
Ibu Citra terduduk lemas di kursi teras, kembali menatap belakang mobil putranya yang semakin menjauh, akhirnya menghilang di balik gerbang tinggi rumahnya.
Air mata kembali menetes melalui pipi cekung dan keriput dimakan usia. Dia sudah tidak muda lagi, hampir seusia musuhnya, Riadi Dirgantara. Detik-detik menuju ke tujuh puluh tahun tepatnya.
Tampak tangan rentanya mengusap mata yang menganak sungai. Kalau ditanya hatinya saat ini, sakit adalah jawaban satu-satunya. Bahkan sakit itu kian bertambah saat putranya sendiri memilih pergi meninggalkannya. Berdiri dengan berurai air mata.
Apakah hidup seperti ini yang diinginkannya? Tentu tidak jawabannya. Tapi untuk bisa ikhlas tidak semudah berbicara. Jauh berbeda dengan Pram, yang tidak melewati kehidupan yang menyakitkan ini. Mungkin putranya lebih mudah menerima dan memaafkan semua perbuatan bejat Riadi. Dan jauh di dalam hatinya, dia tidak menyalahkan Pram kalau bisa memaafkan Riadi.
“Ma, diminum,” ucap Kinar, membuyarkan lamunannya.
Tiba-tiba gadis itu sudah menghampiri dengan segelas teh hangat. Meletakannya perlahan ke atas meja kayu.
“Terimakasih, Kinar."
Ibu Citra menghela nafas pelan sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Hanya kamu yang tersisa dan masih tetap setia menemaniku di sisa-sisa umurku.”
Ibu Citra memandang lurus ke depan, tapi tatapannya kosong. Pikirannya sedang menjelajah kembali ke masa lalu kelamnya.
“Sudah Ma,” hibur Kinar, mengusap lembut pundak Ibu Citra.
Dia masih mengingat jelas, belasan tahun yang lalu saat baru merantau ke Jakarta, bekerja di sebuah panti sosial. Disitulah perkenalan pertamanya dengan Ibu Citra.
Saat itu fisik Ibu Citra masih kuat dan sehat, tapi mentalnya belum sembuh benar. Dia belum lama keluar dari rumah sakit jiwa dan ditampung di sana karena tidak memiliki sanak saudara ataupun keluarga.
Bahkan, ingatannya belum sembuh benar. Hanya bisa menyebut dua nama Pram dan Reynald. Yang belakangan diketahui kalau Pram adalah panggilan untuk suaminya dan Reynald adalah panggilan untuk putranya.
Hari-harinya hanya diisi dengan melamun dan menangis. Beberapa bulan bersabar mengajaknya bicara, barulah Ibu Citra mau berbagi beban hidupnya. Sejak itu, kondisinya semakin membaik. Meskipun terkadang masih suka mengamuk di saat-saat tertentu. Tapi dengan rutin mengkonsumsi obat-obatan, kondisinya stabil kembali.
“Kinar, kalau tahu akan sesakit ini, aku lebih baik berbagi racun serangga yang sama dengan suamiku,” ucapnya pelan, kembali menangis. Sesekali memukul dadanya sendiri.
“Sudah Ma. Mas Pram pasti kembali. Dia sangat menyayangimu,” hibur Kinar, membantu mengusap air mata yang mengalir deras di wajah wanita tua yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.
“Aku juga tidak mau mendendam. Tapi sulit untuk melupakannya,” isaknya lagi.
“Aku tidak mempermasalahkan harta yang dirampas paksa dari keluargaku, tapi nyawa suamiku dan hilangnya 39 tahun kesempatan memeluk putraku.”
“Bahkan dia mengganti dengan nyawanya sekalipun, itu tidak sepadan dan tidak bisa mengembalikan semuanya,” ucap Ibu Citra.
Kinar langsung memeluk tubuh tua yang sekarang berguncang hebat.
“Riadi tidak berperasaan. Sudah menguasi harta keluarga kami dengan licik, meninggalkan hutang perusahaan kepada suamiku. Masih belum cukup, dia menculik putraku,” ucap Ibu Citra bergetar.
“Bahkan dosanya bertambah, saat suamiku memilih jalan bunuh diri dan meninggalkanku sebatang kara. Dia tidak tahu, bagaimana rasanya menghabiskan sekian tahun di rumah sakit jiwa. Hidup jadi gelandangan. Dan itu semua ulah Riadi!”
“Sudah Ma,” ucap Kinar, mengusap pelan punggung yang mulai sedikit membungkuk termakan usia.
“Aku juga ingin memaafkan, aku juga ingin menerimanya. Tapi setiap mencoba, bayangan suamiku yang meregang nyawa dengan mulut berbusa, rasanya tidak adil. Semua duka ini disebabkan Riadi,” isaknya pelan.
“Aku tidak menuntut menantu yang sempurna, aku tidak menuntut dia harus bisa segalanya. Aku juga tidak menuntut dia harus dari keluarga terhormat. Bahkan seorang gelandangan pun, aku akan menerimanya dengan sukarela,” ucap Ibu Citra.
“Sudah Ma, sudah,” bisik Kinar, mengusap kembali. Berusaha menenangkan. Harusnya wanita tua ini sudah menikmati hidup, menikmati hari-hari tuanya. Tapi beban hidupnya terlalu berat.
“Aku su-dah meng-i-khlaskannya, Kinar... Tapi, kenapa putraku sendiri membuka luka itu kembali, luka yang dengan susah payah aku tutupi,” ucap Ibu Citra terbata.
Airmatanya kian deras, mengalir, sampai dia harus tersengal untuk sekedar bernafas.
__ADS_1
“Lukaku yang disebabkan Riadi, selamanya tidak akan sembuh. Tapi putraku datang dengan membawa putrinya. Ka-kalau dia tidak menikahinya, aku masih bisa menerima. Ta-tapi, dia malah menjadikannya bagian dari hidupnya.”
“Rasanya tidak adil. Sudah cukup dia mengambil semuanya dariku, mengambil semua orang yang kusayangi. Kenapa dia harus meenyodorkan putrinya padaku.”
“Ma, sudah ya. Kita masuk ke dalam,” bujuk Kinar. Tidak mau membuat Ibu Citra semakin tertekan.
Setiap melihat wajah putrinya, aku melihat bayang-bayang wajah suamiku. Yang sudah tidak berdaya, yang sudah putus asa, di sisa tarikan nafas terakhirnya,” isak Ibu Citra.
“Maaaa.., sudah.” Kinar ikut meneteskan air mata. Belasan tahun yang lalu, dia pernah melihat kondisi menyedihkan Ibu Citra, persis seperti sekarang.
“Aku.. tidak menuntut dia membayar kembali apa yang diambilnya. Aku tidak menuntut dia menebus semua dosa-dosanya. Aku tidak memintanya membayar semua penderitaaanku yang disebabkan olehnya. Aku hanya meminta, supaya tidak perlu melihatnya dan keturunannya disisa hidupku. Tapi begitu sulitkah?”
“Dosa apa aku, sampai harus menanggung semua ini.” Tangis itu pecah, Ibu Citra meremas dadanya. Sudah tidak sanggup bersuara lagi. Hanya bisa menangis dan menangis hingga tubuhnya lemas.
“Ma, kita ke kamar ya,” bujuk Kinar. Terlihat dia memanggil seorang security membantu memapah tubuh Ibu Citra yang sudah tidak bertenaga.
“Kinar, aku tidak mau mendendam, tapi melakukannya tidak semudah mengatakannya. Terlalu sakit.”
“Kamu ingat, dia pernah datang sendiri padaku di panti waktu itu. Memohon ampunan untuk semua dosa-dosanya, bahkan dia berlutut memohon maaf. Dia masih berani membawa putrinya yang masih kecil untuk menemuiku,” isaknya pelan, sebelum masuk kembali ke dalam rumah.
***
Kailla sedang berbaring di ranjang setelah menyelesaikan makan malamnya. Pram hari ini harus lembur. Masalah di proyek yang tidak kunjung selesai, memaksa laki-laki itu bekerja sedikit lebih keras dari biasanya.
Ceklek!
Pintu kamar mewah itu terbuka saat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Kailla menengok ke arah pintu, tersenyum menyambut suaminya.
Pram dengan wajah lelahnya masuk dengan langkah gontai, menenteng jas kerja. Rambutnya berantakan, tidak serapi tadi pagi saat berangkat ke kantor. Kancing kemeja sudah terbuka sampai ke dada, memamerkan otot-otot kekar di usia yang sudah tidak muda lagi.
“Kai, aku lelah. Aku tidak sanggup menggendongmu saat ini,” tolak Pram.
Hampir terjatuh, tidak siap menopang tubuh Kailla yang tiba-tiba sudah menumpang di tubuhnya.
Cup!Cup!
Kailla mengecup kedua pipi suaminya sebelum meloncat turun.
“Sayang, kamu sudah makan?” tanya Kailla, masih memeluk.
“Mau aku buatkan makanan favoritmu?” tawar Kailla.
Pram menggeleng.
“Aku lelah, aku cuma menginginkanmu saat ini. Ayo keluarkan semua keahlianmu, Sayang,” pinta Pram.
Pram sudah menjatuhkan dirinya dengan kasar, telentang di atas tempat tidur. Menarik Kailla untuk ikut berbaring di atas tubuhnya, saling berhadapan supaya bisa melihat wajah istrinya dari jarak dekat.
Dia sedang menikmati empuknya ranjang, merenggangkan punggungnya yang pegal karena terlalu lama duduk di kantor.
“Sayang, apa yang kamu kerjakan hari ini?” tanya Pram, memejamkan mata. Menikmati tubuh Kailla yang sedang menimpa tubuhnya.
“Aku di rumah saja seharian,” sahut Kailla, melukis lekuk wajah tampan suaminya dengan jemari lentiknya.
“Kamu tidak nakal?” tanya Pram, membuka matanya. Kedua tangannya sudah memeluk pinggang ramping istrinya.
__ADS_1
“No..!” jawab Kailla tersenyum.
“Sudut bibirmu masih sakit, Kai?” tanya Pram, dengan tangan kirinya mengusap lembut luka yang mulai mengering.
“Sudah tidak lagi, tadi siang aku membeli salep di apotik,” sahut Kailla.
“Jadi, bibirmu sudah bisa melayaniku malam ini?” goda Pram terkekeh.
“Aaaaaah! Jangan menggodaku,” ucap Kailla dengan nada manja.
“Ya sudah, temani aku mandi kalau begitu,” pinta Pram.
“Ayo!”
Tangan Pram sudah menahan pinggang Kailla supaya tidak terjatuh. Masih dengan posisi menggendong ala koala, membawa istrinya menuju ke kamar mandi.
“Ah.. jangan menjatuhkanku. Aku akan menggigitmu!” gerutu Kailla.
“Heheheh.. aku lelah. Sangat lelah Kai,” ucapnya pelan, mendudukan istrinya di atas meja wastafel di kamar mandi.
“Memang ada masalah apa di proyek?” tanya Kailla serius. Mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
“Proyek apartemen yang ambruk, memakan banyak korban. Ada belasan korban jiwa, belum yang luka-luka. Untuk sementara jangan keluar rumah. Aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak tahu siapa musuh-musuhku di luar sana. Kamu mengerti?”
“Iya Sayang,” sahut Kailla, menurut. Mengecup seluruh wajah Pram bertubi-tubi.
Senyum Pram terkembang. Disaat seperti ini hanya Kailla yang bisa menghiburnya. Dengan melihat senyuman dan kemanjaan istrinya saja, lelah di pundaknya menghilang seketika.
“Anak baik, apakah sudah ada tanda-tanda Pram junior disini?” tanya Pram. Pandangannya beralih pada perut rata istrinya. Mengusapnya perlahan dengan penuh perasaan.
“Aku tidak tahu, aku belum mengeceknya,” sahut Kailla.
“Bukankah beberapa hari lagi jadwal menstruasimu kan?” tanya Pram memastikan.
Kailla menggeleng dengan wajah menggemaskan. Jarinya terlihat menghitung dengan dahi berkerut dan bibir mengerucut. Tapi sebenarnya dia sendiri tidak mengerti jawabannya.
Dibandingkan dengan Kailla, Pram lebih mengingat jadwal bulanan istrinya.
“Hahahaha!” tawa Pram pecah.
“Jangan seperti ini menggemaskannya, aku akan melahapmu sekarang!” ucap Pram, sudah beranjak menjauh. Membuka pakaian yang melekat di tubuhnya, melemparnya asal di pojok kamar mandi.
Dan Kailla dengan santainya duduk di atas meja wastafel, sembari menggoyang kedua kakinya.
***
To be continued
Love you all
Terima kasih.
Next : Suara dering ponsel mengganggu tidur kedua suami istri itu. Pram yang lebih dulu terjaga, segera meraih ponsel di atas nakas. Masih belum menyadari saat itu masih tengah malam. Mereka baru saja tertidur karena kelelahan setelah melakukan proyek investasi bersama.
“Hallo,” sapa Pram dengan suara serak. Masih dengan mata mengantuk, menempelkan ponsel di telinganya. Entah berita apa yang disampaikan si penelepon, Pram hampir menjatuhkan ponselnya karena terkejut. Mata mengantuk itu langsung terjaga seketika.
“Kai, bangun Sayang!” panggil Pram panik. Sudah berlari ke walk in closet mencari pakaiannya.
__ADS_1
“Sayang, bangun!” panggil Pram setengah berteriak.