Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 63 : Aku Minta Maaf


__ADS_3

Siang itu cuaca ibukota terasa panas menyengat. Kailla baru saja keluar dari kampus ditemani Sam yang kuliah di jurusan yang sama dengannya.


“Non, aku langsung ke kantor,” pamit Sam, berlalu menuju ke mobilnya.


Dia harus segera ke kantor. Sesuai dengan perintah Pram, dia dan Bayu bertukar posisi hari ini. Adapun Donny, asisten terlama itu sudah lebih dulu ke kantor. Sejak kejadian ambruknya bangunan apartemen, Donny ditarik untuk membantu di kantor RD Group. Secara otomatis tugas Donny menjaga Riadi di rumah sakit, diserahkan pada Ricko.


Kailla berjalan gontai dengan langkah menyeret menuju Bayu yang sedang menunggu di mobil alpard hitamnya.


“Bay, kita ke rumah sakit ya!” perintah Kailla.


Sesuai dengan apa yang sudah diceritakan Pram, Kailla memang benar-benar melanggar semua perintah suaminya. Padahal Pram sudah tidak mengizinkannya untuk ke rumah sakit, tetapi bukan Kailla namanya kalau tidak membandel dan membangkang. Bahkan dia bisa berbuat seenaknya disaat dia menginginkan sesuatu.


“Nanti mampir sebentar untuk membeli makan siang,” pinta Kailla lagi.


Bayu menurut, mengemudikan mobil sesuai dengan perintah Kailla. Toh, Pram sudah memberi izin sebelumnya. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah bagaimana dia harus menjaga keadaan tetap kondusif dan tenang.


***


Kailla sudah turun dengan menenteng beberapa kotak mika berisi bakmi goreng di kedua tangannya. Tujuannya saat ini adalah ruang perawatan Ibu Citra. Dia sudah membulatkan tekad untuk menjaga sang mama mertua, tidak membiarkan Kinar si rubah betina mengambil alih hak dan kewajibannya.


Tanpa mengetuk terlebih dulu, dia sudah mendorong pintu kamar perawatan itu dengan punggungnya. Kemunculannya dari balik pintu dengan menenteng bungkusan plastik di tangan mengejutkan kedua wanita yang sedang mengobrol hangat.


“Ma...!” sapa Kailla tersenyum. Meletakan bawaannya ke atas meja, tidak jauh dari pintu masuk.


Kedua wanita beda usia itu terkejut, apalagi Kinar. Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan sosok lain yang biasanya datang bersama Kailla. Tak lama muncul Bayu dari balik pintu dengan senyum kakunya. Kinar melemas, bukan lelaki itu yang ditunggunya.


“Pram tidak ikut denganmu?” tanya Ibu Citra setelah beberapa saat menunggu, putranya tidak kunjung muncul.


“Aku dari kampus langsung ke sini, Ma.”


Kaila menjawab, sembari mendekati tempat Ibu Citra berbaring. Dengan sengaja dia menyenggol Kinar yang berdiri di tempat yang sama.


“Tante tidak capek seharian menunggu disini?” tanya Kailla tiba-tiba. Kailla kesal, disaat Kinar tidak mau memberi ruang untuknya mendekati sang mertua.


“Aku bisa menjaga mama kalau Tante mau pulang. Bayu bisa mengantarmu,” tawar Kailla, tersenyum palsu pada Kinar.


Bayu yang duduk di sofa segera berdiri, memperkecil jaraknya dengan Kailla. Setidaknya dia harus siaga satu. Saat ini posisi Kailla dan Kinar begitu dekat, kalau dia tidak waspada bisa saja terjadi pertikaian.

__ADS_1


“Tidak, mama sudah terbiasa denganku sejak dulu. Mama tidak mau dilayani orang asing. Ya kan Ma?” Kinar meminta persetujuan Ibu Citra. Dia sengaja melontarkan sindiran halus pada Kailla.


Dan Kailla mengalah. Mencari celah untuk menyerang balik wanita yang sedang menabuh genderang perang dengannya.


“Mama sudah makan?” tanya Kailla, menatap piring di atas nampan yang masih utuh.


“Sebentar lagi. Mama sedang menunggu Pram,” sahut Ibu Citra, terus-terusan menatap ke arah pintu.


“Mama mau aku menghubungi suamiku?” tawar Kailla, bergerak maju, lagi-lagi sengaja menyenggol Kinar.


“Ah, aku lupa!” Kailla menutup mulutnya, bersandiwara.


“Mama tidak terbiasa denganku. Aku hanya orang asing disini. Biarkan Tante Kinar saja yang menghubungi suamiku, memintanya segera datang kesini,” lanjut Kailla, tidak jadi menghubungi Pram. Ponsel yang tadinya sudah akan disambungkan pada suaminya, sekarang disimpan kembali ke dalam tasnya.


“Kai, tolong hubungi Pram untuk mama,” pinta Ibu Citra setelah sekian lama menahan ragu. Dia sudah sangat ingin bertemu dengan Pram. Bahkan kalau bisa berterus terang, dia mau Pram menjaganya saat ini. Tapi putranya memiliki tanggung jawab pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


Kailla mengangguk, menyunggingkan senyuman pada Kinar. Jangan ditanya bagaimana perasaan Kinar saat ini. Dia benar-benar kesal pada Kailla yang sejak tadi memancing kesabarannya.


Ibu Citra paham betul dengan apa yang dirasakan Kinar. Dengan penuh kelembutan, dia menyentuh tangan Kinar supaya mengalah dan tidak mencari masalah. Tubuhnya yang masih lemas, tidak sanggup lagi kalau harus mencari perkara dengan putra dan menantunya.


“Ma, mungkin Pram sedang rapat. Tapi begitu istirahat makan siang dia akan mengunjungimu,” jelas Kailla. Dia sudah memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


***


Suasana di dalam kamar perawatan itu menjadi sepi. Ibu Citra memilih istirahat, memejamkan matanya. Kailla sibuk dengan ponselnya, sesekali melirik ke arah Kinar yang duduk di sofa berbeda. Wanita itu sedang mengupas buah.


Dan Bayu, laki-laki itu sedang keluar menikmati sebatang rokok setelah memastikan keadaan aman terkendali.


“Tante, aku bawakan makan siang untukmu,” ucap Kailla memecahkan keheningan, menunjuk ke arah bungkusan yang diletakannya di atas meja.


“Iya, aku masih kenyang,” sahut Kinar. Memandang sekilas, ke arah susunan kotak mika.


“Kamu membawakan bakmi goreng?” tanya Kinar, memastikan. Setelah melihat sendiri merek yang tercetak di kotak makanan.


“Iya, itu kesukaan...”Kailla tidak dapat melanjutkan kata-katanya, Kinar sudah menyela.


“Mas Pram suka sekali dengan bakmi goreng,” ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Kailla kesal. Kata Mas yang diucapkan Kinar terdengar begitu manis dan manja. Sejak pertama mendengarnya, dia sudah ingin protes pada suaminya.


“Bisakah tidak memanggil suamiku seperti itu,” pinta Kailla tiba-tiba.


Sudah terlalu lama dia menahan diri untuk tidak mempermasalahkan panggilan Kinar pada suaminya. Tapi semakin didengar, semakin dia kesal sendiri.


“Hah?! Kamu keberatan Kai?” tanya Kinar, heran. Tidak menyangka panggilan yang biasa-biasa saja bisa membuat bocah nakal ini naik darah.


“Iya, panggil saja namanya. Tidak perlu pakai embel-embel Mas. Lagian umur Tante dengan suamiku tidak terlalu jauh berbeda. Dia juga tidak akan keberatan kalau Tante memanggil namanya. Bahkan kalau tidak saling bertegur sapa, jauh lebih baik,” celoteh Kailla dengan asalnya.


“Kamu cemburu Kai?” tanya Kinar. Menembak langsung ke sasaran.


“Hmmm, tidak juga. Aku cuma tidak suka mendengarnya. Seperti penjual bakso gerobakan langgananku, si Mas Pur,” ucap Kailla asal.


Kinar terkekeh. Tidak membayangkan anak kecil di hadapannya ini ternyata begitu terus terang. Dia tahu jelas alasan Kailla tidak mengizinkannya memanggil seperti itu. Mendengar itu, pikiran licik Kinar pun jalan.


“Oh ya, aku juga mau minta maaf,” ucap Kinar. Tangannya sedang mengupas buah apel yang akan diberikannya pada Ibu Citra saat terbangun nanti.


“Kenapa Tante minta maaf?” tanya Kailla.


“Tadi pagi suamimu memeluk dan mengecupku. Aku jadi tidak enak denganmu. Aku khawatir kamu tahu dari orang lain dan akan salah paham. Kami tidak melakukan apapun semalam,” jelas Kinar dengan lembut.


Kailla terkejut, emosi di dadanya langsung tersulut. Bagai bara api yang disiram minyak tanah, langsung berkobar. Saat ini seperti itu lah perasaannya.



“Ceritakan padaku apa yang terjadi,” pinta Kailla. Tangannya sudah mengepal, raut wajahnya pun mulai tidak bersahabat.


“Maaf, aku tidak tahu apa yang dipikirkan Mas Pram. Tadi pagi saat membangunkannya, tiba-tiba dia menarik tanganku dan memelukku,” cerita Kinar dengan tidak tahu malunya.


Terlihat Kinar melepas pisau dan meletakan piring buahnya, memperagakan peristiwa tadi pagi untuk memperjelas kejadian sebenarnya pada Kailla.


.....


To be continued


Love You All.

__ADS_1


__ADS_2