Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 176 : Minggunya Kailla dan Pram


__ADS_3

Minggu pagi di kediaman Reynaldi Pratama.


Pagi-pagi sekali Kailla sudah bangun, meninggalkan Pram yang masih polos telungkup di balik selimut hangatnya.


“Sayang, hari ini aku tidak membuatkanmu sarapan. Tidak masalah, kan?” tanya Kailla, berbisik pelan di telinga suami yang masih mengembara di alam mimpi.


Bukan suatu jawaban, Pram melenguh pelan sembari menarik tubuh istrinya. Terusik dengan bisikan pelan yang menggelitik telinga.


Brukk!


Ibu hamil itu menimpa tubuh suaminya. Sedetik kemudian, Kailla sudah di bawah kekuasaan Pram, dikungkung lengan kekar, meringkuk di pelukan Reynaldi Pratama.


“Aku tidak perlu sarapan buatanmu, Kai. Aku bisa melahapmu setiap saat kelaparan menyerangku.” Suara serak Pram masih dengan mata terpejam. Mengeratkan pelukannya.


“Ah ... kamu selalu begitu. Hari ini aku sengaja tidak membuatkanmu sarapan. Bagaimana kalau kita makan bubur ayam di dekat komplek perumahan kita yang lama. Setelah itu mengunjungi daddy dan mama. Sorenya kita berburu artis-artis untuk menambah koleksi akuariumku yang masih kosong.


Mata lelaki itu terbuka. “Kenapa pindah haluan, bukankah selama ini kamu hanya memelihara ikan pejantan?” tanya Pram bingung. Tangannya mengelus pelan perut besar istrinya.


“Aku mau membudidayakannya, Sayang. Supaya mereka bisa beranak-pinak. Aku tidak susah berburu lagi, tidak menghabiskan uangmu.” Kailla menjawab dengan antusias.


“Kemarin aku baru saja mengawinkan Mas Gading Martin dengan mantan istrinya Song Joon Ki, siapa namanya ....” Kailla tampak mengerutkan dahinya, berpikir keras. Masalah aktor Korea, dia bisa hafal semua. Berbeda kalau bicara artis wanita. Otaknya melamban seketika.


“Ah .... Mbak Kyo-Kyo. Supaya nanti hasil ikannya blesteran. Pas sudah, janda ketemu duda,” sahut Kailla asal, merapatkan kedua jari telunjuknya.


Pram terbahak seketika. Kantuknya hilang berganti gelak tawa tanpa henti. Meskipun dia tidak paham pekerja seni yang disebut istrinya, tetapi Kailla benar-benar membuatnya tergelak.


“Aku berencana mencarikan jodoh untuk Lee Min Ho, Sayang. Maunya dikawinkan dengan artis Hollywood, biar nanti anaknya bermata biru terus ekor dan siripnya blonde,” lanjut Kailla, semakin gila.


Gelak tawa Pram semakin kencang, saat Kailla semakin menggila. Laki-laki itu sampai mengeluarkan air matanya, tidak tahan dengan lelucon istrinya.


“Kai, anak-anak kita akan jadi seperti apa nanti? Laki-laki atau perempuan ya?” tanya Pram setelah menghentikan tawanya.


Keduanya sedang berbaring menyamping, dengan Pram memeluk tubuh istrinya dari belakang.


“Aku tidak tahu, tetapi aku berharap mereka tidak senakal diriku,” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar. Membayangkan anaknya membuat masalah setiap hari, Kailla bergidik ngeri. Bukan hanya satu, tetapi ada dua setan kecil yang akan merecokinya setiap hari.


Pram mengeratkan pelukannya. “Aku tidak berharap banyak. Aku hanya meminta salah satunya laki-laki. Keduanya laki-laki juga tidak apa-apa. Aku menginginkan anak laki-laki untukmu.”


“Kalau laki-laki, bagaimana aku menguncir rambutnya nanti. Bagaimana aku bisa memakaikan mereka gaun cinderella berenda yang menjuntai panjang,” protes Kailla.

__ADS_1


“Yang kedua, baru hamil anak perempuan,” sahut Pram.


“Aku harus hamil lagi setelah ini?” tanya Kailla dengan suara memelas. Yang di dalam perut saja belum dikeluarkan, Pram sudah berencana menambah bayi lagi.


“Ya, nanti yang kedua program anak perempuan. Jadi ada yang menemanimu nanti. Ada teman bergosip tentang pria tampan dan teman menghabiskan uangku,” sahut Pram. Menyingkirkan rambut panjang istrinya dan mengecup perlahan tengkuk Kailla.


“Aku ingin anak pertama kita laki-laki. Supaya ada yang menjagamu saat aku sudah tidak ada. Kutitipkan tugasku pada anak laki-lakiku. Suatu saat, kalau kedua tanganku sudah tidak sanggup memelukmu, mereka yang akan memelukmu. Mereka yang akan menjagamu, mereka yang akan melindungimu, mereka yang akan menggantikanku.” Pram berkata pelan.


Kailla langsung menoleh, menatap suami yang sekarang menatap ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.


“Kenapa menangis? Kamu akan sehat terus sampai anak-anak dewasa,” ucap Kailla penuh keyakinan, meskipun dalan hati ikut ketar-ketir.


“Ya.” Pram menjawab singkat


“Ayo bersiap. Kamu mau sarapan bubur ayam, kan?” lanjut Pram.


“Ya ... yang di rumah lama kita.” Kailla menjawab.


***


Pram memacu mobilnya menembus jalan ibukota. Tujuannya adalah Selatan Jakarta, tempat Kailla menghabiskan masa kecilnya. Setelah dari tempat bubur ayam, keduanya melanjutkan perjalanan menuju San Diego Hills, rumah terakhir Riadi dan Mama Rania sekarang.


Tiba di depan makam, Kailla bersimpuh. Mengucap doa dalam hati. Rasa berbeda saat mengunjungi makam mamanya. Di makam daddy, duka itu masih begitu berasa, tanah makan masih basah. Kelopak bunga yang bertebaran di atas makam, belum sepenuhnya mengering, bahkan masih tertinggal jejak-jejak kaki menguning di rerumputan hijau.


“Dad, aku datang.” Kata itu terucap juga setelah Pram ikut bersimpuh di sebelahnya, merangkul pundaknya yang bergetar menahan haru dan tangis supaya tidak jatuh. Daddy pasti tidak ingin melihatnya menangis, walau akhirnya tangis itu pecah juga.


“Aku baik ... baik saja.” Kalimat yang terdengar menyedihkan. Kailla memaksa bibirnya tersenyum di tengah hujan air mata tanpa suara. Kalimat menenangkan yang tak sejalan dengan realita yang ada. Menangis dalam senyuman, tersenyum dalam tangisan.


Bunga mawar itu diletakannya perlahan di samping batu nisan. Mengusap perlahan batu hitam yang terukir nama Riadi Dirgantara.


Lama keduanya terdiam di sana, Kailla seolah enggan pulang. Masih ingin berlama lama, menikmati kebersamaan yang sudah tidak sama lagi seperti sebelumnya. Kalau dulu daddy masih bisa bicara, belakangan daddy bahkan sudah tidak bisa apa-apa. Hanya bisa tersentuh tanpa bisa merespon.


Dan sekarang, tidak ada yang tersisa. Hanya gundukan tanah basah, tidak bisa bicara, tidak bisa disentuh lagi. Daddy melebur bersama tanah. Hanya tersisa nama besar dan kenangan. Di mata orang-orang, Riadi Dirgantara hanya tertinggal nama dan sepak terjangnya semasa hidup.


Setelah dari makam Riadi, pasangan suami istri itu mampir ke makam mama Rania. Masih di lokasi yang sama, hanya berbeda cluster. Mama Rania di cluster biasa, berbeda dengan Riadi dimakamkan di cluster termewah di komplek pemakaman ini.


Menyempatkan menyapa dan mengirim doa. Kailla menghadiahkan buket mawar merah yang sama seperti di makan daddynya.


“Ma, aku datang lagi,” bisik pelan Kailla, duduk bersimpuh di atas rerumputan. Ditemani suami yang setia mendekapnya erat. Pram tahu, tidak mudah untuk Kailla saat ini. Setelah tidak memiliki mama, sekarang dia kehilangan daddy.

__ADS_1


“Ma, cucu- cucumu sehat,” bisik Pram setelah mengirim doanya. Mengalihkan duka dengan berbasa basi. Bercerita tentang kehamilan Kailla, berbagi kisah bahagia mereka yang sebentar lagi akan menyambut anggota keluarga baru. Bayi kembar yang akan mengisi hari-hari dengan senyuman dan tangisannya.


***


Dari pemakaman akhirnya Kailla bisa tersenyum bahagia. Tujuan selanjutnya adalah kios penjual ikan. Seperti janji Pram beberapa hari yang lalu, akhirnya mereka tiba di surga dunianya Kailla saat ini.


Tampak Pram menepikan mobil di salah satu ruas jalan yang biasa dilewatinya setiap pulang kantor. Ada beberapa kios kecil yang berjejer, menjual berbagai jenis ikan hias.


Tentu saja perasaan Kailla berbunga-bunga saat ini. Ada banyak ikan kesukaannya.


“Mau yang mana? Pilih saja sesukamu, Kai!” ucap Pram, laki-laki itu memilih duduk di kursi plastik, menunggu istri yang sedang sibuk memilih.


Hampir satu jam, ibu hamil itu memilih. Bertoples-toples ikan yang sudah dipilihnya berjejer di depan kios siap diangkut ke mobil.


“Sudah?” tanya Pram, mengeluarkan dompetnya dari saku celana.


Kailla mengangguk. Wajah bahagia yang kontras sekali dengan ekspresi Kailla saat di pemakaman.


“Sayang, ke mobil saja. Tunggu aku di sana,” perintah Pram.


“Aku masih harus memasukan ikan-ikan ini ke bagasi,” lanjut Pram.


“Aku mau menunggu di sini saja, Sayang,” tolak Kailla. Ibu hamil itu begitu bahagia. Mengikuti ikan-ikannya sampai masuk ke dalam bagasi mobil mereka.


Pram masih berbicang sejenak dengan penjual di atas trotoar untuk menanyakan cara perawatan ikan yang tepat. Sedangkan Kailla, berdiri di belakang mobil sambil menatap ikan yang berenang di dalam toples dari kejauhan. Toples-toples ikan yang sekarang sudah berjejer rapi di bagasi mobil.


Terlalu bahagia, ibu hamil itu tidak menyadari saat sebuah mobil melaju kencang siap menghantam tubuhnya dari arah belakang. Laju mobil yang begitu terarah, seolah memang sudah terencana sebelumnya.


Bunyi mobil yang meraung, melaju di atas rata-rata itu mengalihkan perhatian Pram. Menyadari petaka yang akan menghantam istrinya. Pram berlari, mendorong Kailla hingga terjerembab ke tengah jalanan.


“KAI!!!” teriak Pram mendorong kencang tubuh istrinya, sebelum akhirnya mobil itu menghantam tubuh kekarnya tanpa perlawanan.


BRAKKKKKK!!!


Beruntung tidak ada kendaraan yang lewat, Kailla masih sanggup bangkit dan menyaksikan tubuh suaminya terpental jauh sebelum akhirnya menghantam aspal jalanan.


Sedangkan mobil mereka, terseret beberapa meter ke depan sebelum berhenti. Semua toples-toples di dalam mobil pecah berhamburan, ikan-ikannya terkapar tak berdaya sama seperti pemilik mobil yang sudah tidak sadarkan diri, berlumuran darah di tengah jalan.


***

__ADS_1


__ADS_2