Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Wulan dan Donny (Si Kakek)


__ADS_3

Di desa lain. Di desa yang bernama Angin Utara. Donny terbangun dari tidur panjangnya. Betapa senangnya ia, mendapati dirinya masih hidup.


Ia amat sangat berterima kasih kepada seorang nelayan yang menemukannya. Ia ditemukan tersangkut di jaring nelayan tersebut. Pada saat hendak menangkap ikan.


“Berapa lama aku tertidur, Paman?” tanyanya.


“Sekitar tiga hari.” balas nelayan.


Lalu, alangkah beruntungnya Donny. Begitu dia menceritakan siapa dia dan apa yang terjadi kepadanya. Ternyata nelayan itu, beserta para penduduk desa ini adalah pendukung pemerintahan. Donny diperlakukan bak pahlawan di desa tersebut.


Donny diceritakan jika pasukan pemerintah sudah menang atas pasukan pemberontak. Kini, masa damai telah tiba. Semua sendi-sendi kehidupan akan kembali tumbuh dan berkembang di negara ini. Kondisi aman dan nyaman meliputi di setiap jengkal tanahnya.


Setelah kondisinya benar-benar pulih. Donny hendak berniat kembali ke desa tempat pasukan utama berkumpul membentuk basis kekuatan. Untuk melihat kondisi teman-teman dan komandannya.


Namun, sebelum itu semua. Ia ingin terlebih dahulu melihat kekasihnya, Wulan. Jarak desa Angin Utara ke desa Kayu Manis tidaklah jauh hanya sekitar satu hari perjalanan. Ia pun merencanakan perjalanan itu.


Dia pamit kepada semua penduduk desa. Dia diberikan bekal yang sangat banyak diperjalanan, dan diberikan tumpangan mobil truk, yang kebetulan memang melakukan perjalanan melewati desa Kayu Manis. Lalu, setelah pagi menyapa. Dia berangkat dengan penuh semangat.


Dia duduk di depan bersama supir truk. Di perjalanan, mereka berdua tidak henti-hentinya mengobrol dan bersenandung. Merayakan kemenangan pemerintah atas pemberontak. Sambil sesekali membuka bekal perjalanan, untuk disantap bersama.


Di pinggir jalan. Dia melihat ada seorang kakek tua duduk sendirian di bawah rindangnya pohon. Rasa iba tiba-tiba menyelimutinya.


Dia meminta supir truk tersebut untuk berhenti sejenak. Untuk melihat kondisi kakek tersebut. Karena siapa tahu dia butuh tumpangan atau makanan.


Dia pun turun dengan membawa tasnya yang berisi banyak aneka makanan dan minuman. Bekal dari para penduduk desa. Dia mendekati kakek tersebut.

__ADS_1


Pakaiannya amat lusuh dan kotor. Tatapan matanya lemah dan tongkat kayu yang ala kadarnya dari ranting pohon kering. Donny menanyakan kepada kakek, hendak kemana ia, dan dimana keluarganya.


Kakek hanya menjawab jika ia tidak ingin kemana-mana dan ia juga sudah tidak punya siapa-siapa. Di usianya yang sudah tua ini. Dia hanya ingin menghabiskan waktu untuk membantu oranglain.


Donny tersenyum, mendengar apa yang diucapkan olehnya. Lalu dia memberi setengah bekal perjalanannya kepada si kakek. Makanan enak dan minuman segar dia keluarkan dan berikan langsung. Agar si kakek tidak merasa kelaparan dan kehausan.


“Terima kasih, Nak. Kamu baik sekali. Aku akan selalu ada untuk membantumu,” ucapnya.


Donny tersenyum dan lalu berpamitan, dia pun kembali menaiki mobil truk. Sebelum duduk, dia sempat menoleh ke belakang. Untuk melihat si Kakek lagi. Namun anehnya, kakek itu telah hilang tanpa jejak.


Donny bingung. Namun supir truk lebih bingung lagi. Karena dia mengira Donny meminta berhenti untuk izin buang air. Tapi nyatanya, dia perhatikan.


Dari tadi Donny hanya berbicara sendiri pada sebuah pohon. Supir truk hanya mengira bahwa Donny masih capek dan butuh istirahat. Di sore harinya, mendekati waktu senja.


Donny telah sampai di desan Kayu Manis. Betapa merekah senyumnya, karena sebentar lagi dia bisa bertemu dengan kekasihnya dan calon buah cintanya. Dia berpamitan dengan supir truk yang masih harus melanjutkan perjalanan lagi.


Perlakuan mereka berbeda jauh dari yang terakhir kali dia singgah disini. Perlakuan mereka jadi sangat dingin dan acuh terhadapnya. Apalagi ketika Donny menyebut-nyebut nama Wulan di depan mereka. Beberapa dari mereka ada yang menyumpah berkata.


“Pergi kalian. Dasar pembawa sial, pembuat aib.”


Donny tidak mengerti apa maksudnya. Donny tahu kesalahannya, makanya dia ingin memperbaikinya dan menikahi Wulan. Walau harus bertaruh nyawa atau mencium kaki dari orangtua suami Wulan. Untuk mendapatkan izin dan restunya.


Karena tidak ada yang bisa ditanya dan diajak becanda. Akhirnya Donny memutuskan untuk menemui Wulan dirumahnya. Dia menuju rumah Wulan. Saat berjalan melangkah kesana. Beberapa pasang mata ada yang melihat dan memantaunya.


Sesampainya di halaman, belum sempat dia mengetuk pintu. Tiba-tiba ada orangtua yang sudah cukup sepuh membuka pintu. Beliau adalah Shaleh, Pamannya Wulan. Shaleh terkejut mendapati Donny ada di depan pintu. Beliau lalu memintanya untuk segera masuk, lalu mengunci pintu.

__ADS_1


Di dalam rumah. Shaleh menceritakan apa yang terjadi dengan Wulan, setelah Donny meninggalkannya untuk ikut berperang melawan pemberontak. Sedih dan marah bercampur menjadi satu pada diri Donny.


Dia ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti Wulan. Dia juga ingin segera menjemput Wulan. Untuk memastikan kondisi dia dan bayi yang dikandungnya dalam keadaan selamat.


“Jika ingin menyusul Wulan, cepatlah. Karena aku juga takut jika lama-lama disini. Huda dan penduduk yang mendukungnya akan menangkap dan menyakitimu,” ujar Shaleh.


“Itu tidak mungkin Paman. Aku adalah pasukan utama pemerintah. Mereka pasti paham jika menangkap dan menyakitiku. Mereka akan dikira pemberontak,” ucap Donny.


“Jika begitu, pergilah untuk Wulan, jemput dia dan jaga dia. Karena sungguh aku tak kuasa untuk melakukan hal itu lagi,” ujar Shaleh.


Orangtua itu menangis tersedu-sedu di hadapan Donny. Berharap Donny bisa menggantikan dirinya, untuk menjaga dan melindunginya. Serta melindungi bayi yang sedang dikandungnya.


Belum sempat Donny membalas ucapan Shaleh. Tiba-tiba di halaman rumah sudah terdengar ramai-ramai. Samar-samar Donny mengintip lewat jendela ada beberapa penduduk desa yang membawa obor dan beberapa senjata di halaman rumah ini.


“Itu Huda dan anak-anak buahnya,” ucap Shaleh.


Donny menimbang dan memperhatikan dengan seksama berapa orang yang ada disana, dan senjata apa saja yang mereka bawa. Jika hanya satu atau dua orang, dia masih bisa menghadapinya. Namun kalau lebih dari lima orang, pasti akan lain ceritanya.


“Sudah cukup, Nak. Pergi dari rumah ini sekarang!” pinta Shaleh.


Donny pun langsung bergegas pergi melalui pintu belakang. Tanpa banyak pertimbangan lagi dia langsung menuju desa Kayu Putih. Tempat basis pasukan pemerintah berkumpul dan juga tempat Wulan dan calon buah hatinya menuju.


Malam itu juga, ditemani sinar rembulan yang bersinar penuh terang. Donny berjalan kaki. Karena jika harus menunggu pagi untuk mendapat tumpangan. Baginya itu lama sekali. Ditambah lagi Huda dan anak-anak buahnya sedang memburunya. Dia harus cepat.


Donny berjalan kaki menaiki dan menuruni bukit yang terjal. Menapak jalan-jalan yang kering dan basah selama berjam-jam. Sesekali terdengar suara auman serigala dan lalu lalang desiran ular melata. Tapi dia tidak menghiraukannya. Dia terus berjalan dan berjalan.

__ADS_1


Sesekali juga dia istirahat sebentar. Bersandar pada pohon-pohon yang berbuah lebat. Kemudian berjalan lagi tanpa mempedulikan itu siang ataukah malam. Bekal makanannya sudah habis. Dia memakan makanan yang disediakan alam untuknya, terutama buah-buahan.


Ia meminum air-air sungai yang dilewatinya. Kadang juga meminum air embun atau air genangan yang disitu ada banyak hewan-hewan serangga yang menepi di atasnya. Salah satu indikator jika air genangan di hutan itu bisa diminum adalah. Ada hewan atau beberapa serangga yang suka hinggap atau berada di atasnya.


__ADS_2