Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 81 : Kesabaran Pram Habis Sudah


__ADS_3

Pram berlari masuk mendapati Kailla yang terbalut perban di kaki dan tangannya. Belum lagi luka lecet di dahi dan memar di sudut bibir.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Pram, mengusap wajah istrinya yang babak belur. Amarah dan emosi yang tadi sudah mengumpul dan siap diletuskan mendadak hilang, menguap tidak berbekas. Berganti dengan panik dan khawatir yang tak terbendung.


"Sayang."


Kailla tidak menjawab, sebaliknya dia malah menangis tersedu-sedu. Meraih tubuh suaminya yang masih berbalut setelan kerja.


"Aku jatuh. Huaaaa...Huaaaa..," pekiknya di sela isak tangis yang tidak berkesudahan.


"Bagaimana bisa jatuh? Kamu jatuh dimana?"


Banyak pertanyaan dilontarkan Pram, sesekali mengusap lembut kaki dan tangan yang dibalut perban. Merah darahnya sampai merembes keluar.


Hening--


Kailla tidak menjawab, tangisnya pun terhenti. Saat ini pendengarannya sedang menunggu instruksi selanjutnya dari Sam. Asistennya itu dalang dan otak dari semua drama yang sedang terjadi. Sam lah sang sutradara di balik sandiwara yanh sedang berlangsung.


"Kamu jatuh dimana? Kenapa sampai separah ini? Jawab aku, Sayang. Aku janji tidak akan memarahimu," ucap Pram dengan lembut, meraih tubuh Kailla dan mendekapnya erat.


"Gawat! Sam kenapa tidak mengirim jawaban," batin Kailla.


Tangannya sedang menyentuh earphone mini yang terselip di telinganya, khawatir benda mungil itu tidak berfungsi. Dia ingin menjawab sendiri, tetapi takut jawabannya tidak berkesinambungan dengan jalan cerita yang sudah dirancang Sam.


Sedangkan Sam, lelaki muda itu sedang sibuk dengan urusannya. Menggoda pembantu sebelah rumah yang kebetulan lewat di depan gerbang.


Dia sengaja berjongkok di sana bersama seorang security. Menurutnya disana adalah lokasi teraman menjalankan misinya bersama Kailla, untuk mengelabui Pram.


Akan tetapi, di luar perhitungan. Pesona si Surti mengacaukan segalanya. Dia melupakan rencana yang sudah disusun sebelumnya, termasuk hidup mati majikannya yang sedang menantang bahaya di dalam kamar mewahnya.


"Aku jatuh di tangga. Terguling dan menggelinding ke lantai satu, Sayang."


Kailla akhirnya menjawab seadanya, setelah lama mengharapkan Sam yang tidak kunjung membantunya.


"Bagaimana bisa jatuh? Dimana saja yang sakit?"


Kailla belum sempat menjawab, Pram sudah berlari menuju walk in closet sambil berteriak.


"Kita ke rumah sakit sekarang."


Pram sudah berganti pakaian, rasanya tidak tega melihat luka di sekujur tubuh Kailla. Darah segar merembes di perban, di tangan dan kakinya. Hancur perasaannya, saat melihat kondisi istrinya yang begitu mengenaskan.


Mendengar kata rumah sakit, Kailla pun panik. Segera berbaring, memejamkan matanya.


"Sayang, aku mau istirahat saja," ucap Kailla pelan, sesekali mendesah kesakitan seperti sedang menahan sakit, guna memperkuat aktingnya.

__ADS_1


"Tidak, kita ke rumah sakit saja. Aku takut kamu kenapa-kenapa."


"Sayang, aku ke bawah sebentar, meminta Bayu menyiapkan mobil," ucap Pram, bergegas keluar. Raut wajahnya terlihat panik, khawatir dan ketakutan.


Tidak lama, Pram sudah muncul kembali.


"Ayo Sayang, bersiap," ucap Pram, menghampiri istrinya.


"Sayang, aku baik-baik saja," tolak Kailla.


"Tidak, aku takut terjadi sesuatu di otakmu. Kita harus memeriksanya sekarang. Kamu terjatuh begitu tinggi," jelas Pram, bersikeras.


"Aku tidak mau, Sayang. Aku sudah baik-baik saja. Sudah bisa berlari sebentar lagi, hanya butuh ketenangan saja." Kailla berusaha menolak.


"Kai, dengarkan suamimu sekali ini saja. Aku takut terjadi sesuatu padamu."


Kailla tertunduk, panik menyergap seketika. Kalau sampai dibawa ke rumah sakit, dramanya akan terbongkar. Dan pasti akan semakin diomeli Pram. Kesalahannya menjadi berlipat ganda.


Terlihat wajahnya berubah kesal, memikirkan Sam yang menghilang di telan malam.


"Ayo Kai," bujuk Pram kembali.


Kailla diam, tidak bereaksi.


"Ayo Kai, aku panggilkan Sam juga. Dia harus bertanggungjawab atas kelalaiannya, membuat majikannya terluka separah ini."


"Kemarikan ponselmu, Kai," pinta Pram tiba-tiba sudah berdiri di sisi ranjang.


"Sudah Sayang, kamu berhenti bicara aku pasti sembuh. Aku hanya butuh istirahat," pinta Kailla dengan wajah memelas.


"Kemarikan ponselmu, Kai," pinta Pram sekali lagi. Raut wajahnya mulai berubah.


Ada kemarahan tertahan, terpancar di sana. Kailla bergidik, menyesal mengikuti rencana Sam. Yang membuat dia semakin kesal, disaat segenting ini Sam tidak muncul sama sekali.


"KEMARIKAN PONSELMU, KAI!!" teriak Pram, seketika membuat Kailla menciut. Hampir menangis ketakutan. Untuk pertama kali, Pram bicara sekeras itu di depannya.


Dengan gerakan pelan, dia mengeluarkan ponsel di saku celananya. Tetapi Pram sudah terlanjur kesal, merebut kasar ponsel itu dan mengeluarkan earphone dari telinga istrinya. Melempar kasar kedua benda itu ke atas ranjang.


"Apa maumu? Apa tujuanmu mengerjaiku, Kai?" tanyanya.


"Belum cukup membuatku marah siang tadi, masih mau memancing kemarahanku. Hah?!" tanya Pram, mengusap kasar wajahnya.


Dia benar-benar sudah lelah. Seharian ini pekerjaannya menumpuk, dilaporkan orang suruhannya kalau Kailla bertemu Ditya. Dia masih bisa menahannya.


Sampai di rumah, mendapati istrinya terluka parah. Tidak sampai disitu, setelahnya dia mengetahui Kailla sedang menipunya, bermain-main dengan sakit dan kekhawatirannya. Dia sudah tidak bisa bersabar lagi seperti biasa.

__ADS_1


Pram meraih kembali ponsel Kailla, mencari kontak Sam. Masih dengan aura kemarahan, menghubungi asisten istrinya itu.


"Iya Non, bagaimana? Berhasil? Maaf, tadi aku ada sedikit urusan?" ucap Sam dengan santainya.


"Temui aku di ruang tamu. Sampai aku tidak melihatmu disana, aku akan mengirim pesangon ke rekeningmu saat ini juga!” ancam Pram.


Sam tidak menjawab, berlari masuk ke dalam rumah menemui Pram. Terjungkal beberapa kali karena menginjak kain sarungnya sendiri.


"Sayang, maafkan aku," ucap Kailla tertunduk.


Pram tidak menjawab, meraih tangan istrinya dan membuka ikatan perban itu dengan kasar. Beralih membuka ikatan di kaki Kailla.


Setelah selesai, Pram meraih tisu di atas nakas. Dengan jarinya, mengangkat dagu Kailla yang sedang tertunduk.


"Lihat aku sekarang. Apa yang kurang dariku? Apa yang mau kamu uji. Kesabaranku?" tanya Pram, menatap lekat ke netra mata istrinya.


Tangannya sudah menghapus luka dan memar buatan yang ada di wajah Kailla. Setelah bersih semua, menyeret Kailla keluar menemui Sam di bawah.


"Harusnya kamu tidak perlu seperti ini. Cukup minta maaf seperti biasa setelah itu kamu bisa mengulanginya lagi! Toh, suamimu ini akan terus memaafkanmu seperti biasa."


"Maafkan aku," bisik Kailla, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan sang suami.


"Aku bosan, Sayang. Minta maaf terus diulangi lagi,” sahut Pram.


"Siapa yang membantumu mengikat perban?" tanya Pram lagi.


"Sayang, sudah. Maafkan aku. Semua salahku," ucap Kailla, memohon.


“Katakan!” ucap Pram dengan keras.


“Ibu Sari mengikat di kaki, Ibu Ida yang mengikat di tangan,” sahut Kailla pelan.


“Tapi jangan marahi mereka juga,” pinta Kailla memohon.


Keduanya sudah berdiri di ruang tamu. Pram menahan emosinya, berdiri menatap Kailla dengan tangan terlipat di dada.


"Sayang, sudah. Maafkan aku," ucap Kailla, meraih tangan suaminya yang terlipat.


Terlihat dari arah pintu, Sam berlari masuk, kembali terjungkal untuk kesekian kali. Lagi-lagi dia menginjak kain sarungnya yang melorot turun karena larinya yang terlalu kencang.


"Pak...," sapa Sam, dengan suara gemetar ketakutan. Berjalan mendekati Pram.


***


To be continued

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2