
Pram terkejut, menatap hampir tidak percaya. Dia tahu jelas, siapa laki-laki ini. Tapi bagaimana bisa dunia sesempit ini, membuat mereka kembali harus bertatap muka. Sosok yang sudah lama tidak dilihatnya. Tapi kali ini berbeda. Pandangan Pram beralih pada dua mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya.
Baru saja Pram akan menyodorkan tangannya untuk menyapa, dari dalam rumah muncul istrinya. Kailla tidak kalah terkejut, tertegun menatap sosok tampan yang berdiri di samping sahabat suaminya.
“Kamu.....”
Pram mengurungkan iatnya, berbalik menatap istrinya. Terlihat Kailla mengarahkan telunjuk pada tamu asingnya, berjalan mendekat. Hampir tidak percaya dengan sosok tampan yang entah datang dari mana. Tiba-tiba sudah ada di depan mata. Hampir 4 tahun lebih, mereka tidak bertemu. Perjumpaan terakhirnya dengan Dion saat daddy mengalami koma pertama dan Dion sempat berkunjung ke rumah sakit bersama Rika.
Beberapa hari setelah pertemuan terakhir itu, Pram menikahinya secara mendadak. Setelah menikah, Kailla tidak pernah menginjakan kaki lagi di kampusnya yang lama. Pram mengambil cuti panjang untuknya. Apalagi tak lama setelah itu, Pram memboyongnya ke Austria.
“Dionnnnnnn!” sapa Kailla, sedikit histeris. Memandang teman baiknya yang sedang menatap ponsel di tangannya.
Dion tersenyum dengan tenang, mengangkat pandangannya. Ekspersi yang jauh berbeda dengan yang ditunjukan Kailla. Membuka kacamata hitamnya, menyunggingkan senyuman hangat, yang sama persis seperti dulu saat mereka masih menghabiskan hari-hari di kampus.
Kailla baru saja akan menyodorkan kedua tangannya, bersiap meraih tangan Dion. Hal yang dianggapnya biasa, karena dulu mereka juga sering melakukan hal yang sama.
Tangan Kailla belum sempat menggapai, tapi Pram sudah menyodorkan tangannya terlebih dulu. Mematahkan niat istrinya.
“Senang bisa bertemu denganmu lagi, Anak muda,” ucap Pram tiba-tiba, menepuk lengan Dion. Berusaha menyembunyikan perasaanya yang sudah jungkir balik saat ini.
“Saya juga, Pak Pram. Bagaiamana kabarnya?” sahut Dion sopan, menerima jabatan tangan Pram.
Bara yang terkejut, karena sepertinya Pram mengenal baik asistennya, hanya bisa menyimak.
Plakkk!!
Kailla memukul jabatan tangan antara suami dan teman baiknya itu, karena dianggap terlalu lama. Sampai-sampai dia harus berdiri, menunggu giliran bertukar kabar dengan Dion.
“Sayang, aku juga mau berbagi cerita dengan Dion,” pinta Kailla dengan terus terang.
“Pram, kamu mengenalnya?” tanya Bara masih belum hilang kaget di wajahnya.
“Dion sahabat baik istriku,” sahut Pram, melirik Kailla yang berdiri di sebelahnya. Istrinya sudah tidak menyadari kehadirannya, terus menerus tersenyum menatap Dion.
“Sayang, kamu bicarakan saja konsep kamar yang mau di renovasi dengan Mas Bara. Kali ini, aku serahkan tugas mulia ini padamu. Aku akan menjadi anak yang penurut dan tidak banyak protes.”
Pram bengong. Bahkan istrinya saat bicara tidak menatapnya sebagai lawan bicara. Entah kemana lenyapnya Kailla yang selalu menempel padanya. Mudah-mudahan ini hanya kerinduan sesaat, bukan perasaan yang tersesat.
“Aku pinjam Dion sebentar ya, Om,” pinta Kailla pada sahabat suaminya itu, menyeret masuk Dion seperti yang dulu sering dilakukannya.
“Kamu sudah menikah?” tanya Kailla tanpa basa basi, menggandeng lengan Dion masuk ke rumahnya.
__ADS_1
Jawaban Dion yang masih sempat tertangkap indra pendengaran Pram, membuat laki-laki matang itu kian was-was.
Kalimat “aku masih sendiri” yang keluar dari mulut Dion, membuat hatinya kian ketar ketir.
Kailla membawa Dion ke ruang tamu, mempersilahkan duduk laki-laki yang sekarang semakin tampan dan berkelas. Jauh berbeda di saat masih kuliah dulu.
“Kamu kemana saja?” tanya Kailla, melirik sekilas ke arah Bara dan suaminya. Kedua sahabat itu juga sudah mengekor masuk, dan duduk di ruangan yang sama.
“Om Bara, mau minum apa?” tanya Kailla, bermaksud ke dapur mengecek minuman dan cemilan yang seharusnya sudah disiapkan asisten rumah tangganya.
“Apa saja Kai, kalau kamu yang membuatnya aku rela menghabiskannya,” ucap Bara terbahak, menggoda istri sahabatnya yang sudah dikenalnya dengan baik,
Sejak empat tahun yang lalu, kedua keluarga ini sudah layaknya seperti keluarga. Bara dan Bella sudah mengenal dekat dengan Pram dan Kailla. Bahkan tidak jarang kedua istri mereka pergi bersama, hanya sekedar jalan-jalan atau makan di luar.
Tapi sejak Bella hamil lagi, itu sudah jarang mereka lakukan. Bara belum mengizinkan dulu Kailla mengajak istrinya membuat kekacauan seperti biasanya.
Kailla sudah kembali dengan nampan berisi minuman dan cemilan ringan.
“Bukan kamu yang menyiapkannya, Kai?” tanya Bara, kembali tertawa.
“Dia meledekku, Sayang,” adu Kailla, menghempaskan tubuhnya duduk di sebelah suaminya.
Pram hanya terbahak.
“Kalau Bella sudah melahirkan, perutmu juga sudah menggendut Nyonya. Suamimu ini sudah meminta tips padaku untuk bisa cepat membuat istrinya hamil.”
Kailla mendengus kesal, setiap berdebat dengan Bara, dia selalu kalah. Berbeda dengan Pram, yang selalu mengalah padanya.
Dan Dion, hanya menyimak sambil sesekali melirik Kailla. Laki-laki itu sedang mencerna semua percakapan antara atasannya dengan Kailla. Pandangannya beralih menatap Pram. Laki-laki yang pernah menjadi mantan saingannya.
Tidak bisa dibilang saingan sebenarnya. Dion menyatakan perasaannya saat Kailla sudah berstatus tunangan Pram. Dan sialnya, saat pernyataan cinta itu keluar dari mulutnya, Pram diam-diam menyaksikannya.
Dia masih mengingat semua ucapan Pram padanya. Memang saat itu, dia hanya lelaki sederhana yang tidak memiliki apa pun. Bahkan tanpa kehadiran Pram pun, dia tidak pantas untuk Kailla yang anak orang berada.
Pram tidak menghajarnya pada saat itu, bahkan bersikap baik padanya. Memukul mundurnya dengan cara terbaik dan mungkin bisa dibilang elegan. Pram masih sempat menawarkan pekerjaan. Tapi yang sedikit membuat harga dirinya tercoreng adalah ketika kalung sederhananya, yang tadinya dihadiahkan untuk Kailla saat itu ada di tangan Pram.
Yang membuatnya lumayan terpukul, saat Pram mengembalikannya dengan cara baik-baik. Dan meminta maaf padanya atas kesalahan Kailla yang belum mengerti batasannya saat menerima hadiah dari Dion.
“Kita tidak bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta, tapi kita bisa memilih dimana seharusnya kita berdiri.”
Adalah kata-kata Pram yang sampai sekarang masih disimpan baik-baik di dalam otaknya.
Pram dan Bara sudah beralih menuju ruangan yang akan direnovasi. Dion mengekor dibelakang, ikut mendengar keinginan klien perusahaan mereka, setelah sebelumnya Pram menolak rengekkan Kailla yang ingin menghabiskan waktu berbagi cerita hanya berdua dengan Dion.
__ADS_1
“Kamu belum memiliki anak?” bisik Dion yang berjalan di samping Kailla, tertinggal di belakang Pram dan Bara.
Kailla menggeleng.
“Bagaimana kabar Ibu?” tanya Kailla, ikut berbisik.
“Sehat. Ayah dan Ibu sekarang tinggal bersamaku di sini. Dian sudah SMA,” cerita Dion.
“Aku masih kuliah, sebentar lagi wisuda. Aku tidak melanjutkan di kampus kita dulu.” Kailla ikut bercerita.
“Oh, design interior?” tanya Dion yang dianggukin Kailla.
“Bagaiamana kabar daddy?” tanya Dion lagi.
“Daddy koma sudah 3,5 tahun,” ucap Kailla, tersenyum getir.
“Tidak apa-apa. Pasti indah pada waktunya,” sahut Dion, mencuri menepuk lembut punggung Kailla tanpa sepengetahuan Pram.
“Bagaimana kabar Rika dan Dona. Aku kehilangan kontak kalian semua,” ucap Kailla. Begitu kembali dari Austria, dia sudah tidak bisa menghubungi teman-temannya lagi.
Dion tersenyum, dia tahu jelas apa yang terjadi. Bagaimana sampai Kailla tidak bisa menghubungi salah satu pun dari ketiga sahabat baiknya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, memang semua untuk kebaikan Kailla pada saat itu.
“Rika dan Dona bekerja di perusahaan suamimu. Apa kamu benar-benar tidak tahu kabar mereka?” tanya Dion heran.
Kailla menggelengkan kepala. Ada banyak hal yang tidak ketahuinya. Ada banyak hal terjadi dibelakangnya. Ada banyak hal yang disembunyikan Pram darinya.
“Suamimu juga menawariku. Namun aku menolak,” cerita Dion.
Kailla heran, bagaimana suaminya bisa menemui teman-temannya, tanpa sepengetahuannya.
“Bukan suamimu, tapi asistennya,” jelas Dion. Seolah mengerti arti kerutan di dahi Kailla.
Pembicaraan keduanya terhenti, saat Pram berbalik dan meminta istrinya mendekat.
“Sayang, kemarilah,” pinta Pram, mengalihkan pandangannya ke arah Dion, yang sedang berdiri di samping Kailla.
***
Terimakasih
To be continued
Love you all
__ADS_1