Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Kisah Horor Gak Sadar


__ADS_3

TUKANG BAKSO


Hari yang dingin, karena habis diguyur hujan semalam. Bahkan sampai siang hari pun masih tetap hujan. Beberapa daerah di kota metropolitan ini, sudah ada yang terendam banjir. Hujan baru agak reda ketika hari sudah memasuki sore.


Di sebuah rumah kontrakan, Dodi dan kedua temannya sedang asik mengerjakan tugas kampus di balkon rumah kontrakan mereka yang ada di lantai dua. Mereka memilih spot ini, karena mereka rasa.


Ini waktu yang tepat untuk ngumpul dan ngerjain tugas kampus. Di suasana yang dingin syahdu bekas sisa-sisa hujan barusan. Mereka mengeluarkan laptop untuk mengerjakan tugas. Aneka cemilan dan kopi juga mereka sediakan.


Mereka sangat asik mengerjakan tugas kampus, sambil mengobrol dan bercengkrama. Ditambah lagi ada salah satu teman mereka bernama Muaz. Habis putus sama ceweknya, setelah hampir dua tahun pacaran.


Kalau cowok putus sama ceewek. Gak ribet, paling cuma diajak ngumpul sama nonton bola bareng. Sudah bisa dia lupain kesedihannya. Asal jangan buru-buru ditinggal sendirian. Takutnya dia merasa kesepian lagi dan depresi.


Mereka ngobrol dan bercengkrama hingga lupa waktu. Gak sadar kalo waktu sudah hampir memasuki waktu maghrib. Tapi mereka tetap saja happy dengan kebersamaan ini. Rasa dingin mulai menyerang mereka, hinggap perut menjadi sedikit lapar.


Tok, tok, tok.


Kebetulan sekali ada tukang bakso lewat. Dodi langsung berinisiatif ingin memesan bakso. “Gue mau beli bakso nihh, lu berdua mau gak?”


“Gue mau, Dod,” ucap Muaz.


“Gue juga mau, Dod. Sambel sama kecapnya dikit aja dan gak pake mecin,” ucap Tengku ikut memesan.


“Lu mending ikut gue mesen dehh, Ku. Soalnya ribet pesenan lu mahh,” ucapku.


Akhirnya, Dodi dan Tengku memesan bakso kepada si tukang bakso, yang berada tepat di depan mereka. Tanpa perlu mereka keluar dari rumah kontrakan. Tiga mangkok, ehh enggak. Tapi, empat mangkok. Karena Tengku mesen dua, dia doyan makan. Apalagi sama bakso. Itu favorit dia banget.


Setelah memesan bakso, Dodi dan Tengku kembali ke tempat mereka berkumpul. Muaz masih sibuk ngerjain tugas kampus. Dodi kembali sibuk bikin kopi, sementara Tengku ke kamar kecil untuk pipis.


Beberapa lama kemudian, sudah sekitar lima belas menit. Kok ini bakso belum jadi-jadi. Tengku pun protes ke Dodi. “Dod, itu tukang bakso lama amat yak. Udah keburu laper berat gue.”


“Iyaa yaa. Coba dehh gue cek,” ucap Dodi.

__ADS_1


Baru saja dia berdiri dari duduknya. Dia langsung terdiam mematung, matanya melotot seolah berpikir bingung. Lalu kemudian kembali duduk bersama teman-temannya, sambil berucap, “Anjiirr lu berdua pada sadar gak sii, kita ini ada dilantai berapa?” tanyanya.


“Di balkon lantai dua laah, Dod,” ucap Muaz.


“Iyaa Dod, terus kenapa? tanya Tengku.


“Berarti tukang bakso yang tadi itu … melayang?”


TUJUH HARI


Syamsul amat kesal dengan menantunya yang bernama Tono. Awalnya di bangga dengan menantunya itu. Karena Tono adalah anak orang kaya. Ayahnya pengusaha mebel yang cukup sukses, dan Tono juga kerja dikantor yang cukup besar.


Tapi, semua itu berubah ketika ayahnya Tono sakit, dia resign dari tempat kerjanya untuk mengurus ayahnya. Harta ayahnya Tono habis untuk berobat, dan pada kenyataannya ayahnya juga meninggal di tengah sakitnya.


Jadilah Tono yatim piatu, karena sebelum dia menikah. Ibundanya sudah lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa. Karena resign dari pekerjaan, Tono jadi tidak punya pendapatan lagi untuk menafkahi istri dan anaknya.


Apalagi saat ini mencari pekerjaan cukup sulit. Dia hanya bermodal tabungan dan sisa warisan ayahnya. Syamsul yang melihat kondisi menantunya itu. bukannya membantu, atau setidaknya iba. Tapi malah hampir tiap hari memarahi Tono. Sebut saja ketika dia memergoki Tono sedang makan, nyaris ditengah malam.


Waktu itu, Syamsul terbangun dari tidurnya karena ingin pipis. Dia melihat jam pada saat itu menunjukkan hampir jam dua belas malam. Dia membuka pintu kamarnya, hendak ke kamar mandi. Didapati menantunya sedang asik makan di ruang tamu.


Tono, hanya berdiam dan langsung membereskan makanannya. Kemudian pergi dari ruangan tamu. Ke esokan harinya. Syamsul mendengar ada suara keran air dari kamar mandi yang menyala.


Dia lihat jam, baru jam empat pagi siapa yang mandi? Sejenak kemudian dia teringat, jika Tono biasanya memang suka mandi pagi. Dengan rasa benci dan kesal. Dia matikan lampu kamar mandi tersebut dari luar


Ctekk.


“Bayar air mahal. Jangan buang-buang air!” bentaknya.


Syamsul seorang pensiunan ASN. Istrinya sudah lama meninggal karena sakit diabetes. Di rumah ini, dia hanya tinggal dengan anak bungsunya yang perempuan. Ketiga anaknya yang cowok, sudah menikah semua dan memilih pisah rumah dari ayahnya.


Mereka bertiga kadang gak tahan dengan perlakuan ayah mereka yang kasar dan tempramen. Hanya adiknya yang bungsu lah, yang perempuan. Kadang bisa tahan dengan perlakuan ayah mereka.

__ADS_1


Itulah mengapa Tono dan istrinya, Zahra. Memilih tinggal dengan Syamsul. Padahal sebenarnya mereka juga sudah tidak tahan. Namun karena wasiat dari ibunya lah yang meminta. Agar ayah mereka jangan sampai ditinggal sendiri.


Kembali ke Tono. Di hari ketiga, setelah dua hari omelan Syamsul terhadap Tono. Kali ini dia memergoki Tono sedang duduk santai sembari melamun di ruang tamu. Ketika itu, Syamsul baru saja pulang dari memancing.


Memancing adalah hobi Syamsul ketika dia pensiun menjadi seorang ASN. Hampir tiap hari dia memancing. Pergi dari pagi membawa bekal yang dibuatkan oleh Zahra. Pulang bisa sampai maghrib.


Hari ini hasil pancingan Syamsul hanya dapat sedikit. Padahal umpannya sudah cacing pilihan dan alat pancingnya baru beli. Dia rada kesal, dan kekesalannya itu. Dia limpahkan ke langsung ke Tono.


“Heeh … kamu udah pengangguran. Maghrib bukannya langsung sholat, do’a minta petunjuk. Malah santai-santai disini. Dasar gak guna!” bentaknya pada Tono.


Tono, tidak bisa membalasnya. Dia hanya mengalah dan pergi dari ruang tamu. Membiarkan Syamsul yang sedang sibuk beresin alat pancingnya. Lanjut di hari berikutnya, di hari keempat dan kelima.


Syamsul tidak melihat Tono dirumah. Syamsul berpikir pasti Tono lagi main kerumah adik atau saudaranya yang ada di Ceger, Jakarta Timur. Karena di tiap bulannya, Tono memang seperti itu. Dia sering kerumah orangtua, adik atau saudaranya. Hanya sekedar untuk silaturahmi. Kadang juga, dia bisa menginap satu sampai dua hari.


Syamsul mengancam dalam hati. “Awas aja itu anak. Punya anak sama istri bukannya di urus. Malah nginep dirumah saudaranya. Dasar gak ada tanggung jawabnya.”


Benar saja, dihari keenam. Saat Syamsul sedang asik nonton pertandingan bola yang tanding di jam sepuluh malam. Tono pulang, dia main masuk ngeloyor aja ke kamar mandi. Syamsul kesal, tapi pertandingan bola ini juga sedang seru-serunya.


Karena yang bertanding adalah klub favoritnya. Antara Westham United melawan Liverpool. Apalagi saat ini, klub kebanggaannya itu, Liverpool. Sedang tertinggal dua goal. Syamsul bingung antara mau ngegaplok apa omelin aja.


Akhirnya dia memilih untuk omelin aja si Tono. Semua umpatan dan kata-kata kotor dia lontarkan ke Tono. Bahkan sampai membawa-bawa orangtuanya. Tono hanya diam dan masuk ke dalam kamar istrinya.


Pagi kembali menyapa. Syamsul bangun jam lima pagi. Dia keluar rumah hendak cari angin segar. Dia melihat selang tempat keluar ac masih menetes. Ini pasti si Tono sama si Zahra masih pake ac dan belum bangun.


Akhirnya, Syamsul turunin listrik rumah itu. Hingga seperti mati lampu, dan dia pun pergi keluar rumah untuk mencari angin segar. Rencana hari ini, juga ingin dia habiskan untuk memancing. Dia pun memancing dari pagi hingga hampir mau masuk waktu shalat maghrib.


Merasa sudah sore dan hasil pancingannya cukup banyak. Syamsul pulang ke rumahnya. Sesampai dirumah, dia kaget. Kok ada ketiga anak laki-lakinya, rumah pun dibersihkan. Karpet digelar. Aneka makanan disiapkan. Beberapa tetangga juga ada yang berdatangan.


Syamsul bertanya, “Ada acara apa ini?”


Tidak ada yang menjawab. Syamsul bertanya lagi untuk yang kedua. Kali ini yang menjawab adalah Zahra. Dengan air mata yang tertahan sambil menggendong anaknya yang baru berusia sebelas bulan.

__ADS_1


Zahra berkata, “Ini kan tujuh hari Mas Tono, Bah. Apa Abah lupa? tujuh hari yang lalu Mas Tono meninggal gantung diri dirumah ini, karena depresi.”


Syamsul terperangah. Karena rasa bencinya terhadap menantunya itu. Dia lupa dan gak sadar, kalau sudah tujuh hari ini Tono meninggal. Jadi, yang dia omelin dan bentak-bentak selama tujuh hari itu?


__ADS_2