
Pram sudah berdiri di depan kamar yang katanya di tempati Ditya. Kamar itu tepat di samping kamar perawatan mamanya sebelum dipindahkan. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa kecolongan kali ini.
Terlihat dia menggedor kasar pintu kamar yang ditempati Ditya.
Buk!Buk!Buk! Pram menggedor kasar dengan kepalan tangannya.
“Buka pintunya, Brengs”ek!!!” teriak Pram.
Baru saja dia akan menggedor kembali, tangannya masih mengepal di udara.
Ceklek! Pintu kamar itu terbuka.
Terlihat seorang wanita muda dengan seragam biru membuka pintu. Kedua tangannya sedang memeluk seprei putih yang berantakan.
“Maaf, ada apa Pak,” tanya wanita itu, sedikit ketakutan. Siapa pun akan menciut melihat ekpresi Pram yang mengerikan. Tidak bersahabat, tangan terkepal, garis wajah mengeras dan kaku. Belum lagi sorot mata tajam dan menatap sinis.
Pram tidak menjawab, mengedarkan pandangan ke dalam ruangan. Terlihat seorang wanita lagi sedang mengepel lantai kamar itu. Melihat aktivitas di dalam kamar, Pram merasa tidak perlu bertanya lagi. Ditya sudah tidak berada di kamar itu lagi.
“Maaf!”
Pram berbalik pergi tanpa bicara lagi. Berusaha merendam emosinya sendiri. Tujuannya saat ini adalah menemui dokter. Meminta kepastian kapan mamanya bisa kembali ke rumah. Terlalu lama di rumah sakit, bukan mamanya semakin sehat. Bisa-bisa dia kehilangan istrinya.
Untuk pertama kalinya dia menyesal memilih rumah sakit terbaik di kota ini yang bernaung di bawah bendera Halim Group yang sudah terkenal namanya seantero negri. Bukan karena harganya yang selangit, tapi si Ditya, anak pemilik rumah sakit telah melewati batas teritorialnya.
Dengan langkah cepat, dia menemui sang dokter untuk meminta mamanya bisa diizinkan pulang saat ini juga. Tetapi dia melupakan satu hal, dokter yang menangani mamanya tidak bertugas di malam hari. Dan prosedur kepulangan harus melewati beberapa pemeriksaan dan izin dari sang dokter terlebih dulu.
Lagi-lagi, nasib baik tidak berpihak padanya. Pram hanya terhubung melalui ponsel dengan sang dokter. Sesuai kesepakatan, akhirnya diputuskan besok siang. Tetapi sebelumnya Ibu Citra harus melalui serangkaian pemeriksaan untuk memastikan kondisinya sudah benar-benar stabil dan tidak ada masalah lagi dengan kesehatannya.
***
Lelaki tampan itu melangkah masuk kembali ke dalam kamar perawatan mamanya. Terlihat Ibu Citra sedang berbincang dengan Kailla, sesekali tertawa. Rangkaian bunga raksasa itu tergeletak begitu saja di atas meja.
Sedikit berbeda dengan respon Kailla saat pertama, sekarang istrinya terlihat biasa, tidak ada lagi wajah bahagia seperti sebelumnya. Pram menghampiri kedua orang yang dicintainya dan tiba-tiba memeluk Kailla dari belakang.
“Apa yang kalian gosipkan?” tanya Pram, meletakan kepala di pundak istrinya. Tatapannya tertuju pada sang mama yang tersenyum meledeknya.
“Kapan mama bisa pulang, Pram? Sudah bosan berada disini terus,” tanya Ibu Citra. Menolak menjawab pertanyaan putrannya, sebaliknya malah bertanya.
“Besok. Tapi harus menunggu dokter lebih dulu. Besok aku kesini lagi. Malam ini aku dan Kailla tidur di rumah ya,” jelas Pram, mengecup pundak istrinya di depan sang mama.
Perasaan Pram saat ini sulit dilukiskan. Kecemburuan membuncah. Kalau sedang tidak bersama Kailla dan mamanya, dia sudah ingin menghancurkan semuan isi ruangan. Apalagi semakin melihat rangkaian bunga itu, semakin memancing emosi.
“Kai, kita pulang sekarang ya,” pinta Pram, mengeratkan kembali pelukannya. Memgecup ceruk leher istrinya dengan lembut.
__ADS_1
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Kailla mulai curiga, menepuk lembut kepala suaminya yang sedang bertumpu di pundaknya.
“Aku mengantuk. Bisa kita pulang sekarang,” pinta Pram dengan manja. Sesekali tersenyum menatap mamanya.
“Ingat umur Pram. Bukan anak kecil lagi,” celetuk Ibu Citra, saat melihat putranya sedang bermanja-manja dengan menantunya.
Setelah membujuk dan merayu dengan segala daya upaya, akhirnya Ibu Citra mengizinkan mereka kembali pulang ke rumah. Terlihat keduanya sudah berada di dalam mobil, dengan Bayu yang menyetir.
Sepanjang perjalanan tidak terdengar perbincangan serius, hanya sesekali Pram bergumam tidak jelas sembari memeluk istrinya.
“Kai, kamu tidak penasaran siapa Ditya?” tanya Pram tiba-tiba.
“Hah?! Kamu masih mengingatnya. Aku bahkan sudah melupakannya. Tapi dia manis sekali, mengirimiku bunga berulang kali.” sahut Kailla.
“Kamu tersentuh? Terharu?” tanya Pram lagi. Kepercayaan dirinya benar-benar hancur saat ini. Bahkan dengan kasar tadi dia meminta Kailla untuk meninggalkan rangkaian bunga itu di rumah sakit saja.
“Perempuan mana yang tidak suka bunga. Perempuan mana yang tidak tersentuh diperlakukan semanis itu,” sahut Kailla, meraih tangan suaminya. Dengan lincah menautkan jari jemarinya pada jemari tanga Pram.
“Tapi aku mencintaimu,” lanjut Kailla. Matanya melirik Bayu sebelum menempelkan bibirnya pada sang suami.
“Benarkah?” tanya Pram, memastikan kalimat yang baru saja keluar dari bibir mungil istrinya.
“Iya.” Kailla mengangguk. Tersenyum manja seperti biasa.
“Kai, besok aku akan membelikanmu bunga berikut dengan tokonya,” gumanm Pram, terkekeh.
“Lalu, apalagi yang kamu mau. Katakan padaku, aku akan menuruti semua permintaanmu. Asal jangan minta cerai dariku,” lanjut Pram lagi.
“Aku tidak mau apa-apa. Aku hanya mau tas warna pink, yang belum sempat kamu belikan untukku,” sahut Kailla.
***
Keesokan harinya.
Siang itu, seperti biasa Kailla sudah berada di rumah sakit dengan diantarkan Sam. Dia dan asistennya sudah tidak rutin ke kampus lagi, hanya sesekali menemui dosen pembimbing. Sejak beberapa hari yang lalu dia sudah mulai mengerjakan skripsinya. Dia benar-benar ingin segera menyelesaikan kuliahnya dan bisa fokus dengan program kehamilannya.
Raut sedih Pram begitu melihat hasil satu garis di test pack masih membayang di matanya. Untuk senyuman di wajah suaminya, dia harus berusaha untuk bisa hamil. Apalagi Pram sudah tidak muda lagi, keinginan untuk memiliki bayi jauh lebih besar darinya saat ini.
“Ma, semuanya sudah disiapkan?” tanya Kailla, membantu Ibu Citra mengenakan sweaternya.
“Sudah. Pram dimana?” tanya Ibu Citra, melihat menantunya hanya datang sendirian.
“Aku ke sini dengan Sam. Pram sedang dalam perjalanan. Tadi dia ke kantor dulu,” sahut Kailla.
__ADS_1
Ibu Ida yang sedang membereskan semua barang-barang bawaan majikannya, terlihat berjongkok di pojokan memasukan pakaian kotor ke dalam tas.
Kailla masih berbincang dengan mertuanya, ketika seorang perawat masuk ke dalam kamar diikuti lelaki tampan dengan setelan jas putih, membawa sebuket mawar merah di tangan kanannya dan shopping bag berlogo brand terkenal yang berpusat di Paris.
Deg—
Kedua wanita berbeda usia itu terkejut. Ibu Citra yang memang tidak pernah melihat sosok tampan itu langsung terperangah. Ekspresi berbeda ditunjukan Kailla yang memang sudah pernah bertemu walaupun belum pernah saling bertegur sapa.
“Maaf mengganggu. Apa kabar, Bu?,” ucap Ditya dengan suara beratnya.
Perkenalkan saya Ditya Halim Hadinata,” ucapnya. Dengan sedikit membungkuk, saat memperkenalkan dirinya pada Ibu Citra.
“Saya sempat menjadi tetangga ibu di kamar perawatan sebelumnya. Juga sempat beberapa kali berpapasan dengan putri Ibu,” ucapnya lagi, tersenyum ke arah Kailla.
Tangannya langsung menyerahkan sebuket bunga mawar merah kepada Kailla.
“Untukmu,” ucap Ditya. Selanjutnya kembali fokus pada Ibu Citra. Meletakan shopping bag ke atas ranjang, tempat di mana Ibu Citra duduk saat ini.
Mata Ibu Citra tertegun melihat shopping bag yang berlogo brand favoritenya. Melihat penampilan lelaki muda dan tampan di depannya, dia yakin sekali isi di dalam shopping bag itu pastilah barang mahal.
“Maaf ada keperluan apa ya?” tanya Ibu Citra heran. Pandangannya menyelidik, mengamati lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Ditya Halim Hadinata itu dari ujung rambut sampai ujung kaki,
Dari penampilan, gaya bicara, gerak tubuh dan aromanya. Dia bukan orang sembarangan,” batin Ibu Citra.
Saya datang kesini untuk memperkenalkan diri saya secara langsung. Saya tertarik dengan putri Ibu, Kailla.” Ditya menjelaskan maksud kedatangannya, sesekali melirik ke arah Kailla yang berdiri mematung di tempat. Masih belum bisa percaya dengan apa yang didengarnya.
Ibu Citra diam. Tidak bisa berkata apa-apa. Suaranya tercekat, masih belum bisa menerima kejadian yang begitu mendadak.
“Kalau ibu tidak keberatan, saya ingin meminta izin supaya bisa mengenal putri Ibu lebih jauh,” jelas Ditya lagi.
Hening. Semua di dalam ruangan itu membeku. Ibu Ida yang masih sibuk dengan pakaian kotor menghentikan aktivitasnya seketika. Hanya perawat saja yang terlihat mengulum senyumannya, berdiri di belakang Ditya.
Pandangan Ditya tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Kailla.
"Oh shitt! Harusnya aku memastikan dulu statusnya," umpat Ditya dalam hati.
To be continued
Love You all.
Terima kasih.
__ADS_1