
SAMAIN KAYAK BAPAK
Jacky dan Badha baru saja habis pulang bekerja. Dia melihat di teras kontrakannya ada Fatih yang sedang duduk termenung. Tatapan matanya amatlah sedih dan tersirat kesusahan yang mendalam.
Jacky dan Badha mendekati sahabatnya itu. bermaksud untuk menghibur dan membantu kesulitannya. Maklum mereka bertiga adalah sahabat sejak kuliah dulu, dan sama-sama anak rantau juga.
“Lu kenapa, Fat?” tanya Jacky.
“Gue gagal lagi nihh,” jawab Fatih.
“Gagal apa? nembak cewek?” tanya Badha.
“Bukan, gue gagal lagi di seleksi penerimaan karyawan,” ujar Fatih dengan nada sedih.
“Gak lolosnya dimana? psikotest? atau test excel?” tanya Jacky.
“Kalau test itu semua, gue udah lolos,” ucap Fatih dengan percaya diri.
“Terus gak lolosnya dimana?” tanya Badha lebih lanjut.
Fatih pun menceritakan hal yang terjadi sebenarnya kepada kedua sahabatnya. Jika dia tidak lolos pada saat interview. Ketika dia ditanya mau gaji berapa, Fatih bingung. Mau minta lebih takut kelebihan. Mau minta kurang takut rugi.
“Terus lu jawab apa jadinya?” tanya Badha.
“Akhirnya gue jawab. Yaa udah, samain aja kayak gaji bapak. Ehh malah ditampol gue,” jawab Fatih.
Selebihnya, kedua sahabatnya lebih memilih untuk meminum racun serangga. Dibanding dengerin curhatannya si Fatih tutuk.
PETUALANGAN DI KONDANGAN
Pada hari minggu itu. Langit terlihat mendung, matahari malu-malu untuk menampakkan dirinya. Ketiga sahabat karib yang kemana-mana selalu kompak sedang merencanakan datang ke sebuah acara pernikahan teman kampus mereka dulu.
__ADS_1
Mereka pun bersiap-siap pergi untuk menghadiri pesta pernikahan temannya itu. Di daerah Taman Mini, Jakarta Timur. Mereka bertiga berangkat dengan memakai angkutan online, dan kompak memakai baju batik dan stelan celana bahan berwarna hitam.
Setelah sampai di daerah Taman Mini, mereka turun dari angkutan online yang membawa merea tersebut. Dengan yakinnya main langsung masuk aja ke gedung. Berhubung sudah lapar dan cuaca dingin.
Mereka bertiga kompak untuk menyalami pengantin di terakhir saja. Selepas mereka menikmati semua hidangan. Ketika mereka mau hendak pulang nanti. Sambil memberikan amplop kepada si pengantin pria.
Teman kampus mereka dulu. Di dalam gedung, mereka sudah melihat. Jika ada banyak aneka makanan berat dan ringan yang sungguh amat terlihat enak dan menggugah selera mereka. Lambung dan usus mereka sudah siap untuk bekerja lembur.
Jacky langsung antri ke stand makanan berat, soalnya dia belum sarapan tadi waktu mau berangkat. Badha memilih antri di antrian yang cukup panjang. Karena di ujung antrian ini. Ada stand makanan favoritnya, yaitu soto betawi.
Sedangkan Fatih yang bertubuh gempal. Tidak mau palah pilih makanan, dia mau makan semua hidangan yang ada di sini, dan dia memulai dari antrian stand yang tidak terlalu panjang. Masuklah dia ke antrian itu.
Setelah cukup lama mengantri. Ujung antrian itu ternyata bukan stand makanan, tapi toilet.
“Yaa ampun, pantesan antriannya gak terlalu rame. Ternyata pada mau ke toilet,” gumam Fatih.
Dia pun akhirnya melayangkan pandangannya lagi. Melacak dan mencari-cari stand makanan mana yang bisa dia gerilnya terlebih dahulu. Berbeda dengan Badha, dia sudah sedang enak-enaknya makan soto betawi.
Ketika dia ambil minuman yang ada di meja dekat dia duduk. Gak tahunya, mangkok kuah soto yang mau dia santap sudah diambil orang untuk diberesin.
“Yaa ampun, Bang. Justru itu yang enak loo, Bang. Biar anget perut gue,” gumam Badha dengan agak kesal.
Beralih ke Jacky. Dia sangat beruntung langsung memilih makan berat. Karena rendangnya masih banyak dagingnya, dan nasi gorengnya amat lezat. Pada saat antri ambil makanan, entah kenapa banyak para wanita yang menatap dan menertawakannya.
Dia gak ambil pusing, pokoknya pas piringnya penuh. Jacky lalu mencari tempat duduk. Ketika duduk baru lah ketahuan, kenapa para wanita di antrian meja tadi menatap dan menertawakannya. Ternyata resletingnya turun dan kesingkap ****** ******** yang berwarna pink.
“Sial, kok pantesan berasa dingin banget di daerah sini dari tadi,” gumam Jacky, sambil menaruh piring hidangannya sebentar, dan memperbaiki resletingnya yang turun.
Untuk Fatih, akhirya dia mendapat makanan setelah antri di antrian stand yang cukup panjang. Dia mencari tempat duduk untuk menyantap makanan yang sudah ada di tangannya tersebut. Dia dapat tempat duduk dan mulai menyantap hidangannya dengan lahap.
Pada suapan pertama rasa makanan yang disantapnya terasa sangat asin. “Ini makanan apaan sii? asinnya sampai semena-mena banget,” ujar Fatih.
__ADS_1
Tapi karena penasaran, dia makan lagi hidangan itu. Hidangan yang disajikan dalam wadah mangkuk plastik kecil. Di suapan kedua, Fatih merasa makanan yang dia makan ini terasa asam dan agak panas.
“Ini makanan apaan sii yaa? anget-anget becek lengket gini, kayak upil baru diangkat,” ucap Fatih.
Tapi berhubung takut mubazir dan dosa karena buang-buang makanan. Akhirnya Fatih tetap habiskan makanan yang rasanya kayak upil becek itu. Malah sampai nambah dua kali, saking enaknya itu rasa upil anget.
Badha masih mencari-cari makanan yang berkuah. Karena itu memang favoritnya, untung saja di kondangan ini gak ada yang usil nyediain air kobokan. Bisa-bisa, itu air dia minum juga. Badha pergi ke stand bakso.
Namun nyatanya baksonya sudah habis. Tinggal kuahnya saja sedikit. Badha gak habis akal. Dia pergi ke meja makanan berat. Dia ambil rendang, dia ambil ayam kecap, dia ambil juga kambing guling.
Semuanya itu dia taruh mangkok dan dia minta kuah bakso sebelum memakannya. Tak lupa dia juga pakai kecap dan sambal. Uuh, nikmat banget rasanya. Sampai ada beberapa orang yang mengikuti cara Badha tersebut.
Setelah kenyang makan dan minum. Mereka kembali berkumpul lagi bertiga di dekat panggung biduan seksi menyanyi. Mereka berencana untuk pulang, dan sebelum pulang mereka juga ingin bersalaman dulu sambil memberikan amplop ke Fajar.
Tapi, ketika mereka hendak naik ke panggung. Mereka merasa ada yang beda. Kok yang ada di bangku pelaminan bukan si Fajar. Melainkan bule negro yang tinggi dan hitam, kayak orang Nigeria. Mereka bertiga melongo bersamaan.
“Jack, Badh. Sejak kapan si Fajar jadi bongsor dan item gitu? si Fajar kan bogel dan kemerahan rambutnya. Kayak ayam kate? tanya Fatih.
Mereka bertiga langsung melihat nama mempelai pria dan wanita yang berada dekat dengan panggung pelaminan. Di situ tertulis, Sania dan Twain. Nama orangnya juga beda, bukan Fajar dan Sania.
“Sania dan Twain itu satu orang apa dua orang, Jack... Badh… ?” tanya Fatih lagi.
Membuat kedua temannya semakin menelan ludah.
“Jangan-jangan, ada yang salah sama pernikahan ini,” ucap Jacky.
“Mana mungkin pernikahan salah. Ada juga yang salah kita. Coba liat undagannya, yang bawakan elu!” ujar Badha.
Akhirnya Jacky membuka undangan yang memang sengaja dia bawa di tas selempangnya. Di undangan tersebut tertulis. ‘Sania dan Fajar 15 Januari 2023, akad dan resepsi di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta Timur’.
Allahu Akbar. 15 Januari itu kan minggu depan. Akhirnya mereka mundur perlahan dan keluar secara diam-diam. Sebelum ada orang yang menyadari, jika mereka bertiga adalah tamu tak diundang yang sudah terlanjur kenyang.
__ADS_1