
“Astrid di Dunia ini ada gak yang menurut Astrid adalah hal yang paling aneh?” tanya gue memulai obrolan ketika dia lagi makan hidangannya.
Makannya lahap banget. Enggak dikunyah sudah kayak kudanil. Katanya masuk angin dan perutnya juga suka mules. Tapi malah mesen makanan yang banyak sambelnya.
Dasar, dibilangin juga percuma nanti yang ada dia malah gak jadi makan. Udah laah biarin aja laah, yang penting dia seneng. Lagian gue juga udah biasa nyium bau semerbak kentutnya itu.
Dia berpikir jika hal yang paling paling aneh itu banyak, Pokoknya katanya banyak. Bahkan dia pun tidak bisa menyebutkannya satu per satu. Karena kalau disebutkan satu per satu. Sampai Doraemon gondrong gak bakal selesai.
“Iyya, emang kalo menurut Kak Ady sendiri hal aneh yang pernah Kakak alami itu apa dari bayi sampe sekarang?” tanya Astrid balik, ke gue.
“Emm...mungkin. Salah satunya adalah, emm...bahwa ada seekor Badak yang ngumpet di dalem kulkas,” ucap gue.
“Hah! itu mahh gak mungkin Kak!?” ucapnya dengan terkejut dan penasaran.
“Memang Astrid belum pernah ngeliatnya?” sahut gue.
“Belum, sama sekali belum,” jawabnya dengan mulut penuh makanan.
“Yaa berarti badak itu berhasil ngumpet, kan,” jawab gue dengan enteng.
Dia berpikir sejenak dan lalu.
“Hahahahah.” Tawa kami meledak bersama.
“Jiancok, bisa aja,” ujar Astird.
Gue dibilang jiancok. Biarlah yang penting gue seneng banget bisa ngebuatnya ceria lagi dan jiwa ini juga nyaman jika denger setiap cerita-cerita darinya. Apalagi jika gue sampe berhasil ngebantu dia mecahin masalah yang dia sedang alamin.
Mata itu, wajah itu gak akan sedetikpun gue alihin dari pandangan gue. Semua ini bukan untuk gue dan dia. Tapi, hanya untuk dia, hanya untuknya. Untuk Dian Astrid Helena, yang namanya sudah terpahat jelas di hati ini.
__ADS_1
Gue gak akan maksain kehendak buat bisa milikin dia, asalkan ngeliat dia bahagia. Itu udah cukup bagi gue. Sudah jam satu dan saatnya memulai aktivitas lagi. Astrid langsung kembali ke ruang HRGA sedangkan gue.
Belum sempet gue melangkah lebih jauh ke atas, udah ada telpon dari Ibu Inna, ngabarin jika karyawan baru yang bernama Adan sudah ada di lobby receptionist. Gue kembali turun ke bawah buat segera nemuin orang itu. Namun, tiba-tiba.
Siall, uhkh. Apaan nihh? Kenapa tiba-tiba napas gue terasa berat dan dada kiri gue agak terasa nyeri. Tapi enggak masalah, ini masih bisa ditahan, mungkin gara-gara begadang semalem dan gak sarapan tadi pagi.
Gue genggam pegangan tangga dengan kuat, supaya gak jatuh dan gue juga harus tetep pasang wajah ceria seperti enggak terjadi apa-apa. Rasanya sakit banget. Gue harus nemuin Claudia, yaa pulang nanti gue harus nemuin dia.
Gue tiba di lobby, gue tanya Dinar apa bener cowok yang duduk itu bernama Adan?
“Itu Kak orangnya, ganteng,” canda Dinar.
Setelah konfirmasi gue bener, gue menuju ke tempatnya duduk. Gue pun memperkenalkan diri ke dia. Kami saling berkenalan dan berjabat tangan. Lalu untuk permulaan hari ini. Gue ajak dia berkeliling lingkungan kantor dan memperkenalkan dia kepada hampir seluruh karyawan yang ada di kantor ini.
Ternyata orang yang bernama Adan ini sangat tampan. Dia putih, enggak terlalu tinggi, rambutnya lurus dan tertata rapih, badannya atletis. Namun kayaknya dia agak kikuk. Gue bawa dia keliling di lantai bawah dulu.
Ke ruang operasional dan seteleh itu ke lantai dua ke ruang Direksi. Beberapa orang di operasional berteriak, “di sini karyawan baru harus okem.”
Tapi dua cewek itu dingin banget tingkahnya. Mereka berdua lebih mirip patung penjaga daripada admin dan sekretaris. Setelah di lantai tiga, tempatnya back office. Dari para karyawan wanita finance, accounting dan Koperasi sama dengan yang di operasional.
Mereka ngarepin kalo Adan ditempatin bersama mereka, jika di finance dan accounting sii enggak apa-apa ngomong begitu. Karena mereka masih muda-muda dan ada beberapa yang mirip dengan model-model Jepang, tapi ini Koperasi.
Isinya kan cuma ibu-ibu resah doank. Huuffh dasar ibu-ibu zaman sekarang. Memang sii, Adan itu orangnya ganteng dan sopan. Selama berkeliling juga dia jarang nanya dan ngoceh yang bukan-bukan.
“Ayoo mari kita kesini sekarang,” ucap gue.
“Hmm, Mas saya mau tanya,” dia bersuara juga akhirnya. Suaranya ngebass banget.
“Iyyaa,” sahut gue.
__ADS_1
“Dua orang yang lagi ada di aquarium itu siapa?” ucap dia sambil menunjuk.
“Aquarium kata lu?” tanya gue kaget disertai penasaran.
Gue ngeliat ke ruangan yang dia tunjuk. “Itu bukan aquarium, itu adalah ruangan Direktur finance dan yang ada di dalemnya adalah Direktur finance dan GM CCD,” jawab gue dengan senyuman atas ucapannya yang polos itu.
Setelah berkeliling ke semua departemen. Sampailah kami pada ruangan departemen yang paling pojok dan terpencil, yaitu ruang HRGA. Kalo orang baru yang penglihatannya rada kabur, pasti nganggap ruangan ini kayak toilet atau gudang.
Karena letaknya yang bener-bener dipojok, lampu depannya remang-remang lagi. Kami masuk ke ruangan dan gue mulai kenalin satu per satu pada orang yang ada di ruangan ini. Reaksi cewek-ceweknya sama aja. Astrid juga ikut tersenyum ngeliat dia.
Sekarang dia tinggal gue taro di ruangan Bu Inna buat tanda tangan kontrak. Lalu, gue deketin Astrid buat nanyain gimana pendapatnya tentang karyawan baru ini. Kami memang suka share seperti ini ketika ada karyawan baru yang joint.
Bahkan jika untuk bagian accounting kami suka taruhan berapa lama karyawan itu bisa tahan oleh siksaan zaman Jepang di departemen tersebut. Gue kira pas nanya ke dia jawabannya bakal sama kayak cewek-cewek lain.
“Diaa --”
“Pasti ganteng kan?” ucap gue memotong.
“Enggak, dia keliatan sangat bodoh dan culun,” ucapnya enteng, seperti tanpa dosa.
“Waduuh? Kenapa bisa kayak gitu?” tanya gue.
“Gak apa-apa, emang keliatannya kayak gitu. Udah ahh Kak, aku mau lanjutin kerja lagi,” ucapnya kemudian.
Gue cuma bisa tersenyum denger ucapannya. Kayaknya luka yang dibuat mantannya itu cukup dalam. Gue denger darinya jika pria itu selalu nunjukkin sikap yang amat serius padanya. Mereka ingin lanjutin hubungan mereka sampe ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Namun nyatanya.
Sudah bisa gue tebak. Sekali lagi dia mencintai pria yang salah, dan untuk kali ini dalam sementara waktu, pasti dia nutup hatinya untuk pria lain. Waktu enggak terasa begitu cepat. Sudah sore lagi, hari ini bener-bener runyam buat Astrid.
Dia kenal omel Ibu Inna, dibilangnya sii ada beberapa karyawan bahkan rekanan outsourcing yang ngeluh jika pelayanan yang diberikan Astrid kurang memuaskan. Dia enggak tersenyum, dan dalam beberapa waktu ini juga seringkali beragumen dengan beberapa karyawan.
__ADS_1
Ruangan HRGA sudah sepi, yang tersisa tinggal kami berdua. Gue nemenin dia lembur, walaupun rasanya nafas gue terasa semakin berat. Dia masih aja masang wajah kesel, tapi itu lebih baik. Karena dia terliat lebih cantik kalo lagi kesel, daripada sedih.
Gue pun mendekatinya, dan duduk di sampingnya. Mencoba untuk menghibur dirinya. Gue kesampingkan semua rasa sakit dan lelah gue hanya untuk dia.