sudah pulang. Ini sampai maghrib baru pulang. Bahkan jika tidak ditegur sama temannya sesama petani. Bisa-bisa maghrib itu dia juga belum pulang.


Syuaeb pulang dengan berjalan kaki sendiri. Membawa cangkul dan tempat bekal makan siangnya tadi. Ketika dia ingin melewati jembatan penghubung desa yang biasa dia lewati untuk ke kebunnya. Dia mendengar suara seperti, suara orang menangis.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2