
”Sam!” teriak Pram, mengetuk pintu kamar yang ditempati asisten istrinya itu.
Lelaki muda itu keluar dengan mata mengantuk. Dia baru saja tertidur setelah merenungi semua kesalahannya. Tiba-tiba ada yang mengganggu tidur pulasnya. Mengetuk pintu dengan kasat, rasanya ingin mengumpat.
“Dimana Kailla?” tanya Pram panik.
“Tidak ada disini Pak,” sahut Sam dengan wajah mengantuk bersandar di pintu. Mata terpejam dan menggaruk rambutnya yang acak-acakan. Sedetik kemudian dia membuka matanya.
“Aku juga tahu, istriku tidak mungkin tidur denganmu!” omel Pram kesal dengan jawaban Sam.
“Kailla tidak ada di kamar.” Pram berkata.
“Ma-maaf Pak. Non Kailla hilang?” pekik Sam terkejut. Segera mengikat sarung motif kotaknya dan berlari keluar, menerobos Pram yang berdiri menghadang pintu.
“Sam!” teriak Pram kesal. Sam menerjang keluar, menabrak tubuhnya.
“Ma-maf Pak, aku panik,” sahut Sam.
“Bantu aku mencari Kailla,” pinta Pram, beralih mengetuk pintu kamar Bayu dan Ricko.
Kedua asiten keluar dari kamar dalam waktu bersamaan. “Cari Kailla, dia tidak ada di dalam rumah,” perintah Pram pada semua asisten yang berdiri di hadapannya dengan wajah mengantuk.
“Tanya pada security di depan. Aku takut Kailla kabur dariku,” ucap Pram melemas. Memikirkan kemungkinan terburuk, Kailla meninggalkannya. Kemarahannya mungkin terlalu berlebihan dan membuat istrinya kabur.
Suara keributan juga mengganggu tidur para asisten wanita. Ibu Sari yang mendengar suara berisik di luar kamar, ikut keluar.
“Ada apa ya?” tanyanya, masih dengan daster batik lusuhnya.
“Bu, tolong bantu cari Non Kailla. Majikan kita kabur,” jelas Sam dengan wajah paniknya. Berlari tunggang langgang menuju gerbang depan. Lupa sudah dengan pengalamannya terjungkal karena berlari dengan sarung terikat di pinggang. Saat ini Kailla adalah prioritas utamanya.
“Hah?! Benarkah? Bagaimana bisa? Bukannya Non Kailla tidur bersama Ibu Ida,” ucapnya pelan. Bergegas menuju kamar yang biasanya ditempati teman seprofesinya itu.
Pram yang mendengar, langsung berlari menghampiri. Menggedor kasar pintu kamar Ibu Ida dengan tidak berperasaan.
“Bu! Buka pintunya!” teriak Pram, mengepalkan tangannya dan memukul daun pintu itu dengan kasar. Disaat seperti ini lima detik saja terasa lima jam untuknya. Membayangkan Kailla menghilang darinya benar-benar membuatnya menggila. Dia ingat bagaimana menutup kasar pintu kamarnya disaat Kailla hendak masuk ke dalam kamar.
Baru saja dia akan menendang pintu kayu itu, tetapi wajah Ibu Ida muncul dengan raut panik. Dia sedang tertidur pulas tiba-tiba ada keributan di depan kamarnya. Gedoran kasar itu membuatnya ketakutan, telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Ada apa Pak?” tanyanya.
Brakkk!!!
Pram tidak menjawab. Malah mendorong kasar pintu kamar Ibu Ida, demi memastikan istrinya benar ada di sana.
Deg— pandangannya tertuju pada sosok yang meringkuk di atas ranjang kecil berbalut selimut yang sudah memudar warnanya.
“Sayang bangun!” panggil Pram, mengoncang tubuh Kailla.
Lega! Itulah yang dirasakan lelaki itu saat mendapati istrinya tertidur di dalam kamar asisten rumah tangganya.
__ADS_1
“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Kailla, masih setengah tidur. Matanya membuka sebentar dan menutup lagi. Guncangan Pran membuatnya terjaga.
Dia baru saja tertidur, setelah bersusah payah memaksa matanya terpejam. Kamar Ibu Ida terlalu sempit, tanpa pendingin ruangan.
“Lanjutkan tidur di kamar kita ya,” pinta Pram, menyelipkan kedua tangannya dibalik punggung istrinya. Menggendong Kailla menuju ke kamar mereka. Tidak tega membangunkan disaat Kailla sudah tertidur kembali.
Sepanjang perjalanan Pram bisa merasakan punggung Kailla yang sedikit basah karena keringat. Sesalnya muncul kembali, seharusnya dia tidak membanting pintu kamarnya tadi. Jadi Kailla tidak akan memilih tidur dengan orang lain.
“Sayang, ganti pakaianmu ya,” bisik Pram, setelah menjatuhkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas. Bukan hanya punggung tetapi rambut dan leher Kailla berkeringat.
Istrinya tidak tahan dengan cuaca panas. Bahkan dia harus memasang beberapa pendingin ruangan sekaligus di kamar mereka.
“Sayang, bangun,” bisik Pram kembali mengguncang pelan tubuh Kailla.
“Aku mengantuk, Sayang. Jangan mengganggu tidurku. Aku baru saja bisa tidur,” gumam Kailla, meraih selimut dan bergelung di dalamnya.
***
Pagi itu, Kailla terbangun lebih siang dari biasanya. Mendapati ranjang di sebelahnya telah kosong. Tidak ada Pram disana.
Tetapi dia bisa mendengar gemericik air yang mengalir dari kran kamar mandi. Masih dengan duduk memeluk lutut, dia mengingat kembali kemarahan suaminya yang membuatnya harus tidur di kamar Ibu Ida.
Melihat saat ini dia sudah berada di kamarnya kembali, senyum merekah terlihat di bibir merahnya.
”Ternyata, dia masih peduli padaku,” bisik Kailla pelan.
Dari arah kamar mandi, Pram muncul dengan handuk terlilit di pinggang.
“Aku masih mengantuk.” Kailla kembali merebahkan tubuhnya, menarik selimut.
“Bangun istri pemalas! Kamu belum menerima hukumanmu!” lanjut Pram, menarik dan melempar selimut yang menutupi tubuh istrinya,
“Sayang..,” rengek Kailla dengan aksen manjanya, duduk bersandar di ranjang.
“Siapkan sarapan pagi untukku sekarang. Dan untukmu juga! Mulai sekarang, tidak ada yang akan menyiapkan makanan untuk kita.”
Kailla terperanjat. Masih belum yakin dengan apa yang didengarnya. Memandang suaminya, memastikan pendengarannya tidak salah.
“Ibu Sari dan Ibu Ida tidak akan memasak sampai batas waktu yang aku tentukan. Kamu harus menyiapkan semua keperluan kita sendiri,” jelas Pram.
“Hah!”
“Dari sarapan, makan siang sampai makan malam kita. Aku akan makan semua masakanmu. Tidak ada alasan. Bukannya kamu sudah tidak rutin ke kampus lagi jadi tidak ada alasan lagi,” lanjut Pram.
“Lalu, untuk apa kamu membayar mereka kalau tetap aku yang harus melakukan semuanya,” keluh Kailla kesal.
“Untuk menontonmu memasak,” sahut Pram tersenyum. Terlihat lelaki itu mendekat ke tempat istrinya duduk. Menarik dagu Kailla dengan ujung jarinya.
Cup!
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat di bibir Kailla. “Maafkan aku, semalam. Aku terlalu lelah, jadi mudah terpancing emosi,” ucap Pram, masih menatap lekat wajah bantal istrinya.
“Besok kita ke Austria. Aku tidak akan membawa Ibu Ida atau Ibu Sari. Kamu yang harus melakukannya untuk kita selama di Austria,” jelas Pram.
“Sayang, kenapa mengerjaiku?” keluh Kailla.
Pram menggeleng. “Aku tidak mengerjaimu. Aku melatihmu menjadi istri yang baik dan benar. Dan itu juga bagian dari hukumanmu.”
Lelaki yang masih terlihat tampan di usia kepala empat itu, kembali menuju walk in closet, meraih kemeja putih, mengenakannya. Kailla yang belum puas dengan protesnya, ikut mengekor sang suami. Memandang lelaki itu berganti pakaian.
“Mama juga akan ikut bersama kita,” lanjut Pram bergegas menuju kamar mandi. Kalimat Pram semakin membuat Kailla terkejut.
“Sayang, apa-apaan ini!” keluh Kailla, sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, menatap Pram yang sedang menyemprotkan parfum di tubuhnya.
“Itu hukumanmu. Tidak ada asisten yang aku bawa, kecuali Bayu. Kamu yang harus membantu mama selama disana,” jelas Pram, tersenyum menatap Kailla dari cermin wastafel.
“Huh!”
“Huh!”
“Huh!”
Kailla mendengus kesal, berkali-kali. Bibirnya mengerucut lengkap dengan wajah cemberutnya.
“Kalau memang tidak membawa asisten, kenapa mama harus dibawa serta juga,” keluh Kailla lagi.
“Supaya kamu bisa mengenal mertuamu itu lebih dekat,” sahut Pram singkat, menatap pantulan dirinya di cermin.
“Ah.... !” pekik Kailla kesal.
“Ayo siapkan sarapan untukku. Kita akan menemui mama setelah sarapan,” jelas Pram.
“Hah?! Untuk apa lagi?” Kailla bertanya.
“Membawa syal untuk mama dan mengambil kembali tas pink milikmu yang kutitipkan pada mama,” ucap Pram tersenyum.
Kailla berlari dan memeluk pinggang suaminya dari belakang. “Benarkah?” tanyanya.
Kesedihan, kekesalan, keberatannya akan hukuman sang suami langsung sirna seketika. Berganti bahagia yang datang bersama dengan tas pink kesukaannya.
“Jadilah istri terbaik untukku. Tidak hanya tas pink, tetapi aku akan menyerahkan nyawaku untukmu,” ucap Pram, mengusap lembut tangan Kailla yang sedang mengunci perutnya.
***
To be continued
love You all
__ADS_1
Terima kasih.