Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 46 : Emosi Pram


__ADS_3

Pram masih berada di ruang rapat, saat layar ponsel pintarnya menyala puluhan kali. Bergetar bergesekan dengan meja kayu jati oval menimbulkan suara derit yang mengganggu. Dia sengaja membungkam paksa suara ponselnya supaya tidak menganggu rapat penting perusahaan demi menghormati petinggi perusahaan lain yang ikut rapat bersama.


Tanpa melihat si penelepon, Pram meraih ponsel dan memasukan ke saku celananya, membuat suasana rapat hening seketika. Konsentrasinya masih tertuju pada perwakilan perusahaan yang sedang berdiri di tengah ruangan dengan layar proyektor bergerak silih berganti.


Akan ada mega proyek dalam waktu dekat ini. Perusahaannya akan membangun perumahan, mall dan apartemen dalam satu kawasan. Diprediksi baru akan selesai dalam tiga sampai lima tahun ke depan. Pram yang duduk di kursi utama, terlihat mengetuk jemarinya di atas meja kayu, dengan wajah serius mendengar dengan seksama.


Sesekali dia berbisik pada David yang duduk di sampingnya. Laki-laki seumuran dengannya itu, kembali mencoret-coret di atas kertas kosong, sesuai dengan yang diucapkan presdirnya.


Enam tahun sudah Pram menjadi orang penting di RD Group milik mertuanya. Dari sebelumnya hanya menjabat Wakil Direktur saat masih bertunangan dengan Kailla. Sesaat sebelum menikah, Riadi Dirgantara menyerahkan tampuk kepemimpinan di tangannya.


Kejutan berikutnya, beberapa hari setelah menikah, pengacara pribadi sang mertua mendatanginya, memberi kabar kalau perusahaan dan asetnya dialihkan atas namanya, Reynaldi Pratama. Bahkan sang istri tidak mendapat bagian sama sekali di Riadi Dirgantara Group.


Kailla hanya mewarisi aset atas nama Riadi Dirgantara pribadi yang sampai sekarang masih dibawah kendali Pram. Pram yang menyimpan semua berkas tabungan, deposito dan sertifikat kepemilikan beberapa rumah rumah, villa dan lahan di berbagai kota di Indonesia. Termasuk semua harta-harta tidak bergerak lainnya yang sudah dialihkan atas nama istrinya.


Kailla hanya memegang sebuah kartu unlimited dan kartu debit, itu pun atas nama Reynaldi Pratama. Miris, tapi itu kenyataan yang tidak pernah diprotes Kailla. Selama ini dia tidak pernah kekurangan, jadi dia tidak peduli dengan warisan-warisan miliknya yang ditahan suaminya.


Rapat yang berlangsung selama dua jam itu terhenti saat jam makan siang. Baru melangkahkan kaki keluar ruang rapat, Pram disambut kehadiran Ricko yang berdiri kaku sambil menenteng sebuah tas berisi kotak bekal.


“Selama siang Pak,” sapa Ricko tersenyum.


Pram menyalami beberapa rekan yang tadi menghadiri rapat bersamanya, setelah itu menugaskan David menjamu mereka makan siang di sebuah restoran yang sudah dipesan Stella sebelumnya.


“Maaf saya tidak bisa ikut makan siang, kebetulan saya ada urusan penting. Nanti asistenku, David akan menemani kalian,” ucap Pram, mengancingkan kembali beberapa kancing terbawah jasnya dengan posisi tegak, sebelum bersalaman dengan beberapa rekannya.


Ucapan Pram hanya dijawab dengan senyuman dan tepukan di punggungnya oleh seorang rekan yang memang usianya jauh di atasnya.


Setelah acara basa-basi di depan ruang rapat, Pram bergegas menuju ke ruangannya. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan istrinya. Bahkan dia mengabaikan sapaan Ricko sebelumnya.


Ceklek!


Pintu ruangannya terbuka. Di dalamnya tidak ada siapa-siapa. Kembali dia keluar ruangan, setelah memastikan ruang kerjanya kosong tanpa aura manusia sedikitpun. Diluar pun sama, tidak ada Stella, sekretarisnya. Gadis itu sedang keluar untuk menikmati makan siangnya. Hanya terlihat Ricko yang menghampirinya dengan tetap menenteng tas bekal di tangan.

__ADS_1


“Ini pesanan Kai.. eh maaf, Non Kailla,” ucap Ricko menyodorkan tas itu kepada majikannya.


“Istriku mana?” tanya Pram, masih celingak celinguk mencari keberadaan Kailla.


“Maaf Pak, Non Kailla sedang ada urusan di luar, dia memintaku membawakan bekal untuk Pak Pram, nanti dia menyusul kesini,” sahut Ricko tidak menjawab dengan terus terang.


“Maksudnya?” Pram mulai mencium ada yang tidak biasanya.



“Non Kailla, mengatakan akan meminta izin langsung ke Bapak. Saya tidak tahu jelas, mungkin Pak Pram bisa menghubungi Non Kailla langsung.”


Wajah Pram langsung berubah.



“Letakkan bekal itu di meja kerjaku!” perintah Pram, merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.


“Sayang, aku ada janji bertemu dengan ibu Dion. Makan siangmu aku titip ke Ricko. Aku sudah menghubungi ponselmu tapi tidak diangkat. Pulang bertemu dengan Ibu Dion, aku mampir ke kantor.”


Pram tersenyum kecut, setelah membaca kedua kalinya.


“Kamu bisa menunggu di lobby, Rick!” perintah Pram, menahan murkanya. Berusaha menutupi kekecewaannya pada sang istri.


Pram melempar kasar ponsel mahalnya ke atas meja kerja. Begitu kencang, sampai ponsel tipis berlogo apel sisa gigitan itu nyaris jatuh ke lantai.


Senyuman penuh kemarahan tersungging di bibirnya.


“Izin apa yang kamu maksud, Kai. Bahkan kamu hanya memberitahuku, bukan meminta izin. Kamu tidak meminta pendapat pada suamimu,” gerutu Pram kesal. Menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


Menatap kotak bekal yang disiapkan Kailla rasanya muak. Rasa laparnya hilang, karena ulah istri yang bahkan tidak menganggapnya.

__ADS_1


Berusaha meredam emosinya dengan menarik nafas berulang kali. Nama Dion di pesan itu lah yng sebenarnya membuat emosinya naik. Mungkin kalau orang lain atau pria lain, Pram akan ada banyak pengertian. Tapi orang yang akan ditemui istrinya itu berhubungan dengan Dion. Laki-laki yang disingkirkannya dengan paksa empat tahun silam.


Pram meraih kembali ponselnya, menggeser layar untuk menghubungi asisten kesayangan istrinya.


Tepat di deringan ketiga, suara terbata Sam terdengar dari seberang.


“Sam, dimana Nyonyamu?” tanya Pram.


“Ma-maaf Pak, aku hanya mengikuti kemauan Non Kailla,” ucap Sam mulai ketakutan. Hanya mendengar nada suara saja, Sam tahu kalau majikannya sedang marah.


“Kirimkan lokasinya, aku akan kesana sekarang. Tahan majikannmu untuk tidak segera pulang!” perintah Pram.


“Ba-baik Pak,” sahut Sam terbata.


“Jangan sampai dia tau, aku akan kesana. Aku akan memberinya kejutan!” lanjut Pram lagi, menutup panggilan secara sepihak.


Tampak Pram membuka kasar pintu ruang kerjanya, raut wajahnya sedang tidak bersahabat saat ini. Begitu keluar, terdengar suara ketukan sepatu hak milik Stella yang teratur mengetuk lantai kantor, bergema di sepanjang koridor.


“Si-siang Pak,” Stella terbata, menyapa Presdirnya yang berdiri tepat di depan meja kerjanya.


Dari raut saja, Stella sudah bisa menebak, pasti suasana hati atasannya sedang tidak baik-baik saja. Dan satu-satunya orang yang bertanggungjawab, membuat atasan kaku ini melanggar prinsip kerja dan keprofesioanalannya, tiada lain tiada bukan adalah sang istri.


Istri sekaligus putri pemilik perusahaan, pembuat onar dan kekacauan yang namanya sudah menjadi perbincangan di RD Group bahkan sejak dia lahir.


“Ste, minta Dave melanjutkan rapat, aku ada urusan diluar sebentar,” perintahnya, sambil melangkah kasar menuju lift. Tidak memberi kesempatan Stella bertanya lebih lanjut.


***


To be continued


Terimaksih

__ADS_1


Like komennya dong😁


__ADS_2