
Badannya hitam dan penuh dengan bulu-bulu, dia sedang terduduk di bawah pohon bambu dengan kepala tertunduk ke bawah. Tertelungkup sehingga bagian kepala dan wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup bahunya yang lebar dan kekar.
Ada sesuatu yang keluar dan menjulur ke bawah dari mulutnya, menjuntai berwarna kemerahan seperti lidah yang runcing bagai pedang. Wulan menelan ludah melihat sosok hitam besar berbulu itu. Detak jantungnya menjadi tidak beraturan.
Tubuhnya seperti terpaku kaku. Hingga untuk menggeser sorot cahaya lampu senterpun dia tak mampu. Cahaya lampu senter tersebut cukup lama mengenai sosok hitam besar berbulu tersebut. Udara dingin malam ini, tidak mampu menghalangi keringat yang becucuran mengalir dari tubuhnya.
Dalam hati kecil Wulan berkata, “Berteriak dan larilah.”
Namun seluruh badannya seperti mematung. Sulit untuk digerakkan. Tenggorokan Wulan, seperti kering dan tercekat, bahkan untuk menelan ludah pun sulit. Begitu pula dengan Meta dan Alyt. Mereka juga merasakan hal yang sama dengan Wulan. Lalu, dari sorot cahaya lampu senter yang Wulan pegang.
Terlihat kepala makhluk tersebut, perlahan mulai bergerak ke atas. Kemudian menoleh ke arah mereka. Terlihat jelas wajah dengan gigi taring yang amat besar hingga mencuat dari bibirnya. Pada saat itu, entah kenapa seluruh tubuh mereka bisa untuk digerakkan kembali. Wulan segera menarik tangan Meta dan Alyt, sambil berteriak.
“Laariii…! Masuk ke dalam rumah!”
Mereka langsung masuk ke dalam rumah. Mengunci pintu dengan rapat, lalu masuk ke kamar Wulan mengunci pintu juga dengan rapat. Mereka menyalakan lampu kamar tapi ternyata bohlamnya tiba-tiba meledak. Tanpa ada alasan yang jelas.
Duaar.
“Kyaaa!”
Hingga membuat mereka teriak secara bersamaan. Mereka melompat ke ranjang tempat tidur. Berkemul dengan selimut tebal milik Wulan sambil tetap menajamkan semua panca indera mereka.
Sunyi, senyap dan gelap mereka rasakan. Hanya ada lampu senter yang tergenggam di tangan Wulan. Setiap ada pergerakan, Wulan langsung menyorotkan cahaya lampu senter tersebut ke arah sumber suara berasal.
Dokk. Dokk. Dokk.
Terdengar suara pintu belakang tempat mereka membakar jagung tadi digedor dengan keras. Wulan dan teman-temannya yang lain semakin takut. Karena tidak mengira jika makhluk menyeramkan itu mengikuti mereka.
“Makh…makhluk opo itu, Lan?” tanya Alyt dengan gemetar.
__ADS_1
“A…ku juga gak tahu, Lyt,” jawab Wulan, juga dengan gemetaran.
“Aa…apa baru kali ini ada makhluk seperti itu di sini?” tanya Meta, yang paling parah gemetarannya.
Wulan mengangguk lemah. Hening sejenak seisi ruangan, bahkan seisi rumah ini. Tidak terdengar suara apa-apa lagi. Hingga mereka bisa mendengar suara tarikan dan hembusan napas mereka sendiri. Tapi tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berat menjejaki tanah.
Jegh. Jegh. Jegh.
“Kok kayak suara langkah kaki yoo, Lan?” ucap Meta.
“Iyyo, kok kayak makin dekat kemari, Lan?” tambah Alyt.
“Aku juga gak tahu opo-opo. Mending kita dzikir dan do’a aja,” balas Wulan kepada kedua temannya.
Baru mereka mau melafadzkan beberapa do’a. Tiba-tiba, pintu kamar Wulan digedor dengan sangat keras dan cepat dari luar.
Dokk. Dokk. Dokk. Dokk. Dokk.
Membuat mereka terkejut dan teriak secara bersamaan. Makhluk itu sudah ada di depan pintu kamar Wulan saat ini. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Gagang pintu kamar Wulan bergerak naik dan turun.
Seakan-akan makhluk menyeramkan yang ada di luar sedang mencoba untuk membuka pintu. Memaksa masuk ke dalam kamar. Bibir mereka bertiga seperti tercekat. Tenggorokan mereka seolah kering, bahkan untk mengucap sepatah kata pun terasa sulit.
Kali ini mereka merasa nyalinya benar-benar hilang tak tersisa. Keringat dingin terus menetes mengalir di kening mereka. Detak jantung dan napas menjadi tidak beraturan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan sekarang. Keberadaan mereka jauh dari rumah-rumah penduduk yang lain.
Dokk. Dokk. Dokk. Dokk. Dokk. Dokk.
Suara ketukan pintu itu semakin keras. Hingga membuat mereka semakin takut. Gerakan gagang pintu kamar Wulan pun semakin cepat naik turun, seperti mau copot. Di saat mereka bertiga sudah pasrah.
Tiba-tiba muncul suara datar dari arah luar pintu kamar Wulan. Suara itu bernada datar, namun terkesan keras dan memaksa. Suara itu mirip suara perempuan, dengan setengah berteriak mengucapkan kata.
__ADS_1
“Peeergi. Peergi. Peergi.”
Selama berkal-kali. Hingga makhluk yang menggedor-gedor pintu mereka pun rasanya telah pergi. Suara gedoran pintu dan memainkan gagang pintu juga sudah berhenti. Sunyi, senyap dan hening kembali menggelayuti mereka bertiga. Bahkan sekeliling rumah ini.
Wulan mengenal suara itu. Itu suara Lilik Etinya. Apakah Lilik Etinya sudah pulang? Karena penasaran. Dia mencoba untuk memberanikan diri menuju ke arah pintu. Mencoba melihat siapa sosok yang telah menyelamatkan mereka dari gangguan makhluk hitam besar mennyeramkan tersebut.
“Lan, kamu mau ke mana?” tanya Meta sambil menarik-narik lengan kanan Wulan.
“Iyoo, Lan. Kita tunggu di dalam sini saja. Sampai besok pagi. Aku takut, Lan,” ucap Alyt.
“Suara perempuan barusan itu. Suara lilikku. Aku coba mau lihat aja. Sekedar memastikan,” jawab Wulan.
Meta dan Alyt saling tatap, berpikir sejenak. Lalu, pada akhirnya mereka berdua memilih untuk menemani Wulan, memastikan jika suara perempuan yang tadi dia dengar adalah benar suara milik Lilik Etinya.
Mereka berada di belakang Wulan saat dia turun dari tempat tidurnya menuju ke arah pintu. Kunci dia buka, dan gagang pintu dia tekan ke bawah. Hingga terbukalah pintu kamarnya. Wulan dan kedua temannya kini sudah berada di ruang tamu.
Lampunya mati, padahal saat mereka tadi lari melewati ruangan ini. Lampunya masih menyala terang benderang. Wulan mencari kesana kesini keberadaan Liliknya. Sambil menyorot-nyorot di tiap ruangan.
“Liik…Lilik. Dirimu sudah pulang tohh?” tanya Wulan dalam gelap.
Alih-alih mendapat jawaban, di depan kamar Lilik Etinya. Samar-samar mereka seperti melihat sosok putih dan tinggi dengan rambutnya yang panjang. Mereka bertanya-tanya apakah ini Lilik Eti atau pantulan cahaya bulan saja yang masuk menembus sela-sela ventilasi rumah.
Pada saat mereka semakin mendekat. Alangkah terkejutnya mereka. Mendapati sosok putih tinggi itu melompat dan hilang begitu saja dalam sekedipan mata. Mereka yang menyaksikan itu di depan mata mereka.
Membuat kaki mereka tak kuat untuk melangkah. Bahkan untuk sekedar berdiri saja mereka merasa linglung. Karena saking terkejutnya. Akhirnya mereka bertiga jatuh tumbang dan pingsan tepat di depan kamar Lilik Eti secara bersamaan.
Di pagi harinya. Mereka terbangun karena sorot-sorot cahaya matahari yang masuk melalui ventilasi-ventilasi udara rumah. Hawa kali ini terasa begitu hangat. Berbeda dari sebelumnya, hingga mereka merasa sedikit nyaman.
Mereka saling tatap dan menguatkan satu sama lain. Hendak melupakan kejadian semalam. Berusaha mengembalikan kesadaran mereka sebaik mungkin. Walaupun sedikit terasa pusing. Mereka bangkit, dan berusaha duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
Merebahkan diri ke tempat yang lebih hangat daripada berada di lantai yang dingin. Membiarkan hening merasuki mereka agar membuat mereka merasa lebih tenang terlebih dahulu. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena tiba-tiba.
Dokk. Dokk. Dokk.