
OJEK SETAN
Malam itu, Shita kerja lembur hingga pulang larut malam. Hingga pukul sebelas malam, baru selesai dari kantor. Hari ini menjelang akhir bulan dan akhir tahun. Di bagian accounting tempat Shita bernaung biasanya memang seperti itu di hari-hari menjelang akhir bulan, di tambah lagi menjelang akhir tahun juga.
Sudah tidak ada angkot untuk pulang. Ketika baru Shita mau memesan ojek online. Ternyata Kenny ngajak pulang bareng. Di bonceng sama dia naik motornya. Kebetulan arah rumah mereka memang satu jalan. Nanti di depan komplek Shita. Shita turun dan tinggal lanjut naik ojek pengkolan. Palingan ongkosnya cuma sepuluh atau lima belas ribu rupiah.
Akhirnya, Shita pun ikut dengan Kenny. Hingga sampai di daerah komplek rumahnya. Mereka berhenti, Shita turun dan Kenny tetap melanjutkan perjalanan. “Makasih yaa, Ken. Atas tumpangannya,” ucap Shita.
“Sama-sama, Ta, and happy holiday yaa,” balas Kenny.
Kini, tinggal Shita lanjut untuk naik ojek pengkolan. Tapi kenapa suasananya sangat sepi. Gak ada satu pun tukang ojek. Saat Shita hendak mendekat ke pos sederhana ojek pengkolan tersebut. Tiba-tiba ada yang menegurnya dari belakang.
“Cari apa, Neng?” tanya sosok itu dengan nada datar.
Shita tersentak kaget sampai melompat hingga lata nya keluar, “Ayam… ayam. Aduuh, Bang ngagetin aja ihh.”
Sosok itu hanya diam, tak menanggapi ucapan Shita. Dia malah memberikan helm dan menawarkan ojek kepadanya. Shita sempat berpikir, ini orang dari mana datangnya. Rasa-rasanya bukan ojek pengkolan sini, dan kok bisa tahu kalo gue mau naik ojek.
Krreeerrriuk... ctekk... dessh.
Perutnya mulai muncul suara-suara aneh. Dia sudah lapar banget. Akhirnya dia mengangguk dan mengambil helm yang ditawarkan kepadanya. Duduk dengan manis sambil menyebutkan alamat rumahnya.
“Ke Jalan Semangka nomor empat yaa, Bang,” ucapnya.
Si tukang ojek tetap diam tak merespon. Kemudian mereka pun melaju di gelapnya malam. Di bawah sinar lampu jalan yang temaram. Di dalam perjalanan, Shita sempat kepikiran. Ini tukang ojek kok diam banget sii. Apa jangan-jangan lagi sariawan.
Tapi, bukan cuma itu. Raut wajahnya juga pucat dan tampangnya juga gak familier. Entah orang baru di sini atau apa. Shita gak ambil pusing akan hal itu, dia lagi males mikir. Karena sudah capek kerja seharian, dan ditambah lagi lembur sampai malam.
Ketika sudah sampai di depan rumah. Shita pun turun, dia mengeluarkan dompet. Hendak membayar. “Ongkosnya berapa, Bang?” tanyanya.
“Sepuluh ribu,” ucapnya dengan datar.
Shita merogoh-rogoh dompet dan kantongnya tapi gak ada uang recehan, gak ada uang sepuluh ribuan. Semuanya yang ada cuma seratus ribuan dan lima puluh ribuan. “Ada kembaliannya gak yaa si abang?” gumamnya dalam hati.
Tapi berhubung buru-buru dia langsung memberikan uang itu, pecahan seratus ribuan. “Nihh bang, kembali!” ujar Shita.
Namun si abang ojek ini, lagi-lagi tidak menanggapi Shita. Dia hanya mengambil uang itu dan malah tancap gas, lalu langsung kabur begitu aja meninggalkannya. Sontak Shita yang melihat itu merasa kesal dan jengkel.
“Ojek setaaaann!! kembalianya mana begooo?!” teriaknya kemudian.
DOKTER YANG LAIN
Sore itu, Melisa meringkuk di kamarnya. Dia sedang sakit dan baru saja habis dari rumah sakit untuk memeriksa kondisinya. Kini, dia sedang menunggu kepulangan suaminya dari tempat kerja.
Tak lama kemudian, suaminya pun pulang. Dia lantas menanyakan kondisinya Melisa. “Gimana kondisi kamu, sayang?” tanyanya.
“Kata dokternya aku stress, Mas. Kecapean kerja dan urus anak,” jawabnya.
“Terus?” lanjut suaminya bertanya.
“Aku diminta buat tenangin pikiran,” jawabnya lagi.
__ADS_1
Perasaan si suami tetiba mulai gak enak, “Lalu?” lanjutnya lagi bertanya.
“Aku di minta liburan. Kalau gak ke Qatar yaa ke Lebanon gitu,” ucap Melisa.
Si suami sejenak berpikir, lalu dia berkata, “Ok besok kita siap-siap.”
“Hahh! ke Qatar apa ke Lebanon, Mas?” tanya Melisa, semangat.
“Ke dokter yang lain untuk periksa kamu,” ucap suaminya.
Dan malam itu pun, Melisa tidur tengkurap sampai pagi. Suaminya nyolek dikit aja dia langsung pura-pura kesurupan.
BEKAL TAQWA
Di hari minggu, RT 008 mengadakan acara liburan bareng untuk semua warganya. Jacky, Badha dan Fatih ikut dalam acara itu. Tujuan wisata liburannya adalah ke Seaworld. Ini adalah untuk pertama kalinya ketiga sahabat ini ke sana.
Para warga RT 008 menyiapkan bekal mereka masing-masing. Begitu pun dengan Jacky dan Badha. Namun Jacky dan Badha heran begitu melihat Fatih yang masih santai-santai aja. Badha pun bertanya, “Kok lu masih santai-santai aja, Fat. Gak bawa bekal lu?’
“Udah siap kok,” jawab Fatih, singkat.
“Di mana?” tanya Badha lagi.
Fatih menunjuk ke arah dada kirinya sambil berucap, “Di sinilah bekal gue. Karena sebaik-baiknya bekal adalah taqwa.”
“Buoodoo amat, Fat!!” ujar Badha kesal.
Sesampai di *Seaworld* tujuan utama mereka adalah pertunjukkan ikan lumba-lumba. Fatih duduk di samping anak kecil cowok yang bertanya kepada ibunya. Anak itu bertanya, “Maa, kenapa semua ikan lumba-lumba itu perempuan?”
Tiba-tiba Fatih membantu si ibu dalam menjawab pertanyaan anaknya tersebut. “Ohh, itu karena namanya lumba-lumba, Dee. Makanya perempuan semua. Kalau ada yang laki-laki. Namanya lumas-lumas,”
Mendengar penjelasan Fatih itu. Si ibu tersebut langsung membawa anaknya menjauh, sambil berucap, “Jangan liat matanya yaa. Takut tukang hipnotis.”
Jacky dan Badha yang ada di samping Fatih langsung pura-pura merasa gak kenal.
**TERSANGKA**
Pagi itu, petugas kepolisian sedang mengintrogasi seorang tersangka. Ia dituduh telah menganiaya istrinya sampai masuk rumah sakit. Petugas introgasi itumengajukan beberapa pertanyaan kepadanya.
__ADS_1
“Coba kamu ceritakan, bagaimana kronologisnya, kamu sampai bisa menganiaya istri kamu sendiri?” tanya si petugas kepolisian.
Si tersangka tanpa ada rasa penyesalan menceritakan kronologis kejadiannya, “Begini, Pak. Tadi malam kan saya berhubungan badan dengan istri saya. Istri saya semangat sekali. Sampai nambah tiga kali,” ucapnya.
“Nahh, terus!?” pinta si petugas introgasi agar si tersangka melanjutkan ceritanya.
“Sehabis berhubungan badan, kami tertidur. Pas pagi harinya, istri saya bangun sambil menanyakan jam ke saya. Mas Bowo, udah jam berapa nih yaa? saya yang mendengar itu langsung kaget dan marah terhadap istri saya!” ujarnya.
“Hahh! cuma ditanyain jam aja kamu langsung marah dan menganiaya istri kamu!?” si petugas introgasi heran.
“Iyaa, Pak. Karena nama saya Dodi, bukan Bowo,” ucapnya sambil menggaruk keteknya yang basah dan berlendir.
**KAKI KANAN**
Seorang boss mafia besar sedang melakukan penyamaran untuk membongkar sebuah sindikat yang ingin menghancurkan bisnisnya. Dia menyamar sebagai seorang tukang ngamen bersama dengan anak buahnya.
Mereka memulai operasi mereka dengan mengamen di angkot. Setelah selesai pura-pura bernyanyi dan mengintai. Karena boss nya tidak pernah naik angkot. Si anak buah berpesan kepada boss nya.
“Boss turunnya hati-hati, kaki kiri duluan,” ucapnya.
Namun si boss mafia ini ngeyel. Dia gak ngerti dibilangin sama anak buahnya. Alhasil ketika turun dari angkot. Itu angkot masih dalam keadaan jalan pelan, dan dia turun pakai kaki kanan duluan.
Si boss mafia pun akhirnya jatuh tersungkur dengan posisi tengkurap. Dia langsung di bantu berdiri oleh anak buahnya. Si anak buah yang melihat si boss nya jatuh karena gak mendengarkannya sedikit protes.
“Tuhh kan, Boss. Saya bilang juga apa. Turunnya hati-hati dan kaki kiri duluan,” ucapnya.
“Bacot aja luu, nyet. Kaki kanan aja gak kuat, apalagi kaki kiri. Lu kira gue Lionel Messi yang bisa kidal!!” bentak si boss.
__ADS_1
Si anak buah pun langsung pensiun dari geng mafia itu, dan lebih memilih menjadi peternak ikan \*\*\*\*\*\* aduan.