Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Extra chapter


__ADS_3

Dirawat di rumah sakit, Kailla benar-benar dimanjakan semua orang. Dari petugas rumah sakit yang senantiasa memastikan kondisinya baik-baik saja. Mama mertua yang memaksa ikut menginap meskipun tidak diizinkan sampai Pram yang memilih bekerja dari rumah sakit demi untuk bisa menemani Kailla selama 24 jam.


Siang itu, Kailla sudah mulai turun dari tempat tidur, belajar berjalan meski tertatih-tatih sembari meringis. Kebosanan berbaring di atas brankar, membuatnya memilih duduk di sofa bersandar manja pada pundak Pram. Suaminya sedang mengadakan rapat jarak jauh, serius menatap laptopnya.


“Sayang ... aku bosan,” bisik Kailla, menggeser headset yang menutupi telinga Pram.


“Sebentar lagi. Aku selesaikan rapatnya dulu, Sayang,” sahut Pram, tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari layar komputer jinjing yang dipangkunya.


“Hmmm ....” Kailla menghembuskan napas dari bibirnya.


“Kenapa lagi? Pijatannya tadi enak?” tanya Pram, melirik sekilas dan kembali fokus. Teringat baru saja Kailla dipijat oleh seorang wanita paruh baya yang memang dipekerjakan rumah sakit untuk memijat para pasien pasca melahirkan.


“Enak, tetapi pijatannya sakit, Sayang. Ibu itu memijat dadaku terlalu kencang, sampai sekarang masih terasa ngilu,” adu Kailla, menangkup gundukan kembarnya.


“Benarkah?” Pram melepas headsetnya.


Kailla mengangguk, memperlihatkan mimik wajah menggemaskannya. “Ya, katanya supaya asinya cepat keluar,” jelas Kailla.


“Kurang ajar si ibu. Kalau milikku ini sampai lecet, aku akan membuat perhitungan dengannya,” cerocos Pram, terbahak. Tanpa banyak bicara, pria itu menutup laptop dan meletakannya asal ke atas meja.


“Mulai hari ini, aku saja yang meremasnya kalau memang bisa membuat asinya keluar banyak,” godanya lagi.


Pram tersenyum menatap Kailla, setelah dua hari melihat istrinya terbaring di brankar. Baru hari ketiga bisa melihat Kailla duduk dan mulai bermanja-manja padanya lagi.


“Masih sakit?” tanya Pram. Melihat Kailla yang belum bisa duduk nyaman, sesekali meringis setiap bergerak.


“Masih ....”


“Kalau bergerak sakit, apalagi kalau batuk,” keluh Kailla.


“Maafkan aku,” bisik Pram, meraih pundak Kailla dan mendekapnya erat.


Kecupan dilabuhkan Pram di pucuk kepala istrinya bersamaan dengan pintu kamar terbuka. Muncul Ibu Citra dengan wajah bahagia, mendekap salah satu cucunya. Terlalu terhipnotis dengan pesona bayi mungil di tangannya, wanita lansia itu bahkan tidak peduli dengan sekitarnya.


Menyusul di belakang, kedua pengasuh sambil mendorong tempat tidur bayi. Di mana bayi lainnya sedang tertidur.


“Aih, cucuku tampan sekali.” Ibu Citra masih saja mengagumi cucunya. Menjatuhkan tubuhnya di sofa, dengan punggung jari mengusap pipi mulus bayi mungil yang tidak diketahui jelas baby Bent atau Baby Kent.

__ADS_1


“Pram, ini bagaimana membedakannya. Kenapa mereka mirip sekali,” protes Ibu Citra.


“Aku belum menemukan perbedaan yang mencolok di wajahnya selain ukuran tubuh yang satu lebih besar, satunya sedikit lebih kecil,” lanjut Ibu Citra.


“Aku saja belum tahu jelas, Ma,” sahut Pram dengan jujur.


Selama di rawat di rumah sakit, Pram lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kailla dibanding bayi-bayinya yang ditangani kedua pengasuh. Untuk saat ini, Pram memang memilih fokus pada istrinya dibanding bayi kembarnya. Selain untuk kesembuhan pasca operasi, Kailla juga butuh dukungan untuk bisa menyusui kedua bayinya dengan maksimal. Dan itu bukan pekerjaan mudah.


Pria itu berjalan menuju ranjang bayi, tempat di mana bayinya yang lain terlelap. Tersenyum menatap wajah polos tertidur dalam kedamaian.


“Apa semalam mereka rewel, Mbak?” tanya Pram, memandang tak berkedip. Bayi yang Pram yakini adalah Baby Kent. Ukuran tubuhnya sedikit lebih kecil dibanding kakaknya Baby Bent.


“Ya, sepertinya mereka lapar. Sementara diberi susu formula sampai asinya keluar,” jelas Kinara.


Tanpa bertanya lebih jauh, Pram menyelipkan tangan kirinya di tengkuk bayi dan tangan kanan di bokong mungil yang terbungkus bedong putih. Membawanya ke dalam gendongan. Terlihat lincah dan tidak kaku sama sekali.


Bukan pengalaman pertama untuk Pram, tentu saja ia sudah terbiasa. Bahkan ia sudah menamatkan mengasuh ibu si bayi yang dulunya lebih rewel lagi. Mengamuk tanpa kejelasan setiap malam.


“Kai, kamu tidak mau belajar menyusuinya?” tanya Pram, menyerahkan baby Kent ke dalam dekapan Kailla.


“Harus sekarang?” tanya Kailla, bingung. Meskipun begitu, Kailla tetap mendekap bayinya dengan hangat.


“Ya, tetapi aku tidak tahu harus bagaimana. Kemarin aku belum bisa bergerak, bekas lukanya juga masih sakit.”


“Aku akan memanggil perawat,” usul Pram.


***


Bayi yang tadinya terlelap sekarang menangis di dalam dekapan Kailla. Masih didampingi perawat, baby Kent mulai belajar mengisap susunya. Tidak ada apapun yang keluar, bayi yang tadinya begitu bersemangat menyedot, akhirnya mengamuk.


Tangisan baby Kent yang kencang, memancing tangisan baby Bent yang masih di gendongan Ibu Citra. Keduanya menangis bersamaan, menciptakan keriuhan di kamar perawatan yang tadinya hening. Pram tersenyum berdiri di depan Kailla dengan kedua tangan terselip di kantong celana.


Menatap pemandangan yang benar-benar membuatnya terharu. Istri kecilnya sedang sibuk mengajari salah satu putranya mengenali dot alami, tempat di mana asupan makanan mereka bersumber. Setidaknya Pram harus memastikan dan meyakini Kailla untuk memberikan asi di enam bulan pertama anak kembar mereka.


“Baby Kent sudah pintar menyedot. Ayo semangat, Sayang. Nanti juga bisa keluar asinya.” Pram berjongkok di depan Kailla, mengusap pucuk kepala istrinya. Berusaha memberi dukungan.


“Ya, tetapi ini tidak ada yang keluar sama sekali. Bagaimana bisa semangat. Mereka mengamuk bersamaan,” keluh Kailla.

__ADS_1


“Ya, tidak apa-apa. Nanti juga keluar.”


Kening berkeringat yang sibuk menenangkan bayi itu mendapat hadiah kecupan hangat dari Pram.


“Berikan pada suster saja. Mereka akan menenangkannya untukmu.” Akhirnya Pram bersuara, setelah melihat Kailla yang kewalahan dan tangisan bayi mereka tak kunjung berhenti.


***


Hari ketiga bermalam di rumah sakit. Suasana kamar sudah senyap kembali. Bayi-bayi mereka bersama dengan Kin dan Bin di kamar sebelah, ditemani Ibu Citra yang ngotot mau menginap di rumah sakit.


“Masih tinggal sesendok lagi,” ucap Pram, menyuapkan nasi tim terakhir ke dalam mulut Kailla. Makan malam yang terlewat beberapa jam.


“Sayang, kenapa ini rasanya tidak enak?” tanya Kailla, mengusap dadanya yang terasa bengkak dan mengeras.


“Rasanya seperti apa?” tanya Pram, mengerutkan dahi. Tangannya ikut menangkup di dada kiri Kailla, mencari tahu apa yang terjadi.


“Nyeri, Sayang. Apa karena tadi siang dipijat terlalu kencang jadi sekarang bengkak?” tanya Kailla dengan polosnya.


Pram menggeleng. Kedua tangan pria itu tampak sibuk mengikat rambut Kailla yang tergerai berantakan. Mengganggu penglihatan istrinya.


“Ikat rambutnya mana, Sayang?” tanya Pram, setelah berhasil membuat kuncir kuda di rambut panjang istrinya.


“Ini!” Kailla menyodorkan ikat rambut berenda yang tadinya melingkar di pergelangan tangan.


Selama dirawat, Pram benar-benar mengurusnya dengan detail. Dari menyuapi makan, menemaninya ke kamar mandi sampai ke hal-hal yang kecil seperti mengikat rambut. Semua dilakukan Pram untuknya.


“Jangan nakal lagi mulai sekarang, Kai,” ucap Pram setelah selesai mengikat rambut Kailla. Pria itu membungkuk, menyejajarkan tingginya supaya bisa menatap Kailla lebih dekat.


“Ya.” Kailla menjawab singkat. Memamerkan senyuman dengan gigi-gigi putih berjejer rapi.


“Sebelum ada baby Bent dan baby Kent, kalau kamu berulah aku akan mencoba mengerti dan mengalah. Kalau sekarang, mau titisan dewa yunani atau Lee Min Ho sekalipun, akan aku ledakan kepalanya dengan senjata kalau berani mengganggu ibu dari anak-anakku,” ancam Pram, mengetuk kening Kailla dengan ujung telunjuknya.


Kailla terperanjat, menatap wajah serius Pram.


“Karena Kailla Riadi Dirgantara bukan hanya milikku, tetapi milik anak-anakku juga,” lanjut Pram, mengecup pelan bibir Kailla yang masih belum hilang terkejutnya.


“Aku akan memperjuangkan hak anak-anakku, Kai,” tegas Pram, di sela ciumannya.

__ADS_1


***


__ADS_2