
Baru saja Pram menggeser kursi dan mempersilahkan istrinya duduk untuk menikmati sarapan, tetapi mulutnya terngaga nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ya Tuhan, cobaan apalagi yang kamu kirimkan untukku pagi ini,” ucap Pram, dengan mata melotot.
Bayu hanya tersenyum, ikut memandang ke arah yang sama. Dan Kailla, bola matanya nyaris melompat keluar dari tempatnya, saat pandangannya terpaku pada satu titik.
Dari area ruang makan yang menyatu dengan dapur, dia bisa melihat dengan jelas pinggul seksi yang bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti irama gendang dalam keheningan. Perempuan yang belum terlihat wujudnya itu sedang mencuci perabotan, piring dan gelas, sembari bergoyang mengikuti irama air kran.
Tidak sampai disitu, pakaian minim yang dikenakan benar-benar menggoda iman. Bayangkan saja, dia hanya mengenakan rok mini yang melekat padat di tubuhnya yang aduhai. Tinggi roknya hanya dua jengkal diukur dari pinggang. Bisa dipastikan sedikit saja membungkuk, rok itu akan menyingkap dan membuat penasaran semua orang.
“Siapa yang mengirim boneka dari India ini ke sini?” tanya Kailla kesal. Pandangannya beralih pada Pram, lelaki yang tentunya paling tahu jawabannya.
“Aku tidak tahu menahu, Sayang,” sahut Pram, menolak mengakui. Tatapan Kailla pagi ini begitu mengerikan.
“Aku hanya meminta dikirimkan asisten rumah tangga oleh Pieter, bukan minta di kirimi bentuk yang seperti ini,” lanjut Pram.
“Kamu pasti menyukainya kan?” todong Kailla, semakin kesal. Dengan secepat kilat Pram menggeleng, terlambat sedikit saja menjawab, nasibnya akan diujung tanduk.
“Aku melihat sendiri bola matamu dan Bayu sudah meloncat keluar!” gerutu Kailla dengaan wajah asam kecutnya.
“Sudah, jangan bertengkar. Mama sedang menikmati sarapan pagi. Terserah kalian mau berdebat seperti apa. Bagi mama tidak masalah, toh pagi ini untuk pertama kalinya mama bisa menikmati sarapan lebih manusiawi dibanding pagi-pagi sebelumnya,” komentar Ibu Citra. Wanita itu sudah meraih piring, dan mengisi nasi goreng yang terlihat enak.
Dengan kesal Pram meraih ponselnya, mencari nomor kontak Pieter dan bermaksud menyemprot teman baiknya itu. Tidak membutuhkan waktu lama, suara maskulin Pieter terdengar seksi di gendang telinga Pram.
“Tidak perlu berterimakasih. Aku hanya sanggup mencarikan itu saja. Kamu memberiku waktu yang begitu singkat. Saat ini, hanya dia saja yang bersedia bekerja dengan sukarela,” jelas Pieter sebelum ditanya.
“Tetapi jangan khawatir, dia punya kelebihan selain bodinya yang aduhai bak gitar spanyol. Dia tidak hanya bisa menghangatkan makanan, tetapi juga bisa menghangatkan tempat tidurmu, Pram,” goda Pieter terbahak.
Suara tawa itu tidak berlangsung lama, Pram memutuskan panggilannya secara sepihak, Pram memilih tidak melanjutkan pembicaraan lebih jauh lagi. Menarik kursi dan ikut duduk disisi Kailla.
__ADS_1
“Sudah. Jangan marah-marah lagi, Kai. Anggap saja ada pertunjukan di dalam rumah. Toh kita tinggal beberapa hari lagi disini. Dan....” Kalimat Pram menggantung. Tidak sanggup lagi berucap lebih jauh, saat wanita cantik titisan boneka dari India itu berbalik badan dan tertegun menatapnya dan Kailla.
“Selamat pagi Tuan,” sapa asisten rumah tangga yang baru saja dikirim Pieter. Tersenyum manis dengan bibir seksi dan tebal berisi yang berwarna merah menyala.
Wanita itu berjalan dengan langkah gemulai, celemek yang tidak bisa menutupi bagian dadanya yang berukuran di atas rata-rata memamerkan belahan dada yang terpampang jelas dan nyata. Isi di dalamnya seperti berdesakan hendak keluar.
Pram menatap sekilas, kemudian menjatuhkan pandangannya kembali. Hidup dan matinya akan ditentukan oleh beberapa detik ini. Dia bisa melihat aura membunuh di wajah istrinya tercinta. Kalau dia berani mengangkat pandangannya sekali saja, bukan hanya wanita itu, nyawanya pun bisa terbang melayang.
Disisi lain, Bayu terlihat menelan ludah berkali-kali demi menutupi kegugupannya. Reaksi berbeda ditunjukan Ibu Citra, dia terlihat biasa, meskipun asisten rumah tangga baru itu berhasil memporak porandakan perasaan Pram, Kailla dan Bayu.
“Kenalkan Tuan, nama saya Sarah. Dipakai H di bagian terakhirnya S A R A H!,” ucap asisten rumah tangga yang baru itu sembari mengeja, memperkenalkan diri dengan suara mendesah. Perkenalan ini lebih dikhususkan untuk Pram, karena sejak tadi tatapannya seperti hendak menerkam lelaki yang sudah rapi dengan setelan jas kerjanya.
Sesekali dia memainkan lidahnya, mengusap bibirnya dengan sengaja menarik perhatian Pram. Kedipannya pun lebih menggoda dengan kerlingan di sudut mata.
Pram tidak meladeni sapaan pembantu barunya, hanya mengibaskan tangan tanpa melihat ke arah pemilik suara. Sesekali melirik ke samping, menatap Kailla yang cemberut kesal.
“Bagaimana bisa, dia nyata di depan mataku!” omel Kailla.
“Aih, anak manis, mamanya mana?” celoteh Sarah beralih menatap ke arah Kailla yang duduk berdampingan dengan Pram. Lelaki yang mencuri hatinya tepat di pandangan pertama.
Sengaja dia melontarkan pertanyaan itu untuk mengetahui lebih lanjut lagi peluangnya ke depan. Setidaknya dia bisa memakai strategi khusus untuk menggaet pengusaha kaya ini dan secepatnya bisa kembali ke Indonesia.
“Mama sudah meninggal,” sahut Kailla ketus.
*“Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini yang namanya berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, ke penghulu kemudian,” ucap Sarah bersorak sorai dalam hati. *
__ADS_1
Menatap penuh haru pada sepasang ayah dan anak yang membutuhkan kehadirannya, sosok yang akan mengganti belaian kasih sayang seorang ibu dan istri teruntuk lelaki tampan dan putrinya yang duduk berdampingan di depannya. Begitulah kira-kira yang ada di dalam otak Sarah.
“Ah...tidak apa-apa, tante Sarah akan memasak untukmu,” ucapnya tersenyum.
“Katakan, anak cantik ingin sarapan dengan apa? Tante menguasai semua jenis masakan,” lanjutnya lagi.
“Dia istriku, bukan putriku! Panggil dia Nyonya!” potong Pram berbicara sembari menatap Kailla yang menunduk dengan wajah cemberutnya, mengejutkan pembantu baru mereka.
“Oh my God! Ya Tuhan!” pekik Sarah tertahan, menutup mulut dengan kedua tangannya. Berbalik badan, menutup kecewanya yang tertahan.
“Ayolah Kai. Jangan marah lagi. Bagaimana kalau ikut ke kantor bersamaku. Biarkan Bayu yang mengurusnya,” tawar Pram, berusaha membujuk istrinya yang terlanjur marah.
“Tidak bisa begitu!” Ibu Citra yang sejak tadi diam menikmati sarapannya, bereaksi.
“Aku tidak mengizinkan Bayu mengurus perempuan jadi-jadian itu. Bayu itu calon suami Kinar, bagaimana bisa kamu melemparnya pada perempuan seperti itu,” tolak Ibu Citra.
“Ma, hubungan Bayu dan Kinar itu belum ada kejelasan. Aku tidak bisa menahannya kalau Bayu menyukai seseorang. Sejak tadi, Bayu sudah menelan saliva berkali-kali, sepertinya dia tertarik,” sahut Pram menggoda, membuat Ibu Citra tidak berkutik.
Kailla yang sejak tadi diam, terlihat tersenyum licik.
“Wanita ini ingin menabuh genderang perang denganku. Beraninya dia menatap suamiku dengan tidak sopan. Sepertinya dia tidak tahu siapa Kailla Riadi Dirgantara sebenarnya!” gerutu Kailla dalam hati.
“Sudah, jangan marah-marah lagi. Ayo habiskan sarapanmu. Aku akan mengajakmu dan Mama ke kantor hari ini,” ucap Pram, menyodorkan sepiring nasi goreng spesial ke hadapan istrinya.
***
To be continued
__ADS_1
Love you all
Terima kasih.