
Hampir satu jam Pram baru keluar dari kamar mandi berbalut dengan bathrobe putih. Begitu melewati pintu, matanya tertuju pada Kailla. Istrinya belum tidur, sedang duduk bersandar di ranjang.
“Kenapa belum tidur, Kai?” tanya Pram heran. Ikut bergabung setelah berganti pakaian tidurnya.
Tangan kekar itu sudah menyingkap selimut tebal dan hangat, lalu menelusupkan tubuh di dalamnya.
“Tidurlah!” pinta Pram, menarik tangan Kailla supaya ikut berbaring di sisinya. Seperti biasa, mendekap erat tubuh istrinya.
Setelah perbincangan panjang dan keterusterangannya tadi, tidak ada yang berubah dari sikap Pram. Tidak ada kemarahan apalagi jarak, semua berjalan seperti malam-malam sebelumya. Lelaki itu tertidur dengan memeluk Kailla. Sesekali mengangkat dagu lancip dan mencium hangat bibir istrinya yang sekarang menelusup di dada bidangnya.
“Aku mencintaimu,” bisik Pram disela pelukannya, melabuhkan kecupan hangat di kening Kailla.
Untuk saat ini ada banyak pikiran yang menari di otak Pram. Kalau bisa jujur, dia bingung harus mengambil sikap seperti apa pada Kailla. Kalau bisa melepas, dia akan melepas dengan sukarela. Namun, dia masih memiliki tanggung jawab untuk menjaga Kailla.
Lelaki seperti apa yang sanggup mendampingi Kailla. Istrinya bukan orang sembarangan. Bahkan nyawa Kailla sudah terancam sejak berada di kandungan. Dan satu-satunya orang yang bertanggungjawab untuk semua ini adalah Riadi Dirgantara.
Lelaki mana yang sanggup mengambil alih tanggung jawabnya. Yang paham akan lika liku kehidupan Kailla yang rumit. Bahkan sampai saat ini ada banyak hal yang disembunyikan Riadi dan menjadi tanggung jawab Pram untuk memberitahunya sampai saatnya tiba.
Pram tidak bisa membayangkan bagaimana Kailla saat mengetahui masa lalunya sendiri. Mengetahui latar belakang kehidupan mamanya.
Lelaki mana yang mampu mengemban tugas begini berat. Menikahi Kailla berarti harus mengambil resiko selamanya hidup dibawah bayang bayang masa lalu Riadi Dirgantara yang begitu mengerikan dan banyak musuh. Menikahi Kailla berarti harus siap anak-anak mereka nantinya memiliki nasib yang sama dengan istrinya. Sejak lahir harus terbiasa dengan pengawalan ketat.
Dengkuran halus dari wajah tenang menghanyutkan itu menandakan kalau Kailla sudah terlelap. Mendapati itu, Pram pun memilih ikut memejamkan matanya. Berharap ketika terbangun besok, semuanya menjadi baik-baik saja.
***
Kailla sedang memakaikan dasi di leher suaminya saat ponsel di kantong celana Pram berdering.
“Mama,” bisik Pram, memberitahu Kailla. Istrinya masih sibuk merapikan kerah kemeja dan simpulan dasi yang belum sempurna.
“Ya sudah, aku turun ke bawah,” pamit Kailla setelah menyelesaikan semua tugasnya.
Namun, langkah Kailla terhenti, saat Pram merengkuh pinggang ramping itu untuk tetap di dekatnya
“Iya Ma,” sapa Pram, begitu benda pipih itu menempel di telinga.
Suara nyaring Ibu Citra terdengar mendominasi. Pram yang sibuk mencium wajah Kailla hanya asal mendengar suara mamanya tanpa menyimak apa yang dibicarakan.
“Kamu mendengarkan mama, Pram?” tanya Ibu Citra dari seberang. Setelah dari tadi tidak terdengar suara Pram sama sekali. Telinganya hanya menangkap suara berbisik tidak jelas, sesekali malah dia mendengar suara desahan perempuan.
“Hmmm,” gumam Pram, masih sibuk menjahili istrinya. Dengan tangan kanannya dia mengunci pinggang Kailla.
“Kamu sedang apa Pram?” tanya Ibu Citra semakin kesal. Sejak tadi dia mengoceh seorang diri. Pram tidak merespon sama sekali. Hanya berguman tidak jelas.
“Hmmmm, ada apa Ma? Mengganggu saja,” omel Pram, kali ini dia sedang menikmati leher jenjang Kailla yang masih berbalut gaun tidur dengan bahu terbuka.
“Lepaskan aku, Sayang. Aku mau turun ke bawah,” rengek Kailla berbisik manja.
Pram bukannya mendengar malah sibuk membuat tanda kemerahan di leher istrinya, mengecup basah membuat Kailla mengelinjang dan mendesah.
“Ahhhh!” desah Kailla, menutup mulutnya seketika. Sadar suaranya akan terdengar sang mama mertua.
“Pram!! Mama sedang bicara, kamu malah sibuk bercinta dengan istrimu,” omel Ibu Citra, dibuat kesal oleh ulah putranya sendiri.
“Sudah dulu, Ma. Aku mendengar semuanya. Tidak ada hal penting yang ingin mama bahas denganku. Lain kali jangan menghubungimu terlalu pagi. Itu jam-jam putramu sedang menikmati istrinya!” ucap Pram memastikan ponselnya sepihak.
Plakkk! Sebuah pukulan kencang mendarat di lengan Pram.
“Kamu mempermalukanku saja!” omel Kailla kesal, berusaha melepaskan diri dari rengkuhan tangan kekar Pram.
“Ayo turun sekarang. Aku harus memasak untuk makan siangmu,” ucap Kailla.
"Tidak perlu buru-buru. Menceplok telur tidak membutuhkan waktu lama." Pram terbahak membayangkan istrinha yang sok sibuk, padahal bekal makan siangnya tidak jauh dari telur.
__ADS_1
"Sudah! Aku tidak mau berdebat denganmu," gerutu Kailla, bergegas keluar.
“Nyonya, suamimu ditinggal begitu saja,” keluh Pram menyodorkan tangannya meminta Kailla menggandengnya turun.
“Manja!”
Meskipun kesal, Kailla tetap mengalah. Meraih tangan suaminya dan menyeret Pram menuju ruang makan.
“Jam berapa kamu akan ke kantor?” tanya Pram. Dia sedang memeluk Kailla yang masih dengan aroma bantalnya dari belakang. Berjalan menempel menuruni anak tangga yang akan mengantar mereka menuju lantai satu.
“Sebelum makan siang,” sahut Kailla, menggusap tangan suaminya yang sedang membelit di pinggangnya.
“Sudah! Singkirkan tanganmu! Ibu Sari sedang menonton kita,” omel Kailla, usapan lembut sekarang berganti tepukan kasar.
“Tidak mau! Aku sedang menagih hutang padamu. Bukankah semalam kamu berjanji akan membayarku dobel hari ini,” rengek Pram dengan manjanya.
“Tidak jadi. Kamu menuduhku berselingkuh semalam,” sahut Kailla cemberut.
“Tetapi benarkan, aku tidak merekayasa semua foto-foto itu. Kenapa berbohong padaku?” ucap Pram serius. Hilang sudah candaan mereka tadi. Keduanya menghentikan langkah saat masih di pertengahan tangga.
“Katakan padaku, kamu tidak merasakan apa-apa saat bersamanya?” pinta Pram, memohon. Masih dengan pose memeluk istrinya dari belakang.
“Kenapa diam, Kai?” tanya Pram lagi, meletakan dagunya di pundak Kailla.
“Kamu pasti tidak bisa menjawabnya,” todong Pram.
Ibu Sari yang sedang membersihkan perabotan di ruang tamu terlihat senyum-senyum sendiri, menyaksikan kemesraan kedua majikannya. Bagaimana tidak dari dalam kamar sampai turun tangga, keduanya masih saling memeluk. Seperti tidak ada puasnya.
“Aku tidak mau berdebat denganmu lagi. Anggap saja pembicaraan kita selesai sampai disini,” pinta Kailla, terpaku menatap pemandangan di depannya.
“Jangan temui dia lagi di belakangku. Aku akan menganggap kemarin kamu sedang tersesat dan lupa jalan pulang,” bisik Pram, mengecup pipi Kailla dengan lembut.
Kailla mengangguk.
“Kamu hanya memilikiku. Satu-satunya keluargamu di dunia ini,” lanjut Pram.
***
Siang itu Pram terlihat sibuk di ruang kerjanya. Ada dua tumpuk berkas yang harus ditandatangani. Belum lagi dia harus mengadakan rapat jarak jauh dengan Pieter. Ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan pendapatnya.
Sebuah ketukan lembut di pintu mengejutkan lelaki tampan itu. Senyumnya terkembang saat melirik jam di ponselnya sudah menunjukan waktu makan siang.
“Masuk!” perintahnya. Menyingkirkan tumpukan berkas yang memenuhi meja, bersiap menyambut istrinya.
Satu persatu barang yang memenuhi meja kerjanya disingkirkan. Sambil tersenyum membayangkan Kailla yang akan duduk dengan manja di pangkuannya seperti biasa. Namun, senyum itu menghilang saat mendengar suara feminim, namun itu bukan suara istrinya.
“Mas..,” sapa Kinar tersenyum. Masuk dan duduk tepat di seberang meja Pram.
“Ada apa kemari?” tanya Pram, bersikap dingin.
“Mama memintaku membawakan makan siang untukmu. Sekalian mengantar kemeja Mas Pram yang tertumpah kopi semalam,” sahut Kinar. Dengan lancang membuka kotak bekal yang dibawanya dan menyajikan di atas meja yang baru saja dirapikan Pram.
“Rapikan kembali. Aku akan menghabiskan bekal darimu tapi setelah menikmati makan siang yang dibawakan Kailla,” jelas Pram.
“Mama memintaku memastikan kalau Mas Pram menghabiskan makan siang yang aku bawakan,” ucap Kinar, menolak permintaan Pram.
“Aku bilang rapikan!” perintah Pram dengan keras.
Tiba-tiba dari arah pintu muncul Kailla dengan senyum cerianya.
“Sayang....” Ucapan Kailla terhenti, senyum pun menghilang saat menyadari kalau ada Kinar di dalam ruang kerja suaminya. Dan perempuan itu juga membawakan bekal makan siang untuk suaminya.
“Mau apa Tante kesini?” tanya Kailla, langsung emosi. Kotak bekal makan siang di tangannya langsung dibanting kasar di atas meja. Bisa dipastikan isi di dalamnya tunggang langgang dan berantakan.
__ADS_1
Kailla sudah bersiap untuk perang, hendak menarik pakaian Kinar. Perempuan itu berdiri terdiam di tempat, tidak bereaksi sama sekali. Seperti siap menyambut kemarahan Kailla.
“Sudah Kai, dia hanya mengantarkan makan siang. Itu pun atas perintah mama.” Pram mencekal kedua tangan istrinya, kemudian memeluk erat Kailla sehingga istrinya tidak bisa bergerak. Kedua tangannya berada dalam pelukan erat suaminya. Dia tidak bisa menjambak wanita tidak tahu diri yang ada di hadapannya.
“Keluar dari ruanganku!” perintah Pram mulai emosi. Setelah Kinar enggan beranjak, seperti sengaja memancing kemarahan Kailla.
Suara menggelegar Pram, cukup membuat nyali Kinar menciut, buru-buru keluar dari ruangan. Senyum licik tersungging di bibir Kinar. Ada rasa kepuasan tersendiri setelah berhasil memancing kemarahan Kailla.
“Sudah Kai! Biarkan dia,” bujuk Pram.
“Sudah berapa kali dia mengantarkan makan siang untukmu!” tanya Kailla penuh amarah, menghempaskan tangan Pram dan berdiri menjauh.
“Ini yang pertama dan yang terakhir. Aku berjanji tidak akan mengizinkannya masuk ke kantor RD Group. Sudah, jangan marah-marah lagi ya,” bujuk Pram.
Suasana ruang kerja Pram yang biasanya hening dan tenang, sekarang auranya memanas. Pertengkaran yang tadinya terjadi dengan Kinar, sekarang berganti dengan Pram.
“Tidak! Aku tidak percaya padamu. Pasti dia sudah sering kesini membawakan makan siang untukmu. Aku akan membunuhnya saat ini juga!” omel Kailla.
“Sudah! Kai, dengarkan aku. Aku bersumpah tidak ada hubungan apa apa dengan Kinar. Aku tidak tahu kalau dia akan datang,” jelas Pram, berusaha menahan tangan Kailla.
“Aku tidak percaya padamu. Baru saja kemarin menuduhku berselingkuh. Buktinya kamu sendiri melakukan hal yang sama!” omel Kailla, bergegas keluar dari ruangan Pram dengan penuh amarah.
***
Kailla baru saja keluar dengan kesal dari ruang kerja suaminya. Dia baru bertengkar hebat dengan Pram di dalam sana.
Terlihat Pram ikut keluar dan mengekor di belakang istrinya. “Sayang, kamu salah paham. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya,” ucap Pram.
Kailla tetap berjalan lurus ke depan, menoleh pun tidak. Mengabaikan panggilan suaminya berulang kali. Tetapi langkahnya terhenti saat ponsel di tas mahalnya berdering.
“Ditya?” bisik Kailla saat melihat nama itu tertera di layar ponselnya yang berkedip.
“Iya, ada apa?” tanya Kailla ragu-ragu, sesaat setelah menempelkan ponsel mahalnya di telinga.
“Kai, bisa kita bertemu?” tanya Ditya dari seberang.
“Maaf, nanti aku akan menghubungimu lagi,” ucap Kailla berbisik pelan. Mematikan ponselnya buru-buru.
“Kemarikan ponselmu, Kai!” pinta Pram tiba-tiba menyodorkan tangannya. Saat ini dia sudah berdiri di depan istrinya.
Tadinya Pram hendak menyusul untuk menenangkan amarah Kailla, tetapi keadaan berbalik. Dia diserang emosi, saat mendapati seseorang menghubungi istrinya yang dicurigainya adalah Ditya.
“Aku mau pulang sekarang,” pamit Kailla.
"Kemarikan ponselmu, Sayang!" pinta Pram, mengulang kembali. Terlihat sekali dia sedang berusaha tenang.
Kailla yang tetap diam, akhirnya memaksa Pram membawa istrinya kembali ke ruangannya.
"Ikut aku! Masalah kita belum selesai!" ucap Pram, meraih tangan Kailla dan menggengamnya erat untuk mengikuti langkahnya.
***
To be continued
Love you all
__ADS_1
terima kasih