Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 58 : Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Pram sudah melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya, melempar asal di pojok kamar mandi. Setelahnya tersenyum menatap Kailla yang bahkan tidak terpengaruh pada aksinya. Istrinya masih duduk di atas meja wastafel dengan kaki bersila.


“Kai, kamu tidak tertarik padaku?” tanyanya, berdiri tepat di depan istrinya, merentangkan kedua tangannya, memamerkan tubuhnya yang masih mengotak diusia yang tidak muda lagi.


Kailla hanya menggeleng, menatap sekilas. Tidak berminat sama sekali.


“Kamu tidak tergoda, Kai?” tanya Pram heran.


Dia berusaha mengalihkan pandangan istrinya dari ponsel yang entah sejak kapan dibawa masuk ke dalam kamar mandi. Pram terlalu sibuk menyiapkan air hangat di bath-up sejak tadi, tidak memperhatikan apa yang dilakukan istrinya di belakang.


“Aku sudah bosan melihatnya. Tidak ada yang menarik lagi,” sahut Kailla dengan santai, malah sibuk memandang foto aktor tampan di instagram sang idola.


“Kamu berani selingkuh di depanku, Kai!” ucap Pram menggelengkan kepala.


“Dia ini lebih menggoda, Sayang,” sahut Kailla tertawa, menunjukan layar ponselnya pada sang suami.


“Dia cukup bertelanjang dada, aku sudah gila. Kalau dia berpose sepertimu sekarang, aku bisa tidak sadarkan diri,” ucap Kailla, geregetan sendiri, membayangkan sang aktor.


Pram bergegas masuk ke dalam bath-up, tidak mau mengganggu kesenangan istrinya.


Empat tahun hidup bersama, Pram sudah hafal betul sifat istrinya. Dari hal terkecil sampai hal terbesar, dia sudah paham semua.


Dia tidak pernah protes lagi seperti di awal pernikahan saat Kailla lebih memilih memasang wallpaper sang aktor di layar ponselnya, ketimbang fotonya. Bahkan kalau dihitung, akan lebih banyak foto oppa-oppa Korea itu dibanding fotonya di galeri ponsel Kailla.


Lama hening dan tidak bersuara, akhirnya Pram mengajak Kailla berbincang.


“Kai, kamu sudah lama tidak menjenguk daddy?” tanya Pram sudah memejamkan matanya, menikmati hangatnya air yang menyentuh sekujur tubuhnya.


“Iya, hampir seminggu aku tidak ke rumah sakit. Besok aku akan mengajak Sam kesana,”sahut Kailla, tiba-tiba sudah berdiri di samping bath-up.


“Eitsss! Apa yang kamu lakukan, Kai?” tanya Pram heran, saat melihat Kailla menaburkan ramuan aneh ke bak mandinya.


“Ini herbal bath, Sayang,” sahut Kailla, menjelaskan. Tangannya sudah mengaduk-aduk supaya dedaunan kering itu merata, memenuhi bath up tempat suaminya berendam.


“Fungsinya untuk apa ini, Kai?” tanya Pram, masih tidak terima ada benda aneh bercampur dengan air mandinya.


“Ini lagi dicoba apa fungsinya Sayang. Aku belum mencobanya. Baru kemarin dikirim ke rumah,” sahut Kailla dengan santai.


“Kai....” Pram terbelalak, menahan tangan istrinya yang hendak beranjak pergi.


“Kamu tidak tahu kegunaannya untuk apa, tapi kamu malah membelinya,” gerutu Pram kesal.


“Sayang aku ingin mencobanya, tapi setelah mengingat umurku baru 24 tahun. Aku memutuskan membiarkan kamu yang mencobanya terlebih dulu. Kalau terjadi apa-apa, setidaknya tidak terlalu ada penyesalan.” Kailla terbahak setelah melontarkan ucapannya.


“Kai, apa maksudnmu?” tanya Pram, menatap tajam istrinya.


“Sayang, aku masih muda. Masa depanku masih panjang. Negara ini masih butuh kontribusiku sebagai generasi muda penerus bangsa,” sahut Kailla asal. Tawanya kian pecah.


“Berbeda denganmu yang sudah hampir.... eh lima puluh.” ucap Kailla menunjukan lima jari pada suaminya.


“Aku belum setua itu, Kai,” tolak Pram.


“Sekarang kamu sudah empat puluh empat. Hanya butuh enam langkah lagi, sudah lima puluh,” celetuk Kailla. Sambil memperagakan langkah dan menghitung sebanyak enam kali, semakin membuat Pram kesal.


“Aku akan menggigitmu sekarang,” sahut Pram mulai kesal dengan keusilan istrinya.

__ADS_1


“Tidak, aku bercanda. Ini bagus untuk kesehatan,” ucap Kailla, serius.



“Ya sudah, sana! Jangan ganggu acara berendamku, kalau kamu tidak berniat ikut masuk ke dalam juga,” ucap Pram, mulai memejamkan matanya kembali.


“Atau kamu mau masuk disini, berbagi kehangatan denganku,” tawar Pram lagi.


“No!” Jawaban singkat, padat dan jelas dari Kailla.


Dia sudah kembali menuju ke kamar, saat suaminya kembali bersuara.


“Kai, kenakan lingerie merah yang aku belikan untukmu minggu lalu ya,” teriak Pram.


Hening, tidak ada lagi jawaban. Kailla sudah merebahkan dirinya. Pura-pura tidak mendengar permintaan sang suami.


***


Suara dering ponsel mengganggu tidur kedua suami istri itu. Pram yang lebih dulu terjaga, segera meraih ponsel di atas nakas. Masih belum menyadari saat itu masih tengah malam. Mereka baru saja tertidur karena kelelahan setelah melakukan proyek investasi bersama.


“Hallo,” sapa Pram dengan suara serak. Masih dengan mata mengantuk, menempelkan ponsel di telinganya. Entah berita apa yang disampaikan si penelepon, Pram hampir menjatuhkan ponselnya karena terkejut. Mata mengantuk itu langsung terjaga seketika.


“Kai, bangun Sayang!” panggil Pram panik. Sudah berlari ke walk in closet mencari pakaiannya.


“Sayang, bangun!” panggil Pram setengah berteriak. Kedua tangannya terlihat sibuk mengenakan kaos dan celana panjangnya hampir bersamaan.


“Kai, bangun Sayang,” panggil Pram menepuk wajah istrinya. Dia harus buru-buru ke rumah sakit. Mamanya tidak sadarkan diri.


“Sayang, bangun!!” panggil Pram kencang. Langsung mel*umat bibir istrinya dengan kedua tangan ikut meremas gundukan kembar di dada Kailla, berharap bisa membangunkan Kailla yang sudah terlelap karena kelelahan melayaninya.


“Sayang, aku harus ke rumah sakit sekarang,” jelas Pram, dengan wajah khawatir. Mengusap lembut wajah Kailla dengan kedua tangannya.


“Ada apa?” tanya Kailla yang masih mengantuk, dengan suara serak khasnya. Matanya masih enggan membuka.


“Mama tidak sadarkan diri, aku sudah meminta Kinar membawanya ke rumah sakit. Sekarang aku harus segera menyusul,” jelas Pram.


“Aku pamit, Sayang,” ucap Pram, mengecup kening istrinya sekilas.


“Sayang, aku ikut,” pinta Kailla, menghentikan langkah Pram.


Tangan Pram baru saja meraih gagang pintu, segera dia berbalik menatap ke arah istrinya. Kailla sudah duduk dengan wajah mengantuk dan rambut acak-acakan. Tubuh polosnya yang belum sempat berpakaian terpampang nyata.


“Tidak, kamu di rumah saja. Aku akan meminta Ibu Ida menemanimu. Ini masih tengah malam,” tolak Pram, segera menghampiri Kailla.


Wajah lelah dan mengantuk Kailla benar-benar membuatnya tidak tega harus mengajak serta istrinya ke rumah sakit.


“Aku mau ikut,” ucap Kailla mulai merengek manja seperti biasanya.


Tadinya dia berniat tidur, tapi begitu mendengar nama Kinar, otaknya langsung berpikiran buruk. Dia tidak bisa membiarkan wanita itu berduaan dengan suaminya di rumah sakit. Dia bisa percaya dengan Pram, tapi tidak bisa percaya dengan perempuan licik seperti Kinar.


“Ayo, kita pergi sekarang,” ucap Kailla, berdiri dengan sempoyongan. Matanya masih terpejam, setengah tidur menyeret kakinya untuk berjalan keluar.


“Hahahaha.. Kai, kamu mau kemana dengan tampilan seperti ini?” tanya Pram langsung tertawa lepas.


“Aku mengantuk,” ucap Kailla, mengaruk kepalanya dengan mulut menguap lebar.

__ADS_1


“Ya sudah di rumah saja. Aku harus buru-buru Kai. Aku takut mama kenapa-kenapa,” lanjut Pram, langsung mengecup pucuk kepala istrinya. Keluar kamar meninggalkan Kailla yang sedang berdiri mematung tanpa pakaian.


***


Pram sudah duduk di dalam mobil bersama Bayu yang juga sudah siap di kursi kemudi.


“Kita ke rumah sakit xxx sekarang, Bay,” perintahnya.


Baru saja mobil itu bergerak maju, dari dalam rumah Kailla berlari dengan kencang, memukul sisi kiri mobil dengan keras. Bayu terpaksa menginjak pedal rem untuk menghentikan laju mobilnya.


Kailla menghela nafas lega, saat sudah duduk di dalam mobil. Bersandar manja pada suaminya.


“Apa yang kamu lakukan, Kai?” tanya Pram, masih terkejut.


“Aku ikut denganmu ke rumah sakit,” bisik Kailla. Bersandar manja seperti biasanya, melanjutkan tidurnya di dada bidang suaminya.


Hampir setengah jam perjalanan, mobil mereka masuk ke sebuah rumah sakit swasta di pusat kota. Terlihat Pram berulang kali menghubungi Kinar, untuk menanyakan kabar terbaru dan dimana posisi mamanya sekarang.


“Kai, ayo turun,” ajak Pram. Meraih tubuh Kailla yang kembali terlelap, membangunkannya segera.


“Tunggu sebentar, aku masih mengantuk,” bisik Kailla, meremas kepalanya yang pusing.


“Kai, apa kamu tidur di mobil saja,” tawar Pram.


“Hmmm, nanti aku menyusul. Aku tidur sebentar lagi ya,” sahut Kailla, meringkuk di kursi mobil, mencari posisi nyaman.


“Bay, titip istriku,” teriak Pram, bergegas masuk ke rumah sakit menemui Kinar yang saat ini menjaga mamanya.


Perasaannya tidak tenang, perdebatannya tadi pagi dengan mamanya semakin membuat Pram merasa bersalah. Dengan berlari menuju IGD, Pram hanya bisa berdoa semoga mamanya baik-baik saja,


Pram bisa sedikit tenang, saat melihat Kinar yang sedang duduk menunggu di depan ruang IGD.


“Apa yang terjadi?” tanya Pram. Ikut duduk di kursi ruang tunggu yang sama.


“Aku tidak tahu Mas. Saat aku masuk ke kamar, mama sudah tergeletak di lantai,” sahut Kinar.


“Tapi sepanjang hari ini mama tertekan, tidak mau makan ataupun bicara. Hanya mengurung diri di dalam kamar,” jelas Kinar.


To be continued


Terima kasih


***


Next :


“Kalau hanya bisa menyusahkanku, harusnya kamu tinggal di rumah saja!” omel Pram.


“Tidak perlu ikut ke rumah sakit,” lanjut Pram lagi. Nafasnya masih memburu karena panik. Dia berlari kesana kemari, menyusuri rumah sakit, berbagi tugas dengan Bayu yang mencari di luar.


“Sekarang pulang ke rumah. Minta Bayu mengantarmu. Kamu bisa tidur sepuasnya!” ucap Pram, mengusir istrinya.


Masalah mamanya belum selesai, ditambah Kailla yang menambah masalah untuknya. Belum lagi seharian ini dia disibukan dengan pekerjaan kantor yang tidak ada habis-habisnya. Bahkan dia belum sempat beristirahat dengan benar.


Kailla hanya diam, meremas ujung kaosnya sembari menunduk. Kinar yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka, menyembunyikan senyumannya saat melihat Kailla yang diomeli suaminya.

__ADS_1


__ADS_2