Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 183 : Di mana Kailla?


__ADS_3

Senja itu, lebih indah dari senja-senja sebelumnya. Matahari petang terlihat memerah, bersembunyi malu-malu menutup diri di ufuk barat. Seindah senyum laki-laki muda berkaos hitam ketat dengan tas kulit terkalung membelah dada. Bayu, asisten Reynaldi Pratama, tak sekalipun meninggalkan senyum di wajah tampannya.


Begitu pintu ruang ICU terbuka, kedua sudut bibir laki-laki itu terangkat ke atas. Sempurna, menyambut sang tuan yang didorong keluar menuju kamar baru, kamar perawatan.


Pram sudah sadar, meskipun beberapa alat medis masih menempel di tubuhnya. Wajah berseri sedikit pucat dengan tulang pipi menonjol, melempar tanya lewat sorot mata. Sejak siuman, tidak ada jejak istrinya. Berharap, begitu pintu terbuka akan menemukan sosok yang begitu dirindukannya, Kailla Riadi Dirgantara.


Ternyata harapan itu hanya sekedar harapan, jangankan Kailla, aromanya pun tidak terjangkau oleh penciumannya. Sosok yang dirindukannya, sejak membuka mata. Tertidur terlalu lelap, sampai dia lupa segalanya. Bahkan Pram nyaris tidak percaya saat diceritakan kalau dia tertidur dua bulan lamanya.


Rasanya baru kemarin. Ya, baru kemarin berjalan-jalan bersama Kailla, berburu bubur ayam di pagi hari ini, mengunjungi makam kedua mertuanya dan berakhir dengan mampir ke kios ikan hias. Senyum bahagia Kailla masih tercetak jelas di ingatannya. Betapa bahagianya sang istri mendapat hadiah ikan-ikan di akuarium persesi yang siap dibawa pulang ke rumahnya.


Bayangan ikan itu menghilang, berganti dengan sebuah mobil hitam berlari kencang dan siap menabrak tubuh Kailla dari belakang. Istrinya yang hamil itu terdorong kencang sebelum mobil menghantam ke tubuhnya dan dia kehilangan kesadaran. Kisah ini baru muncul kembali setelah beberapa jam terbangun dari komanya.


“Bay, di mana Kailla?” tanya Pram panik, suaranya jauh lebih garang dibanding saat matanya baru terbuka.


“Non Kailla masih di kantor, Bos.” Lidah Bayu terlalu terbiasa, berulang kali berusaha beradaptasi, pada akhirnya dia kembali memanggil sang kakak ipar dengan panggilan biasa.


“Apa dia baik-baik saja? Aku mendorongnya terlalu kencang. Dia terjatuh ke tengah jalan. Istri dan anak-anakku, apa mereka baik-baik saja?” tanya Pram. Ada banyak tanya dan was-was mengisi hatinya.


“Non Kailla dan bayinya baik-baik saja, Bos.” Bayu menjelaskan.


“Panggilkan dia sekarang. Minta dia menemuiku di sini, Bay!” perintah Pram setengah memohon, dengan tubuh berbaring di brankar. Kaki kanannya tidak bisa digerakan untuk sementara. Akibat ada beberapa patahan di sana, Pram harus terapi untuk proses pemulihan supaya bisa berjalan seperti sedia kala.


“Ya, Bos. Biasanya Non Kailla sudah tiba di rumah sakit jam segini. Sepertinya hari ini sedikit terlambat. Mungkin Non Kailla sedang banyak pekerjaan, sejak tadi siang aku menghubunginya, tidak ada satu pun panggilanku diterima,” cerita Bayu.


“Kemarikan ponselku. Aku akan menghubunginya sendiri.” Pram menyodorkan tangannya.


Meraih buru-buru gawai mahalnya, Pram tidak membuang waktu. Koma tidak membuatnya lupa segala, hanya tubuhnya masih kaku dan kaki kanannya saja yang sekarang belum berfungsi sempurna.


Dengan terampil menggeser layar ponsel dan mencari kontak istrinya. Sudah tidak sabar, ingin mendengar suara manja Kailla. Membayar rindunya yang meyesak. Dia harus membayar banyak untuk dua bulan ini, karena sudah menelantarkan istri dan anak-anaknya.


Nada sambung itu mengalun berulang kali. Sampai mengulang ke sepuluh kali pun, Kailla tidak menjawab panggilannya. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. “Bay!” teriak Pram dengan raut kesalnya.


“Ya, Bos!” Bayu yang sedang mengirim pesan pada Kinar mengangkat pandangannya.

__ADS_1


“Susul Kailla ke kantor! Aku mengkhawatirkannya,” pinta Pram.


“Mengkhawatirkan atau merindukan, Bos?” Bayu mencoba bercanda dengan sang kakak ipar.


“Bay, aku serius. Teleponku tersambung, tetapi tidak satu pun diterimanya. Tolong aku Bay, kamu tahu kaki sialanku ini tidak bisa diajak bekerja sama.” Pram menunjuk kaki kanannya yang masih terbungkus perban dan tidak bisa digerakan sama sekali.


“Sabar Bos. Aku sudah menghubungi Sam. Ada sedikit masalah di kantor. Non Kailla sedang rapat,” jelas Bayu, tersenyum sendiri membayangkan posisi yang terbalik. Kalau dulu Pram yang sibuk di kantor dan Kailla yang berulang kali menghubunginya.


“Rapat jam segini?” Pram menunjuk jam di dinding yang hampir menunjukan pukul enam petang.


Bayu tersenyum. Dia tahu jelas bagaimana perasaan Pram saat ini. Pasti rindunya sudah di ubun-ubun. Ingin memeluk dan mengelus perut buncit istrinya. Hal yang selalu dilakukannya saat pulang kerja dan menemui Kinar di rumah. Mengusap kandungan Kinar yang sudah menginjak tiga bulan.


“Selama dua bulan ini, apa Kailla baik-baik saja? Kandungannya bagaimana?” Laki-laki dengan kepala masih dililit perban itu sudah mengulang pertanyaan yang sama puluhan kali sejak siuman.


Bayu sudah tidak mau menjawab lagi. Hanya tersenyum. “Mamamu baik-baik saja!” Bayu mengalihkan jawabannya.


“Aku dan Kinar menjaga mama dengan baik,” lanjut Bayu.


Sejak sadar dari koma, tidak sekalipun Pram menyebut nama Ibu Citra, berbanding terbalik dengan Kailla. Puluhan mungkin ratusan kali, bibir Pram mengucap nama istrinya. Bahkan saat setengah sadar, Pram memanggil nama Kailla terus menerus, itu yang diceritakan sang perawat.


“Kamu tidak merindukan mamamu? Hanya merindukan istrimu, Bos?” tanya Bayu.


“Bay!!” tegas Pram sekali lagi.


“Tunggu sebentar lagi. Non Kailla pasti datang ke rumah sakit. Aku sudah mengirim pesan pada Sam, kalau Pak Pram sudah sadar dan mulai mengaum kembali.”


Pram menatap kesal. Sejak tadi merasa dipermainkan asistennya.


“Bos, kenapa kamu bisa mengoceh sepanjang hari, bukankah seharusnya kamu masih lemah tergolek di sana?” Bayu bertanya sambil tertawa.


“Ini bukannya tergolek. Suaraku saja yang kembali. Tubuhku masih lemah, Bay. Kamu lihat ini belum bisa diapa-apakan. Ingatanku saja belum sepenuhnya mengumpul. Butuh waktu untuk mengingat kejadian-kejadian dua bulan yang lalu.” Pram menjelaskan.


***

__ADS_1


Kailla baru menyudahi rapatnya saat jam menunjukan pukul tujuh malam. Perusahaan terancam dan ada banyak yang harus dilakukannya untuk tetap mempertahankan RD Group tetap berdiri di tengah keadaan ini. Keuangan perusahaan mulai tidak sehat, pengeluaran berlebih di beberapa proyek.


Setelah tiga proyek yang ditandatanganinya merugi, Kailla memutuskan melakukan kontrol pada proyek lainnya, proyek warisan suaminya yang sudah berjalan lebih dulu. Dan Kailla terkejut, selama dua bulan ini, dia lalai mengontrol. Kerugian di sana jauh lebih besar dan ada beberapa proyek harus membayar penalti karena sudah melampaui batas waktu pengerjaan.


“Ya Tuhan, Sam. Aku bisa gila sekarang!” Kailla merebahkan tubuh dengan perut buncitnya di sofa ruang kerja.


“Dia tidak tahu kejutan apa yang akan membuat semua lelahnya hilang.” batin Sam, sudah siap menunggu reaksi Kailla saat tahu suaminya sudah sadar dari koma.


“Ada telepon dari mertuamu dan Bayu. Mana yang mau aku sambungkan dulu?” tawar Sam. Tanpa menunggu jawaban, asisten itu menghubungkan ponsel Kailla pada mertuanya.


“Ya, Ma. Ada apa?” Kailla terpaksa membuka suara saat terdengar suara Ibu Citra dari ponsel pintarnya.


“Ini sudah jam berapa? Kamu sedang hamil, kenapa masih belum pulang juga, Kai.” Ibu Citra mulai mengomel dan bawel seperti biasanya. Sejak Pram koma, wanita tua itu semakin posesif pada menantunya. Bahkan belakangan ini, Ibu Citra memaksa tidur berdua dengan Kailla.


“Sebentar lagi, Ma.”


“Apa Pram sudah menghubungimu?” tanya Ibu Citra lagi. Dua bulan putranya menghilang. Semua orang terlihat biasa, hanya dia sendiri yang panik menanyakan keberadaan Pram setiap saat.


“Sudah Ma, nanti sampai rumah aku ceritakan apa yang dibicarakan Pram,” ucap Kailla berbohong seperti biasa. Entah sampai kapan dia harus membohongi mama mertuanya, menutupi semua kenyataan pahit yang mungkin akan membuat wanita lansia itu jatuh sakit dan ikutan koma juga.


Setelah memutuskan panggilan teleponnya, Kailla memerintahkan Sam membawanya pulang ke rumah. Terlalu lelah, mungkin malam ini dia tidak mengunjungi Pram di rumah sakit. Masalah kantor menguras tenaga dan pikirannya.


Di perjalanan pun, Kailla memilih menghabiskan waktunya dengan memejamkan mata. Baru terbangun saat mobil berhenti. Itu pun harus dibangunkan Sam. Donny yang duduk di depan kemudi tersenyum menatap dari kaca spion. Tidak sabar menunggu reaksi Kailla, saat tahu mereka sudah di parkiran rumah sakit.


“Non, bangun. Kita sudah sampai.” Sam menguncang pelan tubuh ibu hamil itu.


Merenggangkan otot tubuhnya, Kailla terkejut saat menyadari mereka di rumah sakit. “Loh, Sam kenapa ke sini. Bukankah aku memintamu membawaku pulang ke rumah?” tanya Kailla, mengerutkan dahi.


“Ya, dokter ingin berbicara hal penting denganmu, Non. Baru saja Bayu menghubungiku. Dia tidak bisa membuat keputusan ini sendiri,” jelas Sam berbohong.


Dengan langkah gontai, Kailla turun dari mobil sembari menenteng tas mahalnya.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2