
Pram masuk ke kamarnya dengan membawa kotak P3K. Perih melepuh terkena siraman air panas tidak sesakit saat Kailla mengucapkan kata bahwa wanita itu membencinya. Hati teramat sakit kala Kailla meneriakan kata-kata menyesal sudah menikah dengannya.
Sembari mengoles salep di kulit dadanya yang memerah, ucapan Kailla terngiang kembali. Kalau bisa mundur, dia akan mundur sejak dulu. Ah, rasanya jadi lelaki tidak tahu diri. Mungkin dulu harusnya dia tidak menerima pernikahan ini. Dia bisa memaksa hatinya, tetapi tidak dengan hati Kailla.
Selesai mengoleskan salep, lelaki itu melangkah ke jendela kamarnya. Merendam kerinduannya pada hangatnya tubuh Kailla. Perlahan menyibak gorden putih kamarnya, menatap pemandangan kota Wina di kala malam.
Aroma musim dingin begitu kentara. Disaat malam seperti ini jalanan begitu sepi, semua orang memilih menghangatkan tubuhnya dibalik selimut atau berpelukan di depan perapian.
“Aku merindukanmu, Kai,” bisik Pram pelan, mengusap noda memerah bekas tumpahan air panas buah dari kebencian Kailla padanya.
Dia memang sudah terbiasa dengan tanda merah di sekitaran dadanya, tetapi itu adalah hasil kreasi Kailla, tepatnya tanda cinta istrinya. Bukan seperti saat ini.
Lelaki empat puluhan itu kembali ke ranjang dinginnya. Mungkin hampir dua puluh empat jam, Kailla menolak menidurinya, memilih tidur di mamanya. Perlahan mengusap sisi yang biasanya ditiduri Kailla.
“Apa dia bisa tidur tanpa pelukanku,” ucap Pram pelan.
Tersenyum mengingat di hari pertama bermalam di kota Wina. Kala mamanya mengganggu, dan Kailla harus rela berbagi ranjang dengan mertuanya. Pram harus bersusah payah membuat istrinya tertidur, harus rela duduk berjam-jam disisi ranjang demi mengusap punggung Kailla.
“Benar-benar tidak nyaman,” keluh Pram, melirik sekilas jam di atas nakas. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tanpa sadar, dia meratapi nasibnya ditinggal Kailla tidur sendirian sudah lebih dari dua jam.
Dengan membulatkan tekad dan menembalkan muka, dia meraih kaos tidurnya kembali. Segera mengenakan dan bergegas menuju kamar mamanya. Sudah tidak peduli dengan kemarahan Kailla yang memuncak, saat ini yang terpenting di harus melihat istrinya, meskipun tidak bisa menyentuhnya.
“Aku bisa gila kalau tidak bisa melihat dan memastikannya baik-baik saja.”
Pergerakan langkahnya membuat luka memerah di dadanya nyeri seketika saat bergesekan dengan pakaiannya.
“Ssshhhh!” desah Pram setiap pakaian tidur itu tanpa sengaja menyentuh kulitnya.
Pintu kamar tidur itu perlahan terbuka, dengan mengendap-endap Pram masuk ke dalam. Hal pertama dilihatnya adalah sang mama yang masih terjaga dengan Kailla yang tidur dalam keresahan. Itu terlihat jelas, dari pergerakannya yang hampir lima menit sekali berganti posisi.
“Ma, kenapa belum tidur?” bisik Pram pelan, tidak mau Kailla terganggu.
“Mama tidak bisa tidur. Istrimu krasak krusuk seperti cacing kepanasan,” keluh Ibu Citra berbisik pelan, menunjuk ke punggung Kailla yang meringkuk membelakanginya.
“Aku tidur disini saja,” bisik Pram, melangkah mendekati istrinya.
Memilih duduk di lantai berlapis kayu berkarpet bulu, supaya bisa leluasa menikmati wajah Kailla yang tertidur. Tangan kekar itu langsung mengusap lembut punggung istrinya, sembari mencuri kecupan tipis dan ringan di bibir yang terkatup rapat.
Pemandangan yang akhir-akhir ini sering dilihat Ibu Citra. Dulu, dia tinggal terpisah dengan Pram, jadi tidak banyak tahu keseharian Pram seperti apa. Putranya itu hanya sesekali datang mengunjunginya di kala senggang.
__ADS_1
Tetapi, sakitnya membawa hikmah. Bisa dikatakan seperti itu. Hubungannya dengan Kailla mulai membaik, meskipun luka karena dendam masa lalu itu belum sepenuhnya sembuh. Dia jadi tahu kehidupan rumah tangga putra dan menantunya seperti apa.
“Pram, apa yang terjadi?” tanya Ibu Citra, berbicara pelan takut suaranya mengusik tidur Kailla.
“Aku tidak tahu, kata-kataku yang mana yang menyakiti hatinya. Tetapi aku memarahinya kemarin di rumah sakit,” sahut Pram, tersenyum. Tangan kirinya terus mengusap lembut punggung Kailla, tidak mengenal lelah sejak tadi. Dia ingin membuat istrinya tertidur nyaman.
“Istrimu itu tidak terima dibanding-bandingkan dengan wanita lain.” ucap Ibu Citra.
“Benarkah?” Pram tersenyum, dengan tangannya yang lain, menyusuri lekuh wajah cantik yang begitu sederhana dan penuh kelembutan disaat lelap. Jauh berbeda di kala terjaga, Kailla bisa menjadi beringas di saat tidak menyukai sesuatu.
Pram tertunduk malu. “Aku salah, kemarin aku terlalu terbawa emosi,” ucap Pram, mengakui kesalahannya pada sang mama. Bukan hanya itu, rasanya malu diumurnya yang setua ini, harus membuat mamanya menyaksikan pertengkaran di dalam rumah tangganya.
“Pram, apa yang kamu pikirkan tentang istrimu? Mama heran, apa yang membuatmu bisa bertahan bersamanya selama ini. Jujur saja, mama tidak yakin itu hanya karena cinta. Cinta tidak membuat orang sebuta ini. Istrimu terkadang kelewatan, tidak mau belajar sama sekali, tidak mau melihat kesalahannya sendiri,” jelas Ibu Citra.
Lama Pram terdiam, sebelum akhirnya menjawab. “Aku mencintainya dan aku bertanggungjawab padanya. Mamanya dan Daddy menitipkannya padaku.” sahut Pram.
“Kalau pun aku tidak mencintainya, aku tetap harus bertahan. Karena aku sudah menerima tanggung jawab itu,” lanjut Pram, mengusap lembut wajah Kailla, sembari tersenyum.
Senyum kecil tampak di sudut bibir Ibu Citra. “Riadi licik sekali, dia tahu tidak semua orang sanggup menghadapi putrinya. Makanya dia memintamu melakukannya. Dia sudah mengenal sifatmu, makanya dia mempercayakannya padamu,” ucap Ibu Citra.
“Sejauh ini, Kailla belajar banyak untuk menjadi dewasa. Walau terkadang keluar dari kontrolnya. Kalau dulu saat ada sesuatu yang tidak disukainya, dia akan memberontak sekali. Melakukan hal-hal yang mungkin tidak orang lain pikirkan. Apa yang terlintas saat itu, dia akan langsung melakukannya, tidak berpikir dua kali. Riadi terlalu keras padanya. Sejak awal kesalahannya di sana.”
“Sampai kapan bertahan dengan rumah tangga seperti ini. Kalau sudah tidak sanggup, lepaskan saja. Mungkin ada orang yang lebih tepat untuk menjaganya, tetapi mungkin bukan kamu, Pram. Demi kebaikan kalian.”
“Ma...”
“Rumah tangga seperti apa ini. Jujur mama tidak bisa tenang. Dia sama sekali tidak mau mengalah, Pram. Dia keras sekali. Terlepas dari kamu yang lepas kontrol, mengeluarkan kata-kata yang mungkin menyakitinya,” ucap Ibu Citra.
“Aku kemarin kesal padanya, karena dia keluar tanpa izin. Itu saja, aku tidak menyalahkan untuk sakitnya mama,” jelas Pram.
“Mama tidak tahu bagaimana kamu menerapkan aturan pada istrimu. Kalau begitu mama juga bersalah kemarin ikut keluar bersama istrimu,” sahut Ibu Citra.
“Iya, harusnya Kailla lebih tahu. Sudah berulang kali, diingatkan. Tidak bisa keluar sembarangan, tanpa izin dan tanpa pengawalan. Bukan berarti aku tidak mengizinkan dia sama sekali,” jelas Pram.
“Mama tidak bisa membayangkan, akan seperti apa ke depannya. Setiap saat harus mengurusinya yang seperti anak kecil dan mengalah terus padanya,” celetuk Ibu Citra.
“Ma, rumah tangga itu bukan perlombaan. Ada yang menang dan ada yang kalah. Siapa pun yang sanggup bertahan, lebih banyak mengalah dan berani meminta maaf terlepas siapapun yang bersalah, dialah pemenang sebenarnya,” ucap Pram pelan.
“Kalau Kailla mau menang sendiri, berarti disaat itu aku harus mengalah. Tetapi, dia juga banyak mengalah untukku. Tolong hargai juga pengorbanannya selama ini untuk tetap setia disisiku. Dia bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih muda, kalau dia mau. Namun, dia bertahan, untuk tetap di sampingku.”
__ADS_1
“Ma, tidur saja. Ini sudah terlalu malam,” pinta Pram, menatap jam yang tergantung di dinding kamar. Sudah terlalu larut untuk setua mamanya tetap terjaga.
Ibu Citra terlihat duduk, menurunkan kedua kakinya ke lantai. “Temani mama tidur di sebelah. Setelah mama tertidur, kamu boleh menemani istrimu disini,” pinta Ibu Citra.
“Mama tidak berani kalau harus tidur sendiri, istrimu itu bercerita padaku kemarin, unit yang kita tempati ini banyak aura mistisnya,” adu Ibu Citra.
“Hahaha.. sebenarnya mama dan Kailla itu memiliki banyak kesamaan. Cobalah saling menerima, aku yakin mama akan menyukainya. Bahkan mencintainya. Mama akan melihat mama sendiri di dalam dirinya.”
“Terimakasih Ma, sudah mau menerima istriku di dalam hidupmu,” lanjut Pram, bergegas memeluk mamanya.
“Aku mencintai Kailla, sangat mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Tetapi aku sudah menyiapkan hati sejak jauh-jauh hari, di saat dia tidak bahagia bersamaku, aku harus siap melepasnya untuk lelaki mana pun yang bisa membahagiakannya. Aku sudah berjanji padanya.”
“Saat itu terjadi, pulanglah ke rumah. Mama menunggumu,” ucap Ibu Citra, menitikan air matanya , sembari menepuk punggung putranya. Masa depan seperti apa yang ada di jalan hidup putranya.
“Mama tidak peduli dengan semua harta dan perusahaan yang direbut Riadi dari keluarga kita. Mama sudah mengikhlaskannya. Cukup putra mama yang kembali.”
“Riadi itu tidak memiliki apa-apa, dia hanya gelandangan yang dinikahi kakakku. Semua yang dimilikinya sekarang adalah milik keluarga Pratama Indraguna. Bahkan kalau dia mengembalikan semua aset dan perusahaannya padamu, itu belum cukup membayar hutangnya pada keluarga kita.”
“Jangan pernah merasa terikat budi yang berlebihan pada Riadi. Dia mengadopsi dan merawatmu dari jalanan, mewariskan semua aset perusahaan itu upaya penebusan dosanya. Dia sendiri yang membuangmu dan dia sendiri yang merawatnya kembali. Perusahaan itu memang seharusnya milikmu. Bahkan apa yang dimiliki istrimu sekarang itu milikmu.”
Pram terperanjat mendengar ucapan mamanya. Selama ini mamanya tidak pernah membahas mengenai sepak terjang mertuanya.
“Kalau mama mau, bisa saja membuat istrimu menjadi gelandangan dalam sekejap dan Riadi membusuk di penjara. Tetapi mama tidak melakukannya.”
“Belasan tahun yang lalu, Riadi pernah datang menemui mama. Dia sudah mengakui semua kesalahannya, bahkan berlutut di kaki mama. Kailla masih kecil, menunggu di dalam mobil.”
“Mama menolak untuk memaafkannya, tetapi sekarang mama harus menerimanya karena istrimu,” ucap Ibu Citra.
Ingatan Pram berputar mundur. Dia masih mengingat jelas ucapan pengacara pribadi Riadi. Yang mengatakan kalau ketika Riadi mengadopsinya, dia langsung mewariskan semua aset dan perusahaan kepadanya. Apa benar yang dikatakan mama, itu semua bentuk penebusan dosa seorang Riadi Dirgantara.
“Suatu saat mungkin akan ada orang yang memberikan buktinya padamu. Pada saat itu, mama tidak tahu kamu masih bisa mencintai istrimu sebesar sekarang atau tidak. Kalau sekarang kamu bisa saja mengatakan mama hanya bicara tanpa fakta.”
“Tetapi terlepas dari semua itu, mama ikhlas menerima Kailla sebagai menantu mama karenamu,” bisik Ibu Citra.
***
To be continued
Love you all
__ADS_1
Terima kasih.