
“Maaf untuk semalam,” ucap Pram pelan. Menatap lekat ke arah manik mata asisten tampan yang umurnya belasan tahun di bawahnya.
“Tidak apa-apa Pak,” sahut Ricko tertunduk, seperti ada beban berat yang dipikulnya.
“Maaf, ini kali pertama kita berbicara serius,” ucap Pram.
Ricko terlihat gugup, lebih banyak menunduk. Menatap ujung sepatunya. Pram sendiri memilih menatap ke arah dermaga, melihat beberapa yacht miliknya dan milik tetangga belakang rumahnya tertambat.
“Rick, bagaimana istriku di kampus?” tanya Pram, membuka pembicaraan. Melepas kacamata hitam yang sejak tadi menutup sebagian wajahnya.
“Kai, eh maksudku Non Kailla baik di kampus.” Ricko menjawab singkat.
Jawaban umum, tidak memberi informasi apapun seperti yang diharapkan Pram.
“Maksudku, apakah ada laki-laki yang berani mendekatinya,” jelas Pram, mengalihkan pandangannya. Tatapannya tajam, mengintimidasi Ricko, sang asisten tampan.
“Ti-tidak Pak. Tidak ada yang berani mendekati Non Kailla.” Ricko menjawab dengan terbata. Ada rasa tidak enak dan seperti diinterogasi. Seperti itulah perasaan Ricko saat ini.
“Aku mendengar istriku dekat dengan seorang laki-laki, bahkan sering menangis di pelukan laki-laki itu,” ucap Pram.
Pram membuang pandangannya. Saat ini, Pram terlihat sangat tenang, meraih sebuah kursi kayu tidak jauh dari tempatanya berdiri. Meletakkan kacamata hitamnya ke atas meja kayu di sebelahnya.
“Tidak ada Pak,” ucap Ricko membantah.
“Tolong cari tahu laki-laki itu untukku Rick, aku ingin berhadapan langsung dengannya. Apakah dia benar tidak tahu Kailla sudah menikah atau memang dia sedang menerjang bahaya dengan mengganggu istriku,” ucap Pram.
Laki-laki dengan kaos putih simple itu melirik ke arah Ricko yang berdiri mematung.
Ba-baiklah Pak,” sahut Ricko terbata dengan setengah pikiran sudah menerawang. Sedikit bingung bercampur panik.
“Rick, aku percayakan istriku padamu. Karena untuk saat ini, kamu asisten satu-satunya.” lanjut Pram, menatap Ricko.
“Duduk Rick!” pinta Pram, menunjuk sebuah kursi kayu kosong di seberang meja.
“Mungkin aku terlihat tidak adil memperlakukanmu dan Sam. Tapi perlu kamu ketahui, Sam sudah lama ikut denganku dan menjaga istriku,” ucap Pram.
Ricko mengangguk, duduk diam menyimak kata per kata yang diucapkan Pram. Tidak berani membantah.
“Sam sangat setia padaku, terutama pada Kailla. Aku memberinya kesempatan untuk kuliah lagi. Dan aku juga bisa memberimu kesempatan yang sama,” lanjut Pram, membuat Ricko terkejut.
Mengalihkan pandangannya. Sejak tadi laki-laki muda itu lebih banyak menunduk, tapi sekarang dia langsung mengangkat kepalanya. Menatap Pram, antara percaya atau tidak percaya.
“Aku serius Rick. Tidak selamanya kalian akan menjaga istriku. Akan ada hari dimana aku dan istriku tidak membutuhkan kalian lagi,” ucap Pram.
Lanjutkan saja kuliahmu, saat Kailla tidak membutuhkanmu lagi. Kamu bisa masuk ke perusahaan.”
“Apa ini serius, Pak?” tanya Ricko. Seperti mimpi, ditawari untuk kuliah setelah sekian lama mengubur niat itu dalam-dalam.
“Aku tidak pernah main-main dengan tawaranku,” ucap Pram.
“Anggap saja ini hadiah dariku, karena selama ini kamu sudah menjaga Kailla untukku,” lanjut Pram.
“Apakah Kailla merepotkanmu selama ini?” tanya Pram tiba-tiba.
“Ti-tidak Pak,” sahut Ricko,
“Pastikan tidak ada seorang pun yang menyentuh istriku, termasuk Sam sekalipun. Laporkan padaku semua hal. Aku tidak suka milikku diganggu, apalagi itu istriku.” perintah Pram tegas dan penuh penekanan.
”Katakan saja, kapan kamu akan mulai kuliah. Selagi itu tidak sampai mengganggu tugasmu dalam menjaga Kailla, aku tidak keberatan. Apalagi Sam sebentar lagi juga wisuda. Dia akan memiliki banyak waktu bersama Kailla, menggantikanmu,” ucap Pram.
“Baik Pak.”
“Terimakasih selama ini sudah menjaga Kailla untukku. Aku harap kamu tidak melaporkan berita perselingkuhan istriku,” ucap Pram tertawa, mencoba mencairkan suasana. Meraih kacamata hitam dari atas meja dan memakainya.
Kakinya baru saja melangkah pergi, tapi Pram sudah berbalik lagi.
__ADS_1
“Rick, aku lupa. Akan ada tambahan orang untuk menjaga Kailla. Aku harap kamu tidak terkejut saat melihat laki-laki misterius yang selalu mengikuti kemana pun kalian pergi.”
Ricko terkejut kali ini. Menatap Pram seolah tidak percaya.
“Istriku susah diatur. Dan aku yakin, kalian kewalahan meladeninya. Bahkan ketika istriku memberi perintah, kalian tidak akan berani membantah.”
“Baik Pak,” sahut Ricko.
Ricko bisa bernafas lega, tadinya dia sudah ketakukan Pram mengetahui kelakuannya yang diam-diam sering mencuri kesempatan pada nyonya majikannya.
Tapi hatinya sedikit tercubit saat Pram membahas laki-laki yang sedang dekat dengan istrinya. Selama ini tidak ada seorang pun yang berani mendekati Kailla, kecuali dirinya. Beragam tanya muncul di benaknya. Sebenarnya seperti apa sosok Pram, yang bahkan bisa tahu segalanya.
***
Pram baru saja keluar dari ruangannya. Setelah menghabiskan beberapa waktu di dalam sambil menunggu pesanan tasnya datang.
“Presdir, ini!” ucap Stella buru-buru berdiri. Menyodorkan tiga shopping bag berlogo sebuah brand ternama.
“Punya mama dan Kailla yang mana?” tanya Pram tiba-tiba, menatap ketiganya bergantian.
“Punya Nyonya dan Ibu Presdir sudah saya beri label di shopping bag-nya,” sahut Stella, mendorong maju dua shopping bag sedikit ke depan.
“Berarti yang satu milik Kinar?” tanya Pram, melihat satu kantong belanjaan yang tidak tersentuh.
Stella mengangguk, beriringan dengan suara langkah sepatu mendekat.
“Bos!” sapa Bayu tiba-tiba, menyela pembicaraan.
“Ini untuk kekasihmu!” ucap Pram, meraih shopping bag milik Kinar dan menyerahkannya ke tangan Bayu.
“Maksudnya Bos?” tanya Bayu heran.
“Aku jelaskan di jalan!” ucap Pram, menyerahkan ketiga shopping bag itu ke tangan Bayu.
“Baik Presdir.”
“Oh ya, warna tas milik Kailla dan mama sudah sesuai dengan instruksi ku kan?” tanya Pram lagi, berbalik menatap Stella, sekretarisnya.
“Iya Presdir,” sahut stella. Wanita itu bingung sebenarnya, tapi memilih diam dan tidask bertanya lebih lanjut.
Pram bergegas menuju lift menyusl Bayu, meninggalkan Stella dengan kebingungannya.
“Tas tadi milik Kinar!” ucap pram tiba-tiba, saat berada di dalam lift.
Berbicara pelan, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Bayu.
“Maksudnya Bos?” tanya Bayu heran.
“Aku membelikan untuk Kailla dan mama. Aku tidak mungkin membuatnya menatap iri, karena aku dianggap melupakannya. Bagaimana pun, dia yang merawat mamaku, terlepas tulus atau tidak,” ucap Pram.
“Tapi aku tidak mau, dia berharap lebih karena pemberianku,” lanjut Pram.
Bayu mengangguk, sudah mengerti arah pembicaraan Pram.
“Aku percayakan dia padamu. Kalau memang tertarik padanya, aku akan datang pada mama dan melamarnya untukmu!” ucap Pram tersenyum, menepuk pundak Bayu.
***
Di Restoran.
Kailla sudah duduk manis di samping Pram, tangan mereka terus saling menggenggam di bawah meja bulat yang terletak di ruangan sendiri. Ya, Pram memesan ruangan khusus untuk pertemuan keluarga kali ini.
“Astaga Kai, aku melupakan perbanku,” ucap Pram menunjuk tangannya yang masih terbungkus perban.
“Bibirku tolong dibuat samar,” lanjut Pram tersenyum.
__ADS_1
Keduanya sedang menunggu Ibu Citra yang sedang dalam perjalanan. Mendengar permintaan Pram, Kailla langsung mengeluarkan tas make-upnya dari dalam tas. Langsung memolesnya di sudut bibir Pram yang sedikit bengkak.
“Sayang, sini!” Pram menarik istrinya duduk di pangkuannya seperti biasa.
“Apa masih sakit?” tanya Kailla mengernyit, membayangkan nyeri dan ngilu luka di sudut bibir suaminya.
“Sedikit Sayang,” bisik Pram, mengeratkan pelukan di pinggang Kailla.
“Jangan begini, aku tidak suka melihatmu terluka,” ucap Kailla pelan.
“Iya, tapi jangan pergi lagi setiap kita bertengkar.” Pram yang kembali memohon.
Kailla mengangguk. Tangan Kailla sudah beralih membuka ikatan pada perban di tangan Pram, menyimpannya ke dalam tas tangannya. Baru saja hendak beralih ke tempat duduk setelah menyelesaikan tugasnya, Pram menahan pinggang Kailla, meminta istrinya tetap duduk di pangkuannya.
“Ehmmmmmmmm....” Pram memeluk erat, sembari menelusupkan wajahnya di dada Kailla.
“Kamu menggemaskan!” ucap Pram, menarik tengkuk Kailla supaya menunduk, menggigit hidung mancung istrinya.
“Aduh!” pekik Kailla kaget bercampur sakit, mengusap hidungnya yang memerah.
“Sakit Sayang,” protes Kailla, kesal. Pram tidak hanya menggigit hidungnya, tapi merusak dandanannya juga.
“Aku mencintaimu..” bisik Pram pelan, mengecup bibir istrinya.
Kailla langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Pram, menunduk membalas ciuman Pram. Ciuman hangat, dalam hitungan detik semakin dalam dan saling menuntut.
“Apa kita coba mencetak penerus bangsanya disini,” canda Pram di sela-sela ciumannya.
Kailla tidak menjawab, masih saling membalas ciuman, saling membelit lidah di dalam sana. Keduanya hampir lupa dengan dunia, sampai tidak menyadari Bayu masuk ke dalam ruangan bersama Ibu Citra dan Kinar, diikuti seorang pelayan di belakangnya
Keempatnya terpaku di pintu, berhenti melangkah. Menatap pemandangan yang tidak biasa. Bayu berbalik badan, Kinar dan pelayan menunduk. Ibu Citra melotot, melihat kelakuan putra dan menantunya yang tidak tahu malu dan tidak tahu tempat.
Bagaimana tidak terkejut, setelah menemukan putranya kembali, Pram sosok dingin dan tidak tersentuh, apalagi pada wanita, khususnya Kinar. Dimana Pram bahkan tidak mau melirik mantan calon menantu kesayangannya itu.
Tapi saat ini, putranya yang sebentar lagi sudah hampir kepala lima, sedang melakukan pertunjukan memalukan di depan matanya.
“Pram!” teriak Ibu Citra menyadarkan keduanya.
Kailla buru-buru mendongak, menahan malu melihat keempat orang yang tiba-tiba muncul di pintu. Segera turun dari atas pangkuan Pram.
Berbeda dengan Pram, laki-laki itu tenang. Berbalik menatap keempatnya dengan santai. Kemudian menghampiri mamanya, tersenyum sambil mengusap bibirnya. Menghapus sisa-sisa lipstik Kailla yang mungkin saja tertinggal disana.
Plakkk!! Ibu Citra memukul kencang pundak Pram.
“Anak tidak tahu malu!” omel Ibu Citra, menggelengkan kepala.
Kailla yang mengekor di belakang suaminya, hanya menunduk menahan malu. Menutup rona merah di pipinya, ketahuan berbuat mesum di depan mertuanya.
“Ma, ayo duduk,” ajak Pram meraih tangan sang mama untuk mengikutinya.
Ibu Citra masih saja mengomel dan menggerutu. Menatap putra dan menantunya bergantian.
“Kelewatan kamu Pram!” gerutu Ibu Citra, mencubit lengan Pram yang duduk di sebelahnya.
Mata Ibu Citra menatap ke arah Kinar yang yang duduk di sebelahnya. Perempuan yang sudah dianggap putrinya sendiri itu tertunduk sedih.
***
To be continued
Terimakasih
Mohon rate like share dan komen
Love you all.
__ADS_1