
Pintu kamar itu tertutup perlahan. Sangat pelan, nyaris tidak terdengar. Pasangan ibu dan anak yang sebelumnya mengobrol panjang lebar, saling berkeluh kesah dan bertukar pikiran sudah beralih ke kamar sebelah. Meninggalkan Kailla sendirian dalam lelapnya.
Lelapkah? Tidurkah?
Baru saja daun pintu itu menutup, kelopak mata yang tadinya mengunci rapat, tiba-tiba membuka sempurna. Dia sudah terbangun sejak Pram mengusap hangat punggungnya. Sehangat perasaannya saat ini. Begitu merindukan pelukan dan dekapan suaminya, ternyata Pram pun memahami keinginan terdalam hatinya tanpa diminta.
Kedua sudut bibirnya melengkung ke atas, mengingat pernyataan cinta Pram yang begitu besar untuknya di depan sang mertua. Telunjuk lentik itu mengelus pelan bibirnya sendiri. Sentuhan bibir Pram yang begitu lembut dan ringan masih berasa di sana.
Meskipun dia juga kesal dengan pernyataan mama mertuanya yang begitu menyakitkan, meskipun memang kenyataan benar adanya. Dia yang tidak bisa apa-apa dan kekanak-kanakan. Seperti di tampar, tetapi lebih baik daripada suaminya harus dijodohkan dengan perempuan lain. Paling tidak mertuanya sudah tidak memaksa Pram lagi.
Mengingat Pram, muncul penyesalan sudah menyiram suaminya dengan air panas. Apa dia terlalu kelewatan, mungkinkah tindakannya berlebihan. Semua percakapan suami dan mertuanya tengan berputar ulang di otaknya.
Kisah masa lalu yang sebelumnya sudah sempat diceritakan Pram padanya, dia tidak terkejut lagi. Hanya teringat daddy yang begitu menyedihkan. Dia sedang menjalin satu demi satu kisah masa lalu daddy dan mertuanya saat pintu kamar terbuka kembali.
Kailla buru- buru menutup rapat bola matanya, meninggalkan jejak garis di kedua sudutnya. Tanpa melihat pun, dia bisa merasakan aroma tubuh suaminya, meski dalam keadaan terpejam.
Empat tahun berbagi tempat tidur, melebur dan menyatu bersama. Saling memeluk dalam peluh dan keringat bahkan Kailla sudah sangat hafal setiap tarikan nafas seorang Reynaldi Pratama.
Pergerakan kecil tempat tidur mengetarkan tubuh kakunya. Sedikit memicingkan mata, mengintip aktivitas disisinya. Suaminya sedang berbaring telentang dengan kedua tangan bertekuk menahan kepalanya.
“Kai, maafkan aku,” bisik lelaki itu pelan. Pram tidak bergerak, menerawang di posisinya.
“Aku tidak sengaja membuatmu terluka,” lanjutnya lagi, memejamkan matanya. Menyiratkan penyesalan yang luar biasa. Sakitnya Kailla berarti sakitnya juga. Tetapi dia hanya manusia biasa, dikala lelah bisa berbuat salah tanpa di sengaja.
“Dan tidak bermaksud membanding-bandingkanmu dengan wanita lain. Aku panik, kesal, kamu mengulang kembali kesalahanmu yang lama. Kesalahan yang berulang kali, pergi tanpa pamit. Keluar tanpa izin dariku. Kalau terjadi sesuatu pada kalian, aku harus bagaimana.”
“Tidurlah, aku akan menemanimu disini,” bisik Pram, meraih tubuh Kailla dan mendekapnya erat. Membagi kehangatan di tengah musim dingin Austria.
Pram bisa bernafas lega, tersenyum dalam hati. Meski Kailla belum mau berbicara dengannya, tetapi istrinya tidak menolak pelukannya. Dia tahu istrinya hanya pura-pura tidur. Sejak dia masuk dan berbincang dengan mamanya, Pram sadar Kailla tidak terlelap. Bahkan dia bisa merasakan bibir Kailla sedikit terbuka menyambut ciuman sekilasnya tadi.
“Aku tahu kamu tidak tidur. Kamu bisa mendengar semua obrolanku dan mama kan?” ucap Pram. Masih dengan mendekap erat istrinya, sesekali membubuhkan sebuah kecupan ringan di puncak kepala Kailla.
“Apa yang ingin aku sampaikan padamu, kamu sudah mendengarnya semua. Mengenai ucapan mama, jangan dipikirkan. Dia sedang berusaha menerimamu di dalam hati yang berusaha disembuhkannya sendiri,” bisik Pram lagi, tanpa berharap Kailla menjawab.
“Tapi itu tidak mudah, mengingat betapa kejamnya masa lalu yang dilewatinya. Aku harap kamu cukup dewasa untuk mengerti. Seperti aku yang mengerti posisimu,” jelas Pram.
Berbicara panjang lebar tanpa ada reaksi atau respon dari istrinya, tapi Pram cukup senang. Setidaknya Kailla mendengar semua, mencerna satu per satu kata demi kata dari bibirnya.
“Maafkan mama kalau dia masih belum bisa menerimamu seutuhnya. Masih menilaimu buruk, aku mohon jangan membencinya. Belajarlah menilainya dari sisi positif. Kalau kamu merasa, kamu tidak seburuk yang mama bayangkan, buktikan padanya, mungkin kamu belum menunjukan kemampuan terbaikmu di depannya. Tetapi kalau kamu merasa ucapan mama ada benarnya, berubahlah menjadi lebih baik.”
“Mengenai daddy, tidak perlu dipikirkan. Sebelumnya aku sudah menceritakannya padamu, kan. Mencobalah mengerti, kalau mereka belum bisa memaafkan dengan sepenuh hati. Yang dilakukan daddy bukan hal sepele. Tetapi aku menjamin dengan hidupku, mama tidak akan berani melakukan hal buruk padamu dan daddy.”
Terdengar helaan nafas kasar dan sebuah kecupan hangat mendarat di kening Kailla.
“Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita. Lakukanlah yang terbaik bukan untuk orang lain, tetapi untukmu sendiri. Aku mencintaimu, Kai.” lanjut Pram, mulai memejamkan matanya. Menikmati hangatnya tubuh sang istri.
***
__ADS_1
Kailla terbangun saat matahari sudah menyingsing. Menepuk pelan sisi ranjang di sebelah yang sudah mendingin. Tidak ada lagi Pram tidur di sana.
Deg—
“Kemana dia?” tanya Kailla pelan.
Matanya tanpa sengaja melirik jam di atas nakas, seketika berteriak kencang dan meloncat turun.
“Ahhhh! Aku terlambat!” pekiknya, berlari ke kamar mandi dan mencuci muka dan menggosok gigi sebelum keluar dan menyiapkan sarapan orang serumah.
Semalam dia tidak bisa tidur nyenyak, baru mulai tertidur pulas saat tengah malam. Dengan mengucir rambutnya asal, bergegas ke dapur bersiap memasak.
Tetapi langkahnya terhenti, saat melihat pemandangan di meja makan. Pram, Ibu Citra dan Bayu sudah rapi sedang menikmati sarapannya. Semangkok besar nasi goreng lengkap dengan telur ceplok sudah siap di tengah meja.
“Kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Pram.
Lelaki itu baru saja menyelesaikan sarapan paginya, menoleh ke belakang menatap istrinya yang masih dengan wajah bantal dan rambut acak-acakan.
“Aku harus ke kantor. Maaf tidak membangunkanmu. Aku sudah menyiapkan sarapan pagi untukmu,” ucapnya, meneguk habis segelas air putih.
Pram sudah berdiri, menhampiri Kailla yang mematung. Ibu Citra dan Bayu masih fokus dengan sarapan mereka masing-masing, tidak terganggu dengan aktivitas suami istri yang saling diam dan menatap.
“Aku akan pulang cepat,” ucapnya pelan, menyerahkan dasi yang belum terpasang ke tangan Kailla. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Kailla memasangkan dasi di leher Pram tanpa bicara. Lebih banyak menurunkan pandangannya, tidak mau menatap wajah Pram sama sekali. Berbanding terbalik, Pram terlihat biasa, padahal bekas memerah terkena air panas di dadanya masih berasa.
***
Siang itu, Kailla dan Ibu Citra sedang menikmati acara televisi yang tidak mereka mengerti bahasanya di ruang tamu. Sesekali berbincang ringan sembari melempar canda layaknya mertua dan menantu idaman pada umumnya. Hubungan keduanya sudah lebih mengalir, tidak saling menuntut satu sama lain. Mungkin bisa disebut saling menerima apa adanya.
“Kai, mama rindu ikan goreng dengan sambal dabu-dabu. Bisa masakan untuk mama tidak?” tanya Ibu Citra.
Kalau boleh jujur selera makannya menurun sejak tiba di Wina. Bukan hanya karena rasa masakan Kailla yang tidak cocok di lidahnya, tetapi kemampuan Kailla yang baru tahap belajar hanya bisa memasak menu sederhana yang terkadang tidak cocok dengan kesukaannya.
“Apa itu dabu-dabu?” tanya Kailla bingung. Segera meraih ponselnya dan mencarinya di google.
Setelah membaca resep dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, akhirnya Kailla menyanggupi.
“Ma, tapi pakai ikan tuna beku tidak apa-apa kan?” tanya Kailla. Berhubung stok di dalam lemari pendingin hanya ada potongan ikan tuna beku.
“Iya, yang penting ikan. Mama sudah merindukan masakan Indonesia, bosan dengan steak dan keju.” jelas Ibu Citra.
Berbekal ilmu yang di dapatnya di google, Kailla pun bergegas ke dapur. Mengeluarkan ikan tuna yang membeku, mencucinya sebentar dan melumurinya dengan bahan-bahan seadanya sesuai dengan resep yang dibacanya.
Menunggu beberapa menit sampai bumbu meresap, sembari mengiris potongan bawang dan tomat untuk bahan sambal dabu-dabu.
__ADS_1
“Ma, ini menggorengnya bagaimana?” teriak Kailla dari dapur yang menyatu dengan ruang tamu. Meminta bantuan dan pengarahan Ibu Citra cara menggoreng ikan. Ini pengalaman Kailla menggoreng ikan. Biasanya dia akan memilih menghindar saat asisten di rumahnya melakukan ini. Dia tidak mau bau amis melekat di sekujur tubuhnya.
“Seperti kamu menceplok telur, Kai. Tetapi ini minyaknya lebih banyak. Tunggu sampai minyak panas baru masukan ikan ke dalam kuali,” jelas Ibu Citra masih duduk di sofa. Enggan bergerak, kondisinya belum sehat seratus persen, imbas pingsan kemarin.
Bayu yang sedang duduk sembari memainkan ponselnya di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan hanya tersenyum. Melihat keakraban antara Kailla dan mertuanya.
Kailla melakukan sesuai instruksi mertuanya. Menuangkan minyak goreng ke dalam teflon dalam jumlah yang lumayan banyak, menyalakan api besar dan menunggu minyaknya panas. Masalah muncul saat dia tidak tahu bagaimana ciri-ciri minyak yang sudah bisa dikatakan panas. Tidak mungkin juga mencelupkan jarinya ke dalam minyak untuk mengecek kadar panasnya.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit Kailla menunggu. Bayu yang duduk tidak terlalu jauh dari tempat Kailla berdiri mengerutkan dahi. Ruangan itu sudah dipenuhi asap yang mengepul hebat, padahal di atas kompor sudah dinyalakan cooker hood.
“Non, itu sudah terlalu panas,” celetuk Bayu, menunjuk ke arah wajan.
Dengan tersenyum Kailla meraih mangkok kaca berisi ikan tuna yang dimarinasi. Tanpa meniriskannya terlebih dulu, Kailla menuangkannya semua ke dalam wajan beserta cairan bumbu dan jeruk lemon.
Cairan bumbu yang bercampur minyak panas menimbulkan bunyi berdesis hebat sekaligus membuat cipratan dan letupan yang luar biasa. Asap yang tadinya mengepul semakin bertambah hebat, diiringi pijaran api kompor yang naik mengelilingi wajan, membuat panik Kailla.
“Ahhhh! Bay, bagaimana ini?” pekik Kailla panik, tidak berani mendekat, bahkan sepotong ikan tuna meloncat keluar hampir mengenainya.
“Awas Non Kailla, jangan mendekat! Matikan kompornya!” teriak Bayu, tidak kalah panik.
Kailla mendekat ke kompor, sempat terkena letusan minyak panas di bagian tangannya. Perihnya tidak terkira, tetapi kalau tidak dimatikan ledakan akan semakin parah.
Dengan memberanikan diri, akhirnya Kailla berhasil mematikan kompor dengan kondisi dapur yang sudah porak poranda penuh dengan tumpahan minyak goreng. Tetapi malang tidak bisa ditolak, saat berhasil mematikan kompor, tangannya tanpa sengaja menyenggol wajan yang berisi minyak goreng panas. Tertumpah dan lagi-lagi mengenai tangannya.
“Aaaaaaahhhhh! Sssshhhhhh!!” pekik Kailla kesakitan. Tangannya memerah seketika.
“Astaga Non Kailla!” jerit Bayu, langsung meraih tangan Kailla dan membawanya ke bawah kucuran air kran.
“Sakit?” tanya Bayu sembari mengernyit membayangkan sakitnya. Kemerahan dari jemari sampai pergelangan tangan majikannya.
“Non, Non, baik-baik saja?” tanya Bayu lagi. Kailla hanya terdiam, sesekali mendesah menahan sakit.
Ibu Citra yang menyusul ke dapur setelah mendengar suara berisik, terkejut melihat kondisi dapur yang berantakan dengan asap yang memenuhi area kompor dan ikan bercampur minyak memenuhi lantai apartemen. Tidak jauh dari Kailla dan Bayu berdiri terlihat wajan tertelungkup.
“Ya Tuhan, Kailla,” jeritnya., ikutan panik melihat tanda memerah di tangan Kailla.
“Bagaimana bisa begini?” ucap Ibu Citra, meraih tangan menantunya dan membawanya duduk.
“Bay, carikan salep. Kalau tidak ada, beli di apotik!” perintah Ibu Citra. Tidak bisa membayangkan kalau terjadi sesuatu pada menantunya, bagaimana reaksi putranya.
Bayu berlari keluar, meminta sopir mengantarnya ke apotik. Terbayang sudah di pelupuk matanya, sebentar lagi akan mendapatkan amukan dari Pram.
***
Terima kasih
Love You All
__ADS_1
Mohon like dan komen. Bab ini agak panjang. dua bab dijadikan satu. kemungkinan aku tidak sempat up dobel. Anak-anakku sedang final test.