Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 44 : Kenapa Tidak Melepasnya


__ADS_3

"Ma-maaf Pak, saya tidak melihat apa-apa," ucap si tukang kebun terbata, langsung lari terbirit-birit.


Pram tersenyum, menggigit bibir bawahnya. Menatap Kailla yang tertawa lebar tanpa suara sambil menutup mulutnya. Ini bukan pertama kalinya, tapi terlalu sering mereka ketahuan sedang berciuman.


“Seperti yang aku katakan dulu, aku berharap ada hari di mana hanya ada kita berdua saja. Tidak perlu ada barisan asisten dari gerbang depan sampai ke belakang rumah.” Pram berkata, sembari mengusap bibirnya sendiri.


“Jangan cuma tertawa!” ucap Pram kembali, menepuk pipi istrinya.


“Sayang, tidakkah kamu merasa hukuman untuk Sam itu berlebihan,” ucap Kailla tiba-tiba.


Pram tersenyum.


“Katakan apa yang membuatmu merasa itu berlebihan?” tanya Pram menaikkan kedua alisnya sedemikian rupa.


“Bukankah kamu sudah mengenal Sam. Ucapannya tidak ada artinya sama sekali, dia hanya bercanda. Tidak mungkin dia benar-benar ingin menenggelamkanmu,” jelas Kailla.


“Istriku mulai berpikir dewasa. Aku pikir tadinya kalian benar-benar akan menenggelamkanku di sana,” ucap Pram. Kakinya sudah melangkah, kembali berjalan menuju ke rumah.


“Sayang, mau kemana? teriak Kailla, berdiri menyusul.


Kedua tangannya sudah memeluk pinggang Pram sambil bersandar di punggung suaminya. Kakinya melangkah menyesuaikan irama kaki Pram.


“Aku mau ke kamar,” sahut Pram tersenyum, mengusap lembut tangan Kailla yang mengunci pinggangnya.


Saat masuk ke dapur, mereka masih berpapasan dengan Ibu Sari. Asisten itu terbahak melihat kelakuan Kailla yang berjalan sambil menempel di punggung suaminya.


“Ibu bisa melihatkah ada wanita cantik yang menempel padaku? Aku diikuti oleh gadis manis penunggu dermaga belakang,” ucap Pram pada Ibu Sari yang mengangguk.


Kailla terbahak.


“Ibu dengar, suara tawanya saja mengerikan,” ucap Pram, melanjutkan candaannya. Berpura-pura bergidik.


“Sayang...,” panggil Kailla dengan nada manja seperti biasanya.


“Hmmmmm, ternyata dia bisa bicara bahasa manusia juga,” lanjut Pram, melanjutkan langkahnya ke arah tangga yang akan mengantar mereka ke lantai dua. Tempat di mana kamar tidur mereka berada.


Diiringi tatapan Ibu Sari yang mulai terbiasa dengan sikap manja Kailla pada suaminya.


Ceklek.


Pintu kamar tidur itu terbuka. Dan Pram langsung menarik istrinya. Memberi ciuman panas seperti di pinggir dermaga, melanjutkan apa yang sempat tertunda.


“Pakaianmu sudah bau dengan keringat dan panas matahari,” ucap Pram, melucuti satu persatu kain yang menempel di tubuh istrinya.


“Ah, kamu mencurangiku. Gadis penunggu dermaga saja mau dimakan juga,” keluh Kailla sesaat sebelum Pram menggendong dan menghempaskannya ke atas tempat tidur.


“Sudah jangan banyak protes, bibir itu jangan mengomel terus. Apa tidak capek,” ucap Pram tersenyum, memulai kembali proses investasinya.


***

__ADS_1


Semilir angin sore bertiup sepoi-sepoi, menemani Sam yang masih memegang selang air. Majikannya, Kailla terpaksa turun tangan membantu. Setelah berusaha membujuk Pram sampai ke atas ranjang tetap tidak membuahkan hasil.


Pram sedang berdiri di pinggir halaman dengan kedua tangan terlipat di dada. Menatap istrinya yang hampir basah kuyub, memegang kanebo dan mengeringkan mobil yang disemprot basah asistennya, Sam.


Lagi-lagi, Pram tersenyum. Mengingat apa yang baru saja dia dan istrinya lakukan di kamar.


***


Flashback on


Pram bergeming. Masih dengan tubuh telanjang setelah pergulatan panas, laki-laki itu tetap menggelengkan kepala. Menolak keras, permohonan Kailla yang meminta Pram menganulir hukuman untuk Sam.


“Sayang, kasihan Sam. Lagipula dia cuma bercanda. Tidak mungkin dia mau menenggelamkanmu di laut seberang jalan,” bujuk Kailla mengulang kalimat yang sama seperti sebelumnya. Melukis di dada telanjang suaminya dengan jari-jari lentiknya.


“Tidak Sayang,” tolak Pram.


“Bukankah aku sudah menuruti semua permintaanmu. Aku juga tidak mengikuti sarannya kan. Memang kamu pikir aku ini semudah itu terombang-ambing,” bujuk Kailla, memeluk manja suaminya.


“Batalkan hukuman untuk Sam, Sayang,” bujuk Kailla.


“Tidak, kenakan pakaianmu, Sayang. Aku harus mengecek pekerjaan Sam,” perintah Pram, mengecup pelipis Kailla.


“Aku akan memberimu service gratis sekali lagi. Aku tambahkan bonus,” ucap Kailla, melempar selimut dan memamerkan tubuh polos dengan taburan stempel kepemilikan yang memerah hampir di seluruh dadanya.


Pram tetap mengenakan pakainnya, saat Kailla menggerutu kesal karena godaannya kali ini tidak mempan sama sekali. Dia sudah melayani keinginan suaminya, tapi tetap saja tidak bisa menyelamatkan Sam.


“Huh!” dengus Kailla, ikut berdiri dan berpakaian, menyusul Pram yang sudah turun terlebih dulu.


***


Lamunan Pram terhenti saat Bayu tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya.



“Bay, istriku mencuci mobil untuk pertama kali di dalam hidupnya. Mungkin untuk pertama kalinya juga dia menyentuh kain lap itu,” cerita Pram. Matanya tidak lepas sama sekali dari istrinya Kailla. Kemana istrinya melangkah, matanya akan mengekor. Apapun yang istrinya kerjakan, itulah yang diperhatikannya.


Pram menahan senyumannya, berusaha terlihat kaku dan mengerikan. Dia bisa melihat raut wajah kesal Kailla yang dipersembahkan untuknya.


“Kamu tahu Bay, aku sangat mempercayai Sam. Selain padamu, aku menaruh kepercayaan penuh padanya,” lanjut Pram.


“Jodoh, rezeki dan maut, tidak ada yang tahu. Aku juga tidak bisa memprediksi bagaimana hidupku lima menit ke depan. Kalau dipundakmu, aku menitipkan mamaku. Di pundak Sam, aku menitipkan istri dan anak-anakku,” ucap Pram dengan menahan emosi dan sedih yang menyesak di dada setiap mengingat suatu saat dia tidak bisa menjaga istri dan anak-anaknya sendiri.


“Bos, aku pasti akan menjaga kepercayaan dan amanatmu,” sahut Bayu, menjawab dengan yakin dan pasti.


“Terimakasih. Aku berharap nafasku bisa diajak bekerjasama, sampai anak-anakku dewasa. Tapi kalau nafasku berkhianat dari ragaku sebelum anak-anakku mandiri, aku bisa apa. Selain mempercayakannya pada Sam,” ucap Pram.


“Kenapa tidak melepas Non Kailla menjadi mandiri, Bos?” tanya Bayu, ikut menatap ke arah Kailla.


“Aku yang belum siap!” Pram menjawab dengan cepat.

__ADS_1


“Dari kecil aku dan Pak Riadi menjaganya, bahkan nyamuk pun tidak berani mendekat. Istriku benar-benar tidak tahu kehidupan bermasyarakat itu seperti apa. Dia tidak memiliki teman, dia tidak memiliki siapapun selain aku dan kalian,” lanjut Pram.


“Tapi dia sudah banyak belajar dan sedikit lebih dewasa dibanding sebelumnya. Dia sudah mulai bisa menerima, kenapa dia berbeda dengan manusia normal lainnya. Kenapa dia tidak bisa melangkah keluar sembarangan, kenapa dia harus dikawal setiap waktu. Dia sudah berdamai untuk itu,” jelas Pram.


“Dan aku salut, Non Kailla bisa hidup seperti ini,” ucap Bayu.


“Iya, sangat menyedihkan. Dia melewatkan banyak hal di dalam hidupnya. Bagaimana aku tega menyakitinya, disaat dunia sebenarnya tidak adil padanya.”


“Dia tidak pernah menemui kesulitan,bahkan saat ada batu menghalangi langkahnya, dia tidak perlu repot-repot mengangkat kakinya. Aku dan daddynya sudah menyelesaikan semua masalah yang ada di dalam hidupnya.”


“Dan itu membuatnya selalu tergantung padamu, Bos.”


“Ya, dan untuk itu, aku harus memiliki kalian yang menjaganya,” lanjut Pram.


“Kamu tahu, dia bahkan tidak tahu seberapa banyak warisan yang diterimanya, dia tidak pernah memusingkan uang. Dia tidak pernah tahu betapa kejamnya hidup ini.”


“Hidupnya hanya diisi tersenyum dan menangis. Dia hanya perlu menunjuk dengaan jarinya dan aku akan menyediakan semua yang dimintanya.”


Bayu tersenyum. Bukannya dia tidak tahu, bagaimana Pram memperlakukan dan memanjakan istrinya.


“Aku sudah terbiasa memanjakannya sejak kecil. Saat aku harus keras padanya, aku sudah tidak bisa,” lanjut Pram.


“Kamu terlalu menyayanginya, Bos.”


“Mungkin. Tapi itu bukan kesalahanku atau daddy sepenuhnya. 20 tahun istriku harus hidup dengan bersembunyi dari dunia, ada banyak musuh yang mengintai nyawanya. Baru empat tahun ini, dia bisa hidup tanpa bayang- bayang ancaman lagi.”


“Andi kapan keluar dari jeruji besi?” tanya Bayu, mengingat orang yang paling bertanggung jawab untuk semua yang terjadi di hidup Kailla.


Pram menggeleng.


“Aku sedang mengumpulkan kekuatan untuk membangun perusahaanku sendiri. Kalau memang sudah tidak memungkinkan, aku akan melepas RD Group dan memilih menyelamatkan Kailla.”


“Bos, masih ada ancamankah?” tanya Bayu.


“Saat ini tidak. Tapi aku tidak tahu kedepannya. Aku benar-benar tidak tahu sepak terjang mertuaku. Dan istriku harus membayar mahal karena masa lalu daddynya sendiri.”


“Bagaimana aku bisa melepasnya dari sangkar emasku,” ucap Pram tersenyum, menghela nafas kasar.


“Bay, tolong ajak asisten yang lain untuk membantu Sam. Mobil kesayanganku tidak perlu dicuci, itu jarang dipakai. Tidak kotor,” pinta Pram, menepuk lengan Bayu.


Kakinya melangkah maju, menarik istrinya yang sudah mulai kedinginan. Terlalu lama bermain air.


“Sayang, ikut denganku. Biarkan Ricko dan Bayu yang membantu Sam,” ucap Pram, menarik tangan Kailla, mengikutinya menuju teras samping.


To be continue..


***


Terimakasih

__ADS_1


Love you all


__ADS_2