
“Sayang, kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Pram lagi. Berdiri, mencondongkan tubuhnya, mendekatkan telinganya pada bibir Kailla yang berucap dengan suara lemah.
Kailla tidak bereaksi. Masih betah memejamkan matanya seolah tidak mendengar apa-apa. Melihat itu Pram mengalah, tidak berani bertanya lebih. Dia tahu Kailla sedang marah padanya. Memaksa Kailla hanya akan memperlebar jurang masalah antara mereka berdua.
Lelaki itu memilih duduk kembali, menarik kursi kian mendekat. Matanya menatap lekat pada wajah terpejam Kailla yang masih memucat. Senyumnya muncul ke permukaan saat mendapati Kailla yang menolaknya.
Pandangan Pram turun ke perut, tempat di mana bayi kembarnya berbagi nafas dengan mommynya. Telapak tangannya memberanikan diri mengusap di sana. Usapan lembut dan hangat seolah ingin menunjukan dan mengenalkan pada bayi-bayinya tentang keberadaan sang daddy yang sudah bersama mereka.
Kailla yang merasakan hangat usapan Pram di perutnya, segera menyingkirkan tangan lelaki itu dengan kasar. Menolak untuk menikmati, meski hati kecilnya merasakan kenyamanan. Untuk saat ini, dia belum bersedia memaafkan Pram. Suaminya itu sudah membuatnya menangis berhari-hari, meratapi kepergiannya yang tanpa pesan. Bukan hanya hatinya, raganya pun ikut merasakan sakit kala Pram meninggalkannya.
“Masih marah padaku?” tanya Pram berbisik, tersenyum saat Kailla menyingkirkan tangannya dari calon anak-anaknya.
Kailla diam, masih dengan mata terpejam. Tidak mau menjawab, tidak mau menatap, tidak mau menanggapi keberadaan Pram.
“Boleh memarahiku sepuasnya, boleh memukulku sepuasnya, boleh menamparku sepuasnya, tetapi harus sembuh dulu. Harus mengumpulkan tenaga dulu untuk melawanku,” bisik Pram, mengusap pipi Kailla dengan punggung telunjuknya yang lagi-lagi mendapat perlakuan yang sama. Kailla menolaknya. Menghempas kasar jari-jari tangan Pram dengan tenaga yang tersisa.
Lima belas menit, hening dan tidak ada pergerakan apapun, kembali Kailla bersuara memanggil Ibu Ida. Tenggorokan dan mulutnya mengering sudah, tidak bisa diajak bekerjasama lagi.
“Bu...”
“Bu..”
“Bu..”
Pram dengan sigap berdiri dan mendekat. “Kenapa Sayang? Kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Pram. Tidak pernah lelah membujuk Kailla, meskipun selalu berakhir dengan penolakan.
Lelaki itu mengikuti ke arah mata Kailla, yang memandang Ibu Ida penuh harap.
“Ibu Ida kelelahan, biarkan dia tidur. Kamu membutuhkan sesuatu? Kamu mau apa? Aku akan menyiapkannya untukmu,” ucap Pram dengan lembutnya.
Kailla menatap tajam. Mulutnya masih membisu, menahan kesal. Kemarin, dia masih merindukan sosok tampan yang menghilang di dalam hidupnya sebulan ini. Sekarang dia merasa kesal melihat wajah memelas suaminya. Kalau bisa, dia ingin menampar, mencakar-cakar, menendang Pram hingga terkapar sebagai upaya pembalasan atas apa yang sudah dilakukannya selama sebulan ini.
Lama mematung di tempat, akhirnya Pram mengalah. Memilih membangunkan Ibu Ida untuk Kailla.
“Sebentar, aku panggilkan Ibu Ida,” ujar Pram, bergegas menghampiri wanita yang tertidur dengan pulasnya.
Tidak lama, Ibu Ida segera berjalan mendekat. Wanita itu masih berjalan sempoyongan menahan kantuknya.
“Ada apa Non?” tanya Ibu Ida, mengusap kedua mata yang masih belum rela membuka. Menjaga Kailla selama sebulan ini, lumayan menguras fisiknya. Bukan hanya Kailla, berat badannya juga turun. Tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari, siang hari masih harus membantu Kailla.
“Minum,” bisik Kailla pelan, menunjuk ke arah gelas di atas nakas di sampingnya.
Ibu Ida langsung meraih gelas dan menyodorkannya ke mulut Kailla. Dan Pram hanya bisa menelan ludah, membayangkan seberapa bencinya Kailla padanya saat ini. Bahkan untuk hal kecil saja, Kailla tidak mau dengannya.
Seperti mendapat tamparan keras, tetapi yang ini lebih menyakitkan. Kalau bisa memilih, Pram lebih suka Kailla menampar dengan tangannya dibanding menampar dengan sikapnya yang seperti ini. Sakitnya berkali-kali lipat. Tidak terlihat, tidak berdarah tetapi menusuk langsung ke jantung.
“Bu, jangan pergi. Tetap duduk disini,” pinta Kailla. Meraih tangan Ibu Ida, supaya berada di dekatnya.
“Iya, Ibu tidak pergi. Ibu akan disini,” hiburnya.
Tidak lama, tampak seorang perawat masuk membawa sfigmomanometer untuk mengecek tekanan darah Kailla dan memastikan cairan infus masih terisi.
__ADS_1
“Bagaimana Bu, sudah merasa baikan?” tanya perawat tersenyum sembari menunggu hasil pengecekan.
“Perutnya masih suka kram, Sus. Kepala juga masih pusing,” sahut Kailla pelan.
Pram yang berdiri tidak terlalu jauh dari keduanya hanya menyimak, tidak berani terlalu banyak bersuara. Kailla masih belum mau berdamai dengannya. Bahkan dia tidak memiliki kesempatan untuk memberitahu kabar kehamilan pada sang istri.
“Tidak apa-apa. Di awal-awal kehamilan memang seperti itu,” sahut perawat dengan santainya.
“Selamat ya atas kehamilan bayi kembarnya. Untuk sementara, ibu harus bedrest,” lanjutnya. Tanpa tahu kalau Kailla belum mengetahui berita kehamilannya.
“Tekanan darah 70/ 110,” jelas sang perawat membaca angka yang tertera di layar mungil tensimeter yang ada di tangannya.
Kailla terkejut, tangannya reflek mengusap perutnya sendiri. Ada rasa haru bercampur sedih. Airmatanya menetes tanpa bisa dibendung lagi. Bayi yang selama ini ditunggu dan diminta di tiap doa, akhirnya datang. Dan Tuhan berbaik hati, memberinya lebih. Bukan hanya satu, saat ini ada dua bayi di dalam tubuhnya. Berbagi nafas dan kehidupan dengannya.
“Hari ini dokter kandungan yang menangani ibu sudah selesai praktek. Jadi ibu dijadwalkan besok untuk melakukan pemeriksaan,” cerita perawat itu dengan ramah.
“Terimakasih, Sus,” ucap Kailla masih terisak.
“Saya sekalian pamit, Bu. Sudah jadwal ganti shift. Sebentar lagi akan ada rekan saya yang akan mengecek kondisi ibu secara berkala,” pamit sang perawat.
Sepeninggalan perawat, tangis Kailla pecah. Terisak sembari mengusap perutnya sendiri. Pram yang tidak tega melihat tangis Kailla, mencoba mendekat. Mendekap istrinya, berusaha menenangkan.
“Maafkan aku,” bisik Pram di sela pelukannya.
“Maafkan aku, aku bersalah pada kalian,” lanjut Pram, merapikan rambut Kailla yang berantakan.
“Jangan menangis seperti ini. Kasihan anak kita,” hibur Pram, menghapus airmata Kailla yang mengucur turun dengan deras.
*“Tuhan, terimakasih. Aku bahagia dengan kehamilanku, tetapi aku masih kecewa dengan suamiku. Dia begitu tega meninggalkanku tanpa kabar, menceraikanku disaat aku sudah memohon padanya. Dan sekarang dia datang dengan kata maafnya. *
*Aku tahu, aku tidak bisa membalas dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya padaku. Aku tahu, aku tidak bisa pergi meninggalkannya karena anak-anakku. *
Aku tahu jelas, bagaimana sakitnya tidak memiliki orangtua yang lengkap. Aku tidak mau egois dan aku tahu, suamiku juga akan memilih tidak menjadi egois demi anak-anak kami. Aku tidak bisa membiarkan anak-anakku merasakan hal yang sama sepertiku.”
***
Malam tiba, Ibu Ida yang sudah kelelahan sepanjang hari diminta Pram pulang. Menyisakan dia sendiri yang menunggui Kailla di kamar perawatan.
Kailla yang masih tidak mau didekati, memaksa Pram memilih tidur di sofa. Lelaki itu tidur telentang, meluruskan kakinya memenuhi sofa bed dengan kedua tangan terlipat di dada.
Lewat tengah malam, tiba-tiba Kailla terbangun dari tidurnya.
“Aduh. Aku mau buang air kecil,” ucapnya pelan.
Tidak ada Ibu Ida yang bisa dimintainya tolong seperti biasa. Tidak enak juga, terus-terusan memanggil perawat di tengah malam, meskipun dia bisa saja melakukannya.
Menatap Pram yang tertidur pulas di sofa. Ingin meminta bantuan, tetapi kecewanya masih terlalu besar pada suaminya itu.
Dengan membulatkan tekad, Kailla memilih ke kamar kecil sendiri. Melepas cairan infus yang mengantung di tiang samping tempat tidur dan membawanya serta.
Baru saja menurunkan kakinya ke lantai, terdengar suara maskulin mengejutkannya.
__ADS_1
“Sayang, mau kemana?” tanya Pram, tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Kailla.
Kailla tidak menjawab, memilih mengabaikan pertanyaan Pram.
“Kamu mau kemana, Kai? Dokter tidak mengizinkanmu turun dari tempat tidur,” jelas Pram, mengucek matanya yang masih mengantuk.
Melihat Kailla tidak menjawab, Pram memaksa istrinya untuk kembali ke tempat tidur.
“Kamu tidak boleh kemana-mana!” perintah Pram, menggendong Kailla kembali ke tempat tidur, meraih cairan infus dari tangan istrinya saat melihat darah mulai naik ke selang infus.
“Aku mau buang air kecil! Kalau tidak boleh kemana-mana, lalu aku harus buang air kecil disini!” seru Kailla menunjuk ke arah kasur, terlihat kesal.
“Tolong,” pinta Pram, menyerahkan cairan infus itu kembali pada Kailla. Dia mengulum senyum saat melihat wajah kesal dan cemberut istrinya.
Tanpa banyak bicara, langsung meraih tubuh Kailla dan menggendongnya ala bridal style.
Perasaan Pram lagi-lagi terpukul, saat merasakan tubuh Kailla yang lebih ringan dan kurus dari sebelumnya. Padahal saat ini Kailla sedang hamil anak mereka. Dimana seharusnya Kailla bertambah gemuk dengan dua janin sehat di dalam rahimnya.
“Kalau membutuhkan sesuatu, katakan padaku,” ucap Pram, menendang pintu kamar mandi dan menurunkan Kailla di dalam sana.
Setelah menurunkan Kailla, Pram masih enggan keluar. Berdiri dan menunggu di dalam kamar mandi rumah sakit yang sempit.
“Keluar! Kenapa tetap berdiri disini,” usir Kailla, melihat Pram masih berdiri mematung membelakanginya.
“Aku tidak bisa meninggalkanmu. Aku takut terjadi sesuatu padamu,” jelas Pram. Bagai dejavu, teringat peristiwa empat tahun silam. Dimana Kailla mengalami keguguran di dalam kamar mandi.
“Aku tidak bisa buang air kecil, kalau kamu menontonku seperti ini,” ucap Kailla kesal.
“Keluar!” usir Kailla lagi, dengan nada penuh amarah.
“Aku keluar, tetapi pintunya jangan ditutup. Aku menunggu di depan pintu,” pinta Pram memohon.
“Bukankan sama saja kalau begitu!” gerutu Kailla, mendorong tubuh Pram keluar dari kamar mandi, membanting pintu dengan kasar.
Baru saja duduk di kloset duduk, Pram sudah berteriak dari luar sembari menggedor pintu kamar mandi.
“Kai, jangan dikunci pintunya,” pinta Pram, kembali memohon.
Lima menit, sepuluh menit, hingga hampir setengah jam berlalu. Pram berteriak hampir gila di depan pintu kamar mandi. Kailla tidak kunjung keluar, tidak juga bersuara.
“Kai.. apa yang terjadi? Buka pintunya Sayang,” teriak Pram, menggedor pintu kamar mandi dengan panik.
“Kamu sedang mengerjaiku kan, Kai? Kamu tidak apa-apa kan, Sayang?” teriak Pram lagi.
***
To be continued
Love you all
Terima kasih
__ADS_1