
Pram masuk ke dalam kamar dengan pikiran bercabang. Masih dengan mendekap rangkaian bunga berukuran raksasa, pikirannya menerawang. Bahkan dia tidak mendengar suara Ibu Citra yang memanggil namanya beberapa kali.
“Pram..!” panggil Ibu Citra untuk kesekian kali.
“Apa yang terjadi?” tanyanya. Heran dengan sikap Pram yang tidak biasa.
“Tidak ada, Ma,” sahut Pram, meletakan rangkaian bunga mawar merah ke atas meja.
Tatapan Ibu Citra tertuju pada rangkaian mawar merah. Matanya menyipit, berusaha mencari tahu apa yang terjadi.
“Itu apa, Pram?” tanya Ibu Citra. Telunjuknya mengarah pada buket bunga yang terlihat mewah, tergeletak begitu saja.
“Oh! Itu milik Kailla.” Pram menjawab singkat, kembali mendekati rangkaian bunga, meraih kartu ucapan dan menyimpannya di saku celana. Dia tidak ingin sampai mamanya tahu kalau ada seseorang mengirimi bunga untuk istrinya. Itu akan membuat mamanya semakin tidak menyukai Kailla.
“Kamu membeli bunga untuk istrimu, tapi tidak membelikan untuk mama,” keluh Ibu Citra, menunjukan rasa cemburunya.
“Besok aku akan meminta Bayu membelikannya untuk mama.”
Mendengar jawaban putranya, Ibu Citra bukannya senang, tetapi malah kesal sendiri. Merasa diabaikan dan dinomorduakan oleh putranya sendiri.
“Tidak perlu. Nanti mama akan meminta Kinar membelikannya. Sama saja,” sahut Ibu Citra. Nada bicaranya terdengar kesal.
Pram tersenyum, melihat kecemburuan yang terlihat di wajah mamanya.
“Ah..! Mamaku cemburu buta,” celetuk Pram penuh canda, memeluk erat Ibu Citra.
“Mama jangan iri pada istriku. Aku mencintai kalian sama besarnya,” bisik Pram. Belum lepas pelukannya, dari arah pintu muncul Kailla menenteng bungkusan berisi kotak makanan.
Wajah suntuk karena terjebak macet di jalan mendadak berubah ceria saat melihat rangkaian mawar di atas meja.
“Sayang, maaf aku terlambat,” ucapnya. Tidak lupa menyunggingkan senyum sempurna untuk mama mertuanya.
“Ma, aku sudah membelikan nasi tim pesanan mama,” lanjut Kailla lagi. Sudah tidak sabar mengamati dari dekat keindahan bunga yang mencuri perhatiannya sejak awal masuk ke dalam kamar.
“Bu, tolong siapkan makan siang untuk suamiku ya,” perintahnya pada Ibu Ida yang sedang menonton televisi 32 inch yang tergantung di dinding kamar bercat cream.
“Sayang, kamu membelikannya untukku?” tanya Kailla. Bergegas menghampiri rangkaian bunga, mengangkatnya tinggi, memperhatikan dari segala sisi. Rasanya aneh, tidak biasanya Pram menjadi semanis ini. Dia ingat bagaimana Pram bahkan melupakan cincin pertunangan mereka.
Pram sosok yang penyayang, pengertiaan dan manis tapi untuk hal yang berbeda. Belum pernah ada di dalam sejarah pernikahan mereka sebuah rangkaian bunga atau coklat di hari-hari spesial. Bahkan sering kali Pram melupakan ulang tahun, baik ulang tahunnya ataupun ulang tahun pernikahan. Suaminya bukanlah sosok yang memperhatikan detail seperti itu.
__ADS_1
“Kamu menyukainya?” tanya Pram, masih berdiri di sisi ranjang.
“Sangat. Terimakasih Sayang.” Kailla sudah berlari memeluk pinggang sembari mengecup pipi suaminya. Melupakan kehadiran Ibu Citra di antara mereka.
“Aku mencintaimu,” bisik Pram di sela pelukan istrinya.
Ibu Citra yang disuguhkan pemandangan yang hampir sama setiap hanya bisa diam. Entah apa yang harus dilakukannya. Tetap menuruti egonya atau mengalah demi kebahagiaan putranya. Sejauh ini, dia belum mengambil sikap. Hanya mengikuti alur kehidupan yang sudah ada di depan matanya saja.
“Ma, aku makan disebelah saja ya?” pinta Pram, hatinya tidak tenang. Ingin segera membahas si pengirim bunga misterius itu dengan Kailla.
“Kenapa harus di sebelah. Makan disini saja. Kita jarang ada waktu bersama, Pram. Mama mohon,” tolak Ibu Citra dengan wajah memelasnya. Siapa saja yang melihat, akan luluh dan tidak tega. Dan pada akhirnya, Pram pun mengalah. Setidaknya menyenangkan hati sang mama untuk kali ini.
***
Pram dan Kailla sedang di duduk di sofa setelah menyelesaikan makan siang. Lebih tepatnya, Kailla sedang duduk di sofa menonton youtuber favoritenya dengan Pram yang berbaring, meluruskan tubuh dan menjadikan pangkuan Kailla sebagai bantalnya. Dengan posisi seperti ini, Pram melihat jelas raut wajah istrinya. Apalagi saat Kailla sedang menunduk seperti saat ini.
Terlihat lelaki itu sebentar-sebentar menatap jam di pergelangan tangannya. Jam makan siangnya sebentar lagi akan berakhir. Itu artinya dia harus segera kembali ke kantor. Tetapi perasaannya tidak tenang. Dia tidak bisa bekerja sebelum membicarakannya dengan Kailla.
Cemburu? Tentu saja! Suami mana yang tidak cemburu kalau di posisinya. Tapi logikanya masih berjalan di tempat. Kalau istrinya berbuat kecurangan di belakangnya, tidak mungkin berani terang-terangan seperti ini. Tapi kenyataannya, rangkaian bunga itu ditujukan untuk Kailla adalah fakta. Dia harus mencari tahu yang sebenarnya terjadi.
Sejak masuk ke dalam kamar, pikirannya sudah mengembara kemana-mana. Nama Ditya Halim Hadinata itu terus mengganggu, berputar-putar tidak mau pergi. Nama yang tidak asing, seperti pernah mendengar tetapi tidak tahu dimana.
“Kai, kamu tidak berselingkuh dariku, kan?” tanya Pram. Menatap lekat ke manik mata istrinya yang tertunduk tiba-tiba saat pertanyaan itu keluar dari bibirnya.
Sebuah kartu ucapan keluar dari kantong celana, Pram langsung menyerahkannya pada Kailla.
“Bunga itu bukan dariku,” jelas Pram pelan. Berbisik supaya suaranya tidak terdengar oleh mamanya.
Tidak membiarkan Kailla bertanya lebih jauh lagi, lelaki itu sudah mengambil posisi duduk, dengan sigap meraih tengkuk dan melu”mat bibir istrinya.
“Kai, balas ciumanku. Kita harus mencari alasan supaya kita bisa keluar dari sini. Kamu dengar sendiri, sejak tadi mama tidak mengizinkan kita meninggalkan kamar. Aku perlu membahasnya denganmu,” bisik Pram di sela ciumannya.
Kailla menurut, mengikuti kemauan suaminya. Hampir lima menit berciuman, Pram mencuri pandang ke arah mamanya yang sedang fokus dengan acara televisinya. Ibu Ida sengaja diperintahkannya kembali ke rumah untuk membawa baju kotor bersama Sam.
“Kai, tolong mendesah sekarang!” bisik Pram lagi. Mamanya masih saja sibuk dengan tontonannya, melirik mereka pun tidak.
“Aku tidak mau. Ini memalukan!” gerutu Kailla, memukul pelan dada suaminya.
Karena Kailla menolak, Pram terpaksa mencari cara lain untuk mengalihkan konsentrasi mamanya. Kakinya langsung menendang kasar meja di depan mereka.
__ADS_1
Brakkk!!!
Suara derit meja kayu yang bergesekan dengan lantai granit terdengar nyaring. Ditambah dengan botol mineral yang terguling jatuh dari meja membuat suara semakin berisik.
“Pram, jangan gila lagi!” Omel Ibu Citra mengalihkan pandangannya dari layar televisi. Dia lagi-lagi dipaksa menonton adegan mesum putranya.
“Maaf, Ma. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku pamit ke sebelah dulu. Perlu pelampiasan,” ucap Pram asal, menarik tangan Kailla mengikuti langkahnya. Sebelum keluar, Pram masih sempat membawa rangkaian bunga mawar bersamanya.
Ibu Citra hanya bisa mengelus dada. Putra dan menantunya terlihat keluar dengan tergesa-gesa.
“Ckckckck. Aku dan papamu pernah muda, tapi tidak segila ini. Menurun dari siapa ini,” ucapnya pelan.
***
Saat keduanya sudah berada di kamar lain. Pram langsung menginterogasi istrinya. Banyak pertanyaan yang sudah butuh jawaban sejak tadi.
”Kai, katakan padaku. Siapa Ditya Halim Hadinata?!” tanya Pram, melempar kasar rangkaian bunga ke atas meja.
Sejak tadi, dia berusaha menahan emosinya. Tidak mau terlihat bermasalah dengan Kailla di depan mamanya.
“Aku tidak mengenalnya,” sahut Kailla bingung. Membaca ulang kartu ucapan di dalam gengaman tangannya.
“Jangan berbohong padaku. Kemarikan ponselmu!” perintah Pram. Untuk pertama kalinya, dia mengecek sendiri ponsel istrinya. Empat tahun pernikahan, bahkan dia tidak pernah menyentuh ponsel rose gold milik Kailla.
Kailla menurut, mengeluarkan ponsel dari saku dress katunnya. Tidak membantah sama sekali. Dia cukup mengerti kalau Pram saat ini mencurigainya.
“Dimana kamu bertemu dengan lelaki ini?” tanya Pram. Tangan dan matanya masih sibuk mengacak-acak ponsel istrinya. Dari pesan masuk, chat, panggilan masuk dan keluar bahkan galeri pun dicek satu per satu oleh Pram.
“Katakan dimana kamu mengenalnya? Tidak ada laporan dari asistenmu kalau kamu bertemu dengan lelaki selama ini,” tanya Pram, mengembalikan ponsel ke pemiliknya. Setelah yakin tidak ada yang mencurigakan di dalam ponsel pintar itu.
“Aku tidak mengenalnya. Bahkan aku baru pertama kali mendengar namanya,” jawab Kailla, berusaha menjawab sejujur-jujurnya.
Pram tidak menjawab, hanya menatap. Mencari kejujuran dari raut wajah polos Kailla. Jujur dia bingung. Tetapi, melihat bahasa tubuh dan cara menjawab Kailla saat ini, dia yakin istrinya tidak berbohong.
“Ikut aku ke kantor. Biarkan Ibu Ida dan Sam yang menjaga mama,” titah Pram. Dia tidak bisa meninggalkan Kailla di rumah sakit, sampai mendapat kejelasan siapa si Ditya Halim Hadinata. Lelaki yang bahkan tahu keberadaan Kailla di rumah sakit. Dia tidak mau mengambil resiko lagi. Ada banyak musuhnya di luar, nyawa Kailla di atas segalanya.
***
To be Continued
__ADS_1
Love you All
Terima kasih.