
Dokk. Dokk. Dokk.
Mereka bertiga melompat karena terkejut. Ada yang mengetuk pintu dengan keras. Namun kali ini bukan berasal dari pintu belakang tempat mereka membakar jagung tadi malam. Kali ini berasal dari pintu depan.
Wulan dan ketiga temannya. Segera menghampiri pintu depan. Wulan membuka tirai gorden untuk melihat siapa yang ada di balik pintu. Alangkah terkejutnya Wulan ketika melihat beberapa orang polisi berpakaian seragam ada di depan rumah ini.
Wulan pun segera membukakan pintu. Belum terbuka semua pintu, tiba-tiba ada tiga orang polisi yang langsung masuk menerobos, meringkus Wulan dan teman-temannya. Wulan bingung, ada apa lagi ini? setelah tadi malam diganggu mahkluk mengerikan.
Lalu kini, polisi main meringkus dia dan teman-temannya dengan cara yang cukup kasar. Hingga Wulan merasakan persendian tangannya sakit, ketika dilipat ke belakang dengan paksa.
“Aduhh, Pak. ono opo, Pak?” tanya Wulan.
Tapi petugas polisi yang meringkusnya hanya diam saja dengan menatap datar. Lalu muncul seorang polisi yang berpakaian seperti preman. Menanyakan kepada mereka sedang apa mereka di sini?
Wulan menceritakan, jika dia sudah ada sekitar tiga hari di rumah ini. Diajak menginap oleh Lilik Etinya. Sementara dua orang lagi adalah temannya yang baru dia ajak menginap kemarin malam. Wulan malah balik bertanya, ada apa sebenarnya? Mengapa mereka di perlakukan seperti ini?
Polisi yang berpakaian seperti preman itu sempat terkejut mendengar penuturan dari Wulan. Dia memperkenalkan dirinya. Polisi itu bernama Arif. Lalu dia seperti meminta anak buahnya untuk membawa seseorang ke hadapan Wulan. Tibalah di depan Wulan.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahunan. Seusia dengan Lilik Etinya. Dia tidak mengenakan pakaian, hanya mengenakan celana jeans belel yang penuh dengan lumpur. Wajah dan tubuhnya pun babak belur.
“A..anu Pak. Iki sopo yaa?” tanya Wulan dengan gugup.
__ADS_1
“Ini adalah orang yang sedang kami cari-cari. Dia di duga telah membunuh kekasihnya, lalu memutilasinya. Kami sudah cari kemana-mana. Ternyata dia sembunyi di sekitar sini, dan telah mengakui semua perbutannya kepada warga,” ucap polisi berpakaian preman itu.
“Maksudnya apa yaa Pak?” tanya Wulan, nambah kebingungan.
“Pria ini bernama Syamsudin. Dia di duga telah membunuh dan memutilasi kekasihnya sejak kurang lebih satu minggu lalu, yang bernama Suketi. Kemudian menyembunyikan potongan-potongan tubuhnya di rumah ini. Kami cukup terkejut begitu mengetahui ternyata rumah ini ada yang menempati, dan jika memang benar kalian tidak termasuk bagian dari orang ini. Tolong persilahkan kami memeriksa rumah ini,” jelas dan pinta Pak Polisi Arif.
Wulan merasa kebingungan yang teramat sangat. Selama rumah diperiksa. Dia tiada henti-hentinya berpikir. Bagaimana mungkin Lilik Etinya itu sudah di bunuh dari satu minggu yang lalu.
Sementara, baru empat hari yang lalu. Lilik Etinya itu ke rumah dia yang reyot, kemudian mengajaknya pindah ke rumahnya yang ada di pinggir hutan ini. Baru sekitar dua hari yang lalu juga mereka saling bercerita.
Tapi bagaimana mungkin jika ternyata Lilik Etinya itu sudah mati terbunuh, kurang lebih satu minggu yang lalu. Kemudian, dari hasil pemeriksaan pihak kepolisian potongan-potongan tubuh bagian badan di temukan di dalam kulkas.
Masih terbungkus rapih, begitu juga dengan isi perut. Lalu potongan-potongan tubuh yang lain seperti potongan kepala, potongan lengan, paha dan kaki. Ada di kamar yang dekat dengan kamar mandi, yang Wulan ingat adalah kamar dari Lilik Etinya. Potongan-potongan itu baru dimasukkan ke dalam sebuah peti kayu yang berukuran cukup besar.
Dia teriak dan berontak sejadi-jadinya. Hingga harus dibawa keluar oleh beberapa polisi dengan cara kasar. Karena takut mengganggu proses pemeriksaan di rumah ini. Ketika di luar rumah, ternyata sudah banyak para warga yang mengerubungi rumah ini.
Seluruh pemeriksaan hari ini pun beres dan berjalan cukup lancar. Wulan dan teman-temannya dinyatakan tidak bersalah sama sekali. Sedangkan pria bernama Syamsudin telah menjadi tersangka tunggal atas kasus ini.
Dalam keterangan singkatnya, Syamsudin menjelaskan. Jika kurang lebih satu minggu yang lalu, mereka saling bertemu di rumah ini. Dia membunuh Eti karena menuntut pertanggung jawaban terhadap dirinya yang tengah hamil tiga bulan.
Syamsudin sempat menyuruh Eti untuk menggugurkan kandungannya, tapi Eti tidak mau. Karena dia takut menanggung dosa lagi, setelah dosa zina yang suah mereka lakukan. Syamsudin yang kebingungan dan marah membentak Eti dan memukulnya hingga bertubi-tubi.
__ADS_1
Kemudian niatan membunuh itu mengalir begitu saja. Dia menghabisi nyawa Eti dengan cara mencekik lehernya hingga tewas. Merasa kebingungan mau dikemanakan jenazah Eti. Maka dari itu dia berusaha untuk menyembunyikannya.
Tapi jika sekedar disembunyikan. Suatu saat nanti akan membusuk dan baunya tercium. Sama halnya jika hanya dikubur begitu saja. Bisa akan cepat ketahuan nanti. Maka dari itu dia memutilasi bagian-bagian tubuh Eti. Dia sempat mengambil beberapa perkakas ke rumahnya.
Lalu kembali ke rumah Eti di pinggir hutan ini lagi. Setelah memutilasi korban. Ada beberapa yang dia masukkan ke dalam kulkas dan ada juga yang dia masukkan ke dalam peti di kamar. Dia pun membereskan bekas-bekas darah yang ada di rumah itu.
Kemudian, dia sempat pulang ke rumah. Untuk mengembalikan perkakas-perkakas yang dia pakai. Dia juga sempat istirahat di rumahnya, karena rasa lelah yang melanda. Kemudian berkeliling mencari tempat atau rencana yang aman untuk membuang potongan-potongan tubuh dari Eti.
Setelah tempat dan rencana dia dapat. Begitu dia kembali ke rumah pinggir hutan, untuk mengambil potongan-potongan tubuh tersebut. Betapa terkejutnya Syamsudin ketika mengetahui ternyata rumah ini ada yang menempati.
Akhirnya dia hanya bisa mengintip dan memantau dari jauh saja keadaan rumah ini. Itulah sebabnya Wulan merasa sering ada yang mengawasi. Di siang hari, dia tidak berani mendekat karena rute dekat rumah ini sering dijadikan jalan lalu lalang oleh orang yang ingin berburu dan mengeruk tambang pasir illegal.
Sedangkan di malam harinya. Ditempati oleh seorang gadis muda berusia sekitar belasan tahun. Pernah suatu hari tersirat dalam pikiran Syamsudin untuk menghabisi nyawa gadis itu juga. Tapi Syamsudin melihat jika gadis muda itu dijaga oleh sosok mahkluk berwarna putih.
Tinggi, rambutnya panjang dan wajahnya mirip dengan Eti. Apakah itu arwah Eti yang bergentayangan?
Arwah itu juga sering mengganggu malam-malam Syamsudin. Hingga akhirnya, karena merasa hidupnya tidak tenang. Dia mengakui perbuatannya kepada kepala desa yang saat itu tidak kuasa untuk memberi tahukan juga kepada warga jika si Syamsudin telah menghabisi salah satu warga terbaiknya.
Setelah puas memukuli Syamsudin. Para warga melaporkannya kepada pihak kepolisian. Hingga terjadilah peristiwa penemuan jenazah Eti di pagi hari ini. Wulan di bawa ke rumah sakit jiwa. Untuk menjalani pengobatan. Karena kejiwaannya yang amat sangat terguncang.
Setelah semua kejadian ini. Rumah pinggir hutan milik Eti dibiarkan sepi tak berpenghuni. Tidak ada yang berani melintas mendekatinya jika malam telah tiba. Karena di sekitar rumah itu, jika malam telah tiba.
__ADS_1
Sering terdengar suara seorang wanita yang bersenandung lagu berbahasa jawa. Lagu yang dibawakan mengisahkan tentang kesepian dan pengkhianatan. Bahkan, sering juga terdengar suara tangis yang terisak-isak.