
“Dua? orang cuma satu kok. Mengkhayal kali kamu,” jawab suster Gerson dengan agak kebingungan mendengar ucapanku.
“Enggak suster, saya gak mengkhayal sebelum suster Sari. Tadi ada juga yang jadi suster ngesot,” ucapku dengan nada yang mulai agak panik.
“Siapa?” tanya suster Gerson dengan wajah dan tatapan yang dingin.
“Saya juga gak tahu,” jawabku.
“Lalu di mana sekarang suster yang kamu lihat tadi?” tanya suster Gerson lebih dalam padaku, yang sudah terlihat mulai hilang kendali.
“Sepertinya ada di dalam ruang Hrudadali bersama suster Arin,” jawabku.
“Masuknya bagaimana?” tanya suster Gerson lagi padaku.
“Saya kurang tahu. Awalnya dia sudah sampai di depan pintu. Terus, pulpen saya jatuh, saya berusaha mengambilnya. Kemudian setelah saya mengambil pulpen saya yang jatuh, saya melihat lagi ke depan pintu ruangan itu. Ternyata suster itu sudah gak ada,” ceritaku pada suster Gerson yang semakin gugup karena sosok suster yang pertama tadi.
Suster Gerson hanya terdiam mendengar ceritaku tadi, yang terkesan mengarang-ngarang cerita. “Emm, coba deh kamu perhatiin dengan benar,” ucapnya sambil menunjuk ke arah pintu dan suster Sari yang saat itu sedang mengetuk-ngetuk pintu ruangan Hrudadali.
Tok,tok,tok.
Trak, trak, jtak.
Terdengar sangat jelas suara itu, suara yang cukup familier bagiku. Suara itu suara kunci yang di buka.
“Kamu tahu suara itu?” tanya suster Gerson.
“Ii… iya, utu suara kunci dibuka,” jawabku dengan nada suara yang berubah. Dari gugup menjadi takut.
“Nahh itu kamu tahu. Ruangan itu dikunci dari dalam oleh suster Arin. Karena Bu Ursa berpesan begitu padanya, agar dia mengunci pintu itu dari dalam supaya gak diganggu sama suster lain. Yaaa, walaupun itu ternyata cuma akal-akalan kami untuk ngerjainnya. Jadi, yang kamu lihat tadi siapa yang masuk ke dalam ruangan yang dikunci dari dalam itu,” tanyanya padaku.
“Saya gak tahu suster,” jawabku dengan ketakutan dan tiba-tiba.
Aaaaaaaaagghhh.
Di tengah diamnya diriku karena hal yang baru ku alami tadi. Suster Arin berteriak histeris begitu melihat suster Sari yang berpura-pura jadi hantu suster ngesot. Lalu, di saat dia hendak menjauh dan menutup pintu kembali.
Para suster yang ada di dalam ruangan Astina keluar. Untuk mengucapkan kata surprise dan menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Namun, bagiku kejutan terbesar adalah yang baru saja ku alami.
Siapakah suster yang aku lihat tadi? Suster dengan wajah merah membara seperti bara api dan kaki dengan luka terkoyak. Entah mengapa tiba-tiba aku melemparkan pandanganku, pada pohon beringin besar yang berada cukup jauh dari ruangan Hrudadali.
__ADS_1
Aku melihat sepertinya ada seseorang yang sedang duduk. Dengan kaki menyamping di bawah pohon itu menatap ke arahku. Aku memfokuskan pandanganku ke arah orang yang menatapku itu.
Samar-samar kulihat orang itu berpakaian ala suster. Sepertinya itu suster yang aku lihat tadi. Iyya potongan rambutnya sama, tapi sedang apa di sana? Bukannya lebih baik berkumpul bersama disini.
Aku hendak mengadukannya pada suster Gerson. Hendak bilang kalau yang aku lihat tadi kemungkinan suster yang ada di bawah pohon itu. Namun, saat aku menoleh ke arah kiriku suster Gerson tidak ada. Ke mana dia?
“Suster, suster. Suster Gerson?”
Aku memanggil-manggilnya sambil membalik-balikan badanku untuk mencarinya di semua posisi. Kemudian aku berpikir, dia mungkin sudah berbaur dengan teman-temannya, yang ada di depan pintu ruangan Hrudadali. Sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk suster Arin.
Tapi, aku perhatikan dengan seksama dia memang gak ada diantara kerumunan itu. Ke mana dia? Aku mulai berpikiran yang bukan-bukan. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu kananku. Aku pun tersentak kaget. “Aahh.”
“Ei, santai gadis,” ucap orang yang menepuk bahuku dari sebelah kanan itu, dan ternyata itu suster Gerson.
“Suster, syukurlah,” ucapku.
Aku bernafas lega, setelah melihat kembali suster Gerson. “Suster ke mana tadi, kok tiba-tiba menghilang?” tanyaku padanya.
Dia menatapku dengan rona wajah kebingungan. “Tadi? menghilang?? maksudnya apa?? orang dari tadi saya ada di ruangan Chakra bikin laporan. Boro-boro keluar,” jawabnya dengan nada heran melihat expresiku yang seperti orang ketakutan.
“Haahh,” desahku. “Itu beneran suster?” tanyaku padanya.
“Iyya untuk apa saya bohong, saya ada di ruangan Chakra dengan Bu Ursa. Kalau gak percaya tanya saja sama beliau!” ujarnya.
“Ada apa Gerson dan Dedew?” tanya Bu Ursa dengan melihat kami berdua.
“Ti… tidak ada apa-apa kok Bu,” jawabku.
Dengan ketakutan dan kebingungan yang ditahan. Aku menjawab seperti tidak terjadi apa-apa. Aku melihat ke pohon beringin besar itu, orang yang menatapku di sana juga sudah tidak ada. Hilang entah kemana.
Aku menahan rasa takutku lagi. Seolah-olah tenggorokanku seperti terbakar karena teriakanku yang tertahan di tengahnya. Jika suster itu bukan termasuk dari suster yang berjaga di shift ini, lalu siapa?
Kemudian, jika suster Gerson benar-benar sedang membuat laporan, bersama Bu Ursa di ruang Chakra. Berarti yang tadi berbicara denganku itu siapa? Tubuhku merinding memikirkan hal itu.
Aku menundukkan kepala menggenggam erat tali tasku dan mengucapkan kata, “Sudah sore, sepertinya saya memang butuh istirahat. Saya permisi pulang yaa Bu Ursa dan suster Gerson,” ucapku.
Keduanya menatapku dengan keheranan. Enggak biasanya aku bertingkah aneh seperti ini. Tapi mungkin memang benar apa yang dibilang Suster Gerson. Jika aku memang butuh istirahat sejenak dari semua rutinitasku yang padat.
“Iyya hati-hati yaa,” jawab Bu Ursa.
__ADS_1
Lalu suster Gerson menarik tangan kiri Bu Ursa ke arah para suster yang sedang merayakan ulang tahun suster Arin. Agar segera berbaur dengan mereka. Aku sempat menoleh ke belakang, melihat mereka bersenang-senang.
Sementara aku ketakutan setengah mati. Karena baru saja mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan bagiku. Aku berjalan menunduk sepanjang koridor bangsal Arjuna itu, berharap secepatnya keluar dari koridor yang gelap ini.
Aku melihat jam tanganku. Sudah pukul 18:00. Di saat aku masih merunduk untuk melihat jam tanganku. Tiba-tiba aku melihat bayangan hitam panjang di bawah penyinaran lampu yang remang-remang di koridor ini.
Aku kaget, tersentak respon mundur ke belakang dan seakan ingin menjerit. Namun setelah ku tegakkan badan dan melihat dengan jelas. Ternyata itu Veryn dan Pak Shetra.
“Ada apa Dee?” kok kayak ketakutan gitu?” tanya Veryn.
Aku melihat mereka berdua dengan pandangan tajam. Lalu, untuk sedikit menguji asumsiku kalau mereka benar sungguhan. Aku mencubit pipi Veryn yang putih dan kurus dengan keras menggunakan tangan kiriku.
“Auww, bego, sakit!” teriak Veryn.
Kemudian aku pukul perut Pak Shetra, namun dengan cekatan dia menangkap tinjuku. “Uups,” ucapnya saat menangkap tangan kananku yang hendak memukulnya.
“Kamu gila yaa?” keluh Veryn dengan nada kesal padaku.
“Sepertinya kamu baru saja mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan yaa?” tanya Pak Shetra.
“Kenapa Dee?” tanya Veryn lebih lanjut.
Dengan nada gugup aku menjawab, “Emm..enggak apa-apa. A… aku cuma mau menguji asumsiku. Ternyata gerakan respon pria, emm… memang lebih baik dibanding wanita,” alasanku pada mereka.
Veryn kebingungan menatapku. Sedangkan Pak Shetra hanya tertawa kecil mendengar alasanku yang sedikit masuk akal tadi. Karena sepertinya dia tahu kalau aku baru mengalami peristiwa buruk, itu sudah dia buktikan dari ucapannya tadi.
“Kalian..sudah selesai mengurusi keperluan untuk Risa?” tanyaku.
Masih dengan nada gugup dan ketakutan. Mencoba mengalihkan fokus pikiranku pada setiap kemungkinan hal yang baru aku alami tadi. Dibanding masuk akal, hal yang aku alami tadi lebih ke arah mistis.
“Sudah, semuanya sudah beres,” ucap Pak Shetra dengan singkat.
Sedangkan Veryn hanya terdiam menatapku yang gugup dan dibasahi keringat. Tentunya sebagai mahasiswi psikologi dia juga pasti tahu tentang reaksiku ini, meskipun sedikit. Tapi, dia enggan untuk bertanya lebih jauh.
“Kalau begitu. Bisa kita pulang sekarang?” tanyaku.
“Tentu,” jawab Pak Shetra singkat.
Dengan expresi tersenyum mengembang di wajahnya. Kontras sekali dengan expresiku ini. Kami pun kemudian segera bergegas pergi dari rumah sakit ini. Di dalam perjalanan. Di mobil aku duduk di kursi depan dengan Pak Shetra.
__ADS_1
Sedangkan Veryn duduk di belakang sendirian. Aku berusaha keras melupakan kejadian tadi, namun rasanya sulit sekali. Aku melihat kaca yang ada dia atas antara kursi pengemudi dan kursi penumpang. Aku melihat Veryn memperhatikanku dari posisi kiri di belakang Pak Shetra, dengan tatapan kebingungan.
Dia saja yang cuma melihat reaksiku saja bingung. Apalagi aku yang mengalaminya sendiri. Huuuffhh, berharap dapat kejutan besar, dan memang benar-benar dapat kejutan besar. Tapi, kejutan besar yang mengerikan. Fuuhh, aku meniup ke atas, meniup beberapa helai rambut yang menutupi keningku.