Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 129 : Bahagianya Ibu Citra


__ADS_3

“Mama jangan membuat Kailla kelelahan. Istriku itu sedang hamil bayi kembar kami,” cerita Pram tersenyum, menatap Kinar dan mamanya dengan binar-binar bahagia.


Ibu Citra tertegun, hampir tidak yakin dengan pendengarannya sendiri. Dentingan sendok dan garpu yang terlepas dari gengaman membentur piring keramik, akhirnya menyadarkan wanita tua itu kembali.


“Anak nakal itu sudah hamil,” cicit Ibu Citra.


“Iya, harus berapa kali aku mengulangnya. Istriku hamil, Kailla hamil,” tegas Pram dengan wajah bahagianya.


Plakk!


Kembali Pram mendapatkan hadiah pukulan. Posisi duduknya yang tepat di sebelah Ibu Citra membuat mamanya itu leluasa berulang kali menghajarnya, mengekspresikan kebahagiaannya.


“Ma!”


“Ini sakit!” keluh Pram dengan aksen manja, mengusap lengannya yang dipukul Ibu Citra bertubi-tubi.


Wajah terperanjat itu berubah menjadi cerah. Aura bahagianya tidak jauh beda dengan sang putra. Saling berlomba-lomba mengukir senyuman indah di wajah.


“Sudah berapa bulan?” tanya Ibu Citra antusias. Terbayang, akhirnya dia bisa memiliki cucu. Tidak perlu mengalah lagi saat ibu-ibu tetangga rumahnya memamerkan cucu-cucu mereka. Dia bahkan bisa memamerkan dua cucu sekaligus.


“Delapan minggu,” sahut Pram, bersemangat membahas kehamilan Kailla.


“Hah?! Delapan minggu artinya dua bulan.” Ibu Citra lagi-lagi terperanjat bercampur kesal.


“Ya Tuhan, Pram...”


“Kamu kelewatan! Baru sekarang kamu mengabari mama,” keluh Ibu Citra, mengeleng kepala.


“Serius kalau Kailla hamil kembar?” tanya Ibu Citra lagi.


Pram mengangguk.


“Ckckck, menantuku memang luar biasa,” puji Ibu Citra.


“Ma, bukankah aku juga ikut berjasa?” tanya Pram yang sejak tadi tidak dianggap.


“Jasamu tidak seberapa,” sahut Ibu Citra tertawa meremehkan. Kebahagian wanita tua itu tampak nyata.


Kinar yang duduk dihadapan ibu dan anak itu hanya menyimak dalam kebungkamannya. Dia tidak sedikit pun terlibat obrolan. Bahkan tidak berminat. Terselip cemburu tidak berdasar saat mendengar berita kehamilan Kailla.


“Selamat, Mas,” ucap Kinar, berbasa basi pada akhirnya, menyimpan rapat-rapat kecewanya. Gadis itu menyela di tengah pembicaraan Ibu Citra dan Pram.


“Terimakasih,” sahut Pram seadanya, menengok pun tidak. Bagi Pram, tidaklah penting ucapan selamat dari Kinar.


Ibu Citra tersentak, baru menyadari kehadiran Kinar di antara mereka. Ada secuil sedih di tengah kebahagiaannya. Bukannya dia tidak tahu, Kinar masih menyimpasn rasa yang sama pada putranya.


“Kinar, tolong siapkan piring bersih untuk Pram,” pinta Ibu Citra, menyadari pasti putranya belum makan siang.


Wanita itu menurut, bergegas ke dapur untuk menyiapkan piring lengkap dengan sendok dan garpunya. Tidak lama, dia sudah muncul kembali dan mempersilahkan lelaki tampan yang masih saja mengisi hatinya.


Empat tahun lamanya Kinar memendam perasaan yang sama. Bahkan, dia sudah jatuh cinta pada Pram, sebelum tahu kalau Pram putra ibu Citra. Dia menyukai Pram pada pandangan pertama, saat lelaki itu muncul di depan pintu rumah, empat tahun yang lalu, di Bali.


“Mama tidak jadi belanja dengan Kailla. Dia tidak boleh kecapekan,” ucap Ibu Citra, sejak tadi dia tidak berhenti bicara. Mengoceh terus seperti kereta api. Terkadang dia bertanya, tetapi akhirnya dia sendiri yang menjawab. Bahkan Pram tidak diberi kesempatan membuka mulut.

__ADS_1


“Katakan pada Kailla, tidak perlu kemana-mana. Mama yang akan membelikan semua kebutuhannya. Menantu mama mau makan apa? Kailla butuh sesuatu?” tanya Ibu Citra, bersemangat.


“Sudah Ma. Kailla tidak butuh apa-apa,” sahut Pram, menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke dalam mulutnya.


Ibu Citra yang baru menghabiskan separuh dari makan siangnya terlihat menyingkirkan piringnya. Terlalu bergembira, perutnya kenyang seketika.


“Kailla mengidam sesuatu?” tanya Ibu Citra, kembali bertanya.


“Tidak. Eh.. dia mau buah mangga,” sahut Pram, santai.


“Kamu sudah mendapatkan mangganya?” tanya Ibu Citra lagi.


Pram hanya menggeleng, sembari menyuapkan sesendok penuh nasi dan cah brokoli ke dalam mulutnya. Baru saja nasi dan sayur itu masuk ke dalam mulut, Ibu Citra sudah memukul punggung Pram kembali. Lebih kencang dari sebelumnya, sontak membuat nasi dan sayuran itu meluncur masuk ke dalam tenggorakan tanpa dikunyah.


“Uhuk..uhuk!” Pram terbatuk.


Kinar yang duduk dihadapan, sontak berdiri dan menyodorkan segelas air putih.


“Ini Mas,” ucap Kinar lembut.


Tanpa banyak bicara, Pram menyambar gelas dari tangan Kinar menghabiskannya sampai tandas. Bahkan karena buru-buru, Pram sempat menyentuh tangan gadis itu tanpa sengaja. Membuat Kinar melambung ke udara. Hanya dengan sentuhan tidak sengaja saja, sudah cukup membuatnya bahagia.


“Anak kurang ajar. Istrimu menginginkan mangga saja kamu tidak sanggup mengabulkannya. Suami macam apa kamu, Pram!” omel Ibu Citra, kesal.


“Bayangkan dulu bagaimana perjuangan papamu sewaktu mama hamil.” Ibu Citra berkata, pikirannya kembali ke masa lalu.


“Memang mama mengidam apa?” tanya Pram, mengerutkan dahi. Setidaknya lebih banyak tahu tentang wanita hamil, Pram memiliki lebih banyak referensi untuk menghadapi Kailla ke depannya.


“Entah kenapa, pria berjambang itu terlihat tampan,” lanjut Ibu Citra.


“Lalu?” tanya Pram penasaran.


“Papamu kan tidak brewokan. Beruntung ada karyawan kantor papa yang memiliki kriteria itu. Jadi mama bisa mengusap brewokannya,” sahut Ibu Citra mengingat kembali hal gila yang pernah dilakukannya sewaktu hamil dulu.


Deg—


Pram menelan ludah. Tidak terbayang, kalau Kailla menginginkan hal seperti itu, apa dia bisa mengikhlaskannya. Berlapang dada merelakan Kailla menyentuh lelaki lain selain dirinya.


“Oh ya, mulai sekarang mama akan sering ke rumahmu untuk menemani Kailla. Sekalian memastikan cucu-cucu mama baik- baik saja,” ucap Ibu Citra. Senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya sejak Pram mengabari kehamilan Kailla.


“Terserah mama saja,” sahut Pram, menatap ke arah Kinar, seakan meminta pengertian mamanya kalau dia tidak mengizinkan Kinar ikut menemui Kailla.


“Mama mengerti, Pram,” ucap Ibu Citra. Cukup paham dengan arti tatapan putranya.


“Kailla mual dan muntah-muntah?” tanya Ibu Citra.


“Iya, dan parah sekali. Tidak banyak makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya. Dia tidak bisa mencium aroma ikan.”


“Kinar, besok pagi ke pasar. Masak yang banyak untuk menantu mama. Dengarkan tadi yang Pram katakan. Jangan memasask ikan untuk menantuku,” pinta Ibu Citra.


“Iya Ma.” Kinar menjawab singkat.


“Besok ya Pram. Mama ke rumahmu,” ucap Ibu Citra, bersemangat.

__ADS_1


“Iya. Yang terpenting mama tidak mengajari Kailla mengidam yang aneh-aneh,” celetuk Pram.


Raut wajah ceria Ibu Citra berubah cemberut. “Apa maksudmu?” tanya Ibu Citra, kembali kesal.


“Kamu pikir wanita hamil itu bisa sengaja mengidam yang aneh-aneh. Itu bawaan bayi, Pram,” jelas Ibu Citra.


“Itu kalau yang hamil dan mengidam istri orang lain, beda lagi kalau istriku,” jawab Pram, tidak mau kalah.


“Kalau Kailla itu beda sendiri, Ma. 30% itu keinginan bayinya, 70% itu keinginan mommynya si bayi,” jelas Pram tertawa.


Bukannya dia tidak paham bagaimana watak Kailla. Bahkan dia tahu jelas, keinginan Kailla yang mau memanjat pohon mangga itu lebih kepada ego dan keinginan untuk mencari perhatiannya.


***


Bentley GT Continental kesayangan Pram masuk ke halaman rumah, saat rembulan sudah keluar dari peraduannya. Dia terpaksa melanggar janjinya pada Kailla untuk pulang cepat. Pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya, memaksa lelaki itu melewati jam makan malamnya.


Beruntung, Kailla cukup mengerti. Tidak marah-marah atau uring-uringan setiap dia pulang malam untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mungkin ini adalah salah satu kelebihan Kailla.


Disaat para istri lain akan mengomel kalau suaminya bekerja keras sepanjang waktu. Kailla ada beribu sabar dan pengertian untuk semua pekerjaan Pram yang menguras energi dan waktu. Bahkan Kailla tidak pernah protes saat Pram harus merelakan liburan akhir pekannya dengan tetap berkantor.


Pram memicingkan mata lelahnya, melangkahkan kaki turun dari mobil. Tatapannya tertuju pada Kailla yang berdiri di teras memandang gelap.


“Kai, kamu belum tidur?” tanya Pram heran, melirik rolex di pergelangan tangan, terekspos karena lengan kemeja yang tergulung sebatas siku. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.


Wajah lelaki itu terlihat lelah, berjalan dengan penampilan acak-acakannya. Menenteng jas yang sudah tidak tergantung di tempat seharusnya. Langkah gontai dengan mata sayu menahan lelah, lapar dan kantuk sekaligus. Begitulah kondisi Pram saat ini.


Kailla bergeming. Seperti biasa, masih memupuk pertengkaran dengan mendiamkan suaminya.


Pram menghentikan langkah kakinya tepat di depan Kailla, merengkuh tubuh mematung itu tanpa permisi. Kecupan mendarat di dahi, pipi dan berakhir di bibir Kailla. Perlakuan manis Pram ditutup dengan sebuah kecupan di perut Kailla


Sejak Kailla hamil, lelaki itu menambah kebiasaan baru. Selalu berpamitan atau pun menyapa bayi-bayinya setiap perjumpaan atau perpisahan dengan sang istri. Dengan memeluk dan mencium istrinya, Pram seolah mendapatkan kembali energinya. Semua lelah, lapar dan kantuk yang mengerogoti tubuhnya lenyap sudah.


“Kai, kenapa masih disini? Kita masuk ke dalam. Ini sudah malam, nanti kamu masuk angin,” ajak Pram.


Kailla masih diam, menatap dalam pekat. Dari arah luar, muncul Sam dengan senyumannya.


“Tidak ada Non, penjual mi tek-teknya tidak jualan hari ini,” jelas Sam tiba-tiba.


Pram yang masih memeluk pinggang Kailla, terkejut.


“Kamu mau mi goreng?” tanyanya, mengerutkan dahi. Membayangkan hal aneh apa lagi yang diinginkan istrinya.


Pram tahu, istrinya tidak sederhana, bahkan disaat hamil pun wanita di pelukannya ini akan memilih hal paling rumit dan membuat kepalanya berdenyut.


***


To be continued


Love you all


Terimaksih


Sore / malam up 1 bab lagi

__ADS_1


__ADS_2