
Pagi itu di terminal Depok. Seorang gadis cantik, beralis tebal alami bak lukisan indah dari Sang Pencipta. Berambut bergelombang dan bertubuh semampai. Baru saja tiba dari perjalanan panjangnya. Perjalanan menempuh seberang lautan untuk bisa sampai disini. Riska namanya.
Ia meninggalkan para sahabat, adik tercinta dan pekerjaannya sebagai pengusaha jajanan ringan yang cukup sukses di desanya. Hampir tiga hari bertengkar dengan ayahnya karena beda prinsip. Ayahnya menginginkan, agar dia sekolah tinggi dulu baru kemudian bekerja.
Tapi dia berprinsip, untuk apa sekolah tinggi-tinggi, untuk apa kuliah. Toh, ujung-ujungnya kerja juga dan nyari duit. Sementara dengan dia berjualan jajanan ringan saja, seperti oleh-oleh. Dalam satu bulan dia sudah bisa mendapat keuntungan sebesar tujuh juta rupiah. Angka yang sangat besar di desanya.
Namun, ayahnya tetap pada pendiriannya. Dia meminta Riska, untuk mencobanya dulu. Bukan maksud memaksakan kehendaknya. Sebab itu adalah wasiat dari almarhumah ibundanya, sebelum beliau wafat.
Akhirnya Riska mengalah. Dia memilih universitas di kota Depok. Mencoba peruntungannya disini. Sampai di kota ini, dia bermaksud ke asrama putri. Tempat saudaranya, yang dulu kuliah di universitas yang sama.
Bayangan yang ada di benak Riska adalah. Anak-anak asrama dan teman-teman kampusnya yang kurang bersahabat. Pengurus dan penjaga asrama yang galak dan ketat peraturannya. Serta dosen-dosennya yang killer. Itulah kesan yang ada di benaknya.
Di kota ini. Tidak jauh dari kampus pilihannya. Ada asrama khusus wanita, yang memang ada untuk komunitas rantau dari Riau seperti dia. Dulu kakak sepupunya juga pernah tinggal sementara di asrama ini. Asrama yang dibuat oleh mantan gubernur Riau.
Agar anak-anak rantau dari Riau yang baru memijakan kaki disini. Tidak bingung mencari tempat tinggal sementara dan beradaptasi dengan hiruk pikuk kota. Dia pun menuju alamat yang ada disecarik kertas, yang diberikan oleh kakak sepupunya.
Sesampainya di asrama. Dia disambut dengan hangat oleh anak-anak seusianya dan juga si pengurus asrama. Mereka saling mengobrol dan bertukar pengalaman. Tertawa bersama dan makan minum bersama. Hingga Riska merasa nyaman, dan melupakan bayangan di benaknya. Jika dia akan di bully.
Riska mendapatkan kamar 007. Terletak di lantai dua bangunan asrama ini. Dekat dengan balkon yang langsung menghadap ke halaman depan. Sungguh indah dan tepat lokasi kamarnya. Sesuai dengan yang dia inginkan. Dekat dengan balkon dan halaman, uuh, itu amat menyenangkan baginya.
Secara ringkas bangunan asrama putri ini cukup luas dan besar, terdiri dari dua lantai. Ada sepuluh ruangan di lantai bawah. Enam ruangan untuk kamar cewek. Lalu satu ruangan berfungsi untuk Musholla dan satu lagi untuk kamar mandi. Ada dua ruangan yang dijadikan satu, untuk tempat tinggal pengurus asrama. Pengurus asrama ini adalah sepasang suami istri yang sudah cukup tua.
Usia mereka sekitar limapuluh tahun. Mereka baru saja tertimpa musibah. Anak gadis mereka hilang. Lalu suami dari pengurus asrama ini terkena sakit stroke. Kasus hilang anaknya sudah dia laporkan ke pihak kepolisian. Namun sudah sampai tiga hari ini belum juga diketemukan. Riska turut berduka atas musibah itu.
Kemudian, berlanjut di lantai dua, disini nyaris sama dengan di lantai satu. Ada sepuluh ruangan. Tujuh untuk kamar cewek, satu ruangan untuk Musholla. Satu kamar mandi dan gudang. Meskipun terdengar rada aneh, mengapa gudang ada dilantai dua. Bukankah lebih mudah dan baiknya di lantai satu. Tapi biarlah, Riska hanya anak baru disini.
Teman-teman satu asramanya sering ngumpul-ngumpul di balkon lantai dua. Untuk sekedar mengobrol, baca buku, kerja kelompok atau makan-makan ringan. Mereka mengobrol kadang hingga lupa waktu.
Di hari kedua Riska menginap di asrama. Sore itu sangat dingin menusuk. Sebab hujan nyaris seharian dari pagi hingga siang. Menyisakan udara dingin dan bebauan tanah dan rumput bekas terguyur hujan.
__ADS_1
Riska dan ke empat kawannya mengobrol sambil becanda di balkon. Salah satu temannya ada yang bicara tentang gudang di lantai dua. Ruangan gudang di lantai dua itu ternyata baru. Dia pikir sudah sejak lama ada dan berfungsi sebagai gudang.
“Enggak Ris. Itu gudang baru sekitar lima hari dipake,” ujar Ica temannya.
“Iya. Isinya juga gak tau apaan. Perasaan setiap ada barang bekas, langsung dijual-jualin deh sama si ibu asrama,” ucap Arum menambahkan.
“Iya tuh, aneh banget,” ucap Lia ikut-ikutan.
Riska polos. Gak ambil pusing. Apalagi begitu ada tukang bakso yang nawarin dagangannya ke mereka. Di sore-sore dingin begini siapa coba yang gak tergoda semangkok bakso hangat pedas pada saat ngumpul bareng kayak gini.
Anggun dan Riska turun sebentar dari balkon ke halaman depan asrama. Untuk membeli bakso. Mereka memesan lima bungkus bakso kepada si penjual bakso yang memang sudah sering lewat jualan di depan asrama cewek ini.
“Cuma beli lima bungkus, Neng? temennya yang satu lagi gak dibeliin?" tanya penjual bakso.
Anggun dan Riska tidak menanggapi mereka hanya mengambil pesanan bakso mereka. Kemudian ke atas dan bersama-sama menikmati hangat dan nikmatnya bersantap bakso. Setelah santap bakso selesai. Mereka kembali mengobrol hingga batas waktu maghrib.
Setelah adzan maghrib selesai berkumandang. Masing-masing dari mereka memisahkan diri. Ica dan Desti ingin shalat. Lia ingin mandi, sedangkan Anggun ingin rapihin pakaian kotor dulu buat dia bawa ke laundry besok.
“Enggak, gue lagi haid,” ucap Riska.
“Maghrib Ris, mending masuk ke dalam kamar aja,” ujar Desti, khawatir.
“Ahh, emang ada apaan? gue masih mau disini dulu bentar, main hp,” ucap Riska.
Temen-temennya gak bisa maksain. Akhirnya mereka pun balik ke kamarnya masing-masing. Untuk melakukan aktivitas lain di selepas waktu maghrib ini. Waktu maghrib yang dingin dan sepi.
Selang berapa lama kemudian ada cewek lain yang datang. Mengajak ngobrol Riska dengan asiknya. Dia belum kenal dekat dengan yang satu ini. Mungkin karena jarang keluar kamar dan ngumpul dengan yang lain.
Di sela asik ngobrol, Riska mulai bosan. Dia enggak sengaja menjatuhkan hpnya ke bawah. Dia ambil hpnya itu, dan pemandangan yang aneh terlihat jelas dimatanya. Kaki anak cewek yang dia ajak ngobrol tadi, berbeda dengan manusia pada umumnya.
__ADS_1
Kakinya berlumuran darah pada lutut hingga pergelangannya. Telapak kakinya tidak ada. Melainkan keduanya menciut dan menyatu layaknya tubuh ular. Riska yang menyaksikan hal itu sontak terkejut. Namun tetap berusaha untuk bersikap normal.
Riska bangkit dari tempatnya mengambil hp yang terjatuh. Mencoba bersikap tenang walaupun dipaksakan. Basa basi merapihkan rambut dan pakaiannya yang agak kusut dan mengkerut.
“Ehh, udah dulu yaa, gue ngantuk nih,” ucap Riska.
Si temen yang ada di hadapannya ini berkata. “Lu bener-bener ngantuk, apa sudah tahu siapa gue?”
Riska tidak menggubris. Dia langsung berlari ke kamarnya. Membuka pintunya lalu menutupnya kembali dengan rapat. Jendela-jendela kamar di langung geser kain gordennya agar tertutup. Lalu dia melompat ke kasur, menutup semua anggota tubuhnya dengan selimut.
Namun, Riska merasa seperti ada yang memperhatikannya. Dia membuka sedikit selimutnya. Melihat ke arah pojok kamar dekat dengan lemari. Ternyata benar saja. Gadis yang bersamanya mengobrol di balkon tadi. Telah ada dikamarnya dengan pakaian serba putih.
Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat dan terkesan sedih. Kakinya seperti kaki ular, dan dia melayang naik turun di pojokan kamar Riska. Riska tidak bisa berbuat apa-apa. Kepalanya pusing dan kesadarannya pun hilang.
Pagi harinya. Riska sakit, demamnya amat tinggi. Dia menggigil dan juga kehausan. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelah dia melohat sosok wanita putih tersebut. Dilihatnya sosok wanita putih itu sudah tidak ada. Dia pun keluar dari kamarnya.
Pagi ini keadaan asrama sepi mungkin masih pada belum bangun. Karena masih sekitar jam empat. Dia melihat ibu pengurus asrama baru saja habis dari gudang. Kemudian turun ke lantai satu dengan tangga. Sedang apa pagi-pagi begini ibu asrama di gudang?
Ahh, sudahlah. Gak perlu diambil pusing. Mengingat kejadian tadi malam saja dia sudah pusing. Riska juga ingin ke lantai satu. Buat ambil minum karena galon air mineral adanya di lantai satu. Dia berjalan melewati gudang tersebut.
Karena penasaran dia melihat sedikit ke dalam gudang yang keadaan pintunya sedikit terbuka. Mungkin si ibu pengurus asrama lupa menutupnya dengan rapat. Di dorong rasa penasaran. Dia pun perlahan masuk.
Ternyata di dalamnya sangat bau. Ada benda seperti peti tergeletak dibawah lantai. Bau ini berasal dari peti itu. Dia menendang tutup peti itu, dan terlihatlah wajah mayat yang sudah membusuk. Astaga, mayat siapa itu?
Riska ketakutan sekaligus kebingungan. tubuhnya bergetar, keringat bercucuran. Dia hendak keluar dari gudang ini. Dia menutup tangan dan mulutnya. Karena bau bangkai ini amat menyengat.
Sebelum keluar. Dia sempat memperhatikan. Walau sekilas, mayat di dalam peti itu. Mirip dengan wanita putih berkaki ular yang tadi malam mendatanginya. Saat dia keluar dari gudang, disana sudah ada si Ibu pengurus asrama.
“Sedang apa kamu?” tanyanya.
__ADS_1
“A—anu, Bu. Cuma mau cari minum aja, haus,” ucap Riska.
Dia menahan gemetaran akibat rasa takutnya. Si Ibu asrama hanya tersenyum licik sambil berkata. “Kamu beneran mau cari minum, atau sudah tahu siapa saya?"