
Perjalanan Jakarta -Austria yang ditempuh hampir 19 jam, memaksa Kailla dan Ibu Citra menghabiskan sebagian waktu dengan tidur di pesawat. Sedikit berbeda dengan Pram, lelaki itu menghabiskan waktu dengan mempelajari berkas perusahaan yang sengaja dibawanya dari Indonesia.
Perjalanan mereka kali ini bukan hanya untuk pekerjaan, tujuan utama Pram ingin menghabiskan waktu berdua dengan Kailla. Selain itu, dia berharap mama dan istrinya bisa menjadi lebih dekat dan mengenal satu sama lain. Untuk itulah, dia tidak membawa serta Kinar bersama mereka. Selain itu besar harapannya, dia mendapat kabar kehamilan Kailla selama di Austria.
Kailla masih terlelap saat Pram membangunkannya. “Sayang, kita hampir tiba,” panggilnya.
Hamparan salju mulai kelihatan saat pesawat hendak mendarat. Seperti kedatangan mereka empat tahun yang lalu, saat ini Austria juga sedang musim dingin. Musim yang disukai Kailla, karena dia bisa melihat salju sepuasnya.
“Kai, kita sudah sampai,” bisik Pram. Sesaat setelah pesawat berhenti sempurna. Pandangannya beralih kepada mamanya, yang juga tertidur pulas.
“Kita sudah sampai? Sebentar lagi aku akan bertemu Mitha,” ucap Kaila pelan, tersenyum.
“Hmmm,” gumam Pram.
“Kai, coba lihat kembaranmu. Hanya beda tahun produksi saja,” ucap Pram terkekeh, menunjuk ke arah Ibu Citra yang masih saja belum mau bangun. Mulutnya terbuka, membuktikan seberapa lelapnya.
Mendengar itu, Kailla menggerutu. Tidak terima disamakan dengan sang mertua. Mencubit lengan suaminya, mendengus kesal.
“Aku tidak sejelek itu saat tertidur!”
"Kai..," tegur Pram.
"Iya, maaf," sahut Kailla.
***
Mereka sudah berjalan keluar, dengan Bayu yang mendorong koper mengekor di belakang. Kailla benar-benar menikmati perjalanannya kali ini, berbeda dengan empat tahun yang lalu.
“Aku masih mengingat aroma ini,” celetuk Kailla menarik nafas panjang. Merentangkan tangannya, menikmati udara dingin Austria. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol tubuh mertuanya dan limbung seketika.
Di luar dugaan, Ibu Citra tidak menyangka Kailla akan membentangkan tangannya lebar-lebar. Terlalu mendadak, disaat kantuknya saja belum menghilang sempurna. Untung Bayu yang berjalan di belakang langsung sigap, menopang tubuh renta itu.
“Ma-maaf Ma, aku lupa mama ikut bersama kami,” ucap Kailla, menahan senyum.
“Hampir saja, aku terjatuh karena ulah istrimu, Pram,” gerutu Ibu Citra, menenteng tas hitam metalik hadiah dari putranya.
Pram hanya tersenyum, meraih tangan istrinya yang juga menenteng tas berwarna pink.
“Sudah aku amankan tangannya, Ma,” sahut Pram, menggengam erat tangan Kailla, seolah takut lepas darinya.
Dari kejauhan terlihat Pieter dengan setelan kerja lengkap dan kacamata hitam menjemput mereka. Kailla yang melihat Pieter berdiri, langsung berlari menghampiri.
“Kak Pieter!” pekiknya, tersenyum bahagia.
“Kailla..,” ucapnya tersenyum, langsung memeluk.
“Masih secantik dulu,” lanjutnya lagi, melepas pelukannya. Mengalihkan pandangannya pada Pram. Lelaki itu masih setampan empat tahun yang lalu, meskipun terlihat sedikit lebih tua.
“Apa kabar, Pram?” Pieter langsung memeluk sahabat sekaligus atasannya.
__ADS_1
“Baik.” Pram menepuk lengan Pieter, sembari mengenalkan mamanya.
“Kenalkan mamaku,” ucap Pram, mengusap punggung Ibu Citra.
“Hallo Tante, apa kabar?” tanya Pieter.
Ibu Citra hanya tersenyum dan mengangguk.
Dari bandara, Pieter langsung mengantar Pram dan keluarganya menuju ke apartemen. Tempat tinggal yang sempat atasannya tempati selama sebulan di Austria.
Ibu Citra yang baru kali pertama menginjakan kaki di luar negri tampak mengagumi pemandangan sepanjang jalan menuju apartemen.
“Ma, disana ada banyak toko yang menjual tas branded. Nanti kalau Pram ke kantor, kita bisa mencuri keluar. Melihat-lihat tas disana,”ucap Kailla menunjuk ke deretan toko yang baru saja mereka lalui. Dia sengaja berbisik, takut suaranya terdengar Bayu yang duduk di depan, samping sopir.
“Oh ya?” Wajah Ibu Citra langsung cerah. Tersenyum sumringah. Membayangkan bisa melihat langsung koleksi tas mewah.
“Ssstttt, Pram pasti tidak akan mengizinkan kita keluar. Tapi aku sudah terlatih kabur darinya. Aku akan membawa mama ke sana,” bisik Kailla pelan. Menempelkan telunjuknya di bibir.
Ibu Citra menggeleng, tetapi mengingat tas branded yang diceritakan Kailla, dia mungkin juga akan mendukung menantunya dan melakukan hal yang sama.
“Mama tenang saja,” ucap Kaila, menepuk lembut tangan mertuanya.
“Pram memberiku kartu unlimited, kita bisa belanja sepuasnya. Kalau dia mengomel, aku masih bisa menggunakan uangku,” jelas Kailla lagi. Semakin membakar semangat ibu mertuanya.
“Oh ya Ma, disana juga ada hotdog yang enak sekali,” ucap Kailla, jemarinya menunjuk pada salah satu kedai makanan yang baru saja mereka lewati. Sengaja mengajak bicara mertuanya untuk mencairkan suasana. Pram memintanya semobil dengan sang mama, sedangkan Pram sendiri semobil dengan Pieter.
“Nanti aku akan membelikannya untuk mama,” lanjutnya lagi.
“Oh ya. Tetapi mama tidak suka hotdog. Mama maunya kue klepon,” sahut Ibu Citra, sengaja membuat menantunya kesal.
“Huh! Disini tidak ada kue klepon, Ma,” dengus Kailla.
Sejak mereka sering bersama di rumah sakit, hubungan keduanya lebih mencair. Walau tidak bisa dikatakan akrab sekali. Terkadang masih saling menyindir dan menyakiti walau tidak semengerikan dulu.
“Huh! Melihat tampangmu, mama tidak yakin kamu bisa memasak. Mama bingung, bagaimana Pram bisa sebegini cinta matinya padamu,” ucap Ibu Citra, sengaja memancing kemarahan Kailla.
“Aduh Ma. Ini saja mama tidak tahu jawabannya,” ucap Kailla.
Dia menggeser duduknya supaya merapat dengan mertuanya. Tiba-tiba berbisik pelan di telinga Bu Citra.
“Aku memang tidak bisa memasak di dapur, Ma. Tetapi menantumu ini, paling pintar memasak di tempat tidur,” sahut Kailla asal.
“Kurang ajar!” sebuah pukulan kencang mendarat di paha Kailla. Disertai gerutuan tidak jelas.
“Prammu itu tergila-gila padaku, Ma,” ucap Kailla menyombongkan diri.
“Aku tidak percaya padamu, Kai,”
“Serius, Pram menyukai masakanku, Ma. Aku cukup membuat telur ceplok, dia langsung luluh lantah. Makanya dia memintaku memasak untuk kalian selama di Austria,” ucap Kailla, kembali menggoda mertuanya.
“Aku tidak yakin kemampuan memasakmu. Melihat tampangmu saja, aku sudah bisa membayangkan rasa masakanmu,” sindir Ibu Citra, membuat Kailla kembali kesal.
Mendengar sindiran mertuanya, Kailla menatap sinis pada mama mertuanya. Sesekali mengomel tanpa suara, disaat Ibu Citra tidak melihatnya.
“Mulutmu kenapa komat kamit, Kai?” tanya Ibu Citra, tanpa sengaja melihat bibir menantunya komat kamit.
__ADS_1
Kailla terkejut, menutup mulutnya tertangkap basah sedang menggerutu mertuanya.
“Nanti mama akan mengajarimu memasak!” ucap Ibu Citra dengan bangga.
“Hah! Mama yakin?” tanya Kailla heran.
“Cih! Dia sendiri belum tentu bisa memasak. Mau mengajariku,” batin Kailla.
“Yakin! Masakan mama dulu sering dipuji mertua,” ucap Ibu Citra, bangga.
“Oh ya. Berarti aku harus belajar banyak dari mama,” ucap Kailla, akhirnya mengalah. Tidak mau meladeni.
“Baiklah, nanti aku akan menguji kemampuan dan kesabaranmu, Ma,” batinnya.
***
Tidak lama, iringan mobil mereka sampai ke aparteman. Terlihat Bayu turun dan mengeluarkan koper mereka dari bagasi.
“Pram, aku langsung ke kantor saja. Kulkasmu sudah diisi dengan bahan makanan,” jelas Pieter. Bergegas masuk ke mobil.
“Oh ya, mobil dan sopir itu khusus untukmu,” ucap Pieter, menunjuk ke arah mobil yang tadinya membawa Kailla dan mamanya.
“Oke, thanks.” Pram mengangguk melambaikan tangannya. Menatap mobil Pieter menghilang di ujung jalan.
Sekarang tertinggal mereka berempat yang langsung naik menuju ke unit. Menginjakan kaki ke apartemen ini kembali, ada banyak rasa yang sulit diungkapkan.
Dia mendapatkan cinta Kailla disini, mendapat kabar kehamilan Kailla juga disini. Ada banyak ceritanya dan Kailla disini.
Berbeda dengan Pram, Kailla terlihat biasa saja, Begitu pintu apartemen itu terbuka, Kailla langsung menuntun masuk mertuanya.
“Ma, duduk disini saja dulu,” ucapnya membawa Ibu Citra duduk di sofa ruang tamu.
Tampak Pram mengedarkan pandangan ke sekeliling. Semuanya masih sama seperti empat tahun yang lalu. Hanya saja, dia datang kembali ke sini bukan dengan anak mereka tetapi dengan mamanya.
“Kai, tolong antarkan mama ke kamarnya. Mama butuh istirahat,” pinta Pram, menunjuk ke kamar yang dulu sering di tempati Ibu Ida. Dia dan Kailla akan menempati kamar mereka yang dulu.
Kailla menurut, kembali membantu Ibu Citra berjalan menuju ke kamarnya. Saat melewati ruangan yang ada perapian dia pun mulai bercerita.
“Ma, disini kalau malam mengerikan sekali,” ucapnya tiba-tiba, menunjuk ke arah perapian yang kosong.
“Hah! Apa maksudmu, Kai?” tanya Ibu Citra, mulai bergidik ngeri. Tempat ini masih asing untuknya. Mendengar cerita Kailla membuat bulu kuduknya merinding.
“Mama tahu, empat tahun yang lalu sewaktu kami tinggal disini ada peristiwa mengerikan.”
“Hah? Apa lagi ini, Kai?” tanya Ibu Citra, mengedarkan pandangannya. Suasana apartemen itu sedikit gelap karena gorden jendela yang masih tertutup rapat.
“Ada gadis bunuh diri, wajahnya hancur, Ma. Sering gentayangan mengganggu penghuni apartemen,” ucap Kailla dengan suara mendesah. Sengaja dia berjalan mengendap-endap. Dia sendiri mulai ketakutan, memeluk erat lengan mertuanya.
“Ini kamar mama,” bisiknya. Tangannya baru saja meraih gagang pintu kamar, tiba-tiba dari dalam kamar.
“Ahhhhhhhhhhhhhh!!!” pekik Ibu Citra dan Kailla secara bersamaan. Spontan Kailla memejamkan mata, sedang kan Ibu Citra menutup wajah dengan kedua tangannya.
***
To be continued
__ADS_1
Love You All
Terima kasih.