Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 162 : Sarapan kesiangan


__ADS_3

Bunyi ponsel Pram berdering berulang kali, mengusik kesenangannya dan Kailla yang hampir mencapai puncaknya.


“Sayang, suara ponselmu itu berisik,” protes Kailla, masih berusaha menikmati tetapi suara ponsel benar-benar menganggu konsentrasinya.


“Siapa yang begitu tidak tahu diri,” gerutu Pram, ikut terganggu saat melihat istrinya sudah membagi perhatian.


Mata Pram terbelalak, melihat nama mamanya muncul di layar. Dengan kesal mengumpul, lelaki itu menerima panggilan sambil berpacu dengan istrinya.


“Iya Ma,” sahut Pram, dengan nafas tersengal. Setelah menyalakan speaker dan meletakan gawai mahal itu di atas ranjang.


“Ini sudah jam berapa? Aku khusus mengundang kalian menikmati sarapan pagi buatan tanganku langsung. Sudah hampir jam sepuluh, jangankan orang, bayangannya pun tidak kelihatan,” omel Ibu Citra. Suaranya terdengar begitu nyaring, menganggu kesenangan sepasang suami istri yang masih enggan berhenti.


“Mana Kailla?” tanya Ibu Citra dari seberang.


Hening—


Tidak terdengar suara Pram maupun Kailla. Hanya samar kecipak penyatuan mengalun teratur. Pram harus menggigit bibirnya, menahan suara nikmatnya tidak keluar. Sedangkan Kailla menutup mulutnya, menahan desahnya supaya tidak terdengar.


“Pram!!” teriak Ibu Citra, suara menggelegar kembali keluar dari ponsel pintar Pram. Seketika meyedot kedua insan yang sedang melayang ke awang-awang kembali berpijak pada bumi.


“I-iya ... Ma,” suara Pram terbata, menahan hasratnya. Terpaksa berhenti memacu.


“Mana istrimu?” tanya Ibu Citra, dengan polosnya.


Mendengar namanya disebut kedua kalinya, Kailla membuka mulut.


“Aku disini Ma. Ada apa?” tanya Kailla, memejamkan mata, masih menikmati ulah sang suami.


“Kamu ajak mama bicara, aku akan menyudahinya. Sudah sejauh ini, kalau harus mengulang lagi, buang-buang waktu saja.” Pram berbisik pelan di telinga istrinya.


Kailla dengan ekspresi terkejutnya menatap Pram dengan kegilaannya. Disaat seperti ini pun suaminya masih tidak rela berhenti. Belum sempat protes, Pram sudah mulai menyentak kembali inti tubuhnya, seolah tidak peduli dengan suara berisik mamanya. Lelaki matang itu memilih menulikan pendengarannya.


“Kai, jam berapa kalian sampai?” tanya Ibu Citra.


“Ini ... sudah ... mau sampai, Ma.” Pram menjawab asal, berharap mamanya menyudahi. Terbata-bata dengan nafas di ujung raga. Tersengal hebat.


Kailla menggigit bibir, kedua tangannya sudah meremas punggung telanjang suaminya, menancapkan kuku lancipnya di kulit mulus Pram. Sensasi menuju klimaks yang akan dicapainya bersama.


Membuat ibu hamil itu menggila, tidak bisa berkata-kata. Seiring hentakan demi hentakan yang membabi-buta di bawah sana. Memporak-porandakan kesadaran yang hampir diujung batas. Akal sehat Kailla sudah mengembara, menguap entah kemana.


“Pram, jangan terlalu la ....” Suara Ibu Citra kembali terdengar setelah beberapa menit tertahan. Namun, kalimat wanita lansia itu terhenti saat mendengar suara Kailla yang terdengar aneh, bercampur desahan manja memanggil mesra putra semata wayangnya.

__ADS_1


“Ah .... Sayang ....” ucap Kailla mendesah hebat sembari mendekap erat Pram, di puncak nikmatnya.


Sudah tidak peduli lagi dengan mama mertuanya. Dia hampir gila karena ulah sang suami yang membuatnya melambung tinggi saat ini, tertinggal nafas yang terputus-putus dengan wajah bahagia menyiratkan kepuasan hakiki.


Dan Pram menyusul, melenguh menyudahi kerja kerasnya di beberapa menit terakhir. Melupakan sang mama yang menguping di ujung panggilan.


“Aku mencintai kalian, Sayang,” ucap Pram pelan, mengecup kening istrinya setelah mengatur kembali nafasnya. Kecupan di kening itu beralih ke perut telanjang Kailla, dimana bayi-bayinya tertidur pulas.


“Kami juga mencintaimu,” sahut Kailla, dengan nafas naik turun yang belum sempat diredakannya.


Ibu Citra yang masih betah menguping, hanya bisa mengelus dada. Suara-suara aneh yang didengarnya barusan cukup menjawab apa yang terjadi pada anak dan menantunya. Entah siapa yang gila dan tidak tahu diri disini. Wanita itu memilih mengalah, mematikan sambungan ponselnya diam-diam dalam kesalnya.


***


Kailla dan Pram baru tiba di rumah mamanya saat menjelang tengah hari. Undangan sarapan pagi terlewatkan dan Pram tahu sebentar lagi akan mendengar teriakan nyaring Ibu Citra saat mereka melangkah masuk ke dalam rumah.


“Ma ....” Pram menyapa, disusul Kailla yang mengekor di belakang dengan menenteng kotak makanan berisi bakwan sayuran buatan tangannya sendiri.


“Main berapa ronde sampai jam segini baru sampai?” tanya Ibu Citra ketus, tangannya terlipat di dada dengan tatapan tajam.


Keduanya menelan saliva bersamaan. Kailla merona malu dan tertunduk, saat rahasia tempat tidurnya dibahas mama mertuanya. Berbeda respon dengan Pram, lelaki itu tampak santai.


“Jangan-jangan masa muda mama lebih luar biasa lagi!” lanjut Pram. Kali ini sanggup membuat Ibu Citra menahan malu.


Lelaki itu sudah berjalan menuju ke ruang makan, menatap meja makan yang sudah penuh dengan makanan.


“Mama masak sendiri? Atau ....”


“Mama masak sendiri, Mas.” Kinar memotong perkataan. Gadis itu baru saja membuatkan kopi hitam kesukaan Pram.


“Ini kopinya,” ucap Kinar meletakan secangkir kopi ke atas meja.


“Terimakasih.”


Kailla yang ikut menyusul sampai terperanjat menatap makanan semeja penuh. Tidak percaya kalau semua adalah masakan sang mama mertua.


“Untuk apa masak sebanyak ini, Ma?” tanya Pram heran, mengernyitkan dahi.


“Mama mau minta dibelikan tas seperti punya Kailla,” ucap Ibu Citra, tiba-tiba sudah berdiri di belakang putra dan menantunya.


“Ya ampun, Ma. Kalau cuma minta dibelikan tas, tidak perlu repot-repot memasak,” ucap Pram. Laki-laki 44 tahun itu sudah menarik kursi untuk istrinya dan mempersilakan Kailla menikmati makanan di atas meja. Kemudian, dia sendiri menyusul duduk di sebelah.

__ADS_1


Ibu Citra melotot, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Aku memberi Kailla hadiah itu untuk menghargai niatnya untuk belajar dan mulai paham akan tugas-tugas utamanya sebagai istri,” jelas Pram, mengambil piring kosong.


Baru saja akan mengisinya dengan nasi putih, tetapi Kailla sudah mengambil alih. Mengisi piring suaminya.


“Lagipula jangan dinilai harganya yang fantastis untuk semangkok sayur bening dan telur dadar. Aku memberi hadiah yang disukainya. Andaikan istriku menyukai kelereng, tentu saja aku akan menghadiahkannya sebuah kelereng,” lanjut Pram tergelak.


“Jadi?” tanya Ibu Citra.


“Tas apa yang mama inginkan? Untuk apa mengumpulkan tas sebegitu banyaknya. Bukankah tas mama sudah banyak?” tanya Pram.


“Ambil saja punya Kailla, mana yang mama mau. Istriku tidak akan keberatan. Bukankah begitu, Sayang?” tanya Pram memastikan.


Kailla mengangguk, meletakan sepiring penuh makanan ke hadapan Pram.


“Terimakasih, Sayang,” ucap Pram, meraih tengkuk istrinya yang begitu penurut dan menghadiahkan sebuah kecupan hangat di dahi.


Ibu Citra sudah menjatuhkan tubuhnya di kursi tepat di depan putra dan menatap dua orang di depannya. Dan Pram, lelaki itu menatap lekat pada mamanya.


“Kailla memang putri Riadi, seorang pengusaha property dengan kekayaan yang tidak bisa dibilang sedikit. Istriku sejak kecil hidup bergelimang harta, tetapi aku akui untuk ukuran putri orang kaya, Kailla masih terbilang biasa-biasa saja.” Pram membuka suara. Di merasa perlu menjelaskan agar mamanya tidak salah paham dan mengira Kailla selama ini hanya menghabiskan uangnya.


Kailla makan seperti orang biasa, dia hidup seperti orang kebanyakan. Dia masih makan bakso gerobakan. Dia bergaul dengan orang biasa. Bahkan dia jarang makan di restoran mewah, tidak pernah jalan-jalan ke luar negri. Satu-satunya yang membuat dia tampak berkelas hanya karena hobinya mengoleksi tas mewah,” jelas Pram.


“Itu pun bukan untuk gaya-gayaan, tetapi karena dia memang menyukainya. Hanya disimpan di lemari kamar. Apa salah, aku sebagai suami membuat istriku senang. Selama bersamaku, dia tidak meminta apapun, tidak menuntut apapun. Bahkan dia pernah peduli dengan semua aset-aset miliknya.”


Pram menyudahi ceramahnya, sembari tersenyum menatap istrinya. “Habiskan makananmu, Sayang. Anak-anak kita butuh asupan yang banyak di dalam sana,” ucap Pram tersenyum.


Ibu Citra hanya bisa melongo sembari mencerna kata-kata Pram. Tidak bisa berkata-kata lagi, memilih diam.


Kesibukan di meja makan selanjutnya hanya diisi dengan suara denting sendok dan garpu yang berbentur dengan piring keramik. Hingga tiba-tiba bunyi dering ponsel memecahkan keheningan.


Alis Pram bertemu, menyipitkan pandangannya. Memastikan nomor panggilan di layar ponsel sebelum menempelkan benda persegi tipis itu di telinganya.


“Iya, selamat siang,” sapa Pram dengan suara datarnya, fokus mendengarkan informasi yang disampaikan si penelepon dari seberang.


Sedetik kemudian, pandangan Pram membeku menatap istrinya. Raut wajah tenang itu berubah pucat, langsung memeluk istrinya yang tidak tahu apa-apa.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2