Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Kisah Horor Bangsal Melati


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit yang cukup besar di kota metropolitan ini, di salah satu kamar rawat inap yang cukup mewah dan nyaman. Ada seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun mulai menyadarkan dirinya di ranjang bersih rumah sakit ini.


Pemuda itu bernama Daud. Pemuda biasa, sederhana, berwajah tampan yang tertutup oleh tampilan lugunya. Dia baru saja mengalami peristiwa yang bisa dibilang luar biasa dalam hidupnya. Dia mulai perlahan membuka matanya yang tajam namun kosong.


Melirik kesana kemari, menengok kekiri dan kekanan, ke atas dan ke bawah. Berusaha membangunkan tubuhnya yang sudah tidak nyaman berbaring di ranjang. Dia bersandar di tepi pinggiran atas ranjang, kepalanya pusing, rasanya ada hal yang ingin dia ingat tapi gak bisa. Bahkan dia lupa hal apa yang terakhir kali terjadi pada dirinya sebelum ini. Ketika membuka mata. Dia sudah terbaring di ranjang rumah sakit ini, sepi dan dingin.


Di kamar rumah sakit ini dia gak sendirian. Dia ditemenin sama ibunya, yang malah tertidur nyenyak di sampingnya. Lalu, ternyata ada pasien lain juga yang kebetulan pas banget ada di sampingnya. Pada saat itu tirai pemisah berwarna hijau antar pasien terbuka dan jarak ranjang mereka tidaklah begitu jauh. Dia meliat siapa pasien itu dan seketika juga dia langsung mengenalinya.


Gadis itu adalah teman SMAnya dulu bernama Naura. Rumahnya gak terlalu jauh dari rumahnya Daud, masih di dalam satu daerah yang sama. Dia terbaring lemas, wajahnya pucat, tatapan matanya kosong.


Sekilas Daud mengetahui jika Naura mengalami gangguan pada tenggorokannya. Karena beberapa kali dia berdehem dalam jangka waktu yang singkat dan selalu menggunakan kode tangan jika menginginkan sesuatu pada orang yang menjaganya.


Mereka berdua hanya saling bertatap ketika tanpa sengaja mata mereka saling berbentur pandangan tanpa berkata dan menegur, hanya diam dan malu yang menjadi penengah diantara mereka.


Hal yang Daud inget tentang Naura adalah. Dia itu sudah punya pacar ganteng, tajir, berpendidikan tinggi. Tapi kedua orangtuanya malah menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya. Daud sebagai temennya cuma bisa bersedih dan merasa iba. Naura itu cewek yang cantik banget, baik, cukup glamour, badannya bagus karena setau dia Naura suka olahraga terutama renang dan ada darah keturunan Belanda juga.


Sebenarnya waktu di SMA dulu Daud sempet naksir sama Naura, ketika meliatnya untuk pertama kali. Dia merasakan hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Jantung berderbar kencang, aliran darah seperti naik ke atas, bibir pecah-pecah dan susah buang air besar.


Entah itu yang namanya cinta pada pandangan pertama atau nafsu pada pandangan pertama. Hormon masa muda Daud hanya menghaturkan niat mau jadiin dia pacar. Tapi niat itu langsung dia urungkan. Karena pada saat itu ternyata cinta bukanlah menu utama dalam kehidupan sehari-harinya.

__ADS_1


Lalu di samping itu keluarganya Naura juga highclass banget. Bapaknya seorang pengusaha rental mobil yang cukup ternama. Ibunya juga tidak kalah hebat, dia mempunyai usaha restoran dan catering yang cukup laris untuk kantin-kantin perusahaan besar dan acara-acara formal artis serta para pejabat.


Kabar yang Daud dengar, seluruh ruangan yang ada di rumah sakit ini sedang penuh oleh pasien yang mengalami demam berdarah dan kecelakaan beruntun di ruas pintu tol Semanggi. Pantas saja gadis cantik sekaya Naura mau ditempatkan di ruangan yang bisa dibilang sederhana untuk ukuran gadis kaya seperti dia.


Waktu semakin berlalu, cahaya bulan nan indah di langit malam ditemani oleh bintang berarak yang ramai menggoda sang bulan. Pilinan detik berganti jam mengubah suasana dunia menjadi lengang dan sepi.


Hanya suara tiupan angin yang terdengar meramaikan suasana. Di jam dinding. Sang waktu sudah menunjukkan pukul duabelas malam. Daud sempat merasa tertidur sebentar, karena ternyata kondisinya juga sudah lumayan membaik.


Ibunya sudah pulang dari beberapa jam yang lalu sebelum dia tertidur. Tinggalah Daud berdua dengan Naura di kamar ini. Hanya dipisah oleh tirai penutup antar pasien berwarna hijau.


Malam ini tidak seperti malam-malam lain yang bersahabat sebelum Daud terbaring di kamar rumah sakit. Setelah berusaha memejamkan mata dia kembali kebangun di tengah malam, yang baru dia sadari ternyata dia baru tertidur sekitar limabelas menit.


Dia gak tau kenapa tiba-tiba setelah berusaha keras untuk tertidur lagi, dia kembali terbangun. Padahal dia merasa tubuhnya sangatlah lelah, namun matanya sulit untuk dilelapkan. Sungguh aneh sekali malam ini.


Tanpa ada suara ketukan, pintu itu terbuka dari luar, hembusan angin malam yang dingin dari luar menjalar ke seluruh ruangan. Daud lumayan panik dan bergumam,”Siapa yang mau jenguk orang sakit semalam ini?


Pikirannya sempat dipenuhi oleh hal-hal yang buruk, sebaik dan seindah mungkin dia membuat kemungkinan, namun tetap yang terlintas hanyalah berita buruk yang disiarkan oleh khayalannya.


Pintu semakin terbuka lebar, dan yang masuk ternyata Naura. Gillaa, abis darimana itu cewek malam-malam gini. Tampilan muka sama badannya aja masih lemes kayak gitu. Aneh banget.

__ADS_1


Dengan didorong rasa penasaran dan untuk mengisi waktu karena gak bisa tidur, Daud coba mengajak Naura mengobrol. Obrolan ringan dia rasa bisa mencairkan suasana dingin yang dari tadi menyelubungi mereka berdua.


Tapi Daud ingat sesuatu, Naura itu tadi kalo gak salah tenggorokannya lagi sakit. Jadi mana mau diajak ngobrol. Namun apa yang terjadi, Naura malah membuka obrolan terlebih dahulu, “Lu mau nanya sesuatu yaa? tentang apa?” tanyanya.


Seolah bisa membaca pikirannya Daud, yang sedari tadi ingin menyapa dan mengobrol dengannya. Naura dengan ramah memulai obrolan. Mereka mengobrol berbagai macam hal dari yang serius sampai membosankan.


Hingga pada cerita tentang rencana gantung diri Naura yang gagal, karena ketahuan oleh ibunya. Daud terkejut mendengar itu, ternyata Naura masuk rumah sakit bukan karena sakit. Tapi rencana bunuh diri yang gagal dan kini malah menyembabkan cedera di lehernya.


Daud penasaran, ingin sekali dia membuka tirai pemisah ini. Untuk dapat mengobrol langsung dengannya. Baru saja dia ingin melakukannya. Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan dari pintu, lalu masuk dua orang suster.


Suster yang satu terlihat sedang mengganti baterai jam dinding, Daud baru sadar ketika melihat jam di hpnya, ternyata sudah jam dua dini hari. Lalu suster yang satunya, langsung ke samping tempat tidurnya. Terdengar seperti membereskan tempat tidur pasien.


Pasien disampingnya kan Naura. Kok tempat tidurnya diberesin, apa dia sudah sembuh dan mau pulang malam-malam begini? Daud yang penasaran pun bertanya, “Lu mau pulang malam-malam gini, Ra?”


Tidak ada jawaban dari Naura, hingga Daud mengulang pertanyannya, yang menjawab malah seorang suster. Dia membuka tirai hijau pemisah. “Maaf, Mas bicara sama siapa yaa?” tanyanya.


Daud terkejut. Ternyata cuma ada ada suster yang sedang merapihkan tempat tidur pasien. Dengan keheranan, Daud bertanya, “Pasien yang disamping saya ini kemana yaa, Sus?”


Suster itu menjelaskan kejadiannya. Jika pasien disampingnya atas nama Naura sudah meninggal. Diduga dia meminum karbol yang ada di toilet. Seorang suster yang menemukannya sudah dalam keadaan meninggal dengan mulut berbusa dan mata melotot. Diperkirakan kematiannya sudah dari tiga jam yang lalu.

__ADS_1


Kini pasien tersebut sudah dipindahkan ke kamar mayat. Keluargnya pun sudah ada yang mengurus untuk kepulangan jenazah. Mendegar penjelasan itu. Daud merinding bukan main. Kalau Naura sudah meninggal sejak tiga jam lalu. Kemudian siapa yang tadi lewat depannya dan mengobrol dengannya?


Dibangsal melati itu akhirnya, Daud tidak bisa tertidur hingga sisa malam ini. Apalagi ketika melihat Naura dengan wajah pucat, mata cekung, rambut acak-acakan dan mulut berbusanya. Menatap terus ke arah Daud dari luar jendela lantai dua.


__ADS_2