Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Kisah Horor Kantor Baru


__ADS_3

Ini hari pertamaku bekerja di perusahaan yang ke dua semenjak aku lulus dari kuliah. Sebuah kantor yang bergerak di bidang perdagangan rental mobl. Bentuk tempat kerjaku bernuansa semi kantor. Banyak ruang-ruang yang tidak terpakai dan sekitarnya pun masih banyak pohon serta genangan-genangan air yang terbentuk seperti rawa.


Di hari pertama ini aku kebagian tugas untuk mengeliligi absen, atau tepatnya lagi, meminta konfirmasi ke para supervisor dari masing-masing department atas ketidakhadiran para staf-stafnya. Tujuannya adalah agar aku lebih cepat mengenal para karyawan dan tempat-tempat untuk masing-masing departmentnya. Apalagi aku adalah orang HRD.


Kantor yang kedua ku ini sangat luas, karena aku bertempat di kantor pusat, bukan bertempat di cabang seperti kantorku dulu. Setelah berkeliling ke department operasional, finance, IT, dan asset.  Sekarang giliranku untuk meminta konfirmasi pada supervisor yang ada di bagian marketing.


Ruang marketing terletak di lantai satu. Ruangannya cukup luas, tapi gelap. Entah apa yang membuatnya bisa gelap seperti itu. Padahal aku perhatikan cukup banyak lampu terpasang disana. Aku berjalan menuju pintu masuk ke ruangan marketing, namun sebelum tepat di depan pintu masuk.


Ada ruangan kecil, tapi terlihat cukup rapih dan nyaman. Sepertinya ruangan itu digunakan untuk ruang meeting kecil. Karena di dalamnya aku melihat ada beberapa orang, emmm tepatnya enam, ohh tidak tujuh orang. Ada wanita muda cantik bertatapan  mata tajam, berambut hitam sepangkal leher, berbaju kuning dilapisi blazer hitam dan sedang dalam keadaan hamil. Duduk di sisi kiri proyektor yang digunakan untuk presentasi meeting tersebut.


Aku pun berlalu dari ruang tersebut dan mulai masuk ke ruangan marketing untuk meminta konfirmasi kepada supervisor tentang ketidakhadiran stafnya. Ternyata setelah masuk, ruangannya cukup nyaman dan orang-orangnya juga ramah serta sopan. Aku jadi menaruh rasa hormat pada mereka.


Bagian marketing sudah. Kini aku harus kembali ke lantai dua, untuk meminta konfirmasi di bagian purchasing, karena tadi sempat terlewat olehku. Bagian purchasing ini letaknya sangat tidak biasa, dia terletak di bagian paling pojok sekali dari kantor ini, dan tepat di luar sampingnya terdapat rawa yang masih sangat banyak pepohonan dan rerumputan.


Aku pun masuk ke ruangannya, ruangan yang sangat dingin. Tapi, tidak dengan para orang-orangnya. Orang-orangnya sangat ramah dan hangat, namun di ruangan itu entah mengapa rasanya aku pernah melihat salah satu dari mereka. Seorang wanita muda cantik bertatapan mata tajam, berambut hitam sepangkal leher, berbaju kuning dilapisi blazer hitam dan sedang dalam keadaan hamil.


Duduk di sudut ruangan sedang menatap keluar jendela, yang diluarnya langsung terhampar pemandangan rawa tersebut. Aku menatapnya dengan serius, bahkan sampai keluar dari ruangan itu. Orang ini bukannya tadi ada diruang meeting? Aku terus memikirkannya. Mungkin saja orang itu punya saudara kembar. Tapi, mengapa pakaian dan keadaannya yang sedang hamil sangat mirip sekali. Apa itu cuma kebetulan?


Ahh, sudahlah. Jika terus memikirkan hal itu, nanti akan mengganggu konsentrasi terhadap pekerjaanku, lebih baik lupakan saja. Toh, banyak hal lain yang harus aku kerjakan. Dua minggu sudah berlalu semenjak aku bergabung di perusahaan ini. Aku masih kebagian tugas untuk meminta konfirmasi absen kepada para supervisor atas ketidakhadiran para stafnya, karena di department kami belum mendapatkan karyawan magang yang bisa diberikan tugas tersebut.


Ini hari Senin. Hari yang dibenci oleh sebagian orang, karena di hari inilah segala macam aktivitas dan rutinitas dimulai kembali untuk satu minggu ke depan. Sedikit berbeda denganku, aku memulai hari ini dengan perasaan dan semangat yang biasa saja, karena memang tidak ada rencana yang istimewa. Gak terlalu semangat, gak terlalu kendor juga.

__ADS_1


Menjelang sore hari aku menyempatkan diri untuk mulai meminta konfirmasi ke para supervisor di masing-masing department. Kali ini hanya ada dua berkas, yang harus ditanda tangani oleh supervisor di derpatment yang bersangkutan sebagai tanda konfirmasi atas ketidakhadiran stafnya. Yaitu marketing dan purchasing.


Lebih baik ke bagian marketing saja dulu, pikirku. Soalnya memang harus ada berkas yang harus ku ambil di sana. Aku pun mulai berjalan menuju ruangan tersebut, aku berjalan menuju pintu masuk ke ruangan marketing, namun sebelum tepat di depan pintu masuk. Aku sempat melewati ruangan meeting kecil. Aku melihat ada beberapa orang yang sedang meeting di dalamnya.


Lalu, seperti beberapa waktu sebelumnya. Lagi-lagi aku melihat ada wanita muda cantik bertatapan  mata tajam, berambut hitam sepangkal leher, berbaju kuning dilapisi blazer hitam dan sedang dalam keadaan hamil. Duduk disisi kiri proyektor yang digunakan untuk presentasi meeting tersebut.


Aku langsung mengalihkan pandangan dari ruangan itu dan menuju ruangan marketing untuk melaksanakan salah satu tugasku. Aku tidak terlalu menghiraukannya. Karena fokus ke pekerjaan, biar cepat beres. Setelah selesai dan mengambil berkas penting yang harus aku ambil di sana, kini aku kembali bergegas untuk menuju ruangan purchasing.


Aku kembali melewati ruang meeting tadi, dan aku lihat wanita tersebut masih ada di sana. Setibanya aku di ruangan purchasing, aku segera meminta tanda tangan pada supervisor department tersebut tentang ketidakhadiran stafnya. Aku terkejut mendapati bahwa ternyata sekali lagi wanita itu sudah ada di ruangan ini.


Berada di sudut ruangan sedang memandangi komputer yang ada di hadapannya.  Kejadian ini sama dengan yang dua minggu lalu, baju yang dikenakannya juga sama. Siapa sebenarnya dia?


Aku yang dibakar rasa penasaran, berniat untuk memeriksa keganjilan ini. Aku kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, untuk memastikan keberadaan wanita itu di ruang meeting yang ada di samping ruang marketing. Aku perlahan memperhatikannya dari luar dibalik tebalnya kaca ruangan tersebut. Iyya, wanita itu ada.


Hal umum yang aku perhatikan adalah berkas yang ada di hadapan masing-masing dari peserta meeting. Karena pada umumnya orang yang meeting itu pasti membawa berkas-berkas yang diperlukannya. Tapi wanita ini tidak, dia tidak membawa apa-apa dan sama pula dengan yang di ruangan purchasing tadi.


Dia hanya berdiam diri, dia tidak ikut berbaur dan berkomunikasi dengan yang lainnya. Bahkan karyawan di ruang meeting ini juga menganggapnya seperti tidak ada. Aku jadi semakin penasaran siapa dia sebenarnya, tanpa sadar langkah kakiku semakin mendekat ke ruang meeting. Namun aku tetap berusaha menjaga jarak dari ruang itu. Agar tidak menganggu acara meeting.


Aku menghentikan langkahku dan melihat sekelilingku, menarik nafas, menundukkan kepala dan perlahan aku mulai fokus untuk memperhatikan wanita itu. Tanpa kusangka wanita tersebut menatap ke arahku sambil mengusap lembut perutnya yang sedang hamil. Dia tersenyum dengan mata melotot ke arahku.


Kemudian yang membuatku ingin menjerit adalah ketika dia terus melotot ke arahku sambil memutarkan kepalanya 360 derajat ke belakang lalu kembali ke depan. Astaga apa aku sedang bermpimpi atau tidak? Sedang berkhayal atau tidak? Rasanya semuanya seperti tersaji nyata dalam waktu ini.

__ADS_1


Ini sudah  minggu ke empat aku bekerja di sini. Sudah cukup banyak dinamika hidup yang aku lalui. Mulai dari yang membuat diri ini lemah, sampai yang membuat diri ini ingin menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya.


Aku sudah tidak mengedari konfirmasi absen lagi karena memang sudah ada karyawan magang yang mengerjakan itu, dan seharusnya itu juga memang bukan tugasku.


Di pertengahan bulan ini, di hari Kamis. Pekerjaanku cukup banyak, dan sepertinya aku akan pulang larut malam lagi di hari ini. Pagi yang mendung dan basah karena diguyur hujan semalaman, siangnya yang diliputi suasana nyanyian harmonis dari rintikan air hujan. Kemudian malamnya yang dingin dan yang parahnya lagi. Sangat mencekam.


Aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba merasakan nuansa mencekam itu. Apa karena seharian turun hujan terus. Atau karena sekarang adalah malam Jum’at?


Sudah pukul 18:00 tiba-tiba aku ingin sekali buang air besar. Mungkin karena saat makan siang tadi aku terlalu banyak memakan sambal ditambah lagi cuacanya juga sangat dingin. Ini sudah sulit untuk ditahan, akhirnya aku bergegas ke toilet yang ada di lantai satu. Untuk mendaratkan beberapa pesawat tempurku ini.


Kebetulan sekali toiletnya juga sedang kosong, jadi aku langsung saja masuk dan dan memulai aksiku. Haffhh, legaa. Akhirnya aku terbebas. Tapi, sepertinya cukup lama juga aku buang air. Harus buru-buru nihh biar langsung bisa pulang. Namun, sebelumnya aku harus membersihkan sisa perbuatanku ini.


Setelah selesai semua, aku merapikan diriku sedikit, bercermin mencuci tangan dan merapihkan rambutku. Aku pun keluar dari kamar kecil itu. Aku menaiki tangga yang menuju ke lantai dua untuk menuju ruanganku lagi. Tepat pada saat aku menaiki anak tangga kelima aku melihat supervisorku turun dari tangga dan membawa tasnya seperti orang yang sedang ingin pulang, namun wajahnya mengapa pucat. Kami pun berpapasan dan aku pun menyapanya, “Malam Ibu. Sudah ingin pulang yaa?” tanyaku pada beliau.


Tidak ada jawaban dari supervisorku dia hanya terdiam dan melewatiku begitu saja seolah-olah aku hanya benda yang beku, dingin namun bernyawa. Aku terus memperhatikannya saat dia mulai menuruni anak tangga yang berikutnya, aku terpaku memikirkan itu. Apa mungkin Ibu sedang sakit atau kesal kepadaku karena terlalu lama di kamar mandi?


Di saat aku ingin menginjak anak tangga terakhir yang menuju ke atas, sekali lagi aku menengok ke arah bawah untuk melihat supervisorku itu, karena masih penasaran kenapa beliau diam saja saat aku sapa tadi. Di waktu pikiranku itu melayang-layang memikirkannya, tiba-tiba bahuku ada yang menepuk pundakku sambil berkata, “Eii bengong aja di tangga, nanti jatuh loo.”


Aku menengok ke arah asal suara yang menepuk pundakku. Ternyata yang menepuk itu adalah supervisorku dia tersenyum padaku sambil mengucap salam perpisahan untuk hari ini. “Ibu pulang duluan yaa. Sampai jumpa esok hari. Daahh,” ucapnya.


Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk, serta berusaha mengucapkan kata, “Iyaa,” yang aku rasa nyaris tidak terdengar saat itu. Lalu keesokan harinya. Aku langsung mengajukan surat resign di kantorku yang baru ini.

__ADS_1


__ADS_2