Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 112 : Menuju Wisuda Kailla


__ADS_3

Pram terlihat turun dari mobil sport dengan pakaian casual ditemani Bayu, asisten yang selalu mengekor kemana pun sang bos pergi. Lengkap dengan kacamata hitam dan kaos putih menyala yang membuatnya terlihat semakin tampan di usia matangnya. Anting polos yang terlupa dilepas, sisa-sisa kenakalan di masa remajanya.


Sejak kemarin, dia memutuskan cuti dari pekerjaan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang drop setiap pagi di beberapa hari terakhir. Selain itu, dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan sang istri, yang belakangan sering terlibat perang dengannya. Mungkin pekerjaan membuatnya lebih banyak mengabaikan Kailla dan untuk itu dia harus memperbaikinya.



Restoran yang terletak di lantai tiga sebuah hotel bintang lima dipilih Pram untuk menjadi tempat pertemuannya dengan Dityaa. Sebelumnya kedua lelaki tampan berbeda latar belakang ini, pernah bertemu untuk membahas hal yang sama, yaitu wanita yang tidak lain adalah Kailla Riadi Dirgantara.


Pram tiba lebih dulu, tampak duduk menyilangkan kaki di meja yang sudah dipesan Stella sebelumnya. Lelaki itu terlihat duduk santai bersandar sembari menyesap kopi hitam yang dipesannya.


Tidak lama, dari arah pintu muncul Ditya Halim Hadinata dengan setelan kerja warna favoritnya dan tersenyum hangat. Lelaki itu ditemani asistennya, Matt dan dua orang bodyguard yang berjaga di luar.



“Selamat siang, Pak Reynaldi Pratama,” sapanya. Menghempaskan tubuh dengan elegan di kursi seberang lawan bicaranya.


“Pram. Panggil aku Pram saja,” potong Pram, berusaha mencairkan suasana, meskipun pembicaraan mereka sebenarnya bukanlah silaturahmi biasa.


“Pram..” Ditya mengulang kembali, sembari tersenyum pada lelaki di hadapannya yang terpaut umur hampir sepuluh tahun dengannya.


Pram membalas, tersenyum sinis. Tidak membuka suara untuk menjawab basa basi sang lawan bicara. Dengan menegakan duduknya, Pram melepaskan kacamata hitamnya.


“Sebenarnya malas membicarakan masalah pribadi dengan orang luar, tetapi apa boleh buat. Saat ada orang asing tiba-tiba masuk ke wilayah pribadiku dan mengacau di dalamnya,” ucap Pram membuka pembicaraan.


“Namun, ini upaya terakhirku untuk memperjuangkan tempatku sebagai seorang suami, yang merasa hak dan kewajibannya diintervensi oleh lelaki lain,” sindir Pram.


“Bay, bisa tinggalkan kami!” perintah Pram, kepada asistennya yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Mata elang itu tersenyum sinis menatap Ditya, beralih memandang Matt.


“Oke, Matt tinggalkan kami!” perintah Ditya, cukup mengerti arti pandangan menusuk lawan bicaranya.


Suasana hening sesaat, bahkan tidak ada pelayan yang berani menghampiri sekedar untuk menanyakan pesanan. Keduanya terdiam membisu, saling berbicara lewat tatap mata.


Pram terlihat mengeluarkan kotak perhiasan berlapis bludru biru dari saku celananya. Meletakannya perlahan ke atas meja dan mendorong pelan menyebrang ke tengah meja yang terlihat kosong.


“Aku kembalikan padamu. Terimakasih untuk hadiahmu pada istriku. Sebagai suaminya, aku merasa berhak untuk menolak.”


Ditya tersenyum, menatap kotak perhiasan yang sudah sangat dikenalnya.


“Itu hanya hadiah untuk gelar sarjananya,” sahut Ditya, pelan.


“Aku tidak tahu apa tujuanmu memberi hadiah mahal ini untuk istriku. Hubunganmu dengan istriku bukan berarti membuatmu berhak untuk memberinya hadiah semahal ini. Katakan apa tujuanmu? Tidakkah kamu merasa bersalah sudah menghancurkan harga diriku sebagai suaminya,” ucap Pram, memandang lekat manik mata lelaki di hadapannya.


“Menemui wanita yang sudah menikah tanpa izin suaminya. Apakah itu layak disebut perbuatan seorang lelaki sejati?” tanya Pram lagi, menyindir pedas.


Ditya tertegun. “Sepertinya terjadi kesalahpahaman. Aku tidak bermaksud menganggu hubungan kalian. Pertemuan kami hanya sebatas di rumah sakit. Itu pun membahas masalah daddynya. Kami hanya teman,” ucap Ditya.


Pram terkekeh. “Aku mengecek semua isi ponsel istriku. Aku bahkan memiliki rekaman pembicaraan kalian,” cerita Pram.


“Bermaksud atau tidak, sengaja atau tidak, tetapi kamu sudah menganggu hubunganku dengan Kailla” tegas Pram, memejamkan matanya. Tidak mungkin mengatakan kepada lelaki di hadapannya kalau Kailla menyukainya. Tidak mungkin berterus terang pada dunia, kalau istrinya begitu labil dan mudah goyah.

__ADS_1


“Maaf kalau begitu,” ucap Ditya tiba-tiba, tertunduk. Tidak lama lelaki itu sudah mengangkat pandangannya kembali.


“Ambil kembali kotak hadiahmu. Sebagai suami Kailla, aku merasa berhak mengembalikannya padamu,” tegas Pram.


Raut wajah Pram sedikit melunak, dengan kedua tangan saling menaut di atas meja. Memperhatikan setiap pergerakan lawannya, tanpa berkedip dan siap menantang.


“Kamu bisa memberinya nanti, saat dia tidak terikat dengan lelaki mana pun,” ucap Pram dengan terus terang.


“Tolong jauhi istriku! Jangan membuatnya terlihat bersalah dengan terus-terusan menemuinya,” pinta Pram.


Pram berdiri tanpa menunggu jawaban Ditya. Meraih kacamata hitam dari atas meja, kemudian meninggalkan Ditya tanpa permisi. Perasaannya kacau balau saat bertatap muka dengan Ditya. Kalau menuruti egonya, sudah ingin menghajar lelaki tidak tahu diri itu sehingga babak belur.


Namun, rasanya terlalu kekanak-kanakan bertengkar karena seorang wanita. Dia sudah tidak muda lagi, sungguh memalukan kalau harus bergumul di tengah keramaian, jadi tontonan semua orang karena masalah wanita, meskipun itu istrinya. Dia berhak penuh pada Kailla, untuk apa dias harus bertengkar untuk sesuatu yang memang menjadi miliknya.


***


Kailla bangun dari tidurnya dengan senyum mengembang, bergegas menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari wisudanya. Tentu bahagia setelah empat tahun perjuangannya. Jatuh bangun, melewati banyak hal dari tahun pertama sampai detik ini. Belum kebosanan dan jenuh yang ikut ambil bagian di perjalanan semasa kuliahnya.


Dan tentunya, pencapaiannya hari ini tidak lepas dari dukungan Pram. Lelaki yang masih menelungkup di atas ranjang dengan nyaman itu, adalah sosok yang mengantarnya mengenakan toga hari ini. Sosok yang paling berjasa yang mendukungnya menjadi sarjana.


Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, kondisi Pram tetap sama, akan mual dan muntah setiap pagi, bergabung dengan sakit kepala yang membuatnya kesulitan bangun di pagi hari. Beruntung kondisi itu akan berangsur menghilang saat menjelang siang.


“Sayang, tolong ambilkan obat sakit kepalaku,” pintanya pada Kailla. Istrinya baru saja keluar dari kamar mandi, hanya berbalut handuk sebatas dada.


Pemandangan yang menggoda. Kalau sedang tidak sakit kepala, sudah dipastikan dia akan melahap istrinya sampai tidak bersisa.


“Sebaiknya kita ke dokter saja,” ajak Kailla, menyerahkan sebutir obat dan segelas air putih.


“Lepaskan aku! Aku harus bersiap. Hari ini aku wisuda, Sayang,” ucap Kailla, memohon. Bukannya Kailla tidak paham dengan suaminya. Usia boleh terbilang tua, tetapi hasrat Pram tidak pernah menurun seiring bertambahnya usia.


“Masih ada waktu. Baru jam enam pagi. Ayo, temani aku disini,” pinta Pram dengan wajah memelas.


Tarikan tangan Pram yang lumayan kencang, membuat Kailla terjerembab di dalam pelukannya yang sedang berbaring. Handuk yang tadinya terbalut rapi, sekarang tersingkap, berantakan mempertontonkan paha mulus yang minta dijamah.


“Aku butuh obat tambahan. Ayo bantu aku menghilangkan mualku,” pinta Pram lagi. Sudah mengunci erat pinggang Kailla dengan kedua tangannya. Matanya masih terpejam, berusaha menahan sakit kepala yang berdemnyut, masih belum mau menghilang.


“Ah... bukannya kamu sedang sakit. Kenapa masih beringas begini,” keluh Kailla, kala mendapati tangan suaminya yang menjamah tubuhnya tanpa permisi. Mengusap lembut paha mulusnya dan kian menanjak ke puncak.


“Kamu yang menggodaku dulu. Kenapa hanya memakai handuk begini,” goda Pram. Dengan cekatan tangan kekar itu sudah melepas handuk Kailla dan melemparnya kasar ke lantai.


“Lagipula yang sakit hanya kepala, tubuhku yang lain masih sehat,” lanjut Pram lagi.


Masih dengan posisi berbaring, Pram menggulingkan tubuh Kailla supaya tertidur di sisinya.


“Biarkan aku menikmati hangatnya tubuh istriku,” pinta Pram, kedua tangannya mendekap erat tubuh Kailla yang sedang membelakanginya. Sesekali memberi kecupan basah di punggung istrinya yang telanjang, membuat Kailla meremang.


Belum lagi tangan nakal yang menangkup gundukan kembar sesekali memainkan puncak yang menegang.


“Kai, kenapa ini lebih mengeras dari biasanya? Apa karena mau datang bulan?” tanya Pram heran sendiri. Jemarinya masih bermain disana dengan lincahnya, memilin dan memelintir membuat Kailla menggila.

__ADS_1


“Aaaahhhhhh..., aku tidak tahu,” pekik Kailla sembari mendesah, mata terpejam menikmati kenakalan tangan suaminya.


“Sssttt! Jangan terlalu kencang. Kamu bisa membangunkan seisi rumah,” bisik Pram, menghembus nafas kasar di telinga istrinya.


“Hari ini tanggal berapa? Kamu belum mendapatkan menstruasimu bulan ini kan?” tanya Pram memastikan. Kali ini, tangan nakal Pram memilih menangkup kedua bukit kembar, meremas dan menikmati kekenyalannya.


“Memang sudah terlambat?” tanya Kailla kebingungan. Otaknya ikut berpikir, meskipun bisa dipastikan tidak akan mendapatkan jawabannya. Kailla tidak pernah tertarik untuk hal-hal seperti itu. Bahkan seringkali melupakan tanggal dan hari.


Kailla tidak pernah mengingat jadwal menstruasinya yang terkadang mundur dan maju dari tanggal yang seharusnya. Dan memang sudah menjadi tugas Pram untuk mengingat sampai menyiapkan pembalut untuknya. Dia hanya tinggal berteriak dan Pram akan mampir ke supermaket untuk membelikannya sepulang dari kantor.


Bahkan tidak jarang, dia harus membangunkan Pram yang sedang terlelap, kala tamu bulanan itu datang di tengah malam saat dia kehabisan stok pembalut.


Untuk itulah, sekarang Pram lebih memahami semuanya. Dia tahu Kailla sangat ceroboh dan tidak peduli untuk hal-hal kecil seperti itu yang akhirnya akan menyusahkan dirinya.


Kalau dulu Ibu Sari dan Ibu Ida yang akan memastikan semua kebutuhan Kailla, tetapi sejak menikah semua kebutuhan pribadi Kailla lebih banyak diurus Pram. Lelaki itu sudah hafal semua merk bedak, lipstik sampai parfum istrinya. Dari skincare sampai sabun mandi Kailla. Tanyakan padanya, semua hal tentang Kailla, dia sudah menamatkannya.


Bahkan Pram sudah hafal semuanya dari sebelum menikahi Kailla. Ukuran baju, celana, gaun sampai dalaman Kailla. Apa yang tidak diketahuinya. Dia mengurus Kailla sejak merah, bisa dibilang pertumbuhan Kailla selalu dipantau olehnya. Bahkan dia menikmati perkembangan gundukan kembar yang semakin hari semakin membesar, sampai akhirnya Kailla menolak berada didekatnya saat merasa sudah cukup dewasa.


Kailla tidak pernah kerepotan. Sejak kecil dia dilayani bak putri, sampai menikah pun masih tetap sama. Kailla hanya perlu mengangkat ponselnya dan menghubungi sang suami, dalam sekejap Pram akan memerintah sekretarisnya untuk mengurus semua kebutuhannya.


“Sepertinya belum, masih dua tiga hari lagi,” sahut Pram akhirnya, setelah lama berpikir.


Keduanya masih berpelukan dengan posisi yang sama, saat ketukan kasar di pintu kamar diiringi teriakan menggelegar Bayu.


“Bos! Bos!” teriak Bayu, mengejutkan.


Keduanya langsung bangkit dari tidurnya. Pram yang berpakaian lengkap, meloncat dari tempat tidur. Menarik selimut menutupi tubuh telanjang istrinya.


“Ada apa Bay?” tanya Pram. Mengerutkan dahi melihat wajah tidak biasa Bayu.


“Ibu Citra masuk rumah sakit. Tidak sadarkan diri, jatuh di kamar mandi. Kinar sejak tadi menghubungi, tetapi ponsel Bos tidak tersambung,” cerita Bayu, panik.


Pram terkejut, menutup pintu kamar dengan kencang.


“Kai, aku harus menemui mama,” jelasnya, membuka kasar pakaian tidurnya. Hilang sudah sakit kepalanya, lenyap sudah mualnya.


“Mama kenapa?” tanya Kailla bingung. Suaminya langsung berganti pakaian, tanpa mandi terlebih dulu.


“Mama masuk rumah sakit.”


“Aku bagaimana?” tanya Kailla dengan raut sedih.


“Aku akan menyusul ke tempatmu, begitu mama sudah baikan,” sahut Pram, kembali berjalan menuju walk in closet dan mengambil setelan jas yang akan dikenakannya di acara wisuda Kailla.


“Aku akan membawanya di mobil,” lanjut Pram. Lelaki itu mengecup sekilas bibir istrinya, sebelum keluar meninggalkan Kailla yang masih tertegun menahan tangis.


***


To be continued

__ADS_1


Love you all


Terima kasih


__ADS_2