
"Kita ke dokter sekarang?" ajak Pram, meraih tangan Kailla.
"Ibu ikut ya?" pinta Kailla pada Pram.
Pram yang tadinya berjalan di depan sembari mengenggam tangan Kailla, menghentikan langkah kaki bersemangatnya. Berbalik menatap Kailla sembari tersenyum.
"Kai, kamu tidak percaya padaku?" tanya Pram berusaha bersikap lunak. Istrinya sedang kehilangan kepercayaan padanya. Butuh waktu dan perjuangan untuk mengembalikan semuanya. Ucapannya memang kelewatan kalai hanya didengar begitu saja. Tanpa tahu alasan dibaliknya.
Kailla tertunduk. Sebulan ini dia banyak berpikir. Mungkin Pram tidak akan bersungguh-sungguh menyakitinya demi bayi mereka, tetapi suatu saat bisa saja Pram berubah pikiran saat anak-anaknya lahir.
Pram terikat hubungan darah dengan bayi-bayinya tetapi tidak dengannya. Faktanya mereka berdua adalah orang lain yang hanya terikat karena pernikahan. Apalagi mengingat kekejaman daddynya, rasanya wajar saja kalau lelaki itu mendendam padanya dan daddy.
Melihat Kailla membisu, Pram membuka suaranya. "Iya, Ibu boleh ikut."
Gengaman tangan itu semakin mengerat, Pram memilih tidak menyetir sendiri. Dia ingin memeluk Kailla sepanjang perjalanan ke dokter kandungan yang berbeda rumah sakit dengan tempat Riadi dirawat.
"Kai, masih mual dan muntah?" tanya Pram saat mereka sudah duduk di kursi belakang mobil. Sam yang memegang kemudi dengan sang ibu duduk di sebelahnya.
"Jarang terlihat Non Kailla muntah, Pak." Ibu Sam menjawab. Setelah lama menunggu, Kailla tetap bungkam.
"Syukurlah."
Pram mendekap dan memeluknya erat. Pelukan yang begitu hangat setelah sebulan keduanya terpisah. Kecupan demi kecupan dihujami Pram. Tangannya pun terus mengelus perut Kailla yang membesar. Seolah ingin memberitahu kepada anak-anaknya kalau daddynya sudah berada di dekat mereka.
"Perutmu masih sering kram?" tanya Pram lagi.
"Terkadang," sahut Kailla pelan.
"Mulai sekarang aku akan membantumu memijatnya, mengusapnya kalau kamu merasa tidak nyaman," ucap Pram. Tangannya merapikan helai rambut yang jatuh menutupi sebagian wajah Kailla, mengusap perlahan dan menjepitnya di belakang daun telinga.
"Mama merindukanmu. Mama pasti senang mendengarnya. Mau bicara dengan mama?" tawar Pram.
"Nanti saja."
Di sisa perjalanan Pram memilih diam. Percuma berbicara, tetapi Kailla tidak mau menjawabnya. Lelaki itu lebih memilih memanjakan istrinya. Memeluk, mendekap bahkan menghadiahkan kecupan.
Sampai masuk ke rumah sakit dan menunggu antrian pun, Pram tidak rela melepas. Jemarinya masih saling menaut.
"Kai, mulai sekarang makan yang banyak. Katakan padaku, kalian mau makan apa. Mau dibelikan apa. Mau dimasakan apa.” Pram memberondong Kailla, setelah tadi menemani Kailla menimbang. Istrinya bukan bertambah gemuk, malah turun 3 kg. Tensi darahnya pun sangat rendah.
"Jangan takut. Katakan saja mau makan apa. Aku pasti akan mencarikannya untukmu," ucap Pram meyakinkan.
"Iya."
Tak lama, nama Kailla pun dipanggil. Keduanya berjalan masuk ke dalam ruangan dokter.
Betapa bahagianya Pram saat melihat layar hitam berbintik putih yang bergerak-gerak saat melakukan usg.
"Sayang buah cinta kita," bisik Pram di telinga Kailla. Tangannya masih menggengam dengan pandangan tak lepas dari layar. Harunya merayap datang, mengisi kekosongan hatinya yang selama ini dirasa sejak ditinggal pergi Kailla. Ingin menangis saat melihat detak jantung kedua buah hatinya yang berpacu kencang. Ada banyak rasa terimakasihnya pada Tuhan, karena menjaga kedua bayinya dan Kailla.
__ADS_1
"Dua-duanya sehat," jelas dokter.
"Ada keluhan apa, Bu?" tanya dokter, masih mengaduk-aduk perut bawah Kailla dengan alat usg.
"Tidak ada Dok. Hanya sering sesak nafas, kalau malam susah tidur. Sering sakit pinggang," cerita Kailla.
"Itu normal, nanti semakin mendekati hari lahiran akan semakin bertambah keluhannya." Dokter menjelaskan.
Mendengar keluhan Kailla, Pram langsung menundukan kepalanya, berbisik kembali ke telinga istrinya.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Pram dengan mata berkaca-kaca.
Kailla mengalihkan pandangannya, yang tadinya fokus pada layar sekarang beradu tatap dengan Pram.
Bibir lelaki itu melengkung ke atas, menambah ketampanan di usia matangnya.
"I love you." Pram menatap lekat manik mata Kailla dari dekat, mengucapkan kata cinta tanpa suara, hanya melalui gerak bibir saja.
Kali ini Kailla tersenyum kecil, namun untuk Pram senyuman itu sangat berarti.
"Yang terpenting ibunya harus tetap sehat, cukup asupan nutrisi, tidak boleh stress, dinikmati saja."
"Itu berpengaruh untuk bayi-bayinya," lanjut dokter.
Keduanya mengangguk.
Dokter menggeleng. "Kita lihat bulan depan ya."
Dokter sudah kembali ke kursinya, mencoret sesuatu di memo yang nantinya akan diteruskan kepada apoteker.
Perawat baru saja akan menghapus gel yang mengotori perut Kailla dengan tisu, tetapi Pram mengambil alih.
"Biarkan saya saja, Sus," pinta Pram, mengusap perut Kailla sembari tersenyum. Sudah lamanya tidak mengurus Kailla, di sudah merindukan direpotkan istri nakalnya.
"Sudah Sayang." Pram menurunkan kembali kaos yang digunakan istrinya, kemudian membantu Kailla bangkit dari posisi tidurnya.
***
Keluar dari ruangan dokter, keduanya sudah disambut Sam dan Ibunya.
"Sayang, pulang ke rumah ya," ajak Pram, merengkuh pundak Kailla.
"Aku tidak mau," tolak Kailla.
"Kalau tidak mau pulang, mau kemana?"
"Aku mau kembali ke Pondok Indah," sahut Kailla.
"Baiklah, tetapi tidur di dalam rumah, ya. Aku akan meminta Ibu Sari menemanimu di sana," sahut Pram, memberi persetujuan.
__ADS_1
Kailla mengangguk.
"Baiklah. Tunggu, aku akan menebus vitaminmu dulu, Kai."
Tak lama, mobil yang dikendarai Sam akhirnya kembali ke rumah Riadi. Beruntung, hari ini jalanan tidak terlalu ramai, sehingga tidak terlalu lama menghabiskan waktu di jalan.
***
Malam itu, Pram juga ikut bermalam. Dia tidak bisa lagi meninggalkan Kailla sendirian. Terserah kalau Kailla tidak mau sekamar dengannya, yang penting dia harus memastikan istri dan kandungannya baik-baik saja. Seandainya Kailla memintanya tidur di pos security pun akan dilakukannya yang penting Kailla bahagia.
Setelah selesai makan, Kailla memilih kembali ke kamar. Ibu Sari yang diminta menemani Kailla, terlihat membereskan meja makan.
"Bu, tolong buatkan Kailla susu. Tadi makannya sedikit sekali," perintah Pram. Lelaki itu berdiri dengan tangan terlipat di dada, menunggu Ibu Sari menyiapkan susu untuknya.
"Ini Pak." Tak lama Ibu Sari sudah menyodorkan segelas susu.
"Butuh apa lagi, Pak?"
"Sudah. Ibu boleh tidur. Aku yang akan mengurus Kailla," sahut Pram, bergegas menuju ke kamarnya.
Begitu membuka pintu kamarnya, Pram disuguhkan dengan pemandangan yang begitu menenangkan. Kailla yang sedang duduk bersandar di tumpukan bantal, mengelus perutnya.
"Perutmu sakit, Kai?" tanya Pram, meletakan segelas susu ke atas nakas. Kemudian ikut duduk di pinggir tempat tidur.
“Tidak.”
“Minum susumu, Sayang. Apakah mereka rewel?" tanya Pram?" Ikut mengusap perut Kailla. Menyadari istrinya tidak berontak, Pram memberanikan diri mengecup sembari berbincang dengan bayi kembarnya.
“Kailla menggeleng.
"Anak-anak daddy, kalian tahu.. daddy merindukan kalian," ucap Pram, tersenyum menatap Kailla.
"Kalian merindukan daddy?" tanya Pram pelan
Hening. Baik Kailla dan Pram tidak saling bicara. Keduanya hanya mencuri pandang sesekali dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kamu tidak merindukanku, Kai?" tanya Pram, memecahkan keheningan, setelah lama saling terdiam. Menatap lekat manik mata hitam yang mulai berkaca-kaca.
“Hei, kenapa menangis, mommy?” tanya Pram, kala bulir-bulir mengkristal itu luruh. Jatuh tak tertahan membasahi pipi tirus. Kedua tangannya sudah menarik tubuh Kailla, merebahkannya di pelukan.
“Kamu bisa dengar denyut jantungku, Kai? Kamu bisa merasakan tarikan nafasku?” tanya Pram, mengeratkan pelukannya.
“Jantung ini masih berdetak karenamu, nafas ini tetap ada karenamu. Jangan pergi lagi, tetap disampingku. Aku tidak akan menyakitimu. Percaya padaku,” bisik Pram pelan, mengusap rambut Kailla dan mengecupnya dalam.
“Di dalam laci nakas itu ada senjataku. Kalau kamu merasa aku mengancam hidupmu, kamu bisa menembakannya ke kepalaku setiap saat, tetapi jangan pernah pergi lagi dariku,” ucap Pram pelan, masih berusaha meyakinkan Kailla.
***
TBC
__ADS_1