Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Rumah Syuting Angker (Part 2)


__ADS_3

Hari kian sore. Semua kru sudah bersiap. Kamera dimasukkan ke bilik kamar mandi yang bisa dibilang cukuplah untuk masukin aktor sama beberapa peralatan syuting. WC-nya jenis wc jongkok dan ada kolam kecil buat penampungan air atau bak mandi sama satu buah gayung merah.


Di dalam bilik kamar mandi, hanya ada Tian, dua kru lampu dan director of photography, si Bang Tigor. Ketika semua sudah siap, Bang Salim selaku sutradara teriak, “action’.


Adit yang berada gak jauh dari lokasi pengambilan scene ikut mendengar teriakan itu. Lagi nyantai bentar sambil baca-baca naskah untuk pengambilan scenenya nanti. Tiba-tiba dia mendengar sedikit suara keributan dari lokasi pengambilan scene di kamar mandi tersebut. Jangan-jangan itu kamar mandi beneran hidup.


Oeeekkss…


Ada suara orang muntah, jangan-jangan itu kamar mandi bisa hamilin orang juga. Adit dan beberapa kru lain ikut mendatangi lokasi tersebut. Mau menanyakan dan lihat ada apa yang terjadi.


Sesampainya Adit dan beberapa kru syuting disitu. Hampir semua kru yang bekerja di sekitar kamar mandi pada menutup hidung. Bahkan ada yang sampai muntah-muntah. Begitu pun dengan Bang Salim, Bang Tigor dan Tian.


“Ada apa yaa?” tanya Adit pada salah satu kru yang menjauh dari lokasi itu.


“Kamar mandinya bau,” jawabnya si kru sambil menutup hidung.


“Lahh, semua kamar mandi kan emang bau,” respon Adit, rada jengkel.


“Ini kayak bukan bau ‘ee, tapi bau amis atau anyir gitu. Kayak bau darah,” jelas salah satu kru lain lagi yang ikut ambil bagian dari scene ini.


Adit semakin mendekat ke pintu kamar mandi untuk memastikan, dan ternyata, emang bener. Baunya amis banget. Kalo ada kru atau pemain film wanita, yang ngebuang pembalut di dalam kamar mandi ini juga baunya gak separah ini.


Sumpah bau banget. Mana cuma ini satu-satunya kamar mandi dirumah ini. Akhirnya Bang Salim meminta kru pembantu umum untuk membersihkannya dulu. Menyiramkan karbol sebanyak mungkin, agar bau anyir tersebut bisa hilang.


Ada sekitar beberapa menit dibersihkan, dan dipastikan sudah hilang baunya. Proses syuting pun kembali dimulai. Masih adegan yang sama. Tian ngomong di depan kamera, pake bahasa Inggris dan Sunda.


Adit merasa proses syuting sudah kembali normal. Tian hampir melengkapi kalimatnya, dengan kalimat bahasa Inggris, setelah kalimat “My friends died yesterday. (temen-temenku pada mati kemarin).”


Klootakk.


Tiba-tiba, gak ada angin dan gak ada yang menyentuh. Gayung merah yang ada di pinggir kolam bak kamar mandi jatuh. Kami terkaget. Kami saling tanya dan bertukar pandang, siapa yang jatuhin itu gayung?


Posisi gayung ada jauh dari posisi Tian berjongkok menghadap kamera. Sudah gitu, ventilasi udara juga anginnya gak terlalu kenceng. Kami saling bertanya-tanya, yang pada akhirnya Bang Salim memutuskan untuk kembali mengulang adegan. Menurut Adit, ini pengambilan scene bakal jadi pengalaman menarik baginya. Adit pantengin disini aja dulu.


“Ok, kita coba ulang yaa. Tolong gayungnya singkirin aja dulu taro di tempat lain,” pinta Bang Salim.

__ADS_1


Bang Tigor juga sudah menyiapkan kamera kembali sambil berkata lantang, “Ok siap. Kita ulang!”


Sekali lagi, masih adegan yang sama. Tian ngomong di depan kamera. Kali ini dilanjut dengan pakai tangisan sambil sekali lagi berkata. “My friends died yesterday. (temen-temenku pada mati kemarin)….”


Belum sempat Tian mengucap dialog berikutnya, kamera mendadak mati, dan kami semua kebingungan. Terutama Bang Salim dan Bang Tigor.


“Kok main cut aja!?” tanya Bang Salm.


“Enggak ada yang nge-cut. Ini kamera tiba-tiba mati sendiri,” jawab Bang Tigor. “Coba gue periksa dulu.”


Bang Tigor memeriksa kamera tersebut, dan tidak ada yang aneh dan rusak. Di pun menyalakan kembali kamera. Sudah aman, kamera pun hidup kembali. Dia pun segera memberik kode ke Bang Salim jika syuting sudah bisa dimulai kembali.


“Ya udah coba kita ulang yaa,” seru Bang Salim.


Hasilnya masih sama seperti yang sebelumnya. Belum sempat Tian menyelesaikan kalimat dialognya, kamera tiba-tiba mati lagi dengan sendirinya. Membuat orang-orang yang ada di sekitar situ menjadi agak kebingungan.


“Aneh banget, “kata Bang Tigor. “Kok bisa mati sendiri yaa ini kamera?”


“Rusakkali?” tanya Bang Salim.


Dia pun bolak balik memeriksa kamera itu. Dia mencoba berbagai macam cara. Kamera disetel ulang, diganti kartunya, tapi pas lagi pengambilan gambar. Hasilnya masih tetap sama. Kamera tersebut mati secara tiba-tiba setiap kali Tian bicara dalam bahasa Inggris.


Adit mencoba menghampiri Bang Salim yang terlihat sedang dalam keadaan bingung. Dia menggaruk kepalanya melihat ini semua. Satu pengambilan scene aja bisa sampai hampir semalaman suntuk ini.


“Kalo kayak gini terus, adegan ini gak bakalan bisa sempurna diambil. Kenapa sii yaa?” ucap Bang Tigor yang juga kebingungan.


Bang Tigor mendekat juga ke arah Bang Salim membawa gagasan yang bisa dibilang kurang masuk akal, dia berkata. “Gue juga gak tahu, yak. Ini sii mungkin kedengarannya aneh. Tapi gue mau coba nyalain kamera tanpa Tian, boleh gak?”


“Maksudnya?” tanya balik Bang Salim.


“Gue mau coba aja nyalain kamera. Kita arahin ke kamar mandi ini. Gak usah ada si Tian dulu. Gak usah ada dialog dulu,” ucap Bang Tigor.


“Buat apaan, Gor?” tanya Bang Salim lagi.


“Buat ngetes aja. Kameranya mati tiba-tiba lagi apa enggak,” jelas Bang Tigor.

__ADS_1


Pada akhirnya, kamera diarahakan fokus ke kamar mandi. Anehnya, kamera tersebut gak mati-mati selama tiga menit pertama merekam. Enam menit, kamera tersebut gak modyar juga. Total sampai hampir sepuluh menit kami tunggu, kamera tersebut gak mati juga.


Bang Tigor, menghampiri kembali Bang Salim dan berdiskusi. Terlihat dari wajahnya Bang Tigor dan Bang Salim yang kebingungan kalo masalahnya bukan di kamera. Tapi pada hal lain yang bisa dibilang tak kasat mata.


“Ternyata bener kan, Bang,” ujar Bang Tigor. “Kayaknya ada yang gak suka kita bikin adegan si Tian pakai bahasa Inggris,” lanjutnya.


“Laah, terus hubungannya apa?” tanya Bang Salim, masih kebingungan.


Adit menatap mereka dengan bingung juga. Beberapa kru juga melakukan hal yang sama dengan Adit. Mereka penasaran sama kejadian aneh ini. Mana sudah hampir mau masuk waktu maghrib juga.


“Ini kan Indonesia, dan daerah yang biasa pakai bahasa Sunda. Sedangkan si Tian, udah bule, ngomongnya bahasa Inggris lagi.” jawab Bang Tigor.


“Jadi menurut lu… ada makhluk halus rasis yang matiin kameranya?” tanya Bang Salim lebih lanjut.


“Bukan gue yang ngomong yaa Bang,” kata Bang Tigor, dengan ekspresi agak panik.


Dengan semua kejadian itu. Bang Salim, akhirnya meminta kami untuk break dulu. Setengah jam nanti mulai lagi. Dia juga mengingatkan kami untuk pada shalat dan do’a dulu. Kebetulan emang udah masuk waktu shalat Maghrib.


Tumben ingetin shalat dan do’a. Biasanya mahh break yaa break aja. Ada yang tidur, ada yang makan dan ada juga yang ngopi. Kami pun break. Tian kebingungan, karena memang gak ada yang cerita ke dia kalo adegan dia diganggu sama makhluk halus.


Takut dia jadi parno nanti. Adit kembali duduk dibangku tempat dia besantai tadi. Sambil nunggu ngantri untuk ambil air wudhu. Adit rebahan-rebahan bentar. Ketika pejamin mata, tiba-tiba dia merasa dingin.


Siapa yang naruh batu es dilantai. Adit terbangun lagi dan mengecek kondisi lantai dan kakinya. Adit lihat gak ada apa-apa, lantai juga gak basah. Daripada bingung, mending dia ambil air wudhu aja.


Setelah selesai mengambil air wudhu. Adit kemudian ke lantai atas. Di lantai dua ini ada ruangan yang memang sudah disediakan untuk tempat shalat kru dan pemain film. Masih antri juga shalatnya.


Adit pun duduk lagi di kursi samping jendela. Di luar jendela ada nenek berambut putih memakai kebaya putih juga. Melihat ke arahnya dengan senyuman manisnya. Mungkin warga sekitar yang memang suka pada nonton proses syuting.


Adit balas senyuman nenek tersebut dengan senyuman yang gak kalah manis, dan kemudian. Nenek itu berlalu. Adit pun shalat. Selesai shalat dia merasa kalau hidungnya gatel banget. Adit berlari ke arah jendela dan bersin dengan menghadap keluar jendela. Haatcsyuu.


Alhamdulillah. Selesai bersin Adit mengucek-ngucek hidung. Sambil menatap ke luar jendela yang memang siang atau malam keadaannya dibiarkan terbuka seperti ini. Menatap langit yang sudah kembali gelap.


Melihat ke bawah. Disana ada rerumputan-rerumputan yang bergoyang-goyang, tertiup angin malam pegunungan yang dingin menusuk. Kemudian ada sesuatu yang baru dia sadari. Allahu Akbar.


Dia ada di lantai dua. Ada di atas. Tadi nenek-nenek yang diluar jendela itu berarti? Tiba-tiba rasa dingin merayap dari kaki hingga ke dadanya. Adit melihat dari jarak yang gak jauh dari tempat dia berdiri, di depannya persis. Ada sosok putih terbang ke semak-semak. Adit menelan ludah, lalu berdzikir dalam hati dan lisan.

__ADS_1


__ADS_2