
”Aku udah dijodohin San, dan aku sendiri yang menerima perjodohan itu,” ucap Aisyah dengan airmata yang semakin tertumpah.
Di tengah lantunan suara hujan yang semakin deras dengan rintikannya yang harmoni. Rintikan suara yang tidak pernah sekalipun membuat seorang pemimpi bangun dari tidurnya. Namun malah semakin ingin lebih terlelap bermimpi.
Aisyah pun melantunkan keluh kesahnya pada Ahsan. Namun apa daya, dalam beberapa saat Ahsan hanya terdiam. Seolah tak terguncang sedikitpun oleh tangis dan ucapan Aisyah. Dia terdiam dan terpaku.
Bingung harus berbuat apa? Tapi jika Aisyah juga mencitainya. Dalam hatinya yang terdalam diapun memberanikan diri untuk ‘merebut’ Aisyah. Ahsan menarik napas dalam-dalam, jantungnya berdegup kencang.
Aliran darahnya deras mengalir ke setiap sisi dalam tubuhnya. Dia bersungguh-sungguh ingin menyuarakan ini dari lubuk hatinya yang terdalam, yang selama ini dia pendam.
“Ikutlah denganku,” ucap Ahsan kemudian dalam keheningan mereka.
Aisyah menegakkan wajahnya, dan dengan spontanitas memandang Ahsan yang berada tepat disampingnya.
“Kalo kamu gak yakin bahagia dengan pilihan orangtuamu. Kalo kamu memang gak mencintainya. Maka ikutlah denganku,” lanjut Ahsan. Meyakinkan Aisyah.
“Tapi gimana dengan kedua orangtuaku, San?” tanya Aisyah, lirih.
“Orangtua kita juga manusia. Mereka bisa juga salah. Mereka tidak bisa memberikan kita kebahagiaan yang seutuhnya,” balas Ahsan.
Aisyah tertunduk diam, meresapi setiap ucapan Ahsan yang mengajaknya untuk berpaling dari perjodohan yang telah dibuat oleh orang tuanya.
“Terkadang kita harus mencari dan memilih kebahagiaan kita sendiri,” Ahsan menambahkan.
Hening kembali menyelimuti mereka. Rasa ragu? Mungkin tidak, tapi mereka sedang sama-sama berpikir matang, memilih dan merebut sendiri kebahagiaan mereka. Mencoba meyakinkan diri sendiri untuk berani merebut kebahagiaan itu.
“Ambillah juga kebahagianmu, Aisyah” ucap Ahsan kemudian.
“Ikutlah bersamaku dan aku berjanji akan selalu membahagiakanmu,” lanjut Ahsan.
Maya masih tetap tediam. Hingga Ahsan berinisiatif. Untuk memegang pundaknya dan membangunkannya dari keterpurukan. Dengan perlahan dia membalikkan badan Aisyah, menatapnya dengan penuh kekaguman.
Dia menyentuh dagu Aisyah, menegakkan kepalanya. Dengan tangan yang gemetar dan mata memerah perlahan dengan lembut dia usap derai airmata yang membasahi pipi Aisyah. Meskipun dia tidak tau manakah yang pasti air mata atau air hujan yang sedari tadi membasahi pertemuan mereka ini.
Aisyah tidak bisa menahan gejolak dalam dadanya. Dia langsung memeluk Ahsan dengan erat dan memohon untuk membawanya pergi kemanapun dia ingin pergi. Dia sudah cukup menyaksikan banyak kesedihan dan tidak ingin mengulangi kesalahan untuk mencoba bunuh diri yang kedua kali. Dia ingin kembali bahagia, tertawa dan mencintai lagi.
__ADS_1
“Aku berjanji dua minggu dari sekarang, aku akan menemui kedua orangtuamu, dan menjadikan hari itu adalah hari terakhirmu kalah dalam melawan kesepian dan kesedihan,” ucap Ahsan.
Aisyah semakin memeluk erat Ahsan, dan Ahsan dengan lembut membelai rambut Aisyah dalam pelukan orang yang terkasih.
Beberapa hari kemudian mereka jalani hidup layaknya seorang kekasih. Namun ada yang mengganjal dalam diri mereka. Aisyah merasa tidak enak terhadap kedua orang tuanya karena mendustai sendiri janjinya.
Sedangkan Ahsan, dia lebih merasa gelisah. Bukan karena masalah hendak bertemu dan bicara dengan kedua orangtua Aisyah atau berbicara dengan kedua orang tuanya. Tapi, dia gelisah karena bayangan masa lalu yang ingin dia hilangkan kembali datang.
Nabila. Dalam jangka waktu lima hari, dia kembali datang. Namun kali ini bukan dengan sejuta pesonanya. Tapi dengan tangisan pilu penyesalan yang dia bawa. Tanpa sengaja mereka bertemu disebuah mall ketika Ahsan hendak membeli novel.
Pertama kali melihat. Ahsan tidak sadar jika itu Nabila, sampai dia sendiri yang menegur Ahsan duluan. Ahsan meliat beberapa perubahan yang signifikan dari diri Nabila, tapi bukan ke arah positif sepertinya.
Untuk sekarang. Ahsan tidak mau mengambil pusing hal semacam itu. Karena dia merasa jika Nabila sudah bukanlah urusannya. Namun siapa sangka, dia memberi nomor hpnya yang baru pada Ahsan.
Dari pertemuan singkat itu berlanjut pada curhat setiap malamnya Nabila kepada Ahsan tentang suaminya, yang puncaknya dia mengajak Ahsan untuk ketemuan di sebuah rumah makan di malam Jum’at selepas bekerja.
Awalnya Ahsan menolak, namun karena Nabila memohon dengan sangat kepadanya. Ahsan pun luluh dan mengiyakan pertemuan mereka itu.
“Kamu baik-baik aja kan?” tanya Ahsan.
Perlahan memutus suasana canggung selama sepuluh menit. Nabila mengangkat kepalanya, mengganguk perlahan menanggapi pertanyaan Ahsan. Ahsan tertawa canggung meliat respon itu.
__ADS_1
Kemudian tediam sejenak. Sungguh dalam hati dia berkata jika ini bakalan menjadi malam yang cukup buruk. Malam ini bulan purnama menggantung bulat di angkasa, membuat lautan menjadi pasang. Di dekat restoran tempat mereka bertemu.
Suara debur ombak menghantam karang dibawah sana terdengar berirama. Restoran seafood yang terletak di dekat jurang pantai ini tidak ramai. Hanya terliat empat atau enam pengunjung yang membawa keluarga serta pasangan mereka untuk makan malam di sini.
Mungkin karena sedang bukan musim liburan, jadi sepi. Namun yang lebih membuat sepi lagi adalah pembicaraan ini. Mereka duduk berhadapan di meja paling pinggir. Menatap selimut langit gelap lautan.
Jemari Nabila terlihat sedikit gemetar memainkan sendok dan garpu. Sejak tadi dia hanya diam dengan wajah yang selalu tertunduk. Ahsan sepeti bukan meliat Nabila yang dia kenal di waktu dulu.
Nabila yang selalu ramai memesan makanan, dan menyantap hidangan Ahsan terlebih dahulu jika mereka sedang makan bersama diluar. Kali ini tidak ada lagi hal itu, kali ini sangatlah berbeda.
“Maafkan aku,” Nabila menggigit bibir dan kemudian terdunduk lagi.
Ahsan menatapnya dengan tersenyum canggung.
“Gak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah terjadi dan tertinggal jauh di belakang,” balas Ahsan.
Berpura-pura tenang dan menjawab dengan bijak. Padahal dalam hati dia juga bingung harus berbuat apa. Hening lagi sejenak. Lebih banyak kesunyian menggantung di langit restoran seafood ini.
Nabila datang mengenakan gaun biru dan syal putih. Matanya sembab, sehingga menutupi wajah cerianya. Selama hampir setengah jam berlalu, dia lebih banyak menahan isak tangis dan menyeka ujung-ujung matanya dengan sapu tangan merah muda yang dia bawa.
Dia menceritakan banyak hal yang terjadi setelah dia menikah. Sedangkan Ahsan hanya diam menyimak. Dulu setiap Nabila sedang sedih, dia pasti segera bergegas menghiburnya, melucu, memberi kata-kata motivasi di depannya.
Bahkan, sampai rela merendahkan harga dirinya di depan orang banyak hanya untuk meliat Nabila kembali tertawa. Namun kali ini Ahsan hanya terdiam, bingung terhadap apa yang harus dia lakukan.
Sungguh pembicaraan ini membuat sepi banyak hal. Terutama kedua hati insan ini. Ahsan menghela napas perlahan. Mulai bertanya dalam hati perlahan. Berusaha berpikir sehat dengan apa yang barusan Nabila ceritakan.
Dalam bercerita itu dia lebih banyak menahan tangis. Ahsan hanya diam menyaksikan. Sesekali menatap kosong ke langit malam, lalu kembali diam mendengarkan. Pernikahan mempesona dan mewahnya dengan pria itu gagal.
Lihatlah, makhluk seindah dan secantik Nabila dianiaya dan dicampakkan begitu saja. Itulah menurut pengakuannya. Apa yang sebenarnya terjadi, Ahsan tidak begitu mengerti dan apa yang harus dilakukan, Ahsan juga tidak mengerti?
Enam bulan lebih berlalu hanya berkutat mengenangnya, mendengar dan mendendang lagu-lagu patah hati. Membaca buku-buku patah hati. Hidup yang sulit sampai dia ingin mengakhirinya. Setelah bersusah payah keluar dari kesulitan itu, lalu berhasil menemukan wanita yang tepat.
Menyingkirkan semua kenangan tentangnya. Nabila datang kembali. Menelpon dengan suara tangis yang tertahan. Meminta bertemu malam ini dan berucap.
“Apakah kamu masih mencintaiku? Jika iya, bawalah aku pergi bersamamu,” ucap Nabila dengan memohon.
__ADS_1
Ahsan menundukkan pandangannya, bertanya lirih dalam hati kepada Rabbnya, “Yaa Allah apakah ini yang namanya cobaan hati?”