Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 49 : Isi Hati Kailla


__ADS_3

Kailla masih berkeluh kesah, mengomel dengan mulut komat kamit di dalam ruang kerja suaminya. Menghembuskan nafas kasar, meniup poni rambutnya sendiri. Raut wajah kesal tampak jelas, menghiasi wajah cantiknya.


Ceklek! Pintu ruangan terbuka.


Kailla berbalik, mengira Pram yang kembali. Ternyata, yang muncul adalah wajah usil Sam, tersenyum padanya.


“Kenapa sih Non, marah-marah terus. Nanti cantiknya hilang,” goda Sam. Melangkah masuk, membiarkan pintu ruangan terbuka. Mengingat aturan tidak tertulis dari Pram, para asisten tidak boleh berada dalam satu ruangan tertutup dengan istrinya.


Dia ingat dengan jelas, ketika Pram mengumumkan aturan itu dia sempat protes, bahkan mengancam akan menyetir dengan pintu mobil terbuka sebagai bentuk protes. Bagaimana tidak, bukankah aturan itu juga harusnya berlaku saat berada di dalam mobil yang tertutup rapat.


“Aku pusing dengan majikanmu itu,” gerutu Kailla kesal.


“Kenapa lagi dengan Pak Pram. Masih belum selesai acara cemburuannya?” tanya Sam, menarik kursi dan duduk. Siap mendengar curhatan dan keluh kesah majikannya yang sedang gundah gulana didiamkan suaminya.


“Aku tidak tahu apa maunya!” ucap Kailla dengan ketus.


"Kalau mau minta dibelai, tinggal beritahu padaku mau dibelai dibagian mana. Kalau mau aku minta maaf, tinggal beritahu salahku dimana, aku akan minta maaf dengan setulus hati dan tidak akan mengulangi," lanjut Kailla semakin kesal.


“Mungkin sedang mencari perhatian saja, Non. Seperti yang biasa Non lakukan,” sahut Sam dengan santainya.


“Kalau cemburu tinggal bicara, kalau tidak suka tinggal beritahu, tidak sukanya dimana,” lanjut Kailla melampiaskan kekesalannya.


“Memang Non mau dengar semua ucapan Pak Pram?” Sam bertanya.


“Memang selama ini aku pernah membantah semua ucapannya. Coba sebutkan apa yang pernah aku langgar, semua aturan dari suamiku,” sahut Kailla tidak mau kalah.


"Aku tidak pernah menolak semua perintahnya, aku selalu menurut padanya." Kailla mengingatkan.


Sam diam.


“Aku istri yang paling penurut. Menaati semua aturannya yang terkadang berlebihan dan tidak masuk akal."


"Dia memintaku tidak boleh keluar rumah. Aku menurut. Ruteku hanya boleh dari kampus ke rumah, kadang berbelok ke kantornya. Sesekali jalan keluar, itu pun izin darinya karena ada keperluan kampus dan itu juga tidak jauh dari toko buku. Apa aku pernah membantah? Bahkan aku tidak pernah protes.” Kailla mengeluarkan isi hati yang selama ini dipendam.


Sam kembali menciut dengan ucapan berapi-api sang Nyonya majikan.


“Coba kamu tanyakan satu per satu karyawan di gedung ini. Ada tidak suaminya menerapkan aturan seperti suamiku. Berjalan ke kiri sedikit menabrak Sam. Jalan ke kanan sedikit tersenggol Ricko. Mau mundur ketemu Bayu, maju bertabrakan dengan Donny. Hidup macam apa ini, pernah aku mengeluh?”


“Tidak kan!” ucap Kailla mulai emosi. Sam mengkerut, memilih diam seribu bahasa.


“Sabar Non, bisa dibicarakan baik-baik,” bujuk Sam, meredakan emosi Kailla.


"Coba kamu pikirkan ada tidak manusia sepertiku menyedihkannya. Jangankan keluarga, teman saja aku tidak punya," ucap Kailla.


"Sampai hari ini apa aku pernah protes pada si tuan pengatur hidupku," lanjut Kailla lagi.


“Masalah dia dimana? Cemburunya dimana? Karena aku pergi menemui Ibu Dion tidak memberitahunya?”


“Sabar Non, ini cuma kesalahpahaman dan kurang komunikasi saja,” ucap Sam, menenangkan.

__ADS_1


“Cemburu dengan Dion? Pengawalku itu empat penjuru, bagaimana aku bisa selingkuh!” ucap Kailla.


“Lagipula aku sudah menghubunginya, meminta izin padanya. Tapi ponselnya tidak diangkat, aku harus bagaimana. Aku sudah mengabarinya,” lanjut Kailla lagi.


“Iya.. Non,” ucap Sam, sudah tidak bisa berkata-kata.


“Andai dia tadi mengatakan aku tidak boleh pergi, aku juga akan menurut. Masalahnya sudah terlanjur bertemu. Aku harus bagaimana supaya membuatnya menjadi tidak terjadi,” ucap Kailla, nada suaranya semakin meninggi.


“Memalukan! Andai keluarga Dion tahu hanya karena aku bertemu dengan mereka untuk bersilahturahmi, suamiku jadi begini dan cemburu buta. Mau disimpan dimana mukaku,” lanjut Kailla kian kesal.


“Kalau dia melihatku berselingkuh dengan Dion, dia boleh menamparku, bahkan jika perlu silahkan kalau mau mencabut nyawaku!"


“Siapa yang kekanak-kanakan sekarang?!” ucap Kailla, membuat Sam hanya bisa diam saja.


“Sabar Non. Pak Pram itu terlalu cinta, jadi logikanya sedikit buntu,” ucap Sam.


“Kalau aku yang diposisisnya sekarang, dia pasti sudah menasehatiku..”


“Kai, kapan kamu dewasanya."


"Kai, mau sampai kapan kamu akan bersikap kekanak-kanakan."


"Kai, kapan kamu akan berubah,” ucap Kailla menirukan nada bicara suaminya dengan penuh penghayatan.


Sam tertawa kali ini. Cara menirukannya bisa sama persis dengan gaya Pram. Tapi tawa itu tidak berlangsung lama, Sam menutup mulutnya saat matanya menangkap sosok gagah di tengah pintu.


“Pak.. Pak Pram,” ucapnya terbata. Lidahnya keluh seketika. Orang yang mereka bicarakan sejak tadi berdiri di pintu.


Kailla berbalik, menatap ke arah yang sama. Menatap sekilas, sedetik kemudian menurunkan pandangannya, dengan kedua tangan saling meremas.


Sam mengekrut, mengingat ucapannya yang mengatakan kalau logika majikannya sedikit buntu. Dia berdoa dalam hati, semoga Pram tidak sempat mendengar kata-katanya.


"Berkasku ketinggalan di meja," jelas Pram, melangkah masuk dengan kaku.


Tawanya hampir pecah saat melihat kecanggungan dua orang yang sedang menggosip dirinya.


Menatap istrinya yang ketakutan. Menciut seketika, jauh berbeda dengan sebelumnya. Mengomelinya dengan semangat empat lima.


Sebenarnya jauh di lubuk hatinya, dia kasihan sudah mengerjai istrinya, tapi mau apalagi. Drama sudah terlanjur tayang, masa harus putus di tengah jalan.


"Sam, antar Kailla pulang," perintahnya sebelum keluar dari ruang kerja.


***


Kailla memilih menunggu Pram pulang. Duduk di sofa sampai ketiduran, menolak ajakan Sam, yang memintanya pulang ke rumah.


Waktu sudah menunjukan pukul lima sore saat dia terbangun. Memandang kursi kerja yang masih saja kosong.


"Apa dia tidak pulang ke kantor?" tanya Kailla, bergegas keluar menemui Stella, sang sekretaris.

__ADS_1


"Ste, suamiku tidak kembali ke kantor?" tanya Kailla heran.


Stella menggeleng.


"Pak Pram pesan tadi langsung pulang. Aku sudah memberitahu Sam," jelas Stella.


"Nyonya tidak tahu?" tanya Stella lagi.


"Aku ketiduran, tidak mengecek ponselku," sahut Kailla beralasan.


"Ya sudah, aku pamit kalau begitu," ucap Kailla, kembali masuk ke ruangan dan merapikan tasnya.


Tak lama dia sudah keluar meneriaki Sam yang sudah tertidur di samping pintu lift.


"Sam, bangun!" teriak Kailla di telinga asistennya.


"Iya Non," sahut Sam dengan wajah bantalnya, mengusap kedua matanya yang memerah karena masih mengantuk.


"Kita pulang sekarang," perintah Kailla, masuk terlebih dulu ke dalam lift, diikuti Sam yang berjalan sempoyongan.


***


Kediaman Reynaldi Pratama.


Setelah makan malam sendiri, Kailla memilih naik ke kamarnya. Menikmati empuknya kasur sembari mengecek halaman medsosnya sampai ketiduran.


Entah sudah berapa lama tertidur, saat terbangun masih belum ada tanda-tanda suaminya di dalam kamar.


Matanya tertuju pada jam di dinding yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


Deg--


Tergesa-gesa keluar kamar dengan pakaian tidur dan ponsel di tangan, mencari tahu pada orang rumah.


"Sam, Ricko!" teriak Kailla dari lantai dua.


Hening--


Suasana di lantai satu sudah sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di dalam rumah itu. Semua asisten sudah kembali ke rumah belakang.


Kailla bergidik memilih mundur, kembali ke kamar sembari menghubungi Pram.


Tapi baru saja membuka ponselnya, terlihat ada sebuah pesan masuk yang belum terbaca olehnya sejak tadi.


"Sayang, aku tidak pulang. Tidak perlu menungguku malam ini."


***


to be continued

__ADS_1


Love You All


__ADS_2