
Lelaki tampan itu masih saja tersenyum, memandang benda persegi yang memutar gambar bergerak istrinya, Kailla. Matanya tak berkedip, dengan bibir sesekali mengulas senyum menatap pergerakan wanita yang sedang menikmati sarapan di hotel tempat terakhir yang bisa dilacak orangnya Bayu.
Langkah kaki membawanya masuk ke dalam rumah yang sudah lama sekali tidak pernah didatanginya lagi. Kembali disini, mengingatkannya pada Kailla. Istrinya melewatkan banyak masa kecilnya disini. Semua sisi, mengingatkaan kembali kenangan demi kenangan, dari kecilnya Kailla sampai sekarang menjadi istrinya. Ada banyak cerita Kailla disini, menyesak memenuhi dada. Bahkan udara disini tercium aroma Kailla.
“Kamu sudah gila sekarang, Pram,” umpatnya pada diri sendiri. Sebulan berpisah sewaktu menggugat cerai, tidak seberat ini rasanya. Kali ini seperti dicekik dan tidak diberi oksigen untuk bisa bernafas.
Pram menyusuri ruangan demi ruangan, langkah kakinya semakin berat kala dirinya semakin mendekati kamar di sudut ruangan lantai dua. Itu adalah kamar Kailla yang belakangan menjadi kamarnya juga setelah memperistri gadis manja putri kesayangan Riadi Dirgantara.
Begitu daun pintu jati bercat putih itu terbuka, pemandangan yang tetap sama. Ranjang empuk masih setia menunggu tuannya pulang. Kamar bernuansa cerah dengan gorden putih menjuntai. Kaca jendela besar dengan pemandangan kolam ikan yang sudah mengering sekarang. Tidak ada kehidupan lagi di kolam yang dulu setiap hari terdengar gemericik air. Kolam ikan kesukaan mertuanya, yang sering menghabiskan waktunya disana, ditemani Donny.
Bibir kaku itu tiba-tiba mengulas senyuman, mengingat ciuman pertamanya dan Kailla terjadi di kamar ini, tepat di depan jendela kaca besar. Untuk pertama kalinya dia menyentuh bibir tipis merah muda sesaat setelah istrinya itu mengatakan bersedia menikah dengannya.
“Aku merindukanmu, Kai. Benar-benar merindukanmu,” bisik Pram pelan.
Matanya mengembun setiap kesendirian menyapanya. Bersusah payah dia terlihat tegar dan kuat di depan semua orang. Namun dibalik semua itu, hanya dia sendiri yang tahu jelas, seberapa hancurnya seorang Reynaldi Pratama saat ini.
Masih menatap foto istrinya yang terpampang di layar gawai, Pram merebahkan tubuh lelahnya ke atas ranjang.
“Ranjang ini masih sama, Kai. Cepat pulang, Sayang. Sudah merajuknya, jangan seperti ini,” bisik Pram pelan, mendekap ponsel di dadanya. Telentang menatap langit-langit kamar yang sepi, kembali bulir-bulir air itu turun, menetes tanpa bisa diajak kompromi. Memberi jejak basah di pipi.
Lama Pram menangis, sampai sesengukan dan tidak sanggup berkata-kata. Hingga akhirnya berucap dalam doa.
“Ya Tuhan, aku tahu ini bagian dari rencana-Mu, tetapi kenapa seberat ini. Aku tahu, siap ataupun tidak, pasti akan terjadi. Aku hanya berharap Engkau tetap menjaganya untukku. Disaat seperti ini, aku tidak bisa menjaganya dengan kedua tanganku. Aku titipkan istri dan anak-anakku di tangan-Mu,” bisik Pram, di dalam doa dan pengharapannya.
Saat kusendiri
Kulihat foto dan video, bersamamu yang tlah lama kusimpan.
Hancur hati ini, melihat semua gambar diri
Yang tak bisa kuulang kembali..
Kuingin saat ini engkau ada di sini
Tertawa bersamaku seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar Tuhan tolong kabulkanlah
__ADS_1
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu.
Segala cara telah aku coba agar aku bisa tanpa dirimu
Namun semua berbeda
Sulitku menghapus kenangan bersamamu.
Untaian bait lagi ini kembali terdengar jelas di telingnya, air matanya kian mengucur deras. Pram masih menatap foto-foto Kailla yang tersimpan di galeri ponselnya. Saat ini, dia berada di titik terendah hidupnya. Kalau bisa, dia ingin ambruk saja, tidak mau berpura-pura tegar, bersandiwara di hadapan dunia.
Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana perasaannya saat ini. Dia berharap, memang tidak seorang pun yang melihat seberapa hancur berantakan dirinya. Menangis tiap malam di pelukan sang mama.
***
Di rumah belakang, Kailla masih berbaring di kamar. Dua hari ini, dia terpaksa tidur sekamar dengan Ibu Sam, tidak berani masuk ke rumah utama. Khawatir tertangkap kamera cctv yang tersambung langsung dengan ponsel suaminya.
“Bu, apa suamiku sudah pulang?” tanya Kailla, masih duduk bersandar di dipan sederhana yang dua hari ini menjadi tempat beristirahat.
“Belum, Non. Ini habiskan sarapanmu. Kamu sedang hamil, tidak boleh sampai telat makan. Kasihan bayimu,” ucap Ibu Sam. Menyodorkan sepiring nasi putih dengan tahu tempe bacem, sayur bening dan telur dadar.
“Terimaksih, Bu. Maaf tidak bisa membantu memasak.” Kailla mengernyit, merasa tidak enak. Dia menumpang makan dan tinggal di rumah kecil yang dihuni pasangan lansia ini. Meskipun suaminya yang membayar semua kebutuhan, tetap ada rasa sungkan menganggu kenyamanan keduanya.
“Tidak apa-apa, Non,” sahut Ibu Sam, tersenyum.
“Habiskan makananmu. Ibu tidak bisa lama-lama. Nanti ada yang curiga kalau ibu terlalu lama di dalam,” lanjut Ibu Sam, bergegas berjalan keluar dari kamarnya.
“Kunci pintu kamarnya, Non,” titahnya sembari tersenyum. Ibu Sam merasa seperti memiliki anak perempuan lagi. Tidak sedikitpun merasa keberatan dengan kehadiran Kailla. Selama ini, Pram banyak membantu keluarga mereka dan mendukung Sam sampai seperti sekarang ini.
Kailla menghabiskan makanannya sembari menangis. Teringat akan suaminya. Jangan ditanya rindunya pada Pram sebesar apa. Selama empat tahun terakhir mereka bersama, ada banyak kisah yang tidak akan mudah dilupakannya. Apalagi sekarang ada bayi-bayi mereka yang tumbuh di rahimnya. Namun, dia haris kuat demi anak-anaknya. Pram terlampau menyakitinya dan daddy.
Berat rasanya kalau harus kembali bersama dengan laki-laki yang dia tahu jelas memiliki tujuan balas dendam padanya dan daddy.
***
__ADS_1
Pram masih di kamarnya, mengingat semua kenangannya dengan Kailla. Di saat seperti ini, dia sangat merindukan kemanjaan Kailla. Istrinya itu tidak sedetik pun berhenti manja kalau berada di dekatnya. Namun, baru beberapa hari, dia sudah hampir lupa rasanya sentuhan Kailla. Waktu berjalan begitu lamban.
Sinar matahari yang menyorot tepat ke wajahnya, menerobos dengan lancang dari gorden putih kamar seolah memintanya untuk segera bangkit. Dia harus mencari Kailla lagi, tidak bisa bermuram durja menangisi takdirnya yang ditinggal pergi separuh hidupnya.
Dengan terpaksa Pram, menyeret kakinya keluar dari bangunan utama. Tadinya dia sudah akan masuk ke dalam mobil, tetapi entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya ragu. Ada sesuatu di dalam dirinya yang menggelitik hati untuk menemui kedua orang tua Sam.
“Bu, apa kabar?” tanya Pram, akhirnya lelaki itu mengikuti kata hatinya, melangkah ke rumah belakang untuk menyapa dua lansia yang sedang duduk menikmati sarapan pagi di taman belakang.
Para asisten sudah keluar dari rumah, melanjutkan misi pencarian yang sampai sekarang belum membuahkan hasil.
“Baik Pak,” sahut Bapak Sam, tersenyum. Meskipun hatinya sangat kacau persis seperi saat balon hijau meletus.
“Mau saya siapkan sarapan, Pak?” tawar Ibu Sam. Sudah bersiap mengambil piring kosong.
“Tidak, terimakasih,” jawab Pram.
“Amankan? Tidak ada masalah di sini?” tanya Pram lagi, mengedarkan pandangannya. Matanya sedang menyapu taman belakang, berhenti sekejap menatap bangunan mungil tempat kedua lansia itu tinggal.
“Aman, tidak ada masalah, Pak.” Bapak Sam ikut menatap ke arah yang sama. Sedikit khawatir kalau sampai ketahuan majikannya telah menyembunyikan Kailla.
Pram kembali menatap pasangan suami istri di depannya, sembari tersenyum.
“Aku pamit sebentar. Aku ada urusan. Pintu gerbang tidak perlu dikunci,” ucap Pram berlari ke mobil.
Lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Entah apa yang ada di pikirannya. Setengah jam kemudian, Pram sudah kembali lagi dengan wajah lebih ceria.
“Ini Pak,” ucap Pram, menyodorkan segepok uang seratusan kepada Bapak Sam yang sedang memangkas tanaman di halaman depan rumah.
“Apa ini, Pak?” tanya laki-laki tua itu heran dan terkejut. Seumur-umur belum pernah melihat uang sebanyak itu.
“Untuk menambah uang belanja bulanan,” sahut Pram, santai.
“Biasa Sam yang....”
“Itu untuk tambahan saja. Aku tidak setiap hari bisa berkunjung ke sini. Aku titip rumah, Pak,” potong Pram, tersenyum, berjalan kembali ke mobilnya.
***
TBC
__ADS_1