Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 180 : Keputusan Kailla


__ADS_3

Kailla bertakhta di kursi kebesaran Pram dengan Sam duduk di seberang meja. Keduanya sedang serius membaca berkas-berkas yang ditumpuk Stella di atas meja.


“Sam, kalau ada gorengan sepertinya data-data ini lebih cepat berpindah ke dalam otakku,” celetuk Kailla dengan tangan kanan menggengam berkas. Membayangkan betapa nikmatnya gorengan panas dicocol dengan kecap malika dan saos sambal level pedas dower.


“Ya Non. Apalagi kalau ada bakso malang panas. Dimakan dengan gorengan. Beuhhh! Nikmat mana lagi yang sanggup kau dustai,” sahut Sam.


Majikan dan asisten ini adalah pasangan terfenomenal di keluarga Riadi Dirgantara. Pas saja, seperti baut bertemu mur dan begitu diputar 100% kecocokannya. Selalu menyatu, menyambung dalam segala hal. Apapun masalahnya, Sam dan Kailla tidak akan terpisahkan.


“Sam, aku bingung ....” Kalimat Kailla mengambang.


“Sudah dibaca semua dengan sepenuh hati, Non?” tanya Sam. Kedua tangan asisten itu saling menaut di atas meja kerja. Kalau boleh jujur, seumur-umur mengawal Kailla, baru kali ini dia mendapat kesempatan bebas duduk di kursi ini. Biasanya dia hanya kebagian berdiri di dekat pintu. Itu pun diiringi tatapan mematikan Pram.


Duduk di kursi yang sekarang ditempatinya, Sam merasa seperti orang penting. Dia ingat dulu pernah ada pejabat negara yang menemui Pram di ruangan ini. Dan bapak pejabat itu duduk tepat di tempatnya sekarang. Makanya sejak awal Kailla memintanya duduk, kebanggaannya jadi berlipat ganda. Dia merasa setara dengan sang pejabat.


“Bagaimana kamu tahu?” tanya Kailla mengerutkan dahi.


“Kalau Non bingung, artinya Non serius membacanya sampai kebingungan. Berbanding terbalik di saat Non Kailla santai-santai saja. Membalik selembar-selembar, artinya Non cuma melihat-lihat, tidak dibaca sama sekali. Nah, kalau Non fokus di satu halaman sampai lebih dari satu jam artinya Non Kailla ketiduran.” Sam mengurai dengan penuh keyakinan.


Plakkk! Berkas digulung mendarat di kepala Sam. Kailla memukul asistennya yang sejak tadi hanya menggodanya.


“Awwww ... Non!” jerit Sam, mengusap kepalanya sendiri.


“Jangan memukulnya menggunakan itu, kalau sampai angka-angka di dalam sana kaget, ambyar bagaimana. Apalagi kalau sampai satu nol menggelinding keluar, bagaimana Non mempertanggungjawabkannya pada perusahaan,” protes Sam.


“Sam, semakin aku mencoba belajar, otakku semakin menolak. Dari tadi menatap data-data ini, semua tulisan terbaca RAB semua. Sejak tadi aku melihat tulisan RAB yang bahkan aku tidak tahu kenapa perusahaan ini suka sekali dengan kata RAB.”


“Nah, ini Sam.” Kailla membentangkan berkas di tangannya ke atas meja. Menggariskan dengan telunjuk, menunjukan kepada Sam.


“ Apa kamu tidak bingung, Sam. Sepuluh meter dikali sepuluh, kenapa hasilnya jadi delapan belas batang,” keluh Kailla.


“Harusnya ini kan seratus meter persegi, Non. Nah ini sudah benar seratus meter persegi, berarti yang menyusun ini tidur, Non. Harusnya seratus batang. Dicoret saja, Non. Itu salah,” ucap Sam sok tahu.

__ADS_1


“Jadi ini salah, Sam. Aku yang benar, ya?” tanya Kailla memastikan. Mulai mencoret dengan pena mahal milik suaminya.


“Ya, majikan selalu benar dan asisten tidak pernah salah.” Sam menjawab.


Tanpa terasa, keduanya mempelajari data-data sampai matahari naik ke atas kepala. Saat makan siang pun tiba.


“Non ....” Sam berusaha mengingatkan.


“Sudah selesai?” tanya Sam lagi.


“Ada apa Sam?” Kailla mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas di tangan.


“Non tidak lapar?”


“Kepalaku pusing, Sam. Tidak nafsu makan. Aku bingung, bagaimana suamiku bisa melewatinya selama ini." Kailla mendengus kesal. Semakin dipelajari, semakin dia tidah paham. Semakin kepalanya pusing.


“Bagaiamana dia melewati hari-harinya. Pulang kerja masih memiliki nafsu untuk bercinta yang begitu besar. Aku baru beberapa jam melihat huruf dan angka ini saja ... jangankan bercinta, nafsu makanku langsung hilang.” Kailla membatin.


***


“Ste, ke ruanganku!” Kailla akhirnya meminta bantuan Stella setelah tidak sanggup mempelajari sendiri. Sam setengah tertidur, telungkup di atas meja.


Tak lama, Stella muncul dengan bunyi ketukan heels yang menggema teratur. Begitu feminim dan terdengar indah.


“Ada apa, Nyonya?” tanya Stella. Berdiri di depan Kailla, mengulum senyuman.


“Kumpulkan kepala divisi yang menyusun semua ini. Otakku tidak sanggup mencerna. Aku ingin mencoba dengan metode lain.” Kailla menjelaskan.


“Sekarang, Nyonya?” tanya Stella, memastikan.


“Kapan aku harus membuat keputusannya? Batas akhir!” tanya Kailla dengan gaya memimpin ciri khas dirinya.

__ADS_1


“Dalam tiga hari, Nyonya.”


“Ya sudah, atur secepatnya. Supaya aku bisa segera memberi jawaban!” titah Kailla.


Dan sesuai dengan permintaan Kailla, akhirnya sore itu langung diadakan rapat dengan para kepala divisi. Masing-masing divisi terkait, diminta menjelaskan secara lisan dan detail mengenai data-data dan perhitungan yang telah mereka buat.


“Sam, apa kamu mengerti apa yang mereka bicarakan?” tanya Kailla berbisik pada asisten yang diminta duduk di sebelah kanannya, dan Stella di sebelah kirinya.


“Aku tidak begitu menyimak, Non. Soalnya ... bagaimana menjelaskannya ya. Ini bukan kapasitasku Non. Bukan bidang pekerjaanku. Aku jelas berbeda dengan Pak David meskipun sama-sama dipanggil asisten.” Sam mengelak.


“Aku duduk di sini, sebagai asisten Non Kailla yang bertugas menjaga majikanku, menjaga keselamatan Non Kailla dan bayi di dalam kandungan Non. Sesuai dengan permintaan Pak Pram. Bukan untuk membantu Non mengambil keputusan,” jelas Sam membela diri. Sejak pagi, dia sudah memutar otak, mencari alasan menghindar. Tidak mau terlibat dengan urusan perusahaan.


Beralih ke arah Stella, kembali Kailla berbisik. “Ste, apa kamu mengerti yang mereka bicarakan?”


Stella menggeleng. “Aku mengetahui semua istilah, tetapi aku juga tidak paham, Nyonya. Tugasku hanya mengantar berkas, mengatur jadwal pertemuan rapat, surat menyurat.”


Lagi-lagi pundak Kailla melemas. Hampir setengah jam mendengar para kepala divisi bergantian mengoceh di depannya.


“Sam, aku rasanya ingin tidur,” keluh Kailla mulai mengantuk, menutup mulutnya menahan kantuk yang menyerangnya tiba-tiba.


“Cukup!” Tiba-tiba Kailla menghentikan rapat.


“Rapatnya kita akhiri sampai di sini saja!” jelas Kailla, sontak membuat Stella dan para bawahan yang duduk mengitari meja bundar itu terheran-heran. Kebiasaan yang sangat jarang Pram lakukan. Bahkan di saat rapat, Pram memilih mengabaikan kepentingan yang lain ketimbang meninggalkan rapat. Hanya satu nama yang bisa membuat Pram menggila dan kabur tanpa permisi saat nama Kailla Riadi Dirgantara disebut.


“Ste, antarkan semua berkas yang butuh tanda tanganku. Aku akan menyelesaikannya sekarang juga,” perintah Kailla lagi.


"Kamu yakin, Kai?" tanya Stella. Terkejut membuatnya melupakan panggilan Nyonya yang biasa disematkan pada putri Riadi Dirgantara itu.


Kailla mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Ya, sangat yakin!"

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2