
Dahulu kala, hidup seorang anak yatim dengan ibunya. Ia bernama Yahya dan ia seorang cacat. Kaki kanannya tidak tumbuh dengan sempurna. Hingga ia berjalan pincang sebelah.. Sedangkan ibunya, sudahlah amat tua dan sakit-sakitan.
Namun, Yahya bukanlah anak pemalas. Sejak ditinggal ayahnya lima tahun lalu. Dirinyalah yang mencukupi kebutuhan dirinya dan ibunya. Dia melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk bertahan hidup.
Kebetulan di desanya ada sebuah danau besar yang banyak sekali ikannya. Ia mencukupi kebutuhan dirinya dan ibunya dengan memancing. Pagi hari dia bangun dan melaksanakan ibadah kepada Tuhannya.
Setelah itu dia mencari cacing atau sejenis serangga lainnya untuk umpang pancing. Sehabis mencari cacing, dia mencari kayu bakar untuk bahan bakar memasak. Setelah mencari cacing dan dilanjut mencari kayu bakar. Dia menyiapkan sarapan dan makan siang untuk ibunya.
Urusan dirumah beres, dia berangkat pergi memancing. Hasil dari memancingnya, biasa dia gunakan untuk makan sehari-hari. Jika dapat banyak, ada yang dia jual juga ke pasar.
Di hari itu, dia pun berangkat memancing ke danau tempat biasa dia memancing. Hari ini cuaca mendung, namun dia tetap berangkat dengan alat pancing seadanya, buatan tangannya. Dari batang pohon bambu yang lentur dan benang kail yang dia beli murah.
Sesampainya di danau. Tumben sekali belum ada yang ikut memancing, apa karena cuacanya mendung di hari ini. Yahya tidak mengambil pusing akhirnya dia memasang umpan, melempar kail dan kemudian menunggu umpannya disambar ikan.
Cukup lama dia menunggu, sampai dia terkantuk. Hingga hari semakin siang, dan langit semakin mendung, namun tak ada satu pun ikan yang menyambarnya. Ia rehat sejenak untuk melaksanakan shalat. Lalu memeriksa kembali umpannya, melemparkannya ke dalam danau dan kembali menunggu dengan sabar.
Tidak lama kemudian ada ramai hentakan suara kuda. Tak jauh dari tempat ia memancing. Dia melihat atribut yang dipakai salah seorang yang baru tiba tadi, seperti pejabat istana kerajaan. Dia seorang pejabat yang berbadan besar, berperut buncit. Di dampingin dua pengawal. Hendak apa dia disini?
Ternyata dia juga ingin menghilangkan rasa suntuknya terhadap pekerjaan istana. Dia memilih memancing di danau ini. peralatan yang dibawa untuk memancing amatlah lengkap dan modern. Takut tidak kebagiankah Yahya?
__ADS_1
Nyatanya tidak. Yahya yakin rezeki sudah diatur oleh Allah Ta’ala. Kita sebagai manusia hanya ditugaskan untuk berusaha. Walaupun sedikit asal diniatkan untuk Allah pasti dapat rezeki dan berkahnya juga.
Si pejabat itu sempat mengejeknya. Tapi malah ditegur oleh dua pengawalnya. Dua pengawalnya akhirnya kena marah dan ia berjanji akan memotong setengah gaji mereka di bulan ini.
Waktu semakin bergulir. Selain mereka berdua, tidak ada yang memancing lagi di danau ini. Cuaca juga yang tadinya mendung, mulai turun rintik-rintik hujan. Si pejabat kesal kenapa belum juga dapat-dapat ikan. Berbeda dengan Yahya.
Umpan pancingnya disambar ikan yang besar. Rezeki yang amat luarbisasa baginya. Ia hendak pulang. Ingin memasak ikan ini untuk makan malam dan besok pagi. Bahkan jika masih ada sisa, daging segarnya ingin ia jual dipasar.
Namun malang bagi Yahya. Ikan hasil tangkapannya tersebut, dirampas oleh pejabat itu. Tidak hanya dirampas ikannya saja. Bahkan si pejabat itu menyuruh pengawalnya untuk memukulinya hingga babak belur.
Yahya merintih kesakitan dan berkata, “Tuan kasihanilah aku. Aku seorang anak yatim. Dirumahku ada ibuku yang sudah tua menungguku membawa ikan hasil memancing hari ini,” ucapnya.
Namun si pejabat itu tidak mau mendengarkan rintihannya. Pejabat itu pun pulang meninggalkannya sendirian di tepi danau. Pejabat itu pulang membawa hasil rampasannya. Memasaknya dan memakannya sendiri, karena pejabat ini belumlah berkeluarga.
Ia buru-buru menyelesaikan makannya dan mengobati lukanya. Setelah itu dia pun tertidur, berharap esok pagi luka dan rasa nyeri yang ada di jarinya akan lekas sembuh.
Pagi menyapa, si pejabat itu bangun dari tidurnya dalam keadaan tubuh yang ringsek. Bukannya segar sehabis tidur. Ini malah seperti habis kayak orang dipukuli. Lalu yang lebih membuat ia terkejut, luka di jari tangannya malah menyebabkan lubang kecil yang menganga.
Dia obati luka itu. Dia pergi ke tabib lalu mendapatkan obat. Obat itu dia olesi diluka tersebut disetiap menjelang dia tertidur. Namun lukanya tak kunjung sembuh juga. Malah kali ini ada ulat-ulat kecil yang menggerogoti jarinya itu.
__ADS_1
Ia tak tahan, hilang kesabarannya dan dipotonglah jarinya itu. Tetapi, ternyata ulat-ulat kecil itu tidak berhenti sampai disitu. Mereka mulai menggerogoti pergelangan tangannya. Akhirnya dia potong pergelangan tangannya. Berharap ulat-ulat itu berhenti menggerogoti tubuhnya.
Tapi, ulat-ulat itu malah semakin banyak, dan sekarang menjalar sampai ke sikunya. Ia pun mecoba pergi ke tabib dan mengkonsultasikannya. Setelah diperiksa, tabib itu menyarankan agar satu lengan kanan ini dipotong. Agar ulat-ulat itu tidak terus menggerogoti tubuhnya.
Bukan main sedihnya pejabat kerajaan itu. Ia meminta waktu untuk berpikir. Akhirnya ia bermunajad kepada Allah, hal yang sudah lama tidak ia lakukan. Ia berdo’a untuk kesembuhannya dan diberi jalan keluar terhadap masalahnya.
Setelah selesai berdo’a. Ia memanggil dua pengawalnya. Memohon maaf jika selama ini ia ada banyak salah kata dan perbuatan selama menjadi majikan mereka. Dua pengawalnya pun memaafkannya.
Pengawal yang satu bercerita kepadanya. Jika ia pernah bermimpi didatangi oleh sosok seorang kakek tua berbaju putih. Didalam mimpinya itu, si kakek menyeru jika majikannya, harus mengembalikan hak-hak yang telah ia rampas kepada pemiliknya. Maka ia akan sembuh dari penyakitnya.
Si pejabat tertegun. Airmata membasahi pipinya, ia telah berbuat amat dzalim terhadap seorang rakyat jelata. Ditambah lagi, ia adalah seorang anak yatim yang menafkahi ibunya yang sudah tua.
Tanpa berpikir panjang, dia beserta dua pengawalnya pergi ke danau itu dan berharap bisa segera menemui si pemancing itu. Dia membawa bahan makanan dan harta kekayaannya untuk diberikan kepada si pemancing. Sebagai tebusan atas apa yang sudah ia lakukan.
Setibanya di danau ia melihat si pemancing itu sedang memasang umpang pada kailnya. Ia mendekatinya seraya menangis dan memohon ampunan darinya. Memberikan bahan-bahan makanan dan separuh harta kekayaannya kepada si pemancing.
Sebagai tebusan atas perilaku dzalimnya, dan ia juga memohon. Ikan yang sudah ia makan di ikhlaskan agar menjadi makanan yang halal untuknya. Si pemancing itu adalah orang yang lembut dan pecinta Nabi Muhammad Shallalhu Alaihi Wassalam.
Ia mencontoh perilaku Nabi. Ia memaafkan si pejabat itu dan mengikhlaskan ikan yang sudah ia makan. Seketika itu juga atas izin Allah. Rontoklah ulat-ulat yang menggerogoti lengan kanannya. Hingga sembuhlah ia dari penyakitnya.
__ADS_1
Hal ini membuat decak kagum si pejabat, dan dua pengawalnya. Ia pun bertanya kepada si pemancing, “Sungguh, do’a apakah yang engkau panjatkan kepada Allah?” tanyanya lembut.
Si pemancing ini hanya tersenyum dan menjawab, “Ditengah rasa sakitku kemarin aku berdo’a kepada Allah, mengeluh kepada-Nya. Mengapa aku dijadikan orang lemah tak berdaya, sementara engkau kuat berkuasa. Aku memohon keadilan dari Allah. Jika aku tidak bisa mengalahkanmu maka akan ada makhluk Allah lain yang akan mengalahkanmu!” ucapnya.