Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Horor Rumah Pinggir Hutan (Part 3)


__ADS_3

Suara itu milik Lilik Etinya. Tapi sejak kapan Lilik Eti punya suara melengking dan panjang seperti itu, pikiranya. Tapi Wulan tidak ambil pusing. Karena berhubung dia sudah sangat lapar dan capek. Perjalanan pulang pergi dengan menggunakan motor cukup menyita tenaganya.


Di pun mulai mengetuk pintu dan mengucap salam. Dia masuk ke dalam rumah, yang pada saat itu keadaannya sangat gelap gulita. Entah sedang mati lampu atau apa. Dia baru teringat pada saat dia keluar rumah tadi.


Dia yang mematikan lampu. Tapi masa iyya, Liliknya pas sampai rumah tidak menyalakan lampu lagi? Akhinrya Wulan menyalakan lampu yang saklarnya ada di dinding dekat pintu. Tepatnya ada di belakang pintu jika pintu sedang dalam posisi terbuka. Dia meraba dinding di belakang pintu. Mencoba menemukan saklar berwarna putih itu.


Ketika lampu mulai menyala dan menyinari hampir semua ruangan di dalam rumah tersebut. Wulan melompat kaget. Sebab dia mendapati Liliknya ternyata ada di kursi dekat pintu. Dia sempat berpkir kebingungan.


“Lilik Eti. Sejak kapan ada di sini?” gumam Wulan dalam hati.


“Sudah pulang, Lan?” tanya Liliknya itu dengan datar.


“Suu… sudah Lik,” jawab Wulan dengan gugup karena masih terkejut.


Mereka pun sempat berbincang-bincang sebentar di ruang tamu. Seperti biasa, Wulan merasa ada yang mengintip. Dia arahkan pandangannya ke jendela dan arah pintu, tapi tidak ada siapa-siapa. Wulan merasa seperti sedang di awasi.


Di kesempatan ini juga Wulan memberitahukan kepada Liliknya, jika ada beberapa temannya yang mau main berkunjung. Bahkan mau sampai menginap. Liliknya sama sekali tidak keberatan. Karena temen-temennya bisa untuk menemani Wulan juga.


Lilik Etinya hanya berpesan. Tetap jangan masuk sembarangan ke kamarnya, dan daging yang ada di kulkas jangan di makan. Wulan pun mengiyakan syarat dari Liliknya itu. Untung saja daging yang ada di kulkas itu dia tidak sentuh sama sekali, sejak dari awal dia tiba di sini.


Malam ini berjalan seperti biasa, sehabis shalat dan makan. Wulan santai-santai dulu di ruang tamu. Ditemani oleh hpnya. Sedari tadi dia saling berbalas wa dengan Meta dan Alyt untuk rencana menginap di rumah ini besok. Hawa dingin yang tiba-tiba datang menusuk tengkuknya, sudah mulai menjadi hal yang biasa baginya.

__ADS_1


Teman kerja Wulan yang sesama bekerja di perkebunan teh. Bernama Meta dan Alyt ingin sekali merasakan menginap di rumah yang tepat di pinggir hutan larangan tersebut. Mereka ingin merasakan suasananya yang sepi dan dingin, jauh dari keramaian manusia.


Bagi mereka tinggal dekat hutan pasti nyaman dan tentram. Pagi hari disambut oleh kicau burung dan pemandangan yang indah. Ketika hujan terasa amat syahdu sekali, mencium bau tanah yang tersiram air hujan, dan mendengarkan suara-suara harmonis dari rintikan-rintikannya.


Ketika malam amat sepi dan dingin tanpa ac serta kipas angina. Jadi bisa langsung tidur nyenyak. Hari pun berganti lagi. Kini sudah ada Meta dan Alyt yang menemani Wulan di rumah Liliknya yang berada di pinggir hutan itu.


Sementara Liliknya, info terakhir kemarin malam akan menginap di rumah temannya. Jadi kebetulan sekali jika Meta dan Alyt menginap. Wulan jadi ada yang menemani. Ketika sampai di rumah.


Meta dan Alyt langsung sangat senang sekali melihat rumah mungil ini yang diapit oleh dua pohon beringin besar di kiri dan kanannya itu. Di depan rumah terdapat jalan setapak dari bebatuan alami yang di kiri dan kanannya terdapat pohon-pohon jagung dan katuk.


Di belakang rumah lebih enak lagi. Ada kolam kecil yang terdapat ikan mujair dan sepat. Pohon mangga harum manis yang sudah berbuah masak. Serta beberapa pohon cabai rawit merah dan pohon terong ungu.


Liliknya tidak melarang-larang perihal tentang tanama jagung. Liliknya hanya melarang dia untuk memasuki kamarnya dan makan daging yang di dalam kulkas. Jadi boleh lah kirangnya. Dia dan teman-temannya, berpesta jagung besok.


Benar saja sepulang dari tempat kerja Meta dan Alyt berboncengan motor. Sementara Wulan sendiri. Mereka menyempatkan diri untuk belanja keperluan membuat jagung bakar. Seperti panggangan, arang, kipas, bumbu-bumbuan dan saos.


Ketika sampai di rumah dan beres-beres. Mereka sempatkan diri untuk memanen jagung di halaman. Ada sekitar sepuluh lebih jagung yang mereka panen dan siap mereka bakar untuk mereka santap beramai-ramai malam ini.


Panggangan telah siap, arang, kipas dan bumbu-bumbu pun juga sudah siap. Mereka bawa semuanya ke halaman belakang rumah. Mereka menyalakan api di dekat kolam, agar suasananya lebih nikmat.


Syukurnya malam ini langit juga bersinar terang. Rembulan benderang di atas sana. Menjadikan malam mereka bertiga menjadi terasa semakin indah. Tapi tetap saja mereka membawa senter dan lampu kamping untuk alat bantu penerangan.

__ADS_1


Satu per satu jagung pun mereka bakar dan bumbui hingga dari tampilannya saja sudah terasa enak. Begitu semua jagung selesai mereka bakar. Mereka pun menyantapnya beramai-ramai sambil bercerita ini itu.


Cerita ngalor ngidul dan ngaco, gak tahu kemana arah dan tujuannya. Bagi mereka yang penting hepi. Mereka bertiga juga membahas cerita tentang Wulan yang lagi di deketin sama anak dari Ibu Hajah Ayu, si mpunya kebon teh tempat mereka bekerja.


Saking serunya ngobrol, terkadang mereka sampai tertawa terbahak-bahak di pinggir hutan sepi yang jauh dari rumah penduduk itu. Bukannya merasa takut, Meta dan Alyt malah merasa seperti bebas mau melakukan apapun.


Semakin seru mereka mengobrol, semakin keras suara tawa canda mereka. Kemudian tiba-tiba, seperti terdengar suara tawa yang lain, mengikuti suara tawa mereka. Suaranya terdengar parau, berat dan serak.


Mereka bertiga langsung terdiam mematung. Mencoba menajamkan indera pendengaran mereka. Namun kali ini hanya suara hembusan angin yang terdengar di tambah suara gesekan dari ranting-ranting pohon bambu yang berada tidak jauh dari halaman belakang rumah ini.


“Kalian denger suara yang barusan gak?” tanya Wulan.


“Ho’oh, Lan. Opo suara sapi yoo, Lan?” balas Meta dengan polos.


“Husshh, moso iyo sapi. Ngaco aja kamu Met,” sahut Alyt.


Karena di dorong oleh rasa penasaran, Wulan coba mengarahkan sorot cahaya lampu senter ke arah asal suara tersebut. Suara itu sepertinya berasal di sekitar area pohon bambu-bambu itu. Karena cukup jauh, jadinya sorotan cahaya lampu tersebut terlihat agak samar.


Lalu, ketika cahaya sorotan lampu senter tersebut mengenai bagian dari pohon-pohon bambu. Terlihat cukup jelaslah, sesosok makhluk yang belum pernah mereka lihat selama ini. Wujudnya seperti manusia pada umumnya, hanya saja terlihat lebih besar.


Badannya hitam dan penuh dengan bulu-bulu, dia sedang terduduk di bawah pohon bambu dengan kepala tertunduk ke bawah. Ada sesuatu yang keluar dan menjulur ke bawah dari mulutnya, menjuntai berwarna kemerahan seperti lidah.

__ADS_1


__ADS_2