Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Dia (Part 3)


__ADS_3

“Kenapa sii orang-orang pada bisa nikmatin hidup dan kerjaan, sedangkan aku? Masih kayak gini-gini aja,” gerutu Astrid.


“Eii...kenapa? masih kesel sama Bu Inna yaa?” tanya gue balik sambil megang dada kiri gue yang semakin sakit.


“Yaa..iyya laahh. Kakak mahh enak, gak pernah kena omelannya, soalnya Kak Ady kan anak kesayangannya,” ucapnya dengan sengit.


Gue berdiri dan ngedeket ke mejanya, menyentuh pundaknya dan tersenyum, lalu berkata. Jika sebenarnya. Gak perlu sempurna dan gimana-gimana, atau cari muka. Kalo cuma untuk disukai sama semua orang.


Tapi cukup bahagia dari diri sendiri aja dulu. Baru kita bisa bahagiain orang lain, dan orang lain akan suka sama kita. Dia menatap gue dengan diam, namun gue tau pasti ada yang ingin dia ucapin lagi.


Dia membalas ucapan gue tadi dengan berbagai pertanyaan yang nyaris membuat gue gak bisa untuk menjawabnya. Pada intinya, dia merasa tidak bisa menjadi seperti orang lain. Dia merasa jika dirinya punya banyak sekali kelemahan dan kekurangan.


“Sstt, siapa orang yang berani ngomong gitu ke Astrid? dia itu pasti orang bego,” ucap gue dengan canda.


“Aku sendiri Kak yang ngomong gitu,” jawabnya.


“Ohh, kalo gitu maaf. Maksud Kakak bukan gitu. Astrid, umm... bagi Kakak Astrid punya semuanya. Astrid berpikir apa yang Astrid punya sekarang kurang sesuai dengan apa yang Astrid harapin, tapi jika Astrid liat dari pandangan orang lain. Maka Astrid punya banyak,” ucap gue kali ini benar-benar berusaha untuk bijak.


Dia masih berusaha untuk bertanya dengan yakin ke gue. Gue sebut saja jika dia berasal dari keluarga yang terpandang, berpendidikan tinggi, wajah yang cantik, tubuh yang sexy, punya penghasilan dari kerjaan yang terkadang ngejengkelin. Itu semua sudah dia miliki.


“Astrid gak lupa kan cara tersenyum?” tanya gue kemudian.


Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis. Gue juga bertanya apakah dia lupa jika dia punya lesung pipi yang sangat manis. Sekali lagi dia menggelengkan kepala sambil tersenyum.


“Itu bagus. Tersenyum dan berbahagialah hari ini. Hari ini mulai berdo’a lagi, hari ini mulai beraktivitas lagi, hari ini jangan sampai ada sedih lagi. Semuanya untuk hari ini dan cerita hari ini, usahakan yang terbaik,” ucap gue.


“Tapi sekarang kan udah jam enam sore, Kak?” sahutnya.


“Gak apa-apa, masih ada waktu buat perbaikin hari ini agar jadi lebih indah. Karena esok hari mungkin gak akan ada,” ucap gue menambahkan.


“Hmm, iyya Kak,” ucapnya dengan senyuman yang mengembang.

__ADS_1


Kemudian di pun melanjutkan pekerjaannya lagi. Sedangkan gue shalat maghrib. Gue juga nanti berniat antar dia pulang, begitu dia selesai dengan pekerjaannya. Tapi nanti sebelum pulang, Astrid minta untuk di anterin ke toilet belakang.


Gue mau sedikit kerjain dia. Dengan bercerita jika, setahu gue kemarin baru dengar kabar. Ada salah satu karyawan yang diketawain waktu pengen buang air disana. Lalu waktu dicari letak suara ketawa itu, karyawan itu gak nemuin siapa-siapa.


Kejadian itu sudah sering terjadi, dan kejadiannya selalu setelah waktu Maghrib. Hari itu yang lainnya sudah pada pulang. Tinggal gue lembur sendirian di ruangan ini, di ruangan HRGA. Niatnya sii mau lembur sampe jam sembilan malam.


Tapi karena jam delapan sudah ngantuk. Akhirnya gue putusin buat pulang. Tapi tiba-tiba, gue kebelet banget pengen boker sambil makan pizza domino. Berhubung gak bisa sekaligus, jadinya gue putusin mending boker dulu.


Saking kebeletnya akhirnya gue ke toilet belakang itu. Untuk boker selama beberapa saat. Terus pas sudah selesai. Gue cuci tangan, cuci muka buat ilangin sedikit ngantuk. Setelah itu, pas waktu jalan di koridornya.


“Astrid tau gak apa yang Kakak liat?” tanya gue mencoba dengan nada serius.


“Apaan Kak?” tanyanya balik dengan penasaran, dan gue melihat ada rona-rona wajah ketakutan.


“Di depan mata Kakak ada bayangan putih yang ngegantung,” ujar gue.


“Hahh! apaan Kak?” tanyanya dengan terkejut.


Awalnya gak ada tanya dan suara lagi darinya selama beberapa detik. Tapi kemudian. Tangan gue dicubit habis-habisan sama dia. Mukanya cemberut


“Nyebelin banget si, orang udah serius-serius jugaaa!” teriaknya, sambil nyubit dengan keras lengan kanan gue.


Tawa kami pecah bersama. Indah sekali melihat tawa lepasnya ini. Hingga semua rasa sakit ini rasanya sirna. Sedang asik-asik tertawa. Tiba-tiba, Bu Innar membuka pintu ruangannya. Dia menatap lamat ke arah gue.


Lalu melihat ke kiri dan kanan. Memperhatikan semua ruangan ini. Tingkahnya seperi orang yang sedang mencari sesuatu. Kemudian Bu Inna memfokuskan padangannya ke gue lagi sambil berkata.


“Dy, besok lu ikut gue lagi,” ucapnya.


Sambil geleng-geleng kepala dengan tatapan mata yang serius. Jam setengah tujuh tepat, kami pulang. Di perjalanan, Astrid gak ada hentinya kembangin senyuman dan megang badan gue dengan erat pada saat naik motor. Expresi dia yang kayak ini, baru pertama kali gue liat.


Dia terliat seperti sangat lepas dan tanpa beban hidup. Dia nyapa setiap orang yang dia lewatin, bahkan kucing pun dia sapa. Tapi gue biarin dia, gue gak akan negor dia bahkan menilainya. Karena yang terpenting adalah kebahagiaannya.

__ADS_1


Setelah mengantar Astrid sampai depan rumahnya. Gue pun kembali pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, gue masih saja kepikiran tentang tatapan Bu Inna tadi. Dia bilang pengan ajak gue lagi.


Jangan-jangan ngajak gue ke rumah sakit itu lagi. Rumah sakit yang lebih mirip tempat penyiksaan daripada rumah sakit umum pada biasanya. Tapi berhubung dia atasan, sekaligus tante gue.


Dia adik dari ibu gue, dia juga yang sudah lama urus gue selama orang tua gue meninggal. Karena sudah keseringan manggil Ibu, makanya kemana-mana. Manggilnya ibu, jarang manggil pakai sapaan tante.


Berhubung dia sudah banyak berjasa dalam hidup gue. Jadi gue turutin saja setiap kemauannya. Selama itu gak terlalu merugikan diri gue. Padahal kerjaan lagi banyak-banyaknya. Bahkan ada beberapa kerjaan Astrid yang di kasih ke gue lagi.


Makin numpuk dehh tuhh kerjaan, kayak pakaian kotor. Ke esokan harinya. Gue pun berangkat ke rumah sakit bareng sama Bu Inna. Sesampainya di rumah sakit. Gue terkejut kenapa ada Astrid juga di sini. Sedang apa dia di sini? pakai-pakaian kayak pasien rumah sakit gitu.


Bu Inna terlihat sedang berdiskusi dengan temannya itu, yang menjadi kepala rumah sakit di rumah sakit ini. Kemudian, temannya yang bernama Dokter Rudi, membawa gue ke suatu ruangan. Kami saling mengobrol ini itu.


Bahkan gue juga cerita ke Dokter Rudi perihal kerjaan yang lagi numpuk, dada kiri gue yang sering terasa nyeri akhir-akhir ini. Juga perihal Astrid yang akhir-akhir ini juga sering terlihat di manapun mata gue melemparkan pandangannya.


Berhubung Dokter Rudi adalah kepala rumah sakit ini. Gue iseng-iseng izin ke dia untuk bisa tinggal beberapa saat ini. Karena mau nemenin Astrid, dan mau tahu juga kenapa dia bisa ada di sini.


Akhirnya setelah diskusi itu. Gue bersyukur banget. Dokter Rudi, izinin gue buat tinggal di sini, bersama Astrid untuk nemenin dia. Astrid senang banget ketika tahu perihal ini. Sedangkan Bu Inna, gue serahin itu kepada Dokter Rudi. Biar beliau yang menjelaskan semua ini kepadanya.


Inna dan Rudi sedang berdiskusi di ruangan Rudi yang terang dan cukup luas. Mereka berdua sangat serius. Inna terlihat sedih, mendengar hasil diagnosa dari Ady. Ternyata dia menderita skizofrenia.


“Delusi atau wahamnya bertambah parah, Inn,” ucap Rudi.


Inna hanya bisa tertunduk sambil menutup matanya. Menahan tangis sebisanya. Inna tahu, delusi atau waham adalah salah satu gejala skizofrenia yang paling utama. Kondisi ini terjadi apabila pengidap beranggapan bahwa.


Sesuatu yang menurut orang lain salah. Justru adalah yang benar baginya, dan yang menjadi keyakinan dirinya yang tidak dapat di bantahkan oleh siapa pun. Jadi selama ini, Astrid hanyalah wanita yang ada di dalam pikiran Ady.


Astrid dengan segala keindahannya, tidaklah nyata.


“Rud, gue nitip keponakan gue yaa,” ucap Inna kemudian.


Rudi menggangguk mengiyakan dan mengantar Inna ke bangsal yang ditempatin Ady dalam masa perawatannya nanti. Di bangsal atau selnya itu. Inna melihat Ady sedang mengucap-ucap nama Astrid.

__ADS_1


__ADS_2