
“Mbak Sarah pakai H!” seru Kailla memanggil kembali asisten rumah tangganya yang baru.
Perempuan itu muncul kembali dengan senyum malu-malunya, seperti maling kesiangan yang sedang tertangkap basah orang sekampung.
“Ada apa Nyonya?” tanyanya, sembari membersihkan tangannya yang basah ke celemek, melirik sekilas ke arah Pram.
“Nyonyanya tidak perlu pakai H!” omel Kailla, dengan sengaja mencari gara-gara. Semakin melihat pembantu barunya, dia semakin kesal. Gemas sendiri, apalagi kala Sarah berjalan, mirip bebek serati. Berlenggak lenggok dengan bodinya yang bohai bin aduhai.
Perempuan itu mengerutkan dahi, seingatnya tadi dia menyapa nyonya mudanya tanpa H, tetapi kenapa sekarang di permasalahkan. Ya sudahlah, demi lelaki tampan yang bisa membuatnya cuci mata apapun itu dia akan berusaha bertahan, termasuk menerima caci maupun maki sekalipun.
“Iya, maaf Nyonya.” Asisten itu tertunduk, memilih mengaku salah supaya tidak memperkeruh suasana.
“Mulai besok gajimu akan naik dua kali lipat,” jelas Kailla, membuat pembantu baru itu terkejut.
"Ah ternyata di balik lidahnya yang pedas, dia seorang dermawan."
“Kenakan pakaianmu yang paling tertutup rapat! Kalau perlu sewa kostum badut, supaya bisa membungkus tubuhmu!” pinta Kailla.
“Kalau selama bekerja di sini, kamu bisa konsisten dengan pakaianmu dan berhenti menatap suamiku, aku akan memberimu bonus tambahan,” lanjut Kailla lagi.
Tetapi kalau kamu tidak bisa berhenti menatap suamiku, masih saja memainkan lidah dan menggodanya, aku akan mencongkel keluar bola matamu!” ancam Kailla tidak main-main. Mengarahkan telunjuk dan jari tengahnya bersamaan ke arah Sarah.
“Mbak Sarah pakai H, silahkan kembali bekerja!” perintah Kailla lagi.
Ketika Sarah berbalik dan kembali ke markas besarnya, pandangan Kailla beralih ke Pram.
"Tutup matamu! Kalau tidak, nanti malam perkututmu kupotong sampai tidak bersisa!" ancam Kailla pada suaminya.
Pram menutup mulut. Jujur saja, disaat ini rasa bahagia lebih mendominasi ketimbang rasa takutnya. Gertakan Kailla tidak berpengaruh apa-apa untuknya. Tetapi dengan begitu, dia bisa melihat cinta Kailla yang besar untuknya.
Bayu dan Ibu Citra yang ikut mendengar hanya diam-diam mengulum senyuman. Seorang Pram, di kala marah galaknya luar biasa, tetapi takluk dan tidak berkutik pada istrinya yang masih bocah.
Masih tidak puas menumpahkan kesalnya, kembali Kailla membuka suara.
“Berani menatapnya, aku akan melemparmu ke jalanan saat ini juga!” omel Kailla, menatap sinis ke arah Pram.
Yang diancam bukannya takut, malah senyum-senyum sendiri. Sesekali menggoda Kailla dengan lirikan mata menggoda.
“Jangan marah-marah. Selera suamimu tidak serendah itu,” sahut Pram berusaha membela diri. Mengambil alih nasi goreng yang ada di hadapan istrinya dan mulai menyuapi sebagai bentuk bujukan dan rayuan supaya Kailla melunak.
“Maafkan aku. Mungkin Pieter tidak bisa menemukan asisten yang asli orang Indonesia dalam waktu singkat. Cobalah mengerti,” bujuk Pram, menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut Kailla. Tidak memberi kesempatan Kailla mengomel dan bersuara.
“Lagipula bukankah kamu paling sayang dengan pekerjamu. Bahkan aku kadang cemburu pada mereka yang selalu kamu lindungi,” bisik Pram menggoda.
“Karena yang ini, tidak ada sopan santunnya. Jadi aku tidak perlu menjaga kesopananku. Dia sopan, aku akan lebih sopan. Dia tidak punya etika, aku lebih tidak punya adab.”
"Bukannya dia sopan?" ucap Pram, masih saja belum menyerah. Kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut istrinya.
"Sopan apanya. Apa kamu tidak melihat?" tanya Kailla menunjukan ke dadanya sendiri.
Pram menggeleng. "Aku tidak bisa melihat apa-apa."
"Sudah. jangan galak-galak padanya. Dia kan pekerjamu juga, perlakukan sama. Seperti kamu menyayangi asistenmu yang lain." Pram berkata.
"No!"
__ADS_1
Pram tersenyum. Dia bukannya tidak mengenal Kailla. Mungkin karena istrinya besar di tangan para asisten rumah tangga, membuat Kailla sangat menyayangi semua pekerja di rumahnya. Bahkan Pram sendiri berusaha sebisa mungkin tidak memarahi pekerjanya di depan Kailla.
Kalau sampai dia melakukannya, dia harus berhadapan dengan istrinya sendiri. Kailla akan membela sampai titik darah penghabisan.
***
Iringan mobil sedan hitam itu masuk ke pelataran KRD, salah satu anak perusahaan yang bernaung di bawah RD Group. Perusahaan ini bisa dibangun Pram untuk istrinya sendiri, tentunya dengan bantuan teman-temannya sewaktu kuliah di Inggris. Pieter dan Winny, kedua orang ini yang paling berjasa di KRD.
Ibu Citra yang berbeda mobil dengan Pram dan Kailla terlihat turun dengan pandangan kekaguman. Tidak menyangka putranya membangun perusahaan sendiri di luar negri. Pram banyak bercerita tadi di meja makan sebelum mereka berangkat ke kantor.
Tidak jauh dari Ibu Citra, tampak Kailla juga turun dan berlari memeluk lengan mertuanya dengan manja.
“Mama tahu, ini perusahaanku,” cerita Kailla dengan penuh kebanggaan. Meskipun pada dasarnya dia tidak tahu menahu. Semua dikelola Pieter di bawah kendali Pram.
“Benarkah?” tanya Ibu Citra.
Sebuah anggukan penuh keyakinan, sembari memamerkan senyum terindahnya untuk sang mertua.
“Ayo kita masuk. Aku akan mengajak mama jalan-jalan di dalam. Pram mendesain ruang kerjanya sama persis seperti kamar tidurku dulu sewaktu belum menikah dengannya,” lanjut Kailla lagi.
Tepat di depan pintu masuk Pieter sudah menyambut mereka, ditemani Mitha. Pram yang baru saja turun dari mobil, tampak mengekor di belakang istri dan mamanya sendiri.
“Mitha, aku merindukanmu!” pekik Kailla histeris, berhambur memeluk temannya setelah melepas pelukan di lengan mertuanya.
“Ayo aku kenalkan pada mama mertuaku,” ajak Kailla, tidak menganggap kehadiran Pieter sama sekali.
“Ini mamaku,” kenal Kailla, memeluk erat pinggang Ibu Citra.
Pram yang sudah berdiri di samping hanya tersenyum pada Pieter. “Di sekarang sudah memiliki mama, jadi kamu jangan terlalu berharap lagi. Dia tidak bisa akan lepas lagi dariku. Kalau dia meninggalkanku, dia akan kehilangan mamanya,” celetuk Pram.
“Hahaha.. kamu sudah melihat goyangannya, Kai. Lirikan matanya mematikan.” Pieter tertawa melihat ekspresi Kailla yang tidak bersahabat.
“Maafkan aku. Suamimu itu memintanya secara mendadak, dimana aku mendapatkannya. Dia ku tarik dari salah satu karyawaan pantry,” jelas Pieter.
Mata Kailla langsung melotot, beralih menatap suaminya. “Jangan katakan selama ini kamu mendekatinya di kantor. Kalau tidak mana mungkin dia berani menatapmu seberani tadi!” Omelan Kailla dimulai kembali.
“Kamu tahu, ini semua ulahmu!” gerutu Pram, menunjuk ke arah Pieter.
“Sudah, jangan dengarkan dia. Aku tidak mungkin menukar berlian dengan besi sepuhan,” jelas Pram membawa masuk istrinya setelah meminta waktu pada Mitha. Gadis itu masih tidak rela melepas Kailla. Sepertinya banyak yang ingin diceritakannya.
***
Begitu masuk ke ruang kerja Pram, raut wajah Kailla langsung berubah. Mengingat hari-hari yang pernah dilewatkannya beberapa tahun yang lalu. Semuanya masih sama. Hanya saja pemandangan di jendela kaca itu sudah jauh berubah. Deretan gedung pencakar langit semakin bertambah, disisi lain ada danau buatan. Membuat Kailla terperangah.
“Sayang, dulu belum ada danau ini?” tanya Kailla memandang ke arah jendela.
“Iya, proyek perusahaan kita. Akan dibangun apartemen dan gedung perkantoran,” jelas Pram.
Ibu Citra yang sedari tadi hanya memandang dalam diam. Menutup mulutnya rapat-rapat, ada banyak rasa yang berkecambuk di dadanya, apalagi sejak Kailla menceritakan kalau perusahaan ini dibangun Pram untuk istrinya.
Terdiam, menatap putranya yang sedang menerawang jauh dengan teropong di ruang kerjanya. Entah apa yang diamati putranya itu.
Pram yang mengerti arti tatapan mamanya, segera menghampiri wanita tua yang terlihat melamun sejak masuk ke ruangannya.
__ADS_1
“Ma, perusahaan ini aku bangun untuk istriku. Dan saat ini, aku sedang membangun perusahaan untukmu, PT. Wijaya Indraguna. Aku akan membangun kembali perusahaan papa yang sempat hilang,” jelas Pram, ikut duduk di samping mamanya.
Ibu Citra terkejut, hampir tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Kedua matanya menganak sungai, mengalir turun begitu saja. Terharu dan malu. Terharu karena Pram masih mengingat orang tuanya, malu karena sempat iri pada menantunya sendiri.
“Aku tidak tahu umurku sampai kapan. Tetapi itu adalah warisan untuk mama dan Kailla seandainya aku tiba-tiba tidak ada di sini lagi,” jelas Pram.
“Kenapa berkata seperti itu. Umurmu masih panjang,” omel Ibu Citra, mengusap airmata yang turun jatuh melewati pipinya.
“RD Group berikut asetnya, semuanya akan aku sumbangkan ke yayasan yang aku bangun atas nama Riadi dan papa.”
“Yayasan itu akan menjadi amal ibadah untuk mertuaku dan papa yang sudah meninggal,” lanjut Pram.
“Pram! Apa yang kamu pikirkan. Jalanmu masih panjang, kenapa berpikir sejauh itu?” omel Ibu Citra.
“Aku hanya mempersiapkan semuanya sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai anak dan seorang suami. Itu bentuk terimakasihku pada papa, mama dan istriku,” jelas Pram.
“Doakan aku, semoga tangan ini masih bisa membangun perusahaan -perusahaan lainnya untuk bekal anak-anakku nanti.”
Ibu Citra mengeleng, rasanya tidak terima mendengarkan ucapan Pram.
“Tetap seperti ini dengan istriku. Dia sejak lahir tidak memiliki ibu,” bisik Pram dengan mata berkaca-kaca. Menatap Kailla yang masih saja mengagumi pemandangan di balik jendela kaca.
“Aku sudah tidak muda lagi, aku harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk istri dan anak-anakku nanti. Umur tidak ada yang tahu. Kalau harus aku yang pergi duluan dari mama, aku menitipkan istri dan anakku padamu,” lanjut Pram dengan suara bergetar menahan tangis. Terlihat ujung ibu jarinya menghapus air mata yang menggenang di kedua matanya.
Lelaki tampan itu tertunduk, menutup perasaan yang menyesak di dadanya saat ini. Sampai dia tidak menyadari, tiba-tiba Kailla sudah menghambur duduk di pangkuannya.
“Kenapa tiba-tiba kamu dan mama jadi diam seperti ini?” tanya Kailla heran. Saat ini, dia sudah tidak malu-malu lagi dengan mertuanya. Toh, Ibu Citra tidak pernah protes dengan kemanjaannya pada Pram.
“Kenapa tiba-tiba jadi manja begini?” tanya Pram tersenyum, memeluk pinggang Kailla yang duduk menyamping di pangkuannya.
“Tidak ada. Bukankah biasanya aku juga manja padamu,” ucap Kailla, sembari tersenyum pada mama mertuanya yang duduk sebelah suaminya. Kedua tangannya sudah merangkul, bergelayut di leher suaminya.
“Hahahahaha..!” tawa Pram pecah.
“Mama tahu, sejak dulu perempuan di pangkuanku ini sungguh tidak tahu malu. Kalau aku sedang pacaran dan membawanya bersamaku, dia langsung duduk seperti saat ini di pangkuanku.
“Dan kalau pacarku protes, dia akan berdrama. Mama bayangkan saja, anak umur tiga tahun sudah licik.”
“Aku tidak merasa melakukannya,” ucap Kailla berusaha mengingat.
“Dia baru membiarkanku bebas pacaran kalau sudah disogok permen lolipop atau es krim,” cerita Pram lagi.
“Kamu pernah punya pacar, Pram?” tanya Ibu Citra heran. Cerita tentang Pram yang satu ini, terlewatkan olehnya.
“Pernah Ma. Putramu ini sudah mau kawin lari dulu,” gerutu Kailla.
“Untung daddy turun tangan. Kalau tidak, bukan Kailla si cantik dan menggemaskan ini yang akan jadi menantumu,” ucap Kailla menyombongkan dirinya, menangkup kedua tangannya ke wajah supaya terlihat imut.
“Tetapi yang menjadi menantumu adalah perempuan yang sekarang menghuni rumah sakit jiwa di Bandung,” lanjut Kailla lagi.
***
To be continued
Love You all
__ADS_1
Terima kasih.