Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Bait Perahu Kertas


__ADS_3

Rembulan tumbang. Matahari telah terbit di ufuk timur. Embun-embun menggelantung lembut di dedaunan. Hari ketiga Anggit dirumah sakit. Dia sudah diizinkan pulang oleh dokter. Masalah baru muncul, entah kemana kini dia akan pergi.


Dia merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dia berjalan gontai ke meja administrasi. Bertanya berapa biaya selama dia disini? Namun ternyata sudah ada yang membayarnya. Anggit bertanya siapa orang dermawan itu?


Wanita yang menjadi petugas administrasi itu hanya menunjuk kepada seorang gadis yang berjalan mendekat ke arahnya. Anggit melotot terpesona melihat gadis itu. Siapakah dia? Sungguh amat mengagumkan paras dan tubuhnya itu.


Pakaiannya juga sopan. Tubuhnya semampai, kulitnya seputih salju, matanya indah, hidungnya kecil tapi mancung, rambut lurusnya berwarna kecoklatan, alisnya tipis namun terbentuk sangat indah.


Lalu, yang paling menakjubkan bagi Anggit semua itu alami tanpa polesan dan make up. Dengan dingin tanpa menyebutkan nama. Gadis itu memberikan secarik kertas pada Anggit. Diliatnya isi kertas itu.


Awalnya dia mengira isinya adalah tagihan atas biaya rumah sakit yang harus dia ganti. Mereka sesekali saling menatap. Dibuka dan dibaca isinya, ternyata sebuah alamat. Sebuah alamat yang cukup jauh dari sini.


Siang itu hujan masih rintik-rintik kecil, tidak bertambah besar tidak juga reda, statis. Awet kayak pakai formalin. Anggit naik turun angkot untuk mencari rumah yang ada di alamat itu. Walaupun tidak terlalu jauh, namun rute dari alamat itu membutuhkan sekitar dua kali naik angkot.



Dia sampai di rumah yang ada di alamat itu. Rumahnya cukup besar, bercat putih dengan taman kecil yang ada kolamnya di depan. Jarak pintu gerbang ke pintu utama tidak terlalu jauh hanya selemparan batu.



Karena sejak tadi dia teriak-teriak di depan pintu gerbang tidak ada respon. Maka dia coba beranikan diri untuk masuk, dan ternyata pintu gerbangnya tidak dikunci. Dia langsung mengetuk pintu, mengucap salam. Menunggu beberapa detik, baru ada jawaban dari dalam. Lalu pintu terbuka, dan lihatlah. Siapa yang ada di dalam?



“Lia!?” seru Anggit seraya tidak percaya.



“Kamu!?” tanya Lia keheranan.



“Sedang apa kamu disini?” tanya Anggit sambil menelan ludah, gugup.



“Loo… justru aku yang harusnya nanya. Ini kan rumahku,” ucap Lia memberi penjelasan.



Anggit menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Terlihat jelas jika dia salah tingkah dan gugup. Tanpa banyak bicara lagi Anggit memberikan map coklat. Lia menerimanya, memeriksa dan sangat berterima kasih padanya.



“Astaga. Terima kasih banyak yaa. Aku sendiri juga dari tadi lagi nyari surat-surat ini. Aku tidak menyangka jika tertinggal di angkot. Sekali lagi terima kasih yaa,” ucap Lia.



Lia menoleh ke belakang. Seperti sedang memastikan sesuatu. Anggit yang melihat itu penasaran dan ikut melirik ke dalam.



“Emm, aku gak menyangka jika surat-surat itu punya kamu dan aku juga gak menyangka kamu tinggal di daerah elit dengan rumah sebagus ini,” kata Anggit.



Ucapan Anggit itu menyadarkan Lia, dia langsung menengok kembali ke arah Anggit yang ada di depannya. Belum sempat dia jawab. Tiba-tiba dari belakang Lia, muncul pria seperti keturunan etnis Eropa.


__ADS_1


Bertubuh besar, hidungnya mancung, matanya besar, alis hitamnya seolah menyatu, berusia sekitar limahpuluh tahun. Dia hanya memakai kaos dalam dan celana pendek. Sambil mendekat dia bertanya ada apa kepada Lia.



“Tidak ada apa-apa. Dia hanya teman,” ucap Lia, menjelaskan.



“Ouww… hanya teman,” ucap pria itu sambil terkekeh dan menatap remeh pada Anggit.



Lalu dengan liarnya menepuk keras pantat Lia yang membuat dia terpejam sejenak. Anggit sangat terkejut melihat hal itu. Hingga sempat berpikiran yang bukan-bukan, begitu melihat tingkah orang itu.



“Emm… dia ayahku. Dia memang suka kelewatan kalau becanda,” ucap Lia, buru-buru menjelaskan.



Anggit menatapnya sejenak seolah masih kurang percaya. Kali ini Lia yang terlihat gugup dan salah tingkah. Diam sejenak, hening menggelayut. Mereka bingung ingin melanjutkan ke topik pembicaraan apalagi.



“Sekali lagi terima kasih yaa.” ucap Lia.



Tidak tau lagi harus berbicara apa. Anggit merasa ada yang ganjil dari pertemuan ini. Tidak seperti layaknya tamu dan orang yang sudah saling kenal. Pertemuan dan percakapan mereka sangat terkesan dingin, gugup dan seperti ada yang ditutupi.



Lia sekali lagi berterima kasih kepada Anggit. Anggit membalasnya dengan senyuman. Perlahan Lia hendak kembali menutup pintunya. Terliat terburu-buru, namun sebelum itu Anggit memberanikan diri bicara.




Raut kecewa menggantung di wajahnya. Namun baginya tidak apa, dia tidak bisa menjawab itu hari ini, yang penting dia sudah tau rumahnya. Takdir lah yang menuntun mereka. Hujan sudah reda.



Anggit sudah beberapa langkah lagi dekat gerbang. Tiba-tiba pintu kembali terbuka, dan Lia berteriak. “Kamu boleh saja mampir, tapi hanya di hari Rabu saja!”



Anggit yang mendengar itu kembali mendekat ke pintu, bertanya dengan pasti, dan Lia menjawab dengan anggukan kepala. Anggit tersenyum amat senang. Berjalan menuju pintu gerbang, ketika di pintu gerbang dia sekali lagi ingin melihat ke arah rumah.



Ternyata masih ada Lia di sana yang memperhatikannya sambil memegang map coklat yang barusan dia berikan. Sekilas Anggit melihatnya tersenyum. Perlahan rasa simpati, kagum dan peduli mulai menyerangnya.



“Pria itu amatlah baik,” ucap Lia dalam hati.



Dia menyelamatkannya waktu diserang oleh gerombolan preman. Mengembalikan surat-surat berharganya tanpa cacat sedikit pun, dan semuanya dia lakukan tanpa pamrih. Tanpa pernah mengharapkan imbalan apa-apa.

__ADS_1



Dia hanya ingin lebih delat dengannya. Lia tertawa-tawa sendiri di dalam kamarnya. Mengingat semua hal yang sudah Anggit lakukan untuknya. Suka mungkin iyaa, tapi kalau cinta siapa yang tau. Karena Tuhanlah yang tau jika seseorang sedang jatuh cinta.



Dia tenggelam dalam lamunan indah. Tanpa dia sadari ada pria di dekat pintunya, dia mengamati Lia daritadi.



“Jangan terlalu percaya pada pria. Bisa sakit nanti,” ucap pria itu dengan nada suara tinggi.



Lia diam saja. Tidak menanggapi bahkan seolah-olah tidak mendengarkan. Namun dalam hati dia tersadar. Mungkin jika hanya untuk berteman boleh. Tapi jika untuk lebih dari itu tidak bisa. Dia takut Anggit celaka.


Hari berganti lagi dan lagi. Rasanya sangat cepat bagaikan bola salju yang menggelinding menggilas semua kenangan yang ada didalamnya. Menjadikan seseorang semakin besar dan matang untuk bersikap dalam hidup atau malah semakin terpuruk dalam hidup.


Karena dua hal yang sudah dilalui itu. Hubungan Anggit dengan Lia semakin dekat. Terkadang, karena jalur pulang yang sama. Lia sesekali diantar oleh Anggit, namun di setiap perjalanan pulang, jangankan mengobrol.


Mereka jelas hanya saling terdiam. Malu-malu untuk berkata, bahkan untuk beberapa kata pun. Bahkan, walaupun sudah di izinkan Lia untuk mampir ke rumahnya di hari Rabu. Anggit tetap tidak berani melakukannya.


Anggit merasa malu dan kurang yakin terhadap perasaan yang dia rasakan terhadap Lia. Di tanggal 19 Oktober 2008, tepatnya di sore hari. Orang tuanya datang dari desa. Anggit diminta menjemput kedua orangtuanya di stasiun kereta.


Mereka ingin menengok anaknya. Kedua orangtuanya bisa saja naik mobil pribadi dengan sopir, namun ibunya sedang ingin sekali naik kereta. Alhasil, ayahnya hanya bisa menuruti keinginannya itu.


Anggit sudah menunggu di peron stasiun kurang lebih selama setengah jam. Terkadang dia mengobrol dengan bapak penjaga toilet. Hilir mudik kereta sudah saling berganti, namun kereta yang membawa kedua orang tuanya belum juga tiba.


Suasana dan pemandangan di peron ini juga sangat sepi. Membuat Anggit menjadi cepat bosan. Untungnya bagi dia cuaca tidak terlalu panas. Dia melanjutkan obrolannya dengan penjaga toilet, Pak Bas, Anggit memanggilnya.


Kali ini mereka bertukar cerita tentang tabrakan beruntun kereta dua puluh sembilan tahun lalu. Anggit pernah dengar berita itu waktu dia kecil, namun melihat langsung dan, mendengar dari orang yang melihat kejadian itu di depan matanya sendiri sangatlah berbeda.


“Meskipun kejadian itu sudah lama sekali. Namun masih ada beberapa anggota keluarga dari korban yang sering datang kemari ditanggal peristiwa itu terjadi. Yaa barangkali untuk mengenang dan mendo’akan,” tutur Pak Bas yang usianya kini menginjak lima puluh tahun.


Anggit terdiam, sedikit berpikir untuk mengingat sesuatu. “Emm kalo tidak salah peristiwa itu terjadi di tanggal ini kan Pak?” tanyanya kemudian dengan rona wajah yang penasaran.


Si penjaga toilet mengangguk, sambil menunjuk ke arah seberang, “itu.”


Anggit melemparkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Pak Bas. Disana, dia melihat seorang gadis dan beberapa orang lainnya mengenakan pakaian serba hitam. Para penumpang dan petugas yang lain tidak ada yan merasa risih.


Karena memang sudah mengetahui apa tujuan para penziarah ini. Mereka ingin mengenang dan mengingat peristiwa yang telah merenggut nyawa orang yang mereka sayangi. Mereka semua ada di peron seberang, karena peristiwa tabrakan beruntun itu memang terjadi di lintasan sana.


Anggit takjub sekaligus terharu, dan ketika para penziarah itu mulai kembali pulang, ada satu orang yang masih tersisa. Dia berdiri takzim menatap lintasan yang ada di depannya. Anggit melihatnya dengan penuh tanda tanya.


Dia seperti… dia seperti… Lia. Anggit mengusap-ngusap wajah dan mengucek matanya, seolah tak percaya. Tanpa sadar Pak Bas juga memperhatikannya.


“Kau kenal dia, Nak?” tanya Pak Bas.


Anggit tersadar, mengangguk dan mengiyakan. Perlahan kereta yang membawa kedua orang tuanya juga sudah tiba. Gerbong demi gerbong berhenti perlahan, suara gesekan antara lintasan dan roda kereta menimbulkan suara decit yang cukup keras.


Anggit, dia masih saja memandang Lia di seberang, melalui celah-celah sempit rongga kereta dan jendela yang samar. Dia penasaran, siapa anggota keluarga Lia yang meninggal akibat kecelakaan ini.


“Seingatku namanya Lia. Dia sering datang kemari ditanggal 19 Oktober ini. Semua keluarganya meninggal dalam kecelakaan itu. Terutama kedua orang tuanya. Dia selalu datang, membawa beberapa kertas berwarna-warni dan membuat perahu kertas. Entah apa tujuannya hanya dia dan Tuhan yang tau. Biasanya dia akan datang selama tiga hari, ini baru hari pertama,” Pak Bas menjelaskan.


Anggit terdiam, iya sangat tertarik dengan cerita itu. Sampai dia tidak sadar jika kedua orang tuanya telah turun dari kereta dan memanggilnya. Lamunan Anggit sirna. Dia mendekati kedua orang tuanya.


Menyalami dan mencium kedua tangannya. Membawa beberapa barang bawaan. Kereta sudah berjalan kembali. Anggit beserta orang tuanya berjalan ke pintu keluar, dan pada saat dia menoleh ke belakang. Lia juga sudah tidak ada.


Menimbulkan tanda tanya yang semakin besar untuk Anggit, siapakah gadis itu sebenarnya? Lalu jika, memang seluruh keluarganya meninggal, lantas siapakah pria yang ada dirumahnya itu? yang dia bilang adalah ayahnya.

__ADS_1


Tingkahnya amatlah aneh, namun tidak bisa dipungkiri jika Anggit mencintainya. Anggit mencintai Lia. Namun cinta itu menjadi sirna saat Pak Bas menyempatkan diri untuk menginfokan beberapa kalimat kepadanya, sebelum dia beranjak pergi dengan orang tuanya.


“Nak, tolong kau jauhi gadis itu. Karena dia adalah pelacur. Dia gadis simpanan pria-pria kaya hidung belang.”


__ADS_2