
Mata indah itu langsung menganak sungai dengan jantung berdegup kencang begitu melihat nama si pengirim.
“Dari pengadilan, Bu,” sahut Kailla melemas.
Ibu Ida tersentak. Selama ini dia tahu hubungan Pram dan Kailla sedang bermasalah, bahkan sudah hampir tiga minggu ini, Pram menghilang tanpa kabar. Menyisakan kenangan demi kenangan yang tiap hari ditangisi Kailla.
“Tidak apa-apa. Pasti ada jalan keluarnya,” bisik Ibu Ida, sembari memeluk Kailla.
Tubuh montok yang sering membuat keonaran, wajah ceria yang sering menebar keusilan, suara berisik yang selalu manja itu hilang dalam tiga minggu ini. Kailla lebih banyak mengurung diri di kamar dan menangis.
Kailla kehilangan nafsu makan, kehilangan gairah hidup, bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap malam. Ibu Ida dan Ibu Sari harus bergantian menemani sepanjang hari, tidak bisa meninggalkan majikannya sendirian sembari membujuk Kailla untuk tetap makan atau sekedar minum jus atau susu.
Si anak nakal julukan Pram itu kehilangan berat badan yang lumayan terlihat dalam tiga minggu ini. Tubuh sintal berisi itu sekarang terlihat lebih kurus, lemas dan pucat dengan tulang pipi menonjol, terlihat tegas. Persediaan airmatanya seperti tidak pernah ada habisnya.
Bahkan kondisi Kailla seminggu terakhir lebih parah. Tubuhnya drop, nyaris tidak bisa bangun dari tempat tidur. Mengalami mual dan muntah hebat, ditambah sesak nafas parah dan sakit pinggang. Belum lagi kaki dan perutnya sering kram.
“Bu, apa rumah tanggaku akan berakhir seperti ini,” bisik Kailla pelan, begitu melepaskan diri dari pelukan Ibu Ida. Mencoba mencari tahu isi di dalam amplop, meskipun dia sudah memiliki bayangan isi di dalamnya.
“Yang sabar ya, Non. Pasti ada jalan keluarnya,” bisik Ibu Ida, mengusap lembut pundak Kailla, berusaha menguatkan.
Airmatanya kembali menetes, saat manik matanya nenelusuri kata-kata yang tercetak di kertas putih bertanda tangan petugas pengadilan.
“Surat panggilan menghadiri sidang perceraian, Bu,” ungkap Kailla, melipat dan mengembalikan surat itu ke dalam amplopnya. Meletakannya asal di atas nakas.
“Tiga hari lagi,” lanjut Kailla lagi.
“Tidak apa-apa,” ucap Ibu Ida, menangkup wajah Kailla yang kembali berurai air mata. Kemudian membawa tubuh lemah itu ke dalam pelukannya.
Pelukan hangat Ibu Ida tidak berlangsung lama, Kailla mulai mual dan muntah lagi seperti biasanya.
“Bu, mual lagi,” ucap Kailla, menutup mulutnya. Menahan gejolak di dalam perutnya.
Dengan sempoyongan dipapah Ibu Ida, bergegas ke kamar mandi, menumpahkan cairan bening kekuningan. Jus jeruk yang belum lama masuk ke dalam perutnya, kembali keluar.
“Non, kita ke dokter saja,” bisik Ibu Ida khawatir, mengusap punggung Kailla yang membungkuk ke arah wastafel.
“Aku tidak mau, Bu,” tolak Kailla, membersihkan mulutnya yang basah dengan tisu dan bergegas berbaring kembali.
Ibu Ida yang sudah beberapa hari bergantian dengan Ibu Sari menemani majikannya itu hanya bisa menurut. Tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bawahan, tidak bisa memaksa hanya bisa membujuk pelan-pelan.
“Bu, tolong buatkan aku jus jeruk seperti biasanya. Jangan terlalu manis, perutku akan mual lagi,” pinta Kailla.
“Iya, Non. Sekarang masih mual?” tanya Ibu Ida.
“Sedikit, Bu,” sahut Kailla, memejamkan matanya.
Tangan Ibu Ida masih mengusap lembut perut Kailla yang sedikit mengeras dan agak membesar dari biasanya. Sebagai perempuan yang sudah melewati setengah abad hidup di dunia, jujur dia merasa aneh.
“Non Kailla sepertinya masuk angin. Harus makan yang banyak, Non, Jadi punya tenaga untuk memukul Pak Pram nanti,” ucap Ibu Ida, mencoba bercanda.
Kailla hanya diam, sedikit pun tidak tersenyum. Dia sedang meratapi nasibnya sendiri. Surat panggilan dari pengadilan itu kembali muncul di otaknya, memaksa bulir-bulir air turun dari kelopak mata yang terpejam.
“Dia tidak memberiku kesempatan berjuang lagi,” bisik Kailla, membenamkan wajahnya di bantal, menyembunyikan tangisannya.
***
Ibu Ida sedang memeras jeruk di dapur saat Ibu Sari masuk dan meletakan belanjaannya di atas top table.
“Untuk Non Kailla?” tanya Ibu Sari, melirik ke arah Ibu Ida.
“Iya..”
__ADS_1
Hening sesaat sebelum akhirnya Ibu Ida coba mengeluarkan uneg-uneg yang dipendamnya selama beberapa hari ini.
“Aku curiga Non Kailla hamil,” ucap Ibu Ida, sembari membuang kulit jerut ke dalam tong sampah.
“Aku tadi menyentuh perutnya Non Kailla. Itu aneh sekali. Lebih besar dari biasanya. Padahal Non Kailla jauh lebih kurus sekarang. Aku tadinya mengira Non Kailla masuk angin, tapi aku pikir-pikir bisa saja Non Kailla hamil,” adu Ibu Ida.
Deg—
Ibu Sari terkejut. Selama ini dia sibuk mengurus dan menemani Kailla tetapi dia telat menyadarinya.
“Astaga! Aku lupa, Non Kailla belum mendapatkan haidnya bulan lalu. Stok pembalut yang dibeli Pak Pram masih utuh di dalam laci,” jelas Ibu Sari. Wanita tua itu sedang merapikan belanjaannya, memasukan stok sayuran ke dalam kulkas.
“Kalau beneran hamil, harusnya sudah mau masuk dua bulan,” ucap Ibu Ida, ikut menghitung.
“Apa jangan-jangan mual dan pusingnya Non Kailla karena hamil, bukan karena kondisi fisiknya yang drop terlalu banyak beban pikiran,” lanjut Ibu Sari, mencoba mengingat apa saja yang dialami Kailla selama ini. Mual, muntah, pusing, sakit pinggang, kram perut dan sesak nafas. Bukankah semua gejala itu juga dialami ibu-ibu hamil muda.
“Aduh bagaimana ini. Non Kailla tidak mau diajak ke dokter lagi. Tidak mau makan. Aku khawatir, takut kenapa-kenapa,” ucap Ibu Ida panik.
Kedua asisten rumah tangga itu saling berpandangan, tidak tahu harus berbuat apa.
“Apa sebaiknya kita beritahu Non Kailla saja?” Ibu Sari memberi ide.
“Jadi, Non Kailla mau dibawa ke dokter. Aku khawatir, apalagi Non Kailla pernah keguguran,” lanjut Ibu Sari.
“Jangan-jangan!” cegah Ibu Ida, menahan tangan Ibu Sari. Meminta perhatian rekannya itu.
“Yang ada Non Kailla tambah stress. Kamu tidak tahu, kalau Pak Pram sudah mendaftarkan perceraian mereka ke pengadilan,” cerita Ibu Ida dengan tatapan sedih.
“Ya Tuhan. Kasihan Non Kailla, kalau memang benar-benar hamil dan mau diceraikan.” Ibu Sari kehabisan kata-kata.
“Kalau begitu, sementara sembunyikan dulu dari Non Kailla. Sebisa mungkin kita harus membujuk Non Kailla untuk makan dan minum susu. Sambil mencari waktu yang tepat, pelan-pelan membicarakan masalah ini dengannya,” ucap Ibu Ida.
lbu Sari mengangguk.
***
Seminggu berlalu.
Kondisi Kailla tetap sama, tidak ada yang berubah. Mual, muntah dan pusing masih tetap seperti biasa. Dia sendiri memilih tidur di kamar daddynya. Tidak sanggup lagi kalau harus bolak balik dan naik turun tangga kalau memaksa tidur di kamarnya yang berada di lantai dua.
Dia juga memilih tidak menghadiri sidang di pengadilan. Bisa dibilang, Kailla sudah dalam kondisi pasrah. Tidak mau memikirkan lagi bagaimana nasib rumah tangganya dengan Pram. Lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ibu Ida dan Ibu Sari di rumah.
Sejak kepergian Pram, Kailla tidak pernah keluar rumah sama sekali. Pelan-pelan, mulai menata hidupnya yang sempat berantakan selama beberapa minggu ini.
Di sisi lain, Pram masih di Austria. Lelaki itu juga tidak menghadiri sidang pertamanya. Bahkan dia tidak tahu apa-apa. Dia juga tidak berusaha untuk mencari tahu tentang Kailla, selain untuk menenangkan dirinya sendiri, Pram juga ingin memberi ruang untuk Kailla. Dengan menjauh, dia berharap bisa saling intropeksi.
Sebulan belakangan, dia sibuk mengurus Pieter dan perusahaannya yang berantakan karena ditinggal pimpinannya. Kondisi Pieter, membuatnya tidak memiliki waktu untuk memikirkan masalah rumah tangganya.
Sore itu, tiba-tiba David menghubunginya saat dia baru saja keluar dari rumah sakit.
“Presdir, kapan akan kembali? Bagaimana kondisir Pieter?” tanya David di kesempatan pertama saat panggilannya tersambung dengan Pram. Jarang terjadi Pram mau menerima panggilannya. Selama di Austria, Pram sulit dihubungi.
“Aku belum tahu. Pieter baru sadar dari koma beberapa hari yang lalu. Kenapa menghubungiku. Bukankah kamu bisa mengurus semuanya sendirian?” tanya Pram.
“Perusahaan aman, tetapi masalah perceraianmu, aku tidak bisa mengurusnya,” sahut David.
“Tahan saja dulu sampai aku kembali ke Indonesia. Aku belum sempat memikirkannya,” ucap Pram. Wajahnya berubah sayu saat diingatkan kembali dengan Kailla.
“Bagaimana bisa menahannya. Pengacara sudah mendaftarkan gugatanmu ke pengadilan, sesuai dengan instruksimu sebelum berangkat ke Austria. Dan minggu kemarin adalah sidang pertamamu, Presdir,” jelas David sedikit kesal.
__ADS_1
Pram terkejut.
“Bagaimana sampai aku tidak tahu, Dave?” tanya Pram, kesal sekaligus terkejut. Dia sama sekali tidak diberitahu.
“Kami sudah berusaha berulang kali menghubungimu, Presdir. Ponselmu lebih sering tidak aktif dibanding aktifnya,” keluh Dave.
“Maaf,” bisik Pram, menyadari kesalahannya. Selama di Austria, Pram berusaha keras untuk melupakan Kailla. Bukan hal yang mudah untuk menyingkirkan Kailla dari pikirannya. Dia harus bersusah payah. Bahkan harus menonaktifkan ponselnya demi untuk tidak mencari tahu kabar istrinya.
Pilihan untuk terbang ke Austria juga salah satu cara untuknya menghilangkan Kailla dari hati dan pikirannya. Menyibukan diri dengan pekerjaan dan Pieter. Dia melewatkan hari yang berat selama di Austria. Tidak mudah untuknya melalui hari-hari tanpa Kailla.
Tidak ada yang tahu, bagaimana dia melewatkan malamnya tanpa Kailla, menjalankan harinya tanpa ada kabar sedikit pun dari Kailla. Dia bisa saja mengecek Kailla dari cctv, saat merindukan istrinya. Namun, dia tidak mau melakukannya. Semakin tidak bisa tega dengan dirinya sendiri sekarang, semakin dia akan sakit jika saatnya tiba. Hari dimana dia harus melepas Kailla secara resmi dari hidupnya.
“Kami sudah menghubungimu, Presdir. Ingat kan beberapa minggu yang lalu, bahkan minggu lalu aku masih mencoba memberitahu. Cek emailmu saja, Presdir,” ucap David, mengingatkan Pram lagi.
“Ya Tuhan,” ucap Pram, meremas rambutnya.
Pram ingat, David menghubunginya. Dan parahnya, belum sempat asistennya itu bicara, dia meminta David mengurus semua untuknya. Dia mempercayakan semuanya, tanpa bertanya lebih dulu permasalahannya.
Saat itu kondisi Pieter sedang kritis. Dia tidak bisa memikirkan hal yang lain lagi. Apalagi Pieter tidak memiliki siapa-siapa di Austria, hanya bergantung padanya. Belum lagi kondisi perusahaan di Austria yang berantakan.
“Aku sudah mengurusnya untukmu. Dan minggu ini adalah sidang kedua, agenda mediasi. Pengacara memintamu hadir,” jelas David.
“Bagaimana Kailla? Apa dia baik-baik saja?” tanya Pram, malah memikirkan keadaan Kailla. Entah istrinya sama nelangsa dan menyedihkan seperti dirinya atau sudah bisa berdiri tegar, tersenyum menatap dunia. Dia tidak tahu bagaimana Kailla melewatkan hari-hari tanpanya.
“Aku belum bertemu dengan nyonya, Presdir. Menurut Stella, nyonya pernah mencarimu di kantor. Aku sedang di Bandung saat itu,” cerita David.
“Kalau sempat, tolong cek pesan masuk dan email. Aku biasanya mengirim pesan dan email disaat tidak bisa menghubungimu, Presdir,” lanjut David.
“Termasuk perkembangan proses perceraianmu. Maaf, aku masih ada rapat. Aku matikan dulu,” pamit David mematikan sambungan teleponnya.
***
Dan sekarang di sinilah Pram. Mengingat kembali kenangan demi kenangan yang dilewatinya bersama Kailla selama di Austria.
Dua puluh empat tahun ini Kailla mengisi hidupnya, tetapi empat tahun terakhir, Kailla mengisi hatinya. Rasa sayang yang entah sejak kapan berubah jadi cinta. Rasa nyaman yang tiba-tiba menjadi ketergantungan. Sehari saja berjauhan dari Kailla, dia bisa gila. Sehari saja tidak mendengar suara Kailla, dia tidak bisa bernafas.
Hidupnya adalah Kailla.
Setiap tarikan nafasnya adalah Kailla.
Setiap denyut nadinya adalah Kailla.
Tidak mudah untuk melepaskan Kailla, tetapi mencintai terkadang harus berkorban.
Kalau dia tersenyum bersama orang lain, kenapa harus memaksanya menangis di samping kita.
Berat untuk melakukannya, tetapi bukan berarti tidak bisa.
Terbukti sebulan ini, meski sulit, dia bisa melewatkannya tanpa Kailla.
Mata itu terpejam. Berusaha menyimpan semua ceritanya dan Kailla. Kalau memang harus selesai sampai disini, dia harus menyimpannya rapat-rapat. Suatu saat, semuanya akan menjadi kenangan indah.
**
To be continued
__ADS_1
Love You all
Terima kasih.